
Salma dan Dimas tiba di rumah Askara. Rasanya Salma tidak ingin dan turun untuk masuk ke rumah Askara. Rumah yang di mana dulu Salma menjalin rumah tangga bahagia dengan Askara. Pernikahan kedua dengan Askaran yang membuat Salma yakin bahwa Askara adalah laki-laki terakhir dalam hidupnya. Tapi nyatanya tidak seperti itu. Askara sama saja seperti Dimas menyakiti dirinya, karena wanita masa lalunya hadir kembali.
“Ayo bunda masuk!” Ajak Afifah dengan raut wajah bahagia, karena bundanya mau ke rumahnya lagi.
“Ah iya sebentar, nunggu Om Dimas dulu,” jawab Salma.
“Bunda sama Om Dimas mau menikah, ya?” tanya Afifah.
“Ehm ... iya. Dalam waktu dekat ini, kami akan menikah,” jawab Salma yang membuat Dimas mengernyitkan keningnya.
“Oh ... jadi benar bunda mau menikah lagi?” tanya Afifah lagi memastikan.
“Iya, Sayang ... kenapa memangnya?” tanya Salma.
“Eng—enggak apa-apa bunda,” jawabnya dengan wajah penuh dengan kekecewaan.
Salma memang sengaja bicara seperti itu, karena dia tidak mau memberikan kesempatan untuk Afifah mendekatkan lagi dirinya dengan ayahnya. Salma yakin Askara akan menggunaka Afifah sebagai alat untuk mendekati dirinya. Dia tidak mau lagi menerima laki-laki yang munafik seperti Askara.
Afifah berlari mendahului Salma dan Dimas. Salma yakin Afifah kecewa dengan dirinya yang bilang mau menikah dengan Dimas dalam waktu dekat ini.
“Sal, kamu jawab apaan sih sama Afifah?” tanya Dimas.
“Ya biar saja sih? Biar dia gak deket-deketin aku lagi ke ayahnya. Aku yakin Askara akan menjadikan Fifah sebagai alat untuk dekat denganku. Aku malas untuk berkawan dengan pria lagi. Cukup kamu sekarang yang jadi temanku, Dim. Kamu aja sudah bikin aku stres, mau ditambah orang lain?” jawab Salma.’
“Kamu itu ada-ada saja, Sal?”
“Ayo buruan tuh sudah ditunggu,” ajak Salma. “Eh tapi jangan lama-lama ya di sini? Aku gak mau lah lama-lama di sini, takut Zura gak terima aku di sini, terus dekat sama anak dan suaminya,” ucap Salma.
“Zura udah meninggal ngapain masih di sini melarang kamu dekat sana Askara dan Fifah?”
“Ya kali saja arwahnya masih gentayangan di sini?” seloroh Salma.
“Huss ... bicaranya? Jangan begitu, nanti kalau ada arwahnya di sini gimana?”
“Ya biar saja? Kamu paling yang takut? Kamu kan penakut?” jawab Salma dengan terkekeh.
“Ada kamu aku gak takut lagi, Sal.” Jawab Dimas.
Askara melihat lagi kedekatan Salm dan Dimas, apalagi dia melihat raut wajah Afifah seketika murung, padahal tadi saat menyambut Salma, Afifah begitu bahagia sekali.
“Selamat datang ke rumah ini lagi, Sal. Ayo masuk,” ucap Askara.
“Ehm ... selamat datang bagaimana, ya? Aku kan ke sini Cuma mau melayat saja? Gak pulang, atau tinggal di sini lagi?” jawab Salma.
“Bilang selamat datang kan bukan untuk menyambut kepulangan juga, Sal? Kan bisa untuk menyambut tamu?” jawab Askara.
“Ayo Salma, Dimas silakan masuk,” ajak Zhafran.
“Oh iya, Om,” jawab Dimas. “Ini ada oleh-oleh dari ibunya Salma,” ucap Dimas dengan memberikan kardus yang cukup besar, titipan dari Bu Mila.
“Repot-repot sekali Bu Mila ini?” jawab Zhafran.
“Iya, repot-repot sekali ibumu, Sal?” ucap Ardha. “Sayang ini bawa masuk tuh oleh-oleh dari ibunya Salma,” ucap Ardha pada Alana.
