Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Bolos Kuliah


__ADS_3

Bu Mila baru saja selesai menemani Yusuf main di taman, ia menuju ke ruang makan sambil telefonan dengan teman arisannya. Entah mengobrol apa, sepertinya serius sekali. Bu Mila mematikan ponselnya saat sudah duduk di depan meja makan.


“Siapa, Bu?” tanya Salma.


“Itu Bu Sari, tanya sama ibu, punya saudara laki-laki, keponakan atau siapa, yang belum menikah, katanya mau cariin anaknya jodoh. Anaknya perempuan, yang bungsu, baru lulus kuliah satu tahun, pengin anaknya cepat nikah,” jawab Bu Mila.


“Oh, jadi mau cariin jodoh anaknya gitu? Tanya ibu punya saudara enggak buat dijodohin sama anaknya?” tanya Salma.


“Iya,” jawabnya.


“Lalu ibu jawabnya apa?” tanya Salma lagi.


“Ya, jawab adanya Dimas, mantan suami kamu yang sudah duda bertahun-tahun, umurnya sama dengan kamu,” jawab Bu Mila.


“Uhuk!” Afifah tersedak mendengar eyangnya menjawab Dimas, seakan ingin Dimas dengan anak temannya itu. Afifah langsung meraih gelas di depannya, lalu ia meneguk airnya hingga tandas.


“Hati-hati, Afifah?” tegur Salma.


“Maaf bunda, gak tahu kenapa sampai tersedak,”  jawab Afifah.


Salma semakin yakin, anak perempuannya punya hubungan khusus dengan Dimas, apalagi melihat Afifah saat eyangnya menyebut nama Dimas dan bilang mau dijodohkan dengan anak temannya, Afifah langsung gugup seperti itu.


“Menurutmu, bagaimana kalau Dimas ibu kenalkan dengan anak teman ibu, Sal?” tanya Bu Mila.


“Ya kalau menurut Salma, ibu tanya sama Dimas dulu, jangan kasih harapan sama teman ibu dulu, kali saja dia sudah punya pandangan cewek, tapi ceweknya diajak nikah belum mau. Tar kalau ibu bilang sama temannya soal Dimas, temannya ibu langsung klik, ternyata Dimas punya pacar kan jatuhnya mengecewakan pihak ceweknya?” jelas Salma.


“Betul kata Salma, Bu. Ibu jangan gegabah mau jodoh-jodohin orang, apalagi Dimas itu bukan anak kandung ibu, meskipun ibu sudah dianggap Dimas seperti anaknya sendiri, pun dengan Dimas yang sudah menganggap ibu ini seperti ibunya sendiri, tapi tetap saja, Dimas kan punya kebebasan untuk pilih wanita yang kelak akan jadi pendampingnya nanti?” tutur Askara.


“Iya juga sih, ibu gak mikir sampai situ, ibu sudah bilang Dimas begini, dan begitu sama teman ibu. Terus sudah kirim foto Dimas ke sana,” ucap Bu Mila.


“Aduh ibu? Harusnya ibu tanya dulu sama Dimas? Jangan begitu? Terus bagaimana tanggapan teman ibu?” tanya Salma.


“Ya cocok, katanya meskipun sudah dewasa, Dimas masih terlihat muda, sepertinya juga anaknya cocok, karena sudah lihat foto Dimas,” jawab Bu Mila.


“Harusnya ibu tanya dulu sama Dimas, sebelum melakukan seperti itu. Kalau Dimas sudah punya pacara, dan sudah merencanakan pernikahan misalnya, gimana?” tanya  Salma.


“Ya ibu bilang saja, ibu jodohin dia sama anaknya teman ibu?” jawab Bu Mila dengan entengnya.


“Ih ibu! Dimas bukan anak ibu lho? Anaknya ibu saja belum pasti mau dijodohin kok!” tukas Salma.


“Pasti Dimas maulah, masa enggak? Dimas itu pasti nurut sama ibu!” jawab Bu Mila.


“Tapi, Salma yakin Dimas gak akan mau, Bu!” tegas Salma.


“Kenapa bunda seyakin itu?” tanya Askara.


