Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Mendapat Lampu Hijau


__ADS_3

Afifah tidak sabar menunggu bunda dan ayahnya pulang. Hampir satu tahun ia ditinggal ayah dan bundanya untuk menjalani terapi dan pogram hamil di Singapura. Afifah hanya tinggal dengan opa dan omanya selama itu. Hanya lewat telefon Afifah berkomunikasi dengan ayah dan bundanya. Rasanya tidak sabar sekali Afifah menunggu kepulangan orang tuanya. Apalagi ada kabar bahagia kalau bundanya sedang hamil, artinya dia bakalan gak kesepian karena akan memiliki seorang adik.


“Oma, lama sekali gak sampai-sampai bundanya?” tanya Afifah yang dari tadi bolak-balik dari teras ke dalam karena menunggu bunda dan ayahnya pulang.


“Sabar, Sayang ... nanti sebentar lagi, kan baru sepuluh menit yang lalu tiba di bandara? Perjalanan ke rumah pasti macet dong? Tunggu tiga puluh menit lagi, duduk yang tenang sini dekat oma,” ucap Alana.


“Oma lagi apa?” tanya Afifah.


“Lagi bikin desain baju buat kamu. Buat bundamu juga,” jawab Alana.


“Yeay mau dibikinin baju oma lagi! Pasti bagus kalau oma yang buat,” puji Afifah.


“Kamu bisa saja? Oma buatkan yang sama dengan bundamu, buat nanti dipakai pas acara tujuh bulanan bunda. Sama ayahmu juga oma buatkan sekalian,” ucap Alana.


“Terima kasih, Oma ....” Afifah memeluk Alana dan mencium pipinya.


Alana memang selalu seperti itu, dia senang membuatkan baju untuk anak perempuannya, dan juga menantu perempuan satu-satunya, yaitu Salma. Meskipun Nina keponakannya, tetap saja Alana menganggap Nina seperti anaknya sendiri, karena ia pernah menjadi ibu sambung untuk Nina, saat dirinya menikah dengan Zhafran dulu. Dia tetap memperlakukan Nina sama dengan Risya yang anak kandungnya, yang tak lain adik Askara.


^^^


Afifah dari tadi bergelayut manja pada bundanya, ia kangen berat dengan bundanya karena hampir satu tahun tidak bertemu bundanya. Afifah juga dari tadi mengusap-usap perut bundanya yang sudah mulai membuncit. Senang sekali karena sebentar lagi akan mempunyai adik.


“Bunda, nanti adiknya cowok, ya?” pinta Afifah.


“Cowok atau cewek yang penting bunda dan adiknya sehat, Fah,” ucap Askara.


“Ya kalau itu harus sehat semua, Yah. Tapi aku pengin adik cowok, Yah. Biar bisa jagain Afifah,” ucap Afifah.


“Berdoa saja, semoga adikmu benar-benar cowok,” ucap Salma. “Bunda juga pengin punya anak laki-laki,” imbuhnya.

__ADS_1


“Oh iya Afifah, mungkin kelas tiga nanti kamu harus pindah sekolah. Ujian kenaikan kelas kan tinggal beberapa bulan lagi, ayah akan mengurus kepindahanmu juga,” ucap Askara.


“Pindah ke mana?” tanya Afifah.


“Jakarta dong? Kamu pasti mau, kan?” jawab Askara.


“Yakin? Pindah ke sana?” tanya Afifah dengan mata berbinar.


“Iya, Nak. Nanti kita akan pindah ke Jakarta lagi, bunda kan harus konsultasinya dengan dokter di sana, jadi biar gak bolak-balik, kita pindah ke sana, eyang juga kan sudah sering sakit, jadi biar bunda dekat juga dengan eyang. Kamu mau kan pindah?” jelas Salma.


“Mau banget, Bunda!” jawabnya dengan girang. “Tapi, apa bunda tidak apa-apa kalau tinggal di rumah kita dulu?” tanya Afifah.


“Ehm ... coba tanya ayah,” jawab Salma.


“Yah, benar mau pindah terus tinggal di rumah kita dulu?” tanya Afifah.


“Ayah sudah jual rumah kita yang dulu. Ayah sudah ada rumah lagi, sekarang lagi direnovasi dulu, jadi ya nanti pindah sana setelah kamu kenaikan kelas,” jelas Askara.