“Wah ini apa, Dim? Banyak sekali? Sampaikan terima kasih pada Bu Mila, ya?” ucap Alana.
“Iya, Tante, nanti aku sampaikan,” jawab Dimas..
“Ayo masuk, Sal,” ajak Ardha.
Mereka masuk ke dalam. Salma teringat lagi saat dulu tinggal bersama Askara di rumah ini. Rumah tangganya sangat bahagia, bersama Askara dan Afifah. Dia merasakan sempurna memiliki Askara dan Afifah, tapi setelah dua tahun bahagia bersama Askara, Azzura datang mengusik kebahagiaannya, hingga Azzura merebut kembali Askara.
“Salma ... sini duduk,” ucap Dimas.
“Ehm ... iya, Dim,” jawab Salma.
“Kenapa? Kamu ingat sesuatu di rumah ini?” tanya Dimas dengan berbisik.
“Ya begitu,” jawab Salma.
“Kalian dari tadi itu bisik-bisik ya sukannya?” ucap Askara.
“Ya mau kita bisik-bisik, mau kita ngomong keras, terserah kita dong, Mas?” jawab Salma. “Lagian kita ngomongin yang penting untuk kita kok, mau tahu ngomong apa?” tanya Salma.
“Sal, aku minta maaf, ya?” ucap Askara.
“Ya aku sudah memaafkan,” jawab Salma santai.
“Sal, apa masih ada kesempatan untuk kita memperbaiki semuanya?” tanya Askara. Askara sengaja mengajak bicara Salam seperti itu di depan keluarganya dan di depan Dimas. Biar semua tahu kalau Askara ingin kembali dengan Salma lagi.
“Kamu gak sadar ini masih dalam keadaan berduka ya, Mas? Kamu sudah bilang begitu? Lagian salah siapa punya dua istri gak adil? Menyia-nyiakan istri pertama lagi? Kalau misal masih ada kesempatan untuk memperbaikinya, aku malah lebih memilih tidak akan mengambil kesempatan itu, Mas,” ucap Salma.
__ADS_1
“Lebih baik kalian bahas ini berdua nanti. Dan benar juga kata Salma, ini masih dalam suasana duka, Askara?” ucap Alana.
“Nanti kapan ya bunda? Nanti ya aku akan pulang, aku tidak lama-lama di sini,” ucap Salma.
“Ya lain waktu, kalau kalian bertemu lagi.”
Salma hanya mengangguk saja. Dia lebih memilih diam, dan mendengarkan Dimas yang berbincang dengan Zhafran dan Ardha. Salma sesekali menjawab jika di tanya oleh Acha, bagaimana pun Salma pernah bekerja di rumah sakit milik keluarga besar Askara.
“Kamu sudah tidak bekerja lagi, Sal?” tanya Acha.
“Enggak budhe, Salma lebih fokus di rumah. Salma ingin menghabiskan waktu Salma menemani masa tua ibu. Masa ibu mau ditemani Dimas terus, sedang ada anak perempuannya? Jadi aku memilih di rumah bantu ibu bikin kue, mengantar ibu kalau pengin keluar belanja, liburan sama ibu, pokoknya Salma mau lebih fokus pada ibu,” jelas Salma. Padahal selama ini masih saja Dimas yang selalu mengantar ibunya ke mana pun ibunya Salma mau pergi. Kadang liburan juga bukan liburan Salma dengan ibunya saja? Dimas selalu ikut ke mana pun mereka akan pergi. Salma selalu melibatkan Dimas dalam urusannya.
“Itu sepertinya ibu bawakan kue bikinan Salma. Enak lho kue bikinan Salma? Best seller lagi di toko? Malah gak hanya ada di toko ibu saja. Kue bikinan Salma saya bantu distribusikan ke toko kue dan toko roti lain, Budhe,” jelas Dimas dengan memuji kue bikinan Salma.
“Benarkah? Wah budhe jadi penasaran sekali nih? Budhe boleh ambil?” tanya Acha.
