
Dimas membawakan sarapan untuk Afifah. Sarapan yang agak kesiangan. Saking menikmati pagi pertamanya setelah menikah, mereka sampai melupakan waktu, dan melupakan rasa lapar, karena sudah terganti oleh rasa nikmat yang tiada tara.
Dimas mengetuk pintu kamar mandi, lalu masuk menyusul Afifah di kamar mandi. Afifah tidak mungkin jalan sendiri, keluar dari kama mandi, karena kakinya masih sakit dan lemas sekali. Kaki Afifah rasanya sudah tidak memiliki tulang lagi, setelah pagi ini digempur oleh Dimas sampai empat kali.
“Sudah selesai?” tanya Dimas.
“Sudah,” jawab Afifah sambil menali bathrobenya.
“Ayo aku gendong.”
Dimas menggendong Afifah, ia mendudukkan Afifah di sisi tempat tidurnya. Lalu ia mengambilkan baju santai untuk Afifah.
“Mau aku bantu pakaikan?” tanya Dimas.
“Gak usah, Yang, aku pakai sendiri,” jawab Afifah.
“Gitu dong, manggilnya Yang, Beb, Pah, Papi, atau Daddy, jangan Om terus. Kesannya aku ini Om-Om yang menjadikan kamu simpanannya?” ujar Dimas.
“Iya, Sayang ... aku gak lagi panggil Om,” jawab Afifah.
“Gak manggil Daddy saja?” tanya Dimas.
“Nanti, ya? Kalau sudah punya anak?” jawab Afifah.
“Iya sudah, pakai bajunya, lalu kita sarapan. Minum susu dulu sama makan sandwich, ya? Bibi lagi masakin makanan yang kamu minta, paling satu jam lagi,” ucap Dimas.
Selesai memakai baju Dimas memberikan segelas susu pada Afifah. Ia meneguknya setengah gelas, dan langsung mengambil sandwich yang Dimas buatkan tadi. Bukannya Afifah yang melayani suaminya, malah suaminya yang telaten melayani Afifah.
“Masih sakit kakinya?” tanya Dimas.
“Masih, Yang. Semakin mengganjal rasanya, kebas milikku, rasanya masih ada punya kamu di dalam,” jawab Afifah.
“Nanti juga perlahan hilang, dan gak sakit lagi. Kan baru pertama kali? Jadi wajar kamu merasakan seperti ini,” jelas Dimas.
“Iya sih, tapi aku gak usah keluar dulu, ya? Malu jalannya, sakit Yang, nanti malah diledekin sama lainnya,” ucap Afifah.
“Iya sementara kalau masih sakit di kamar saja, nanti kalau ada apa-apa bilang sama aku,” ucap Dimas.
“Ucup tadi gimana, Yang?” tanya Afifah.
“Aman sih, sudah aku bujuk, dan sudah gak nangis lagi,” jawab Dimas. “Kamu sudah makannya? Kalau sudah, aku mandi dulu, ya?”
“Iya sana mandi dulu, aku tunggu di sini,” jawab Afifah.
Dimas bergegas untuk mandi, ia meninggalkan Afifah di tempat tidur yang sedang menikmati sarapannya. Ia kecup kening Afifah, lalu masuk ke kemar mandi. Afifah mencoba turun dari tempat tidurnya, ia tidak mau manja-manja karena sakit, ia paksa untuk berjalan, supaya ototnya tidak makin kaku. Afifah berjalan pelan-pelan sambil meringis dan memegangi pangkal pahanya yang sakit dan kaku. Ia paksakan untuk berjalan, mendekati lemari dan mengambilkan baju untuk Dimas.
“Ahw ... sakit sekali, tapi kalau aku gak dipaksa jalan begini, nanti yang ada malah tambah kaku dan gak sembuh-sembuh,” ucap Afifah.
Ia kembali lagi dudukan di sisi tempat tidur sambil menahan rasa sakit di bagian bawahnya. Napasnya sampai terengah-engah menahan sakitnya yang masih terasa sekali.
Dimas keluar dari kamar mandi, ia melihat Afifah yang sedang meringis kesakitan, lalu pandangannya beralih ke baju yang ada di samping Afifah.
“Kenapa, Yang?” tanya Dimas. “Ini kok ada bajuku?” sambungnya.
“I—itu, Yang, tapi aku ambil baju kamu, eh ternyata masih sakit sekali buat jalan,” jawab Afifah.
