
Pagi ini, Afifah sudah siap dengan seragam barunya. Ia sudah masuk SMA. Meskipun dia masuk ke SMA yang bukan keinginan dia dulu, tapi ia tidak masalah, karena bagi Afifah mau sekolah di SMA mana pun kalau dia pandai ya akan diakui pandai, kalau dia berbakat ya akan diakui bakatnya, jadi ia tidak merasa kecewa meskipun ia masuk di SMA pilihan keduanya.
Bisa saja masuk ke SMA pilihan utamanya, tapi ada Vero di sana. Dia tidak mau bertemu dengan cowok brengsek itu lagi. Jangankan harus satu sekolahan, lihat batang hidungna saja dia sudah tidak mau lagi. Dia juga takut kalau harus satu sekolahan dengan Vero. Apalagi Vero kadang masih mengganggunya lewat temannya. Kadang Vero menitipkan salam pada temannya dulu saat SMP, untung saja sekarang sudah tidak satu sekolahan dengan temannya itu.
Sebelum keluar dari kamarnya, dia pose dulu di depan kamera, ia berfoto lalu ia kirimkan pada Dimas. Setiap hari pasti seperti itu. Dari dulu sejak pertama kali Dimas berada di London.
[Cantiknya pacarku?] balas Dimas saat setelah Afifah mengirimkan fotonya.
[Mana foto, Om?] pinta Afifah.
Dimas mengirimkan fotonya pada Afifah. Dia masih memakai kaos oblong dan tidak lupa kacamatanya, karena dia masih saja menyelesaikan pekerjaannya.
[Belum tidur, ya?]
[Iya, ini tanggung. Lagian kan biasa om tidur kalau kamu sudah di sekolah?]
[Iya sih, tapi jangan dibiasakan ya, Om. Om kan harus jaga kesehatan? Kalau sakit siapa yang akan merawatnya?]
[Iya, Om jaga kesehatan kok? Sudah sana kamu berangkat, hati-hati, ya? Doakan tahun depan om bisa pulang.]
[Siap, Om. Aku berangkat, ya?]
Afifah mengakhiri percakapannya lewat chat dengan Dimas. Ia segera keluar, karena ia takut terlambat karena pagi ini ada upacara. Afifah bergegas ke meja makan, ia langsung menarik kursi dan mengambil sarapan. Sebelum sarapan ia ciumi dulu pipi Yusuf yang chubby.
“Kamu sudah makan, Sayang?” tanya Afifah pada adiknya.
“Ya ... yaaa ...,” ucapnya lucu.
“Kamu buru-buru sekali, Kak?” tanya Askara.
“Upacara, Yah, hari ini,” jawab Afifah.
“Sudah tahu upacara kamu agak siangan berangkatnya?” ucap Salma.
“Kan dekat sekolahannya?” ucap Afifah. “Gugupnya Afifah barangkali di depan gerbang ketemu kakak kelas Afifah yang kemarin kirim surat untuk Afifah bunda? Afifah takut, orang Afifah gak suka kok?” keluhnya.
__ADS_1
Ada cowok yang suka dengan Afifah, dia kakak kelas Afifah, namanya Rafka. Dia ketua OSIS, dan sejak MOS memang Afifah yang selalu ditunjuk oleh Rafka, hingga selesi MOS, Rafka memberanikan diri menitipkan surat pada teman sebangku Afifah. Siapa sih yang gak senang disukai cowok di sekolahannya yang terkenal pintar, ketua OSIS pula? Tapi bagi Afifah itu adalah musibah besar, karena dia sudah memilih Dimas dalam hatinya, memilih cowok yang lebih dewasa sekali dari dirinya. Afifah tidak peduli dengan Rafka yang selalu meminta nomor telefonnya, padahal Afifah bilang kalau dirinya sudah punya cowok, tapi Rafka tidak percaya itu.
“Cie ... baru masuk berapa hari sudah diberi surat cinta sama kakak kelas?” ledek Askara.
“Afifah gak suka, Yah! Gak mau pacaran dulu Afifah. Biar saja lah! Gak mau nanggepin dia!” jawab Afifah setengah kesal.
“Ya sudah terserah kamu, Fah? Ayah juga masih trauma kamu dekat dengan cowok, apalagi kakak kelas. Ingat Vero jadi pikiran ayah negatif terus sama cowok seusia Vero,” ucap Askara.
“Sama, bunda pun gitu, Kak. Sudah kalau memang kakak gak suka, ya sudah kakak fokus saja sama sekolah. Gak usah mikir gak punya cowok, nanti juga pasti punya cowok? Ingat, perempuan baik, pasti akan mendapatkan laki-laki yang baik, kalau kakak mau punya cowok baik ya perbaiki dulu kakak, biar lebih baik,” tutur Salma.
“Iya, Bunda,” jawab Afifah.
