
Afifah sudah selesai mengganti bajunya, tapi ia masih duduk mematung di tepi ranjang. Ia masih tidak percaya kalau beberapa menit yang lalu ia baru saja ciuman dengan Dimas, laki-laki yang selama ini ia anggap seperti om nya sendiri. Ini adalah ciuman pertama Afifah. Afifah sudah tahu ciuman bibir itu bagaimana, tapi ia belum pernah merasakannya. Ia hanya melihat saja di adegan film romantis, dan mendengarkan cerita teman-temannya yang sudah pernah ciuman dengan pacarnnya. Teman-teman Afifah yang satu circle dengannya memang sudah memiliki pacar semua, dan sudah pernah ciuman dengan pacarnya. Hanya Afifah yang belum punya pacar, dan sama sekali belum pernah ciuman.
Tadi, ia baru saja merasakan ciuaman itu seperti apa rasanya. “Gak karuan sekali rasanya, masih saja jantungku berdebar kencang, masih aku rasakan lembut bibir Om Dimas saat menciumku, dan lidah Om Dimas yang menyesap bibirku dengan lembut. Aku ciuman? Ciuman pertamaku kenapa harus Om Dimas yang mendapatkan? Tapi, aku tidak masalah, Om Dimas sangat tampan, masih terlihat muda sekali, sama seperti guru matematiku yang tampan sekali, tapi sayang Pak Hasan sudah punya istri. Om Dimas kan jomlo, jadi gak masalah, kan? Lagian dibandingkan dengan pacar-pacar temanku paling tampan Om Dimas?” ucap Afifah dalam hati.
Afifah menyentuh bibirnya, ia masih terbayang kejadian tadi di kolam renang saat Dimas mencium bibirnya. Bukan ciuman kilas, tapi sangat dalam dan mematikan semua sistem syaraf Afifah.
Dimas juga bingung, kenapa dia bisa terpesona dengan bibir Afifah yang masih ranum dan terlihat manis sekali. Bibir yang berwarna pink, yang masih asli belum pernah di cium oleh siapa pun, tadi baru saja Dimas beri kecupan yang begitu dalam. Yang membuat Dimas bingung lagi, kenapa alat vitalnya bisa merasakan tegangan dan kembali perkasa setelah berciuman dengan Afifah. Padahal dengan perempuan lain, termasuk dengan Salma saat kemarin sempat jalan lagi, sebelum Salma kembali dengan Askara, Dimas sama sekali tidak bisa merasakan apa pun. Sampai Salma sedikit kecewa karena milik Dimas tidak ada reaksi apa pun. Tidak hanya Salma yang kecewa, Renata, dan pacar Dimas lainnya pun tidak bisa memabangunkan senjata pamungkas Dimas yang kekar dan berurat.
“Heran, kenapa sama anak SMP kamu bangun sih? Kalau Afifah bukan anak SMP, sudah aku ajak Afifah kawin tadi. Langsung aku tancap gas, gak peduli esoknya bagaimana. Aku sadar, Afifah masih SMP, dan dia anaknya Askara, suami dari Salma. Masa aku mau merusak Afifah? Aku bukan pedofil, tapi kenapa dengan Afifah aku bisa sembuh?” ucap Dimas terheran.
Dimas tersenyum karena di pikirannya terbesit ide gila. Aku sudah bisa on, pasti Renata mau balikan sama aku. Ya aku akan buktikan kalau aku sudah bisa on. Malam ini aku akan ajak dia untuk membuktikan aku bisa on lagi, aku sembuh dari sakitku. Aku gak boleh merusak Afifah. Dia masih SMP. Kalau dia sudah kuliah bolehlah. Malah mungkin aku langsung melamar Afifah pada Askara, gak peduli dia anak sambungnya Salma.
Dimas keluar dari kamarnya. Ia melihat Afifah yang juga baru keluar dari kamarnya. Afifah mengalihkan pandangannya dari Dimas, karena ia malu menatap Dimas. Bayang-bayang tadi saat di kolam renang masih terbayang dan terasa oleh Afifah.
“Fah, sudah siap? Kita ke eyang sekarang, ya?” ajak Dimas.