“Kan aku sudah bilang, Sayang? Gak usah jalan-jalan dulu, biar gak sakit lagi, kamu ini kalau aku kasih tahu sukanya begitu ih? Jadi kesakitan, kan?”
Dimas langsung memakai bajunya, lalu setelah selesai, ia berjongkok di depan Afifah. “Masih sakit sekali, ya?” tanya Dimas.
“Ya gak sakit banget kayak semalam, Yang. Tapi, ya masih sakit,” jawab Afifah.
“Ya sudah kamu gak usah ke mana-mana, di sini saja. Biar kamu sembuh sakitnya dulu. Nanti malam aku gak akan menyentuh kamu dulu, kamu sedang sakit begini, aku jadi takut malah tambah sakit,” ucap Dimas.
“Ih, jangan begitu, aku mau lagi, sakitnya gak kerasa kalau buat begituan, kan sakitnya jadi enak,” ucap Afifah dengan senyum menggoda.
“Tuh malah menggoda? Iya pas gitu jelas enak, tapi setelahnya begini, kan?” ucap Dimas.
“Tapi aku mau lagi, Sayang ...,” rengek Afifah manja.
__ADS_1
“Iya sudah, nanti malam. Kamu tunggu sini, aku keluar, tanya masakannya sudah matang belum. Aku lapar sekali soalnya. Susu sama sandwich gak mempan buat mengganjal perutku,” ucap Dimas.
“Hmm ... sama, aku pun masih lapar, tenagaku seperti terkuras habis, saking semangatnya tadi aku kuras semua sampai lemas,” ucap Afifah.
“Ya sudah tunggu di sini, ya?”
Afifah mengangguk, Dimas keluar dari kamarnya untuk menanyakan sarapannya sudah matang atau belum. Dimas masih merasa lapar, meskipun sudah minum segelas susu segar, dan dua potong sandwich, tapi tetap saja masih sangat lapar. Apalagi semalam tenaganya terkuras habis untuk mencetak gol di gawang Afifah, ditambah pagi tadi, Afifah yang maunya nambah lagi, dan lagi, membuat Dimas semakin dimabuk kepayang, alhasil perutnya semakin keroncongan.
Dimas keluar menemui asistennya yang ia perintahkan untuk memasak apa yang Afifah inginkan. Masakannya belum matang, akhirnya Dimas menghampiri Yusuf yang masih asik bermain bola.
“Pintar sekali kamu main bolanya, ayo mainan sama kakak,” ajak Dimas.
“Ayok!” jawabnya dengan senang.
“Afifah mana, Dim? Gak ikut keluar,” tanya Askara.
“Ehm ... di kamar, katanya susah buat jalan, jadi dia di kamar,” jawab Dimas.
“Kamu sampai berapa kali sih? Kok Afifah sampai gak bisa jalan?” tanya Askara dengan raut wajah khawatir.
“Ih ayah kok kepo?” tukas Salma.
“Ya gak begitu, Bunda? Habisnya Afifah sampai kesakitan begitu?” ujar Askara.
“Ya wajar dong, Yah?” ujar Salma.
“Ayah boleh masuk ke kamar kamu?” tanya Askara.
“Ya boleh dong, masuk saja, barangkali ayah pengin cerita-cerita sama Afifah,” jawab Dimas memperbolehkan.
“Bunda mau ikut menemui Afifah?” tanya Askara pada Salma.
“Iya. Bunda ikut,” jawabnya. “Kamu sama Kak Dimas dulu ya, Sayang?” ucap Salma pada Yusuf.
“Iya, Bunda!” jawabnya dengan senang.
Askara berjalan di sisi Salma. Salma juga berpikir, dulu saat dirinya dengan Dimas, dia tidak sampai separah Afifah yang kesusahan jalannya. Dia biasa saja. Ya, itu semua karena dulu Salma melakukannya saat mereka masih kuliah, dan belum menikah. Salma salut dengan Dimas yang sekarang, dia tahu Dimas bagaimana, Dimas paling tidak bisa menahan saat dekat dengan kekasihnya, tapi dengan Afifah, Dimas bisa menjaganya dengan baik.
“Masa Afifah sampai begitu sakitnya? Apa setiap perempuan itu beda-beda? Soalnya dulu aku saat sama Dimas juga tidak begitu sakit? Sama juga seusia Afifah aku melakukannya dengan Dimas? Apa sekarang sudah beda juga, mungkin tambah tua ukuran milik Dimas makin besar, atau punya Afifah yang sempit? Ah ... kok otakku mendadak travelling begini” ucap Salma dalam hati.
