Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Resmi Dilamar


__ADS_3

Zhafran dan Binka tidak habis pikir kalau cucunya akan dinikahi Dimas yang usianya terpaut sangat jauh dari Afifah. Mungkin selisih umurnya hampir dua puluh tahun lebih. Tapi, mau bagaimana lagi, Afifah mengakui kalau dirinya sangat mencintai Dimas. Zhafran sempat berpikir kalau Afifah hamil duluan, karena kabar itu terkesan sangat mendadak, apalagi Afifah yang masih kuliah, membuat Zhafran dan Binka berpikir yang tidak-tidak. Mereka takut kalau cucunya hamil duluan. Setelah mendengarkan penuturan Afifah dan Dimas yang menjelaskan kenapa mereka menikah mendadak, Zhafran merasa sangat lega sekali.


Ardha dan Alana pun kaget mendengar cucunya akan menikah dengan Dimas. Mereka juga berpikiran negatif pada Afifah dan Dimas. Ardha sempat mendesak Afifah untuk jujur, dirinya hamil atau tidak. Namun, saat Askara menjelaskan yang sebenarnya, mereka percaya kalau Afifah tidak hamil duluan.


“Idih, kenapa sih menyangkanya aku hamil duluan? Yuk, ke rumah sakit sekarang, biar kalian semua tahu kalau aku masih perawan, aku siap tes keperawanan!” ujar Afifah.


“Iya Opa percaya. Opa kaget saja, kamu tiba-tiba mau menikah, dengan Dimas pula, orang yang umurnya jauh dari kamu?” ucap Ardha.


“Memang kenapa, Opa? Bukannya Mama dan Papanya Oma Alana juga terpaut sangat jauh sekali umurnya? Wajar dong ada yang menuruninya?” jawab Afifah.


“Iya juga sih, tapi kenapa sama mantan suami bundamu?” ucap Zhafran.


“Ya gak tahu, orang aku sukanya sama Om Dimas, gak mau yang lain?” jawab Afifah.


“Kamu sudah ngasih jampi-jampi apa sama cucuku? Sampai dia mau sama kamu, Dim?” tanya Ardha.


“Kata Afifah sih karena aku kayak oppa-oppa, tapi bukan Opa Ardha atau Opa Zhafran lho?” jawab Dimas.


“Entahlah opa tidak tahu. Kaget saat tahu kalian akan menikah. Sudah dadakan sekali?” ucap Ardha.


“Tuh gara-gara eyang juga,” ucap Afifah.


“Lah kok Eyang dibawa-bawa, Fah? Eyang mana tahu kamu dan Dimas punya hubungan? Kalau eyang tahu ya Eyang gak akan nyariin jodoh Dimas?” jawab Bu Mila.


“Sudah, ya? Jangan pada berdebat lagi? Ini fix nya kapan mereka menikah?” tanya Askara.


“Aku akan menikahi Afifah minggun depan!” jawab Dimas.


“Ih cepat sekali?” ucap Afifah. “Aku kan belum siap ini itu, Om?”


“Mau siapin apalagi? Sudah Om siapkan semua, masa calon istri mikir ini-itu? Jangan, gak usah mikir-mikir, masa mau nikahin anak gadis orang, anak gadisnya suruh mikir keperluan lain?” ucap Dimas.

__ADS_1


“Bu—bukan itu, ya masa minggu depan?” protes Afifah.


“Maunya kapan?” tanya Dimas.


“Setengah tahun lagi kek, atau setahun?” jawab Afifah.


“Itu lama! Dua minggu saja lama! Gak, om maunya minggu depan. Kamu itu aneh, ya? Tadi pagi bolos kuliah, nyusulin ke kantor, datang-datang marah, ngamuk karena dengar Eyang mau jodohin Om sama anak temannya? Kamu tadi siang minta apa? Minta dinikahi, kan? Nyuruh om ketemu ayahmu langsung supaya eyang gak jadi jodohin om sama anak temannya? Sekarang, mau mundur satu tahun lagi? Gak bisa dong?” cecar Dimas.


“Iya deh iya, Afifah nurut,” ucapnya pasrah.


“Kamu itu maunya apa Afifah? Bunda sama Ayah sudah merestui kamu. Eyang, Opa, Oma, juga sudah menyetujui kamu menikah dengan Dimas. Coba maunya gimana? Kalau mau mundur, tentu kalian malah akan tambah sering ribut, sering cemburu, apalagi nih calon suami kamu di mana pun selalu ada cewek yang nemplok? Siap kamu kalau begitu? Kalau kamu sudah jadi istrinya Dimas, sudah kamu tenang, kamu sudah jadi miliknya?” tutur Salma.


“Kamu itu harusnya senang, pacarmu sudah siap untuk menikahimu, memberikan kepastian, kamu mau digantung? Dibawa ke mana-mana sama pacarmu tapi tidak dinikahin?” ujar Alana.


