
Mereka berbincang dengan akrab, dan sesekali bercanda. Tawa mereka sampai terdengar keluar, sampai di telinga Askara dan Dimas yang sedang mengobrol.
“Biar saja mereka melepaskan rindunya, Ka,” ucap Dimas.
“Kenapa kamu belum menikahi Salma?”
“Aku tidak akan menikah dengannnya,” jawab Dimas.
“Kenapa?”
“Ya karena kami memang tidak bisa bersama lagi. Aku ini sudah anggap Salma seperti adikku sendiri, Ka. Jadi ya sepertinya untuk menikah lagi, rasanya sudah beda,” jawab Dimas. “Kamu tidak mau berusaha membujuk Salma untuk rujuk?”
“Aku tidak berani, nanti yang ada, Salma malah jauh dengan Afifah lagi. Aku tidak mau egois, Dim. Aku memang masih mencintai Salma, tapi aku tidak bisa memaksa Salma yang ada nanti malah dia jauhi Fifah lagi, yang terpenting Fifah bahagia, karena Salma masih mengingatnya. Salma ke sini untuk menemui Fifah dan bilang kangen dengan Fifah saja aku sudah bahagia dengarnya, Dim,” jawab Askara. “Yang terpenting anakku bahagia, Dim,” imbuhnya.
Benar kata Askara, yang terpenting adalah Afifah. Askara lebih baik memendam cintanya pada Salma, daripada dia mengungkapkannya nanti malah jadi ribut lagi, dan Salma menjauhinya lagi, kasihan Afifahnya.
^^^
Salma akhirnya bermalam di rumah Askara, dengan Dimas juga. Dimas tidur di kamar tamu, sedangkan Salma dengan Afifah, di kamar Afifah. Askara masih sibuk dengan pekerjaan kantor, dan semua orang di rumahnya sudah pada tertidur pulas. Askara memang akhir-akhir ini sedang sibuk di kantor. Mempebarui perusahaannya yang kemarin sempat mau tumbang karena orang kepercayaan ayahnya.
“Kamu belum tidur, Ka?” tanya Dimas yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Iya ini masih banyak pekerjaan, Dim.”
“Jangan diforsir, nanti kamu sakit, kamu Cuma ada Afifah lho, kasihan kalau kamu sakit,” tutur Dimas.
“Iya sih, ini sebentar lagi selesai kok,” jawab Askara.
Dimas sebetulnya ingin mendekatkan Salma dan Askara lagi. Mereka itu sama-sama membutuhkan, tapi mereka terlalu mementingkan egonya sendiri.
“Ajak nikah Salma lagi sana, Ka,” ucap Dimas.
“Kamu sedang ngelindur? Bukannya dia mau menikah dengamu?”
“Kami memutuskan tidak jadi menikah, Ka. Sana kamu bujuk dia, kalian sama-sama saling membutuhkan, terlebih Fifah, dia membutuhkan sosok ibu. Mau cari siapa lagi kamu? Perempuan lain? Ini kesempatan kalian untuk bicara, dan melanjutkan hubungan kalian,” tutur Dimas.
“Jujur aku masih sangat mencintai Salma, tapi aku tahu, dia sudah kecewa sekali denganku, Dim. Jadi aku tidak berani memaksakannya lagi. Biar aku sendiri saja, di sini dengan Afifah.”
“Jangan begitu, anakmu perempuan, suatu hari nanti afifah akan dibawa suaminya, tidak mungkin kamu akan ikut terus dengannya? Kamu butuh teman hidup untuk menemanimu hingga tua nanti, Ka.”
“Lalu kamu? Kenapa tidak kamu saja yang menikah dengan Salma?”
“Ada sesuatu yang membuat aku tidak bisa menikahinya, Ka,” jawab Dimas.
“Sesuatu? Bukankah kamu sudah merencanakan itu?” tanya Askara.
“Iya, tapi aku tidak tega menikahi Salma dengan keadaanku yang begini, Aska.” Ucap Dimas.
“Kamu sakit?” tanya Askara.
“Ya, aku sakit, mungkin fisikku ini sehat, tapi aku tidak sehat untuk masalah ranjang, Ka. A—aku ... impotent, sejak aku menikahi Rani, sampai sekarang tidak bisa sembuh, aku sudah menyerah mau berobat ke mana lagi, karena sampai luar negeri pun, dan dengan dokter terbaik pula, aku tidak bisa sembuh, jadi untuk apa aku menikah? Kalau hanya untuk menyiksa batin istriku saja?” jelas Dimas.
“Kamu serius sakit seperti itu?” tanya Askara.
“Iya, aku tidak bohong, aku sakit itu, Askara.” Jawabnya.
Askara tidak menyangka ternyata selama ini dimas sakit seperti itu. Askara kasihan melihat Dimas yang menceritakan sakitnya itu.
