Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Kenalan


__ADS_3

Dimas masih menunggu balasan chat dari Afifah, tapi tidak ada balasan dari Afifah sampai sore, sampai pekerjaan Dimas selesai semua. Dimas benar-benar dibuat galau setengah mati oleh Afifah, gadis belia yang belum cukup umur itu bisa membuat Dimas segalau itu, padahal tidak pernah Dimas merasakan seperti ini sebelumnya.


“Apa karena aku sudah merasa bersalah semalam melakukan itu pada Afifah. Memberikan ciuman yang seharusnya tidak aku lakukan pada anak seusia Afifah, aku merasa aku ini harus bertanggung jawab dengan perbuatanku semalam, padahal hanya ciuman saja?” batin Dimas.


Dimas mengusap kasar wajahnya dan mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustrasi memikirkan Afifah. Dimas meninggalkan kantornya, ia ingin pulang, penasaran ingin tahu Afifah sedang apa, karena dari pagi tidak ada kabar darinya, pesan darinya pun belum dibalas oleh Afifah. Jangankan dibalas, dibaca saja belum?


^^^


Afifah dari tadi memang sengaja meninggalkan ponselnya di rumah, karena dia sedang malas memegang ponsel. Padahal dia ikut oma dan opanya pergi ke pernikahan anak kerabatnya, sekaligus mengadakan acara temu kangen. Ardha dan Alana ingin saja mengajak cucunya dan mengenalkan cucunya pada sahabat-sahabatnya. Untung di sana Afifah juga kenalan dengan cucu dari sahabat opanya. Dan, kebanyakan mereka memperkenalkan cucunya.


“Ini Afifah anaknya Askara kan, Ar?” tanya Alka, sahabat Ardha yang dulu naksir sama Alana, dan sempat bersaing dengan Ardha saat ingin mendapatkan Alana.


“Iya dong, kan cucu perempuanku dan Kak Zhafran satu-satunya Cuma Afifah? Anaknya Nina laki-laki semua dua-duanya, anaknya Risya juga laki-laki, ini sedang hamil lagi, semoga saja perempuan biar Afifah ada temannya,” jawab Ardha.


“Makin cantik saja kamu, Nak?” puji Alka. Mirip Thalia, ya?” imbuhnya.


“Iya agak kebule-bulean mirip uyutnya,” ucap Alana.


“Matanya indah sekali kamu, Nak,” puji Cintya, istri Alka.


“Makasih oma, opa,” ucap Afifah malu-malu.


“Kelas berapa kamu, Nak?” tanya Cintya.


“Mau masuk kelas dua SMP, Oma,” jawab Afifah.


“Waduh oma kira kamu sudah mau SMA? Bongsor sekali kamu, Nak,” ucap Alka.


“Iya nih cepat gede sekali, kayaknya baru kemarin nimang dia, dia sudah gede, malah pantasnya sudah jadi Mahasiswa nih anak,” ucap Ardha.


“Ih opa, orang masih imut begini masa kayak mahasiswa?” protes Afifah.


Afifah memang menuruni wajah Eyang Uyutnya, yaitu Thalia, ibu dari Zhafran –papa kandungnya Askara. Wajahnya agak kebule-bulean, karena Papanya Thalia berdarah Jerman. Zhafran pun sedikit kebule-bulean, tapi menurunnya malah pada Afifah, cucunya.


“Kamu ini sudah seperti orang dewasa lho, Fah? Kamu cantik sekali, sudah gak pantas SMP,” ucap Alka.


“Ah opa Alka ini? Berlebihan sekali memujinya?” ucap Afifah malu-malu.

__ADS_1


“Opa, oma dari tadi Vero cariin kok di sini?” ucap seorang anak laki-laki yang mendekati Alka dan Cintya.


“Ya habis kamu malah gabung sama teman kamu? Ya oma tinggal. Ayo salim sama Opa Ardha dan Oma Alana,” titah Cintya.


“Halo opa, oma, salam kenal aku Vero cucu semata wayang Oma Cintya,” ucap Vero memperkenalkan diri.


“Ini anaknya Daren, Al?” tanya Alka.


“Iya anaknya Daren, mau anaknya siapa lagi? Orang aku Cuma punya anak Daren saja?” jawab Alka.


“Wah sudah gede ya sekarang? Kelas berapa, Nak?” tanya Ardha.


“Kelas dua SMA, Opa,” jawab Vero.


“Nih kenalan sama cucunya opa Ardha, namanya Afifah, sama-sama kelas dua, kelas dua SMP tapi,” ucap Alka.


“Ih opa ini lupa ya? Aku baru mau masuk SMA kok, masa sudah langsung kelas dua?” protes Vero.


“Oh iya lupa,” ucap Alka. “Ayo kenalan sama Afifah, kalau Afifah ini cucunya Opa Ardha, dia baru mau masuk kelas dua SMP,” sambung Alka.


“Afifah.”


Mereka saling berjabat tangan, dan berkenalana. “Salam kenal Afifah, masa kamu masih SMP kelas dua? Aku kira sama-sama SMA?” ucap Vero.


“Aku kan baru empat belas tahun ya masih SMP, masa SMA?” ucap Afifah.


Afifah mengobrol dengan Vero. Entah kenapa semua teman-teman Ardha dan Alka seperti janjian membawa cucu-cucu mereka. Saling mengenalkan cucu mereka. Untung saja Afifah mau ikut, jadi Ardha bisa mengenalkan Afifah pada beberap temannya.