“Boleh dong buhde? Dicoba saja, terus kasih review, enak tidak dan kurangnya apa,” jawab Salma. “Tuh bunda bawakan kue buat kamu juga, Fifah. Kemarin bunda bikin ada yang cokelat sama keju, kamu kan suka cokelat. Coba sini bunda lihat dan bunda ambilkan,” ucap Salma pada Afifah.
“Yakin bunda buatkan untuk aku? Masa bunda bisa bikin kue?” tanya Fifah.
“Bundamu itu hobi bikin kue sejak bunda SMA, Fifah?” jelas Dimas.
“Ih pas di sini kok jarang bikin?” tanya Afifah.
“Ya kan bunda sibuk kerja, Sayang? Ayo sini bunda ambilkan yang tadi bunda bawa buat kamu, bunda gabungin kok di kardus itu,” ajak Salma.
“Bagaimana bunda mau bikinin kamu? Bunda itu bikin kue karena semua kue itu kesukaan om, Fifah?” batin Dimas.
Salma bikin kue saja karena diajari mamanya Dimas saat dia masih sama-sama SMA. Salma jadi tahu semua kue kering kesukaan Dimas, dan masakan kesukaan Dimas juga. Semua Salma kuasai karena mamanya Dimas selalu mengajarinya.
“Ini dia kue buat kamu,” ucap Salma. “Bunda bukain, ya? Kamu wajib coba, dan kamu wajib suka.”
“Pasti Fifah suka, Bunda. Apa pun yang bunda masak Fifah juga suka?” jawabnya.
“Mesikipun gak enak?” tanya Salma dengan tersenyum.
“Ya begitulah,” jawab Afifah.
“Oke, gak masalah, memang bunda gak bisa masak,” ucap Salma.
“Tapi kalau masalah bikin kue, bunda ahlinya, Fifah?” sambung Dimas.
“Ini buatan bunda semua?” tanya Afifah.
“Jadi sekarang profesi kamu berubah, Sal?” tanya Acha.
“Ya begitu budhe?” jawab Salma.
“Ini cobain.” Salma memberikan kue yang sudah ia bukakan pada Fifah. Lalu paa Acha dan Alana. “Ayo bunda, budhe, dicicipi.”
“Ih enak sekali, Bunda. Ini buat Fifah semua, ya?”
“Iya buat kamu semua,” jawab Salma.
“Ini enak lho Sal?” puji Alana.
“Kue bikinan kamu malah kalah, Lan. Ini enak sekali,” puji Acha.
“Ih Kak Acha, bisa saja? Tapi aku akui memang enak ini, Kak,” ucap Alana pada Acha.
“Kamu belajar di mana, Sal? Kayaknya kamu di sini kamu selalu bilang gak bisa masak, gak bisa bikin kue atau apa?” tanya Alana.
“Belajar sama almarhum ibunya Dimas, dari dulu, waktu aku SMA. Aku memang suka buat kue bunda, tapi kalau sedang malas ya sudah gak pengin bikin lagi, ini kan aku sekarang di rumah saja, nganggur, ya sudah buat kue saja, sambil merajut, kalau misal sudah selesai bikin kue, sambil menemani ibu di toko,” jawab Salma.
Alana hanya mengangguk saja. Ternyata sudah dari dulu Salma bisa bikin kue, dan itu yang mengajari mamanya Dimas.
“Pantas saja di sini dia tidak mau belajar masak, atau bikin kue apa pun, aku yakin dia pasti ingat Dimas atau ingat ibunya Dimas saat dulu,” gumam Alana.
^^^
Sudah cukup lama Salma dan Dimas di rumah Askara. Mereka pamit untuk pulang, tapi Afifah seperti tidak mengizinkan Salma untuk pulang. Ia tidak rela Salma ikut pulang dengan Dimas.
“Bunda ... di sini saja, ya?” bujuk Afifah.
“Gak bisa dong, Sayang? Bunda kan sudah tidak lagi jadi istri ayahmu? Bunda juga mau menikah sama Om Dimas, terus kalau di sini siapa yang akan meneman eyang di rumah?” jawab Salma.
“Yah ... bunda ....” ucap Afifah.