Dimas tahu Afifah malu dan canggung saat menatap dirinya. Tapi, Dimas berusaha biasa saja, ia berusaha tetap care pada Afifah seperti sebelumnya. Meskipun sebetulnya Dimas juga bingung, dan malu juga pada Afifah, tapi dia sudah bisa dewasa mengambil sikap, berbeda dengan Afifah yang masih kecil.
“I—iya, Om,” jawab Afifah gugup, dan langsung berjalan keluar mendahului Dimas.
“Fifah, kamu mau ke mana? Pintunya di sebelah sana,” ucap Dimas.
Afifah sampai lupa kalau pintu utamanya ada di sebelah selatan, dia berjalan mengarah ke utara. “Oh iya,” jawabnya dengan tersenyum canggung.
“Kamu seperti baru ke sini saja, Fah. Ayo kita ke eyang, nanti besok om ajak kamu jalan-jalan,” ucap Dimas dengan merangkul Afifah. Dimas berusaha biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa.
“Mau jalan-jalan ke mana, Om? Bukannya om sibuk kerja besok?” tanya Afifah.
“Ya jalan saja, daripada kamu jenuh di rumah sama eyang saja?” jawab Dimas.
“Lihat besok ya, Om?” ucap Afifah, lalu dia langsung masuk ke dalam mobil.
Hari semakin petang, Afifah duduk di sebelah Dimas, tapi ia dari tadi memalingkan wajahnya dari Dimas. Ia melihat ke jendela, melihat gelapnya malam di tengah-tengah hutan pinus. Ditanya Dimas pun Afifah menjawab tidak berani melihat wajah Dimas, karena dia sangat malu jika mengingat kejadian di kolam renang tadi. Sampai di depan halaman rumah Eyang Mila, Afifah masih diam saja, dia juga tidak seceria saat berangkat tadi yang gak berhenti berceloteh dengan Dimas, menceritakan teman-teman satu circlenya, cerita lainnya yang membuat Dimas betah sekali mendengar curhatan anak SMP.
“Fah, kenapa diam dari tadi?” tanya Dimas sebelum turun dari mobil. Afifah mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.
“Enggak, siapa yang diam? Dari tadi kan ngomong sama om? Kalau om tanya juga aku jawab?” jawab Afifah.
“Maafin om, ya? Om tadi berani cium bibirmu. Om minta maaf sekali sama kamu, Fah,” ucap Dimas.
Afifah menatap Dimas dengan mata berkaca-kaca, entah kenapa mendengar Dimas meminta maaf rasanya dia ingin menangis, gak tahu sebabnya kenapa dadanya sesak, dan air matanya memaksa ingin keluar dari sudut matanya.
“Lho kok nangis? Jangan nangis dong? Nanti matamu sembab? Nanti eyang tanya kamu kenapa?” ucap Dimas dengan menyeka air mata Afifah.
“Jangan bilang bunda sama ayah ya, Om? Kita tadi ciuman. Afifah juga minta maaf, kenapa Fifah juga tiba-tiba ingin cium om.” Afifah malah dengan polos dan lugas bicara pada Dimas, kenapa dia sampai ingin mencium bibir Dimas.
__ADS_1
“Masa om bilang sama ayah dan bundamu, Fah? Mau cari mati om sama orang tua kamu? Enggak, om gak akan pernah bilang. Om janji, hanya kita yang tahu. Kamu jangan khawatir, sudah jangan nangis lagi.” Dimas mengusap air mata Afifah lagi, lalu ia mengusap kepala Afifah dengan sayang.
Entah kenapa Dimas merasakan ada sesuatu yang berbeda saat mengusap kepala Afifah. Padahal biasanya dia biasa saja, gak ada perasaan aneh, tapi kali ini malah dirinya merasakan ada sesuatu yang bergetar dalam hatinya.
“Janji ya om jangan bilang bunda dan ayah?” pinta Afifah.
“Iya, Afifah ....” Dimas malah mengusap pipi Afifah dengan gemas, dan wajahnya mendekati wajah Afifah.
Kembali Dimas melihat bibir Afifah yang manis dan masih ranum. Dimas mengerti kenapa ada dorongan untuk kembali mencium bibir Afifah.
