
Dimas gemas sekali melihat Afifah yang dari tadi melihat dirinya yang sedang fokus mengemudikan mobil dan mencari restauran. “Ada apa lihatin om terus?” tanya Dimas dengan mencubit pipi Afifah.
“Mnch ... om sakit, ih!” tukas Afifah.
“Lagian dari tadi om lihat kamu ini lihatin om terus?” ucap Dimas.
“Aku kan tadi post foto kita di story? Teman-temanku pada komentar, om katanya mirip aktor Korea. Oppa-Oppa gitu, katanya? Mirip dari mana, ya? Makanya Afifah lihatin om dari tadi, nyamain dengan fotonya aktor korea,” jelas Afifah.
“Kamu itu ada-ada saja? Ya jelas gak sama lah! Ganteng om mungkin sih iya?” ucap Dimas dengan berkelakar.
“Ih ... pede sekali om ini?” cebik Afifah. “Buruan dong, Fifah lapar, Om?” rengek Afifah.
“Iya sabar, tuh depan ada restoran yang steak nya lumayan terkenal enak,” ucap Dimas.
Dimas membelokkan mobilnya ke restoran, lalu ia mengajak Afifah turun. Afifah berjalan di sebalah Dimas, dengan dirangkul Dimas, seperti merangkul adik atau keponakannya. Mereka mecari tempat duduk yang kosong, lalu memesan makanannya.
“Om, boleh gak Afifah pesan ini dan ini?” tanya Afifah.
“Boleh, Sayang ... terserah kamu mau pesan apa, yang penting dimakan, dihabiskan jangan ada sisa, mubazir nantinya,” jawab Dimas.
“Oke, aku pesan ini sama ini,” pinta Afifah.
“Oke, om samain saja deh yang ini, om lapar juga dari semalam mau makan malas,” ucap Dimas.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka foto-foto. Afifah yang hobinya sama dengan Dimas, apa-apa serba diabadikan momennya lewat foto, jadi saat bersama sibuk dengan ponselnya, dan foto-foto.
“Di sini enak ya, Om? Aku pengin SMA nanti pindah ke sini saja, ah. Banyak saudara di sini, di sana hanya ayah sama bunda, teman-teman semua ya teman baru,” ucap Afifah. “Tuh kan enak sekali, nongki sama teman-teman,” imbuhnya.
“Malah enak Di Jogja, Fah. Apa-apa di sana itu harganya masih standar, cocok buat kantong pelajar. Menurut om sih enak di sana. Tapi, di mana pun tempatnya kalau nyaman pasti enak, Fah,” tutur Dimas.
“Iya sih, aku di sana kesepian om, gak ada saudara. Di sini saudara ayah banyak, saudara bunda juga di sini semua? Ayah sih pakai ada pekerjaan di sana?” cebiknya.
__ADS_1
“Ya nanti bilang sama ayah kau saja, kalau kamu pengin SMA di sini ya gak apa-apa. Kamu kan ada saudara banyak di sini?” ujar Dimas.
“Tapi kayaknya bunda yang gak mau, Om. Bunda pasti selalu ingat ibu yang udah nyakitin bunda. Ya aku sih gak masalah bunda begitu, memang sih wajar bunda marah, suaminya direbut orang mana ada sih istri gak marah? Meskipun yang merebut ibu kandungku sendiri? Tapi aku kan dari kecil sama bunda?” ucap Afifah.
“Ya begitulah, tapi kalau bicara baik-baik sama bunda dan ayah pasti ya mereka ngertiin kok? Paling nanti bunda mau tinggal di sini lagi, kalau bunda hamil pasti akan di sini, karena kan gak mungkin di sana sendirian, harus ada yang jagain pas awal-awal melahirkan?” ucap Dimas.
“Iya juga sih? Semoga saja bunda programnya berhasil. Aku juga pengin sekali punya adik, Om. Temanku punya adik semua, aku sendiri yang enggak?” ucap Afifah.
“Yang sabar, kamu juga berdoa, biar programnya bunda dan ayah berhasil,” tutur Dimas.
Mereka menikmati makanannya. Afifah benar-benar menghabiskan apa yang ia pesan. Pas sekali sedang lapar, dan memang manu makanannya cocok di lidahnya. “Makannya jangan gugup, om gak akan ninggalin kamu, tuh belepotan.” Dimas mengusap bibir Afifah yang belepotan, dan sedikit terkena rambutnya. “Tuh kan kena sampai rambut kamu. Diikat rambutnya kalau makan, Afifah?” imbuhnya sambil mengusap rambut Afifah dengan tissue.
“Hmm ... habisnya enak, Om. Ih iya kena rambut, sebentar Afifah ambil ikat rambut,” ucap Afifah. “Om, tolong ambilin lalu iketin rambut Fifah, tangan Fifah kotor,” pinta Afifah.