Mereka masuk ke kamar Afifah. Salma dan Asakara melihat Afifah yang masih duduk dengan bersandar di sandaran tempat tidurnya, tangannya sedang memegangi ponselnya, seperti sedang membalas pesan dari seseorang.
“Fah, gimana? Katanya kamu sakit?” tanya Askara.
“Ih apaan sih, Ayah? Afifah gak sakit kok?” jawab Afifah dengan malu-malu.
“Kata Dimas gak bisa jalan?” tanya Asakara.
“Ah ayah ini, kayak gak tahu saja. Bisa jalan dong, tapi ya sakit, kan habis begitu? Ayah ih gak usah tanya-tanya, Afifah malu!” ucapnya dengan menunduk.
“Tapi kamu baik-baik saja, kan?” tanya Askara.
“Baik, Ayah sayang ...,” jawab Afifah. “Yah, sini aku pengin peluk ayah,” pinta Afifah.
Askara duduk di sebelah Afifah, lalu memeluknya. Ia mengusap kepala Afifah yang masih basah, karena belum sempat ia mengeringkan rambutnya, Dimas tadinya mau mengeringkan rambut Afifah, tapi karena dia dan Afifah kelaparan, jadi pikirannya langsung ke dapur untuk mengambil makanan.
“Rambutmu masih basah. Kok gak dikeringkan?” tanya Askara.
“Itu, tadi Kak Dimas mau ngeringin, tapi aku minta dia ambilkan makan, jadi Kak Dimas langsung ke belakang, ambilin makan, eh ternyata bibi belum selesai masaknya,” jawab Afifah.
“Sini biar ayah keringkan rambutmu, nanti kamu masuk angin lho?” ucap Askara.
Salma dari tadi memijit kaki Afifah. Dia masih bingung, kenapa Afifah sampai kesakitan sekali, padahal dulu dia tidak merasakan sakit yang teramat saat begituan dengan Dimas.
“Fah ... apa sakit sekali?” tanya Salma.
“Ih bunda, gak usah tanya begitu? Aku malu,” jawabnya.
“Ya wajar bunda tanya, habis Dimas bilang kamu lagi kesakitan,” ucap Salma.
__ADS_1
“Apa memang sesakit ini, Bunda? Bunda dulu bagaimana? Sakit seperti ini tidak?” tanya Afifah yang membuat Salma melongo, bingung mau jawab apa.
“Ya, i—itu, Fah. Bunda gak tahu, lupa, Fah. Kamu tanyanya kok aneh-aneh? Ya sama mungkin? Sakit, kan pertama kali?” ucap Salma dengan suara yang sedikit tersendat-sendat.
“Sudah nikmati saja, namanya pengantin baru. Yang penting kamu selalu jaga kesehatan,” ucap Askara.
Askara tahu, Salma kebingungan mau jawab apa. Lagian ada-ada saja Afifah tanya sama bundanya. “Sayang, ikat rambutmu di mana? Ayah ikatkan rambut kamu sekalian, biar tidak berantakan,” ucap Askara saat sudah selesai mengeringkan rambut Afifah.
“Itu di meja rias, Yah,” jawab Afifah.
Askara mengikat rambut Afifah. Sudah lama sekali dia tidak mengikatkan rambut Afifah. “Aku jadi ingat waktu kecil sering dikuncirin Ayah, sebelum ada bunda, dan saat kita di Jogja dulu, sebelum bunda kembali,” ucap Afifah.
“Iya, ayah kangen sekali, lama sekali gak mengikat rambutmu, menata rambutmu,” ucap Askara.
“Ayah ... bunda ... kalian harus sehat-sehat, ya? Kalian yang akur, aku sayang bunda dan ayah. Jangan lupain Afifah, karena Afifah akan tinggal di sini,” ucap Afifah.
“Masa bunda mau lupa sama kamu, Sayang?” ucap Salma.
“Ya kali saja, aku bakalan kangen sama bunda, ayah, dan eyang. Apalagi sama Yusuf,” ucap Afifah.
“Kan kita masih dalam satu kota, Sayang?” ucap Askara.
“Iya sih, tapi kan sudah biasa bareng-bareng sekarang Afifah harus di sini sama suami Afifah?”