“Fah ...,” panggil Dimas lirih saat Afifah menundukkan kepalanya, karena malu ditatap Dimas begitu. Tapi Afifah langsung mengecup bibir Dimas, entah kenapa dia begitu agresif sekali pada Dimas. Dimas sampai tidak menyangka Afifah malah kembali mencium bibir Dimas.
Dimas menyesap habis bibir Afifah yang ranum, tidak peduli Afifah masih di bawah umur, Dimas begitu menikmati ciuman dengan keponakannya itu, hingga tidak ia sadari ciumannya turun ke leher Afifah, ia mencumbu bocah kecil yang ia anggap keponakannya itu hingga Afifah sedikit terbuai dengan cumbu rayunya. Dimas terus mencumbu Afifah hingga ciumannya turun ke dada Afifah.
“Jangan ya, Om? Maaf Afifah cium om lagi,” ucap Afifah lalu dia memeluk Dimas. “Afifah sayang sama om,” ucapnya lirih.
Dimas tidak tahu harus menjawab apa. Dia disayang sama keponakan yang bukan keponakan kandungnya. Dia tidak mengerti kenapa Afifah bilang sayang padanya, dan memang Dimas sangat sayang pada Afifah, karena dia anggap Afifah adalah keponakannya. Namun, malam ini berbeda, ada rasa yang sulit Dimas artikan saat ia mencium Afifah. Rasa sayangnya pada Afifah yang ia anggap sebagai keponakan, sudah tidak ada, berganti dengan rasa sayang yang lain.
“Om juga sayang Afifah.” Dimas bukannya melepaskan pelukan Afifah, tapi ia malah membawa Afifah duduk di pangkuannya dengan menghadapnya. Ia kembali menciumi bibir Afifah, dan merasakan sesuatu yang mengeras di balik celananya. “Makasih sudah menyembuhkan sakit om, Fah. Om janji apa yang Afifah minta, om akan turuti semuanya,” bisik Dimas.
Afifah tahu sakit Dimas apa, ia hanya pura-pura tidak tahu sakitnya Dimas. Afifah juga merasakan ada yang mengganjal saat ia duduk di pangkuan Dimas. “Aku mau jadi pacar om, aku gak mau dibilang jomlo terus sama teman-teman, Om. Temanku sudah punya pacar semua,” pinta Afifah. “Hanya itu yang Afifah mau,” pungkasnya.
“Om ini sudah tua, Afifah?” ucap Dimas.
Dimas kaget Afifah bisa bicara seperti itu pada Dimas. Tapi, memang Dimas butuh Afifah. Bukan, bukan untuk macam-macam, dia ingin tahu perkembangan kesehatannya saja setelah dengan Afifah.
“Oke, om mau jadi pacar kamu, tapi kamu harus jadi peringkat satu terus, jangan sampai turun nilai kamu. Mau tidak?” ucap Dimas.
“Oke, siapa takut!” jawab Afifah.
“Kita jadian malam ini?” tanya Dimas.
“Hmmm ... kita pacaran,” jawab Afifah.
“Pacar kecilku,” ucap Dimas gemas lalu menciumi pipi Afifah.
“Tapi diam-diam dari ayah sama bunda, nanti saja kalau Afifah sudah siap bilang om pacarku,” ucap Afifah.
Dimas mengernyitkan keningnya. Dia merasa Afifah sungguh-sungguh ingin jadi pacarnya, padahal Dimas tidak yakin kalau dirinya akan terus bersama Afifah. “Nunggu ini anak sampai lulus kuliah aku sudah tua dong? Sudah jadi kakek-kekek? Tapi, kenapa dia begitu memesona? Kenapa cantik sekali Afifah?” batin Dimas.
“Ayo turun, nanti eyang nungguin kita,” ajak Dimas.
“Oke, Afifah rapihkan rambut dan baju Fifah dulu, Om. Om turun dulu, nanti malah eyang curiga,” ucap Afifah.