“Oke, sini om iketin rambutnya.” Dimas mengikat rambutnya Afifah, untung saja ia bisa, karena dulu sering mengikatkan rambutnya Salma saat masih pacaran.
“Bukan anaknya Salma, tapi manjanya kek Salma. Apa-apa harus selalu diturutin. Wajahnya juga sekarang malah mirip Salma, gaya bicaranya, gaya berpakaiannya juga,” batin Dimas dengan menatap Afifah yang sedang makan.
“Kamu seperti bundamu, Fah. Mirip sekali,” ucap Dimas.
“Gak hanya om yang bilang aku mirip sekali sama bunda. Banyak yang bilang aku mirip bunda, padahal mereka gak tahu kalau aku bukan anak kandung bunda. Tahunya aku anak kandung bunda, mirip sekali katanya. Ya jelas lah aku mirip bunda? Dari aku kecil yang merawatku kan bunda? Bukan ibu,” jawab Afifah.
“Iya, mirip sekali kok, dari gaya bicaramu, gaya berpakaianmu, dandananmu, dan wajahmu juga mirip bunda?” ucap Dimas.
“Mirip mantan om, ya?” ledek Afifah.
“Hush ... gak boleh begitu, kalau dengar ayahmu pasti marah lho? Sudah nanti bunda sama ayah bertengkar lagi gara-gara ayahmu cemburu sama om?” ucap Dimas.
“Ayah mah bucin sekali sama bunda, Om. Kek pacaran mulu setiap hari, manggilnya saja yang, kayak anak muda pacaran, kan?” ucap Afifah.
“Ya biar dong? Harusnya kamu senang bunda sama ayah kamu begitu? Harmonis, gak pernah bertengkar, mendukung kamu, sayang sama kamu. Banyak lho orang tua yang cuek, sama anaknya cuek, sama pasangannya ya cuek, jadi keluarganya gak harmonis, kesannya rumah tempat pulang yang nyaman jadi membosankan,” papar Dimas.
__ADS_1
“Iya sih, aku juga senang, bunda sama ayah gak pernah bertengkar, sayang banget kelihatannya mereka sama pasangannya. Pas ayah sakit juga bunda jagain ayah terus, gak pernah ninggalin ayah sedikit pun,” ucap Afifah.
“Ya harus begitu, Fah. Karena yang menemani kita kelak sampai tua adalah pasangan hidup kita, bukan orang tua, saudara, atau anak kita?” ucap Dimas.
“Lalu om? Om gak mau gitu menikah lagi? Biar ada temannya pas sudah tua? Kayak oma dan opa,” tanya Afifah.
“Nanti, om pasti menikah lagi,” jawab Dimas.
Dimas sebetulnya sudah dekat dengan perempuan, tapi perempuan itu belum tahu sakitnya Dimas. Ia tidak ingin mengecewakan pasangannya karena dia sakit yang seperti itu. Bahkan ia berobat sampai luar negeri pun masih belum sembuh juga. Entah nanti bisa sembuh atau tidak. Namannya menikah ya harus ada hubungan intim, lantas bagaimana mau berhubungan intim kalau dirinya saja gak bisa berfungsi alat vitalnya?
“Siapa calonnya om? Kenalin dong? Itu ya yang diposting di instagram dulu?” tanya Afifah.
“Yang mana ya, Fah?” tanya Dimas.
“Ya pas om liburan ke Turki,” jawab Afifah.
“Oh, Renata? Iya benar itu pacarnya om,” ucap Dimas.
“Jadi itu calon istri om?” tanya Afifah.
“Ya boleh dibilang itu calon om,” jawab Dimas.
Dimas memang sudah kenal dekat dengan keluarga Renata, tapi sekali lagi, Renata belum tahu Dimas sakit impotent. Kalau tahu pastinya Renata akan memutuskan Dimas, padahal Renatalah yang membuat Dimas bisa jatuh cinta lagi.
Dimas mendapatkan telefon dari seseorang, lalu ia menerimannya. “Iya, Re, ini aku mau sampai rumah, kamu tunggu di rumahku saja,” ucap Dimas pada seseorang di balik telefon.
“Afifah, nanti kita ke rumah om dulu, ya? Tante Renata di rumah om, katanya mau ada penting dengan om. Ke rumahnya Eyang Mila malaman gak apa-apa?” tanya Dimas.
“Oke, gak apa-apa, pasti tuh pacaranya om sudah kangen,” ucap Afifah.
“Ya mungkin saja, kan om lama gak bertemu dengan Tante Renata?” jawab Dimas.
__ADS_1
Sore ini Afifah diajak ke rumahnya Dimas lebih dulu, baru nanti dia antar ke rumah Bu Mila. Rumahnya juga tidak jauh dari rumah Bu Mila, jadi Afifah tidak mempermasalahkannya.