“Bunda kan tahu Dimas? Dia orang yang gak suka diatur dan dikekang! Gak mungkin dia mau dijodohin!” jawab Salma.


“Dimas sekarang beda sama dulu, Sal. Ibu yakin dia mau,” ucap Bu Mila.


“Gak akan mau!” Salma tetap pada pendiriannya kalau Dimas tidak akan mau dijodohkan, karena Salma yakin Dimas ada hubungan dengan Afifah. Kalau sampai ibunya menjodohkn Dimas, itu akan membuat putrinya sakit hati, baru dengar cerita eyangnya saja Afifah sudah segugup dan raut wajahnya seperti kecewa sekali.


Afifah dari tadi diam saja, ia tidak menyangka kalau Eyangnya akan menjodohkan Dimas dengan anak dari temannya. Afifah tidak mau itu terjadi, dan Afifah percaya kalau Dimas pun tidak akan mau. Tapi, ada rasa sedikit tidak mengenakan di hati Afifah. Dia takut Dimas akan nurut dengan Bu Mila, karena Dimas memang dekat dengan Bu Mila, dan sudah menganggap Bu Mila seperti ibunya sendiri.


Salma melihat Afifah yang langsung diam. Makanannya juga didiami dari tadi saat Bu Mila membahas ingin menjodohkan Dimas. Afifah hanya mengaduk-aduk makanannya sambil melamun, membuat Salma semakin yakin, kalau Afifah punya hubungan khusus dengan Dimas.


“Afifah, kok melamun? Itu makananmu dihabiskan, tinggal sedikit malam didiemin?” ucap Salma pada Afifah.


“Ah, udah kenyang, Bunda,” jawab Afifah gugup. “Afifah pamit, ya? Sudah agak siang soalnya,” pamit Afifah.


“Kakak, jangan lama-lama ya, Pulangnya?” ucap Yusuf.


“Yah, kakak hari ini kuliah sampai sore, Sayang?” jawab Afifah. “Nanti kakak bawain jajan kesukaan kamu deh kalau pulang.” Afifah menciumi pipi adiknya itu, lalu ia pamit dengan ayah, bunda, dan juga eyangnya.


“Fah, kamu baik-baik saja?” tanya Salma.


“Iya, baik. Kenapa bunda tanya itu?” jawab Afifah.

__ADS_1


“Ya kamu kelihatan gak baik-baik saja soalnya,” tebak Salma.


“Afifah sehat, baik-baik saja kok, Bunda?” kilah Afifah.


“Mau berangkat sama ayah saja? Atau diantar sopir? Atau sama bunda saja, ya?” ucap Salma.


“Gak lah, nanti Yusuf sama siapa kalau aku berangkat sama bunda?” jawab Afifah.


Afifah berniat langsung menemui Dimas di kantornya. Afifah bolos kuliah hari ini, karena ia tidak mau keduluan Eyangnya ngomong sama Dimas, kalau mau menjodohkan Dimas dengan anak temannya.


“Ini Eyang ada angin apa sih! Main jodoh-jodohin orang! Aku gak terima pokoknya!” umpat Afifah.


Afifah sudah sampai di depan kantor Dimas. Dia langsung masuk, dan menuju ruangan Dimas. Semua pegawai Dimas tahu Afifah itu siapa, mereka tahu kalau Afifah cucunya Zhafran dan anak dari Askara. Siapa yang tidak tahu Zhafran dan Askara? Mereka kerabat dekat Dimas.


“Mbak, Om Dimas di dalam?” tanya Afifah.


“Iya, tapi sedang ada tamu,” jawab Sekretaris Dimas.


“Siapa?” tanya Afifah.


“Kania, calon Sekretaris baru,” jawabnya.


“Memang mbak mau resign? Kok ada calon Sekretaris baru?” tanya Afifah.


“Iya, Mbak mau pindah ke kantor cabangnya Pak Dimas di Surabaya, jadi harus ada Sekretaris baru di sini,” jawabnya.


“Masih lama, ya?” tanya Afifah.