“Iya, Yah, biar Salma gak bolak-balik,” jawab Askara.


“Sal, kamu yakin?” tanya Alana.


“Iya bunda, Salma juga mikir kasihan ibu, sekarang sering drop, jadi lebih baik Salma kembali ke Jakarta, biar gak bolak-balik,” jawab Salma.


“Syukur deh kalau begitu,” ucap Alana.


Alana juga dulu trauma untuk kembali ke Jakarta, karena ingat kejadian dengan Zhafran dulu saat Zhafran menyakitinya. Tapi karena Papa Devan sudah sering sakit-sakitan, jadi dia pulang ke Jakarta, Mama Nadia juga ingin kumpul dengan anak-anaknya saat menjelang senja, jadi Alana harus kembali ke Jakarta. Ardha pun sama, Mami-Papinya sudah mulai berusia senja, jadi mereka ingin anak-anaknya kumpul, tidak ada yang jauh di luar kota.


“Jadi benar kita mau pindah ke Jakarta lagi?” tanya Afifah.

__ADS_1


“Iya, Sayang ...,” jawab Salma.


“Yess! Aku akan sekolah di Jakarta lagi! Bisa ketemu teman-temanku yang dulu, terima kasih bunda, ayah, secara tidak langsung ayah sama bunda mengizinkan aku pindah ke Jakarta!” ucapnya dengan senang.


“Hmm ... sepertinya ada yang senang karena jadi dekat dengan Vero, nih?” ledek Ardha.


“Ih opa ... enggak juga,” jawab Afifah, padahal dia memang senang, karena bisa dekat dengan Vero.


“Iya juga gak apa-apa,” ucap Salma. “Iya kamu dekat dengan Vero?” tanya Salma.


“Ya Cuma chat saja sih. Dulu saja pas di rumah eyang, kita ketemu, lalu jalan-jalan, diantar sama Om Dimas,” jawab Afifah.


“Ayah sekarang tidak ingin mengekang kamu lagi, tapi kalau sudah kelewat batas ayah gak kasih ampun sama kamu!” tegas Askara.


“Iya ayah, Afifah tahu,” jawab Afifah. “Tapi, Afifah sudah pernah ciuman, Yah. Sama Om Dimas, dan sampai begitu ciumannya,” ucapan Afifah hanya terlintas di hati saja.


Afifah sudah lama tidak tahu kabar Dimas. Dimas juga sudah jarang chat dengan Afifah, paling kalau sedang kangen sekali dengan Afifah, baru dia chat atau telefon Afifah sebentar, itu pun alasannya mau bicara sama opanya. Tidak pernah chat Afifah, tapi ia tahu kabar Afifah setiap hari dari sopir pribadi Afifah, jadi Dimas tidak khawatir. Gadis yang ia cintai terpantau terus setiap harinya.


“Kamu sudah pacaran sama Vero, ya?” tanya Ardha.


“Ih opa ... apaan sih tanyanya begitu? Orang berteman saja kok? Lagian Vero ya pasti punya cewek lah? Apalagi teman-teman ceweknya cantik-cantik sekali?” ucap Afifah.


“Tapi kata Om Daren selalu tanya kamu, kok?” sambung Askara.


“Ih ayah lagi ikut-ikutan sukanya!” tukas Afifah.


“Ya kali saja pacaran, ayah sih gak apa-apa, toh Vero jelas anaknya siapa, dari keluarga mana, dan anaknya seperti apa? Meskipun ayah pernah bertemu sekali, saat dulu dia masih SMP kelas satu mungkin,” ucap Askara. “Dia baik anaknya,” imbuh Askara.


Afifah seperti mendapat lampu hijau dari keluarganya, padahal dia masih SMP, tapi sejak kenalan dengan Vero, Askara malah seperti ingin Afifah kenal Vero lebih dekat.

__ADS_1


Askara tahu siapa Daren, orang tua Vero. Jadi mungkin tidak salah kalau Afifah dekat dengannya, daripada punya teman cowok atau pacar yang tidak jelas asal-usulnya. Apalagi Vero anak yang cerdas, selalu dapat peringkat tiga besar, dia juga aktif di sekolahan, menjadi kapten basket, juara satu olimpiade matematika dan fisika, jadi Askara sudah tidak meragukan lagi kalau Vero anak yang baik.


__ADS_2