“Maafkan Afifah. Afifah sudah punya pacar, Bunda. Pacar Afifah mantan suami bunda,” ucap Afifah dalam hati.
^^^
Afifah sampai di depan gerbang sekolahannya. Dia diantakan sopir seperti biasnya. Sopir itu juga sopir yang dicarikan oleh Dimas, supaya bisa memantau Afifah bagaimana setiap harinya.
“Afifah!” panggil cowok yang baru saja datang.
Afifah menoleh lalu tersenyum menunduk, lalu dia langsung mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam sekolahannya. Ia tidak mau menemui Rafka, karena pasti dia akan meminta nomor telefonnya lagi, juga mau mengajak pulang bareng.
“Afifah, tunggu!” teriak Rafka lalu mengejar Afifah.
Afifah tidak bisa menghindar, diraihnya tangan Afifah oleh Rafka. Dia tidak bisa menjauh dari Rafka lagi. “Ada apa, Kak?” tanya Afifah.
“Kenapa sih kamu menghindari kakak?” tanya Rafka.
“Gak apa-apa, Kak. Aku gak mau saja sih dideketin sama kakak, banyak cewek yang suka kakak, aku tidak mau cari masalah, aku ini mau sekolah, bukan cari masalah!” jawab Afifah penuh penekanan.
“Aduh, kenapa mikir sampai ke situ, Afifah? Biar saja mereka suka kakak, orang kakak sukanya sama kamu kok?” ucap Rafka.
“Ya aku gak mau saja, Kak. Aku tetap gak bisa menerima kakak, dan gak bisa ngasih nomorku,” ucap Afifah.
“Tapi aku gak akan menyerah, Fah!” tegas Rafka.
__ADS_1
“Jangan gitu, Kak. Aku belum mau pacaran soalnya,” pungkas Afifah.
Ponsel Afifah bergetar, Afifah yakin pasti itu Dimas. Pasti Dimas tahu kalau dirinya sedang bersama cowok, dan itu pasti dari sopirnya. Afifah dengan cepat mengangkat telefonnya. Benar yang menelefonnya adalah Dimas, kebetulan dia akan memanggil Dimas ayah, biar bisa menghindar dari Rafka.
“Ada apa, Ayah?” tanya Afifah.
“Cie ... disambut fans nya, ya?” ucap Dimas.
“Ih ayah apaan sih! Iya enggak, Afifah gak pacaran! Makanya besok-besok ayah yang antar Afifah saja, jangan sopir, biar ayah bilang sama yang deketin Afifah, jangan tahu dari sopir saja!” ucap Afifah.
Benar dengan Afifah bicara seperti itu Rafka perlahan pergi. Dimas tahu Afifah sedang menghindari dari cowok itu, lucu saja Afifah sampai seperti itu. Halus sekali cara mengusirnya.
“Ya sudah sana sekolah yang benar. Tenang nanti ayah antar kamu, sekalian ayah bawa kamu ke penghulu!” ucap Dimas.
“Sudah ah, aku mau masuk kelas, Yah. Mau upacaran nanti. Dah ayah, i love you?” ucap Afifah.
“I love you too sayang,” ucap Dimas.
Afifah langsung berjalan ke kelasnya. Untung saja Rafka langsung pergi saat dia mendengar Afifah menyebut nama ayah.
^^^
Rafka memang baru pernah jatuh hati dengan cewek, sejak ia putus dengan kekasihnya yang bernama Alinka. Kakak kelas Afifah juga. Rafka putus karena Alinka selingkuh, dan dia baru bisa move-on karena ketemu dengan Afifah. Tapi, ternyata Afifah tidak sesuai dengan harapannya. Afifah selalu diawasi oleh ayahnya, bahkan ia baru saja berlari mengejarnya, ayahnya langsung menelefon Afifah, dan tahu ada dia.
“Mata-matanya banyak banget tuh cewek! Aku kira dia itu lugu dan mau-mau saja gue deketin? Eh ternyata malah dia itu anak papi? Selalu diawasi pula?” gerutu Rafka sambil berjalan ke kelasnya.
Semua anggota OSIS tahu kalau Rafka sedang mengejar Afifah. Mereka mendukung Rafka dengan Afifah, tapi ternyata menaklukkan anak papi itu sulit sekali bagi Rafka.
“Lo kok tadi langsung pergi? Gak ikutin tuh cewek incaran lo?” tanya Anjar, teman Rafka.
“Dia anak papi ternyata. Masa tahu kalau aku itu ngejar dia. Gila ditelfon langsung tadi, digertak tidak boleh pacaran?” jawab Rafka.
“Gue kira dia gak gitu?”
“Kayaknya nih sopirnya yang juga jadi mata-matanya bokapnya, bro!” ucap Rafka.
__ADS_1
“Bisa jadi, Raf? Sudah yuk jangan galau, kita ke kelas!” ajak Anjar.