“Makanya gak usah sok-sok’an gak butuh bunda saat ibumu kembali. Pakai ikutan ibumu untuk ngusir bunda lagi? Memangnya enak ditinggal ibumu lagi, kan? Maaf bunda itu sebetulnya sudah tidak sudi menginjakkan kaki bunda di sini, Fah! Bunda sudah sakit hati sekali dengan ayah kamu, dan kamu juga,” batin Salma.
Salma ingat saat Fifah membentak dirinya hanya karena membela ibunya yang sedang ingin bersama ayahnya, tapi saat itu Salma meminta Askara untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Karena mobil Salma sedang diperbaiki di bengkel. Salma ingat sekali Afifah membentak Salma, dan menyuruh Salma pakai sepeda motor atau taksi, karena Afifah bilang ibunya lebih butuh ayahnya daripada dirinya. Semua orang seperti dicuci otaknya oleh Azzura. Sepertinya semua keluarga Askara sangat membenci dirinya. Padahal dirinya berhak atas Askara karena masih menjadi istri dari Askara. Hanya Zhafran saja yang bersikap sedikit bijaksana, karena dia tahu siapa Salma.
__ADS_1
“Sekarang semua orang sudah sadar kali, ya? Karena sang pencuci otak sudah wafat! Sudah tenang di sisi-Nya. Ya kalau di sisi-Nya? Kalau enggak? Mau meninggal saja masih benci orang, sedang sekarat saja merebut suami orang? Merampas kebahagiaan orang? Ya jujur aku sih antara senang dan sedih mendapat kabar duka bahwa Azzura meninggal. Ya bagaimana gak senang? Sejak dia datang, masuk ke dalam rumah tanggaku dengan Askara, mengusik rumah tanggaku, dia gak pernah berbuat baik padaku? Dia selalu jahat denganku. Baik sih sekali, saat dia membujukku untuk memberikan restu pada Askara untuk menikahinya. Setelah aku memberikan restu, eh ... berulah lagi? Ngusir aku secara tidak langsung, dengan cara ngusir dari kamarku dulu, dan aku pergi saja dia mana peduli? Malah dia senang? Wajar aku sedikit senang benalu seperti Zura pulang dengan tenang,” batin Salma.
Salma perlahan melepaskan pelukan Fifah. Dia tidak mau larut dalam kebimbangan hatinya. Dia tidak mau juga terbujuk oleh Fifah. Dia masih kecil saja sudah mudah distel perbuatannya oleh Zura, apalagi kalau sudah dewasa nanti. Bisa-bisa kalau sudah remaja banyak berdebatnya lagi dengan dirinya.
“Sal, menginaplah dulu semalam atau dua malam untuk menemani Fifah. Fifah kan baru saja kehilangan ibunya? Dia kan dari kecil juga sudah menganggap kamu ibunya, Sal?” ujar Alana.
“Iya, Salma. Nanti budhe temani kamu di sini, ya sama bunda juga,” ujar Acha.
“Kenapa Salma harus menginap juga? Kalau sudah ada bunda dan budhe untuk menemani Acha. Acha itu di sini punya banyak budhe, tante, oma, opa, yang bisa menemaninya? Kenapa harus aku juga ikut menemaninya? Sedangkan ibuku di rumah sendiri, adanya pembantu, masa aku nitip ke pembantu atau aku suruh Dimas menemani? Meski sudah seperti saudara sendiri, tetap saja Dimas itu orang lain, sedangkan bunda, budhe, Kak Nina, Risya, Mama Binka, kan masih saudara dekat sekali dengan Afifah, bahkan dia keponakan dan cucu kalian? Kok pakai aku segala menemani?” jelas Salma.
“Ya gak gitu, Sal? Fifah kan masih kangen sama kamu?”
“Kangen sekarang, dulu ke mana? Ikutan ngusir aku, kan? Kalian baru sadar semua sekarang, kan? Kalian sudah dicuci otaknya sama almarhum Azzura, sampai kalian semua bilang aku ini egois, aku gak mau mengalah, sekarang dengan mudahnya kalian meminta aku di sini lagi? Apa kalian semua gak lihat ada calon suami saya di samping saya? Harusnya kalian tahu perasaan dia?” Salma tersulut emosi, karena dia memang belum stabil perasaannya kalau mengingat perbuatan Azzura dan Askara.