“Sebentar lagi mungkin, ini yang calon yang terakhir sih, tadi sudah ada empat calon tapi tidak masuk ke kriteria Pak Dimas,” jelasnya. “Tunggu di sana dulu, Afifah, paling Pak Dimas sebentar lagi selesai, mau mbak buatkan minuman?”


“Tidak usah, Mbak. Iya aku tunggu,” jawab Afifah.


Afifah menunggu dengan gelisah di sofa. Kesal sekali rasanya, pagi-pagi sudah dengar berita kalau eyangnya akan menjodohkan Dimas dengan anak temannya, sekarang setelah sampai di kantor Dimas, malah Dimas sedang menemui calon sekretaris barunya.


Seorang perempuan, keluar dari ruangan Dimas dengan wajah berbinar. Mungkin dia yang Dimas pilih untuk jadi Sekretarisnya. Afifah melihat perempuan itu yang menyapa dirinya dengan sopan, lalu mengulas senyum pada Afifah.


“Satu bulan?” tanya Mita.


“Iya, harus bisa!”


“Ba—baik, Pak,” jawabnya.


Dimas menoleh ke arah sofa tamu, dia lihat Afifah yang duduk dengan wajah ditekuk kesal. “Kamu gak kuliah, Afifah?” tanya Dimas.


Afifah tidak menjawabnya, ia berdiri lalu langsung berjalan masuk ke dalam ruangan Dimas dengan cemberut.


“Hei, kamu kenapa? Bertengkar lagi sama bundamu? Atau ayahmu?” tanya Dimas bingung. Lalu ia menyusul Afifah ke dalam.


Afifah duduk di sofa, menatap tajam Dimas, yang baru masuk dan mengunci pintu ruangannya. Dia duduk di sebelah Afifah, ia raih tangannya lalu ia cium. “Kenapa?” tanya Dimas, tapi Afifah masih saja diam. Dimas merapatkan tubuhnya, diraihnya tubuh Afifah untuk dipeluknya. “Pagi-pagi kok udah merengut gini sih istriku?” Dimas menghujani ciuman di kening Afifah.


“Sebel sama eyang!” ucapnya. “Sebel juga pagi-pagi kamu sudah di datangi cewek-cewek cantik!” lanjutnya.


“Eyang kenapa? Itu tadi yang mau gantiin Mbak Mita, Sayang?” ucap Dimas.


“Eyang mau ngenalin cewek, anaknya teman arisan eyang ke Om. Mau dijodohin sama anak temannya! Gak tahu cucunya itu pacar kamu!” ucapnya dengan napas memburu. “Aku gak rela, kalau itu terjadi!”


“Karena itu saja kamu sampai semarah ini?” tanya Dimas gemas melihat wajah Afifah yang lucu.


“Gimana gak sewot? Aku tahu om pasti akan nurut sama eyang, kan?” ucap Afifah.


“Ya enggak lah! Om bilang kalau om sudah punya calon?” jawab Dimas.


“Kalau maksa? Lebih kesalnya lagi foto om sudah dikasihkan ke temannya eyang! Mau diberikan sama anaknya nanti kalau anaknya sudah pulang kerja!”


“Astaga, ibu?! Kenapa begitu sih!” gerutu Dimas.


“Eyang gitu banget, ih!” cebik Afifah.

__ADS_1


“Sudah, nanti om bilang sama eyang baik-baik. Kamu tenang saja. Om gak akan menerima perempuan lain, om itu hanya cinta sama kamu, om gak akan lepasin kamu begitu saja, Afifah. Om akan bilang sama ayahmu, kalau om mau serius sama kamu!” tegas Dimas.


“Yakin? Gak bohong?”


“Yakin, Sayang?” jawab Dimas meyakinkan Afifah. “Jangan takut, ya? Om akan bicara baik-baik sama ayahmu, soal hubungan kita. Om akan segera menikahimu, kalau lama-lama, om takut akan merusak anak gadis orang, karena Cuma kamu yang bisa buat om gini?” ungkap Dimas.


“Aku tunggu Om ke rumah. Segera!” tantang Afifah.


“Nanti malam!” tegas Dimas.