Salma mendengar percakapan mereka. Dan, salma mendengar sendiri, kalau Askara bilang masih mencintainya, tapi dia takut untuk mengungkapkannya karena takut ditolak Salma.
Salma menyandarkan tubuhnya di dinding. Dia pun sebetulnya masih ada rasa untuk Askara, tapi rasa kecewa itu kadang masih muncul di hatinya karena askara yang menyakitinya.
Salma menghampiri mereka yang masih mengobrol, Salma berani menghampirinya karena mereka sudah mengobrol soal pekerjaan, bukan soal dirinya lagi.
“Kalian belum pada tidu?” tanya Salma.
“Ini sedang ngobrol, aku belum ngantuk juga sih,” jawab Dimas.
__ADS_1
“Kamu ngapain bangun, Sal?” tanya Askara.
“Mau ambil minum,” jawabnya.
Salma meninggalkan mereka lebih dulu, lalu mengambil minum ke dapur, dan kembali lagi ke meja sekalian membawakan kopi untuk mereka.
“Ini kamu mau meracuniku supaya gak tidur, Sal?” tanya Dimas.
“Ngobrol gak ada minuman apa enak sih, Dim?” jawab Salma.
“Aku sudah lama tidak ngopi, Sal. Asam lambungku naik soalnya, jadi aku menghindari kopi dulu,” ucap Askara.
“Sejak kapan kamu punya riwayat asam lambung?”
“Sejak pindah sini, aku selalu sibuk, jadi lupa makan, ya gini hasilnya,” jawab Askara.
“Jangan makan pedas dulu, Mas,” ucap Salma.
“Iya, enggak,”
“Makan yang teratur, jangan begadang, sudah sana tidur saja?”
“Belum selesai, Sal?” jawab Askara.
“Kamu itu harus jaga kesehatan, kamu hanya punya Fifah, kasihan Fifah kalau kamu sakit, Mas?” ucap Salma.
“Iya sih, tapi kan mau bagaimana lagi? Aku kan kerja juga untuk Fifah?” jawabnya.
“Tetap saja, Mas ... harus jaga kesehatan, kalau enggak diri kamu sendiri mau siapa yang menjaga?”
“Iya juga ya? Kecuali seperti dulu ya? Ada Bu Dokter yang selalu jaga aku?”
“Kamu bilang apa sih, Mas?”
“Bu Dokternya sudah pindah profesi jadi penjual kue sih, jadi gak jagain aku lagi, apalagi bu dokternya mau menikah lagi?”
“Mas ... ngomongnya ih!” tukas Salma.
“Jangan macam-macam bilangnya!” tukas Salma.
“Ehem ... aku jadi obat nyamuk nih?” ujar Dimas.
Dimas meraih tangan Askara dan Salam, dia menyatukannya, lalu menggenggam tangan mereka. “Kalian masih sama-sama membutuhkan, rujuk lagi, berdamailah dengan masa lalu, perbaiki pernikahan kalian, jangan mementingkan ego masing-masing. Sudah mau apalagi kalau kalian gak nikah? Afifah butuh kalian lho? Apa gak kasihan dia sekarang kurang untuk bermiannnya, tapi malah mengurus ayahnya dan pekerjaan rumah? Kalian jangan egois, sudah mau apalagi sih?” ucap Dimas.
“Tapi, Dim ....”
“Tapi apa, Sal?”
“Sudah, aku tinggal, kalian bicarakan baik-baik, untuk masalah ibu, ada aku, ada bibi, pasti ibu paham kok. Ibu juga berharap sekali kalian bersatu lagi, karena aku sudah cerita semua sama ibu soal yang terjadi pada diriku ini,” jelas Dimas.
“Dim, tapi tidak seperti ini?”
“Salma ... sudah, kalian bicar ya? Aku berharap kalian bisa memperbaiki semuanya.”
Dimas pergi ke teras, dengan membawa rokok dan kopi yang dibuatkan Salma. Dimas berharap sekali kalau Askara dan Salma rujuk kembali.
^^^
Salma dan Askara masih sama-sama diam, mereka masih belum mengeluarkan kata-kata mereka. Askara juga takut salah jika bicara lebih dulu.
“Sal.”
“Mas ...”
Mereka bersamaan membuka mulut. Dan akhirnya Askara memulai untuk bicara.
“Apa masih ada kesempatan, Sal?” tanya Askara.
__ADS_1
“Apa jika aku kembali lagi, tidak akan ada kejadian seperti kemarin?” tanya Salma.
“Zura sudah meninggal, gak mungkin bangkit lagi, kan?”
“Ngaco kalau bilang!” tukas Salma.
“Ngaco gimana? Benar, kan?”
“Gak usah bawa-bawa yang sudah almarhum, Mas? Maksudku masih ada mantan kamu yang lain selain dia?”
“Ya gak adalah!” jawab Askara.
“Ya gak usah ngegas, Mas!”
“Memang gak ada kok, mau gimana lagi?” ucap Askara.