“Kamu itu bersyukur, Dimas setia sama kamu, nunggu kamu lama sekali lho? Dari kamu SMP? Dia sudah setia sekali nunggu kamu,” imbuh Binka.


“Om Dimas juga berani menolak apa yang eyang usulkan, itu demi kamu, Fah. Biasanya Om Dimas tidak pernah menolak apa yang eyang inginkan padanuya?” ujar Bu Mila.


“Gitu dong anak manis?” ucap Dimas dengan mengusap kepala Afifah.


Dimas masuk ke dalam, mengambil sesuatu. Malam ini, Dimas akan melamar Afifah di depan kedua orang tuanya dan keluarga Afifah. Meski yang datang hanya opa dan omanya saja, yang penting saat Dimas melamar Afifah disaksikan oleh kedua orang tuanya, eyang, opa, dan omanya.


Dimas kembali duduk di hadapan Askra dan Salma. Afifah duduk di tengah-tengah ayah dan bundanya. Dimas akan mengutarakan niatnya untuk melamar Afifah malam ini.


“Ayah, Bunda, malam ini, saya ingin menyampaikan ketulusan hati saya untuk melamar putri Ayah dan Bunda. Dengan tulus saya mengatakan bahwa saya mencintai Afifah, dan sangat menyayanginya. Sebab itu, izinkan saya malam ini untuk malamar Afifah. Mempersunting dan menjamin kebahagiaannya setelah ini.” Ungkap Dimas dengan sungguh-sunggu di hadapan Askara dan Salma.


“Ayah sudah melihat keseriusan dan kesunggungguhanmu untuk menikahi Afifah. Dengan bahagia, ayah terima lamaran kamu untuk Afifah,” ucap Askara. “Bagaimana, Afifah? Kamu mau dilamar Dimas?” tanya Askara.


“Ma—mau, Ayah,” jawab Afifah.


“Malam ini kamu resmi dilamar oleh Dimas, Ayah ikhlas jika Dimas mau menikahimu. Namun, sekali Dimas menyakitimu, ayah tidak segan-segan memintamu lagi,” ucap Askara.

__ADS_1


“Terima kasih, Yah,” ucap Dimas. “Untuk simbolis lamaran pada umumnya, boleh aku sematkan cincin di jari manismu, Afifah?” tanya Dimas pada Afifah.


“Ehm ... boleh,” jawab Afifah.


Dimas mengambil cincinya dan menyematkan pada jari manis Afifah, tapi di jari manisnya masih tersemat cincin yang pertama kali Dimas kasih untuk Afifah saat akan berangkat ke London. “Cincin ini lepas saja, ya? Ganti cincin ini, nanti cincin ini ditaruh di kalung kamu saja,” pinta Dimas.


“Iya,” jawab Afifah.


Dimas menyematkan cincin di jari manis Afifah, pun dengan Afifah, dia menyematkan cincin di jari manis Dimas. Entah kapan Dimas membeli cincin itu, tiba-tiba dari dalam dia membawa cincin untuk melamar Afifah.


“Bunda, minta tolong, lepasin kalung Afifah,” pinta Afifah pada Salma.


Afifah menaruh cincinya dengan cincin Dimas untuk dijadikan liontin kalungnya. Salma melihat cincin itu, lalu mengambilnya dari Afifah.


“Kan apa bunda bilang? Ini pasti dari Dimas? Bunda udah ngerasa kalian punya hubungan sejak Dimas mau ke London. Benar tebakan bunda ini cincin pasti dari Dimas?” ucap Salma.


“Kenapa bunda mikirnya ke Om Dimas?” tanya Afifah.


“Kan Bunda lihat Dimas juga pakai? Ternyata dari dulu sudah pakai cincin samaan, ya?” ucap Salma. “Pantas pas cincinnya hilang kamu nangis sampai gitu banget?” imbuhnya.


“Memang pernah hilang, Bunda?” tanya Dimas.


“Iya, pernah mau hilang, dia lupa taruh di mana, ternyata di tempat pulpen di kamarnya,” jelas Salma.


“Dia itu pelupa kok, sudah biasa begitu,” ucap Dimas.


“Kalian sudah resmi bertunangan malam ini. Satu minggu lagi kalian akan menikah, ayah harap, kamu bisa menjaga Afifah. Ayah serahkan Afifah untuk kamu saat nantiu sudah menikah, jangan kamu sakiti Afifah, kalau kamu sudah tidak mencintainya, tidak menginginkan Afifah lagi, pulangkan pada Ayah,” ucap Askara.


“Aku akan mencintai Afifah seumur hidupku, dan tidak akan pernah aku sakiti Afifah. Aku akan jaga Afifah,” ucap Dimas tegas.


Salma lega akhirnya ia sudah tidak penasaran dan selalu was-was dengan anak gadisnya yang sering pergi berdua dengan Dimas. Salma tidak masalah Dimas menikahi Afifah, toh Dimas sudah membuktikan kalau dirinya sangat mencintai Afifah, dan bersungguh-sungguh ingin menikahi Afifah.

__ADS_1


__ADS_2