“Ya gak apa-apa dong? Ikut suami itu jadi berkah hidupmu, Nak. Apalagi kamu patuh terhadap suamimu?” tutur Salma.
“Iya sih, sering ke sini ya, Bunda, Ayah? Nanti Afifah juga sering ke rumah bunda. Jangan pulang dulu, ya? Sampai seminggu, sampai Afifah berangkat honeymoon,” pintanya.
“Iya enggak, nanti pas kamu berangkat honeymoon, kami baru akan pulang,” jawab Askara.
Askara dan Salma keluar dari kamar Afifah setelah selesai bicara, bahas sana-sini. Askara ingat pertanyaan Afifah pada Salma tadi, saat Afifah tanya bagaimana rasanya, sakit atau tidak. “Bunda dulu bagaimana? Sakit seperti ini tidak?” tanya Askara pada Salma, mengulang pertanyaan Afifah.
“Ih ayah! Kenapa diualang pertanyaan Afifah?”
“Sakit tidak saat dulu sama Dimas? Sama aku kan sama-sama statusnya sudah pernah, jadi ya aku gak tahu kamu sakit atau tidak?” ujar Askara.
“Mulai mancing perkara nih orang? Kalau bunda jawab bisanya merajuk? Gak, bunda gak tahu rasanya, yang jelas rasanya sakit, waktu Azzura datang ke rumah!” jawabnya.
“Udah-udah gak jadi bahas. Aku kalau sudah bahas Zura, jadi takut. Takut kehilangan kamu lagi. Sudah jangan marah, aku minta maaf,” ucap Askara sambil memeluk Salma dan menciumi pipi Salma.
“Lagian ayah ini aneh tanyanya ikutin Afifah. Aku saja bingung mau jawab apa, gak tahu apa rasanya serba salah, jadi mertua sekaligus mantan istri menantuku! Aku itu jadi gak enak sama Afifah, Yah. Apalagi pertanyaannya kritis sekali?” ucap Salma. “Ngerti dong Yah? Bunda posisinya sekarang itu kan serba salah, banyak orang yang bilang ini itu soal bunda dan Dimas dulu, malah jadi bikin ayah baper, apalagi Afifah, pasti dia juga merasa gimana. Makanya bunda merasa bingung sendiri, tapi ya sudahlah, memang begini sih,” ucap Salma.
“Iya sih, maaf ya, Ayah begitu bicaranya,” ucap Asakara.
“Jangan diulang, ya? Aslinya bunda paling gak senang bicara soal masa lalu, Yah? Selain menyakiti pasangan bunda, ya menyakiti diri bunda sendiri, makanya bunda itu mending bahas yang sekarang, bahas apa adanya hidup kita yang sekarang. Hidup kita udah sempurna, Yah. Bunda sudah bahagia sekali, sangat bahagia malahan. Kita itu sudah punya Yusuf, ngapain coba bahas masa lalu gak penting sekali?” tutur Salma.
“Iya, Bunda. Maafin ayah, ya? Ayah gak akan mengulanguinya lagi. Janji,” ucap Askara.
“Awas lho mengulangi lagi, Bunda benar-benar marah sama ayah,” cetus Salma.
“Iya enggak,” jawab Askara.
Askara merangkul Salma, ia berjalan ke belakang, dan berpapasan dengan Dimas yang sedang membawakan makanan untuk Afifah.
“Cie ... mesranya mertuaku?” ledek Dimas.
“Sssttt ... mumpung Yusuf banyak baby sitternya,” jawab Salma.
“Gak usah iri pengantin baru. Itu makanannya sudah ditunggu Afifah,” ujar Askara.
“Iya ini aku bawakan. Yusuf ikut opanya, Yah. Gak tahu tadi diajak Opa Zhafran sama Oma Binka,” ucap Dimas.
“Paling papa mau beli rokok, rokoknya dari tadi habis. Heran sama papa, sudah tua masih saja merokok,” ucapnya.
“Ya biar dong, Yah? Pria kan punya selera, kayak iklan rokoknya?” ujar Dimas.
“Tapi untuk kesehatan gak bagus, Dim,” ujar Askara.
Askara padahal sudah melarang ayahnya merokok, karena umurnya sudah tidak muda lagi. Tapi, namanya sudah kecanduan rokok, ya sudah tidak bisa dihentikan.
__ADS_1