“Ya kalau ada, aku gak mau sih kembali lagi dengan orang yang masih punya mantan. Karena ketika mantan kembali, semua akan berantakan, Mas!”
“Tapi, ini mantan istriku kembali kok gak berantakan ya, Sal? Yuk berantaki tempat tidur saja sekarang?” seloroh Askara.
“Hei! Halalkan dulu mantanmu!” tukas Salma.
“Kapan? Mau kalau besok?”
“Sekarang saja aku halalkan, sana tuh kamar nganggur, kali saja kalian mau mberantakin kamar!” seloroh Dimas
“Ih nguping, ya?” ucap Salma.
“Besok aku urus pernikahan kalian, ya nikah siri dulu gak apa-apa, kali saja kalian sudah kebelet, kan? Nanti aku uruskan berkas nikah kalian semuanya,” ucap Dimas.
“Dim, makasih, ya?” ucap Askara.
“Kamu yakin kalau aku kembali dengan Askara, kamu rela, Dim?”
“Sudah, jangan banyak bicara. Sudah ya, jangan pada ribut lagi. Berdamailah dengan masa lalu. Kalian harus bersama lagi, karena ada Fifah yang butuh kalian. Mungkin Fifah bukan anak kandungmu, Sal. Tapi, dia begitu tulus mencintai kamu, dan menyayangi kamu. Dia menganggap kamu itu seperti ibunya sendiri.” ucap Dimas. “Sudah sana tidur, balik ke kamar Afifah, besok saja kalian berantakin kamarnya.”
Salma kembali ke kamar Afifah. Sudah lega perasaan Salma yang mengganjal selama ini. Dimas juga sudah merelakan dirinya menikah lagi dengan Askara. Salma juga akan berusaha melupakan kejadian saat dengan Azzura. Kalau Askara tidak mencintainya, tidak mungkin Askara akan terus sendirian mengurus Afifah.
^^^
Salma dan Askara hari ini menikah lagi. Mereka memilih untuk menikah di Jogja. Pernikahan yang hanya di hadiri oleh keluarga saja, karena hanya pesta sederhana saja yang mereka siapkan.
Setelah sekian purnama Salma memendam benci, akhirnya terkikis sudah benci itu. Dia bisa kembali menerima Askara, dan sekarang sudah menjad suami istri yang sah lagi.
Askara menyusul Salma ke kemar yang sedang berganti pakaian, karena acara sudah selesai. Salma ingin mengganti pakaiannya karena merasa gerah, dan tidak nyaman dengan sanggul yang menempel di kepalanya. askara memeluk salma dari belakang, dan mencium pipinya.
“Terima kasih ya, Sal? Kamu sudah menerimaku lagi?”
“Kita mulai dari awal di sini ya, Mas?” ucap Salma.
“Iya, Sal. Sudah aku tidak punya mantan lagi, sekarang mantanku sudah jadi istriku lagi. Aku sangat mencintaimu, Salma ...”
“Aku juga mencintaimu, Mas,” ucap Salma.
Mereka saling menautkan bibir mereka. Askara begitu merindukan semua ini. Sudah lama ia memendam hasratnya sendiri.
“Astaga ... kalian ini? Sabar kek, nanti malam kan bisa? Itu masih ada tamu malah ditinggal berantakin kamar? Sudah keluar dulu, itu keluarga kamu juga mau pada pamit? Ibu dan aku juga mau pamit, Sal,” ucap Dimas.
Askara dan Salma sebetulnya malu, kepergok Dimas sedang berciuman. Mereka akhirnya keluar, setelah mengganti pakaiannya.
Setelah semua pamit, hanya tinggal Askara dan Salma, juga Afifah. Afifah bahagia sekali, akhirnya bundanya pulang, bundanya bersama dia lagi.
“Bunda ... aku pengin tidur sama bunda lagi, ya?”
“Oke, bunda tidur di kamar kamu,” jawab Salma.
Untung saja salma sedang datang bulan, jadi Askara membiarkan salma tidur di kamar Afifah.
__ADS_1
Semua sudah selesai, tidak ada lagi dendam, dan tidak ada lagi yang tersakiti. Askara tidak peduli dengan permintaan Azzura yang melarang dirinya menikah lagi. Dia tidak peduli itu. Biar saja, toh dia sudah meningga, jadi Askara tidak peduli. Apalagi Askara sudah berniat untuk menikahi Salma lagi saat Azzura sudah meninggal.
“Terima kasih sudah mau menerimaku kembali, Sal. Aku tidak akan meninggalkamu lagi,” ucap Askar lalu mencium pipi Salma yang sudah tertidur pulas di kamar Afifah. Askara malah meringkuk di sebelah Salma, tidur di sebelah Salma dan memeluk erat Salma. “Dua perempuan yang sangat aku cintai, selamat tidur dan mimpi indah, Sayang,” ucap Askara.