“Om, aku pengin tanya sama Om, aku penasaran sih dari dulu, ya ini sudah lama, aku pengin tanya soal ini,” ucapan Afifah terhenti ia atur napasnya dulu perlahan sebelum kembali bicara.


“Mau tanya apa, Sayang?” tanya Dimas.


“Om katanya dulu Impoten?” tanya Afifah.


“Oha itu, iya. Tapi, sejak malam itu, malam di mana ....”


“Tante Renata mutusin om, dan kita ciuman, om bisa on lagi? Iya, begitu?” potong Afifah.


“Kok kamu tahu?” tanya Dimas.


“Ya aku ngerasa saja punya Om keras, kan kalau impoten gak bisa keras? Tapi kok keras?” jawab Afifah.


“Kamu masih SMP lho itu? Kok kamu sudah tahu begituan?” tanya Dimas penasaran.


“Ya karena baca-baca sama browsing aku jadi tahu. Kenapa bisa on waktu itu? Padahal kata tante Renata gak bisa on?”


Dimas akhirnya menjelaskan semuanya. Kejadian malam itu memang tidak terduga. Dimas bisa on karena Afifah, dan sampai ia coba lagi dengan Renata pun hasilnya tidak bisa on, hanya dengan Afifah Dimas bisa on sampai bisa merasakan orgasmenya lagi yang tidak pernah terjadi selama bertahun-tahun. Dimas menjelaskan itu pada Afifah, dan membuat Afifah tercengang dengan penjelasannya.


“Om begini sama aku, bukan karena aku bisa membuat Om on lagi, kan?” tanya Afifah.


“Om sayang, om cinta sama kamu tulus, Fah. Kalau tidak, om sudah selingkuh, sudah cari yang lebih lagi? Buktinya om bisa menunggu kamu sampai sekarang? Om tidak akan pernah bohong dengan ucapan om, Fah!” jawab Dimas. “Jangan ragu lagi, ya? Om memilih kamu, bukan karena kamu yang bisa membuat om normal lagi, tapi karena om benar-benar tulus mencintaimu, Afifah. Nanti malam tunggu om di rumah, ya? Om mau bicara sama ayah dan bundamu, soal kita.”


“Aku tunggu,” jawab Afifah lalu memeluk Dimas dengan penuh bahagia.


“Ayo ke rumah?” ajak Dimas.


“Mau apa?” tanya Afifah.


“Bikin dedek, yuk? Katanya kamu penasaran dan sudah kepingin?” canda Dimas.


“Ih gak mau! Nanti saja, kalau sudah menikah!” tolak Afifah. “Eh, iya yuk? Lagian kan sudah tanggung, tinggal masuk saja, toh om sudah biasa lihat?” Pikiran Afifah berbalik, dia malah menunjukkan wajah nakal dan genitnya pada Dimas.


“Gak, Gak! Gak jadi! Aku gak mau rusak kamu lebih-lebih, kita nikah saja nanti, kalau ayahmu gak setuju, baru kita kawin lari!” tegas Dimas.


“Capek om kawin lari? Di kasur yang Cuma begituan saja capek, kok?” ucap Afifah.


“Pintar ya sekarang?”


“Kan om suhunya?” jawab Afifah.


Dimas yang sudah gemas dengan Afifah. Ia meraih tubuh Afifah dan membawa ke pangkuannya. Ia cumbu Afifah yang ada di pangkuannya, hingga cumbuannya membuat darah Afifah berdesir.


“Om, aku mau,” rengek Afifah manja.


“Mau apa?” tanya Dimas dengan napas memburu.


“Mau yang lebih, sekarang!” jawabnya dengan membuka kait celana Dimas.


“Ish ... Sayang? Jangan di sini, di kamar saja, ya?”


“Hmm ... ayok!” ajaknya manja.


“Iya sabar,” ucap Dimas gemas.


Dimas menggendong Afifah ke kamarnya, kamar pribadi yang ada di ruang kerjanya. Entah bagaimana selanjutnya, Dimas akan melakukannya lebih dari biasanya sesuai apa yang Afifah minta, atau mereka hanya sekadar bercumbu seperti biasanya yang sering mereka lakukan.

__ADS_1


__ADS_2