“Sal ... sudah, jangan gitu. Ayo kita pulang,” ucap Dimas meredakan emosi Salma. “Fifah, kamu harus ngerti perasaan bunda ya, Nak? Kalau Fifah kangen sama bunda, boleh kok Fifah main ke rumah bunda, atau mau ke rumah om juga boleh,” ucap Dimas untuk menenangkan hati Fifah.
“Bunda, Fifah minta maaf, ya? Iya Fifah gak maksa bunda buat di sini, tapi kapan-kapan Fifah boleh kan main ke rumah bunda?” tanya Fifah.
“Iya nanti main saja, bunda juga minta maaf, ya?”
“Nanti Opa Zhafran antar kamu ke sana, ke rumah bunda,” ucap Zhafran.
“Memang opa tahu rumahnya?”
“Tahu, nanti opa antar kamu, kalau opa sudah tidak sibuk, dan saat kamu liburan sekolah,” ucap Zhafran.
“Janji ya, Opa?”
“Iya, Sayang. Ya sudah salim dulu sam bunda. Biar bunda pulang,” tutur Zhafran.
“Bunda pulang, ya? Nanti kalau kamu main ke sana, bunda buatkan kue yang banyak buat kamu,” ucap Salma.
“Oke, bunda. Bunda hati-hati, ya?” ucap Afifah.
“Iya, Sayang. Jangan ngambekan, ya? Nurut sama ayah,” tutur Salma.
“Iya bunda.”
“Nanti kalau main ke rumah bunda, om ajak kamu jalan-jalan juga, kita makan es krim, kamu mau ke mana pun nanti om antar kamu,” ucap Dimas.
“Oke om,” ucap Afifah.
“Bunda, budhe, ayah, dan semuanya Salma pamit pulang, ya?” pamit Salma.
“Kami pulang dulu, ya?” ucap Dimas.
“Iya, kalian hati-hati, ya?” ucap mereka.
Dimas menggamit tangan Salma, lalu mereka masuk ke dalam mobil. Salma dan Dimas melambaikan tangannya saat mobil mereka melaju.
Sebetulnya Salma tidak ingin mengingat yang lalu. Tapi entah kenapa saat bundanya Askara seperti memaksa Salma untuk menginap, Salma tersulut emosinya, hingga meluapkan kekesalannya lagi.
“Sal?”
“Iya, Dim?”
“Benar aku ini calon suamimu?” tanya Dimas.
“Mnch ... gak lah! Aku gak mau Fifah dekat aku lagi, Dim. Nanti yang ada Askara deketin aku lagi. Ya gini salah satu caranya, bilang kalau kamu itu calon suamiku,” jelas Salma.
“Gak apa-apa deh Cuma buat alasan saja, semoga saja jadi calon suamimu betulan,” ucap Dimas.
“Ngarep!” tukas Salma.
“Jelas ngarep dong? Aku masih mencintaimu, kok?” jawab Dimas.
“Gak usah ngomong cinta, kalau ujungnya bikin sakit!”
“Ya sudah, tapi jangan ulangi lagi marah-marah seperti tadi, ya? Apalagi sama Fifah. Dia kan masih belum cukup umur untuk tahu persoalan kamu dan Askara. Dia ya hanya jadi korban doktrinnya Azzura saja. Kasihan dia kalau dibentak gitu?” tutur Dimas.
“Iya, enggak Dim.”
“Aku tahu kamu juga sebetulnya masih sayang sekali dengan Afifah, tapi kamu masih ada rasa kecewa juga padanya.”
“Iya sih Dim, aku kecewa sekali. Makasih ya, Dim? Sudah ngingetin aku,” ucap Salma.
“Sudah jangan dikit-dikit marah, ya? Ntar kamu kena darah tinggi,” ucap Dimas dengan mengusap kepala Salma.
“Iya enggak,” ucap Salma.
Benar, Dimas yang dulu kembali lagi di hadapan Salma. Dimas yang selalu bisa meredakan emosinya, dan selalu bertutur kata lembut saat dirinya sedang marah sekalipun.
__ADS_1
“Kenapa kamu buat aku nyaman lagi, Dim?” batin Salma.