“Ardha aku pamit dulu, ya? Ada acara di tempat lain soalnya,” pamit Alka.


“Iya, Al. Aku juga ini mau pulang,” ucap Ardha.


“Afifah, boleh minta nomor ponselmu?” pinta Vero.


“Ehm ... aku gak bawa ponsel, kemarikan ponselmu, aku akan tuliskan nomorku,” jawab Afifah.


Afifah menuliskan nomornya di ponsel Vero. “Nanti tinggal chat atau telefon saja, kasih tahu kalau itu kamu,” ucap Afifah.

__ADS_1


“Oke, terima kasih Afifah,” ucap Vero. “Aku pamit pulang dulu, ya?”


Afifah mengangguk, ia pun pulang, karena Ardha sudah mengajak pulang, apalagi Ardha belum bertemu dengan Eyang Mila, belum mengobrol, datang ke rumahnya tidak ada Bu Mila, dan langsung mengajak Afifah untuk ikut ke pesta pernikahan anak dari temannya.


“Bagaimana apa Vero itu tampan?” tanya Ardha.


“Namanya laki-laki ya tampan, Opa?” jawab Afifah.


“Kalau nanti SMA pindah ke sini saja, biar bisa bareng sama Vero?” ucap Ardha.


“Bisa bareng sama Vero apa karena opa pengin aku di sini, biar gak kesepian?” tanya Afifah.


“Dua-duanya, sih. Tapi lebih ingin kamu di sini. Kalau opa kangen bisa langsung ketemu, gak usah ke Jogja, kan jadinya opa jauh?” ucap Ardha.


“Salahnya opa juga, kenapa malah usaha yang di sana dianggurin milih pindah di sini? Padahal oma lebih nyaman tinggal di sana, Opa,” ucap Alana.


“Ya bagaimana lagi, Papi kan minta aku untuk urus usahanya di sini juga? Lagian di sana ada Askara yang meneruskan?” kata Ardha.


“Bunda sama ayah gak mau pindah ke sini, Opa. Bunda katanya sudah nyaman tinggal di Jogja, tidak ingin pindah ke sini,” ucap Afifah. “Padahal Afifah sih ingin di sini, tapi Afifah gak mau tinggal di rumah Afifah yang dulu, karena nanti bunda galau kalau ingat dulu pas waktu ada ibu. Afifah gak mau lihat bunda sedih lagi, Opa,” pungkasnya.


Afifah tahu bundanya kalau diajak pulang ke rumah yang dulu selalu tidak mau. Salma lebih memilih menginap di rumah ibunya, daripada harus pulang ke rumah yang dulu. Rumah yang menurutnya penuh luka itu. Salma masih saja teringat dulu saat ada Azzura di rumah itu, dan membuat dirinya pisah dengan Askara. Alana juga tahu bagaimana perasaan Salma kalau datang dan tinggal lagi di rumah itu. Tidak mungkin rumah itu dijual oleh Askara, karena rumah itu sangat berarti bagi Askara.


“Nanti oma bujuk bunda sama ayah biar mau pindah ke sini,” ucap Alana.


Alana ingin anak-anaknya dekat dengan dirinya, tidak usah jauh-jauh darinya, tapi kenyataannya Askara malah memilih tinggal di Jogja sekarang. Hanya ada Risya, dan Nina. Juga cucu-cucu mereka yang laki-laki semua, anak dari Nina dan Risya. Meskipun Nina hanya anak sambungnya, karena dulu Alana pernah menikah dengan Zhafran, tapi Nina lebih dekat dengan Alana daripada dengan Binka, ibu kandungnya. Padahal Zhafran dan Binka hanya memiliki Nina saja, tidak memiliki anak lagi. Tapi, Zhafran sangat beruntung, karena Afifah, cucu perempuan satu-satunya kecantikannya menuruni ibunya Zhafran. Justru Afifah yang wajahnya sedikit mirip Zhafran, karena Zhafran wajahnya lebih ke bule-bulean, seperti ibunya. (Yang belum paham silsilah mereka, silakan baca cerita Sejuta Cinta Untuk Alana)


Askara yang anak kandung Zhafran dengan Alana malah lebih mirip dengan Ardha, ayah sambungnya yang tak lain adik kandung  Zhafran. Jadi memiliki Afifah, Zhafran merasa sempurna karena ada yang menuruni wajahnya. Nina pun wajahnya lebih mirip ke mamanya, bukan ke Zhafran.


“Aku harus bujuk Salma dan Askara, pasti Kak Zhafran bisa membantuku untuk Salma dan Askara supaya mau pindah lagi ke sini. Aku tidak bisa terlalu jauh dengan Afifah, apalagi bertemunya hanya setahun sekali,” batin Alana.


Afifah pulang ke rumah eyangnya. Di rumah sudah ada eyangnya yang dari tadi menunggu Afifah, karena sampai mau menjelang maghrib Afifah baru pulang. Di rumah Bu Mila juga sudah ada Dimas yang juga menunggu Afifah.


“Maaf lama sekali ajak Fifahnya, sekalian jalan-jalan, kemarin masih kurang sekali jalan-jalan sama Afifahnya,” ucap Alana.


“Tidak apa-apa, Bu. Lagian saya kan tidak di rumah, untuk Bu Alana sama Pak Ardha ke sini, jadi Afifah tidak sendirian,” ucap Mila.


Dimas hanya diam saja, tidak bicara apa pun kalau tidak diajak bicara. Bu Mila mempersilakan opa dan omanya Afifah untuk makan malam bersama.

__ADS_1


__ADS_2