Entah kenapa Afifah berani meminta Dimas untuk jadi pacarnya. Setelah dicium Dimas, rasanya Afifah tidak mau melepaskan Dimas, ia kecanduan dengan bibir Dimas dan harum tubuh Dimas yang maskulin. Rasanya Afifah mendapat sugar daddy yang sempurna. Afifah yang kecanduan drama romantis dan bacaan-bacaan romantis, ia memang ingin memiliki pacar yang lebih dewasa dari dirinya. Dimas adalah sosok sempurna di mata Afifah. Sejak SMP dan sering bertukar kabar dengan Dimas, ia merasa seperti memiliki om yang lebih dari sekadar om.
__ADS_1
“Fah, lama sekali?” tanya Dimas.
“Om ini gimana?” tanya Afifah dengan menunjukkan bekas merah di dadanya.
“Astaga ... maaf om gak sengaja bikin kissmark, Fah,” ucap Dimas.
Bisa-bisanya Dimas malah meninggalkan tanda merah di dada Afifah. “Untung di dada, Fah. Bisa ketutup, gak kelihatan,” ucap Dimas.
“Lain kali jangan begini ya, Om?” ucap Afifah malu.
“Iya, maaf,” ucap Dimas.
Dimas merasa bukannya menjaga Afifah tapi malah merusaknya. Tapi, yang tadi di mobil memang Afifah yang mulai. Afifah juga sering melihat bundanya bermesraan dengan ayahnya, kadang ayahnya yang gak tahu tempat ciuman dengan bundanya di ruang tamu atau di ruang tengah. Ditambah tontonan Afifah dan bacaan Afifah juga mengarah ke hal yang seperti itu. Tapi Afifah tetap konsisten dengan sekolahnya, dan selalu mempertahankan peringkatnya.
“Eyang ....” Afifah berlari memeluk eyangnya yang sudah lama tidak berjumpa.
Setelah di Jogja Afifah jarang sekali ke rumah eyang dan omanya. Hanya saat liburan saja dia ke rumah eyang dan omanya, itu juga pasti diantar oleh Dimas, kalau Askara dan Salma sekarang sibuk mengurus bisnisnya. Askara dan Salma hanya mengantarkan saja di rumah eyangnya atau omanya, setelah itu pulang ke Jogjanya pasti Afifah diantarkan oleh Dimas.
“Afifah ... eyang kangen sekali sama kamu.” Mila memeluk cucunya. Meskipun Afifah bukan anak kandung Salma, tapi Mila sangat menyayangi Afifah seperti cucunya sendiri, apalagi dari kecil Afifah bersama Salma. Dan Afifah adalah pengobat luka Salma saat dikhianati Dimas.
“Iya, Afifah juga kangen sekali dengan eyang. Eyang sakit ya katanya?” tanya Afifah.
“Biasa, namanya juga sudah tua, Fah. Ya begini, kadang pusing, kadang pegel-pegel badannya,” jawab Mila.
“Bu, jangan telat minum obatnya, ibu pasti gak rutin check-up selama Dimas di Australia, ya?” ucap Dimas.
“Rutin kok, kalau gak lupa, Dim,” jawab Mila.
“Itu sama saja gak rutin ibu ....” Dimas mencium tangannya lalu memeluk Bu Mila, perempuan yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri, setelah ibu dan ayahnya meninggal dunia.
“Kamu menginap di sini kan, Dim?” tanya Mila.
“Iya, tapi Dimas ada janji sama klien, paling sebentar, ngasih dokumen lalu pulang,” jawab Dimas.
“Makan malam dulu, ya? Ibu sudah masak,” ucap Mila.
“Sebentar, kemalaman gak, ya?” ucap Dimas.
“Om ini gak menghargai eyang, ya? Eyang kan sudah masak, Om?” ucap Afifah kesal, apalagi mendengar Dimas yang mau pergi urusan kerja lagi.
“Iya sudah, kita makan malam dulu, lagian bisa besoklah ketemunya, kalau misalkan nanti masih bisa ketemu ya nanti om menemuinya,” ucap Dimas.
“Gitu dong, hargai eyang yang sudah masak, padahal masih gak enak badan tahu, Om?” ucap Afifah.
“Iya bawel, ayo makan,” ajak Dimas.
__ADS_1