Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Jangan Panggil Om Lagi


__ADS_3

Dimas ke kantor setelah mengantar Afifah ke kampus. Hari ini ada Sekretaris baru di kantor Dimas, yaitu Kania. Kania bahagia sekali, karena ia merasa kalau dirinya adalah Sekretaris Dimas sekaligus calon istrinya. Padahal hari ini Dimas berniat untuk memindahkan Kania ke bagian lain. Biar saja Dimas cari Asisten pribadi laki-laki untuk menghindari kecemburuan Afifah.


Dimas datang cukup pagi, karena dia juga harus meminta Mita untuk mengatur Kania yang akan dipindahkan ke bagian lain. Dimas sudah sampai kantornya sepagi ini, dan Mita pun sudah berada di meja kerjanya.


“Pagi, Pak? Tumben bapak berangkat pagi sekali?” tanya Mita.


“Pagi, Mit. Iya, tadi habis ngantar calon istri ke Kampus. Oh iya, Mita, nanti kalau Kania datang, suruh dia langsung menghadapa aku. Terus nanti kamu hubungi Manager Marketing, juga suruh menghadap ke ruanganku,” perintah Dimas.


“Siap, Pak!” jawabnya tegas.


Dimas langsung masuk ke dalam ruangannya. Mita dari tadi bingung, saat Dimas bilang dirinya baru mengantar calon istrinya ke kampus. “Sejak kapan Pak Dimas punya pacar, paling yang sering ke sini Afifah? Yang masih kuliah juga Afifah? Masa Afifah calon istrinya? Kan anaknya Bu Salma, manta istri Pak Dimas? Tahu ah! Aku turuti saja. Iyain saja perintahnya,” gerutu Mita.


Tak lama kemudian ruangan Dimas diketuk oleh seseorang, dan Mita mengantarkan Kania ke dalam ruangan Dimas.


“Mita, kamu sudah hubungi bagian Marketing? Sudah bilang Beni suruh ke sini, kan?” tanya Dimas.


“Sudah, Pak, paling sebentar lagi,” jawab Mita.


“Ya sudah silakan keluar, saya mau bicara dulu dengan Kania,” titah Dimas.


Kania duduk di hadapan Dimas, dengan wajah menunduk malu, dan sedikit caper, hingga salah tingkah. Dimas tidak menyangka perempuan seperti Kania yang Bu Mila rekomendasikan untuk jadi calon istrinya. Perempuan yang sama sekali bukan kriterianya. Diterima kerja saja, karena Kania yang dianggap Dimas mampu, bukan karena penampilan fisiknya yang bagus. Malah kalah dengan Mita yang sudah punya dua anak.


“Kania?” panggil Dimas tegas.


“I—iya, Pak!” jawabnya.


“Sudah siap kerja?” tanya Dimas.


“Sudah, Pak!” jawabnya antusia.


“Bagus, kalau sudah siap. Nanti kamu saya pindah ke bagian Marketing, kamu akan bekerja dengan Pak Beni yang menjadi atasanmu,” ucap Dimas.

__ADS_1


“Katanya akan menggantikan Bu Mita, Pak? Untuk jadi Sekretaris Pak Dimas?” tanya Kania.


“Iya, tadinya aku pikir aku butuh Sekretaris untuk menggantikan Mita, dan kualifikasinya adalah perempuan, tapi setelah aku pikir-pikir, lebih baik aku cari asisten laki-laki saja. Soalnya aku tidak mau membuat calon istriku berpikiran macam-macam,” jelas Dimas.


“Ca—calon istri? Ma—maksud bapak calon istri Pak Dimas?” tanya Kania.


“Iya, siapa lagi kalau bukan calon istriku. Minggu depan aku akan menikahinya, kami sudah bertunangan lama. Ini cincinnya, sudah melingkar di jari manisku, kan?” jawab Dimas.


Kania menunduk, dia kecewa sekali. Dari rumah dia sudah senang dan bahagia karena akan bekerja sebagai Sekretaris sekaligus calon istri Dimas, tapi ternyata Dimas sudah punya calon istri dan sudah bertunangan.


“Kania, kenapa diam?” tanya Dimas.


“Ehm ... ti—tidak apa-apa, Pak,” jawab Kania.


“Kenapa? Kaget ya, aku mau menikah minggu depan? Karena kata Ibu aku masih belum punya calon dan akan dijodohkan dengan anak teman ibu, yang tak lain adalah kamu?” tanya Dimas.


“Ehm ... saya tidak tahu kalau Pak Dimas sudah punya calon istri, dan Bu Mila juga bilang kalau Pak Dimas masih sendirian, belum punya calon. Jadi aku nurut saja saat mama bilang akan menjodohkan aku dengan anak Bu Mila,” jelas Kania.


“Iya, ibu juga tidak tahu aku sudah punya calon. Aku memang tidak bicara dengan ibu, pikirku nanti saja aku jelaskan kalau sudah mau mendekati pernikahan, jadi ya begitu. Ibu memang selalu begitu, jadi aku minta maaf sama kamu, sama mama kamu, kalau aku tidak bisa dijodohkan dengan kamu, karena aku ini mau menikah minggu depan,” jelas Dimas. “Dan, ini calon istriku.” Dimas menunjukkan foto Afifah pada Kania.


“Iya, kenapa? Kaget, ya? Kalau aku akan menikahi anak dari mantan istriku? Lebih tepatnya anak sambung Salma?” tanya Dimas.


“Ya aneh saja, tapi kalau memang sudah jodohnya, ya sudah,” jawab Kania pasrah.


Selang beberapa lama, Beni masuk ke dalam ruangan Dimas. Dimas langsung membicarakan tujuannya. Beni mengerti, dan Kania langsung diutus untuk ikut Beni ke ruang kerjanya. Selesai sudah urusan Kania. Dimas lega sekali, karena Afifah tidak akan tanya lagi soal Kania. Dimas juga tidak mau membuat Afifah khawatir dan selalu berpikiran negatif kalau dia rekan kerjanya perempuan, apalagi sekretaris sekaligus asisten pribadinya. Ia memilih aman, jadi akan mencari asisten lagi, dan bukan perempuan, melainkan laki-laki.


^^^


Sedangkan Kania, dia masih kesal dengan kejadian barusan, yang begitu mengejutkan. Dia sudah siap dari rumah dengan rapi dan cantik untuk menjadi Sekretaris Dimas pagi ini, tapi setelah datang ke kantor, hasilnya zonk. Dia dipindahkan ke bagian lain, dan jauh sekali jarak kantornya dengan kantor utama.


Kania kecewa sekali, ternyata Afifah calon istri Dimas, dan Bu Mila juga tidak mengabari lagi kalau Dimas itu akan meikah.

__ADS_1


“Aku tidak terima, aku seperti sudah dipermalukan hari ini. Aku akan balas ini semua, Afifah! Aku yang akan mendapatkan Pak Dimas, bukan kamu! Aku malu, Afifah! Kau sudah menghalangiku untuk jadi Sekretaris Pak Dimas!” umpat Kania dalam hati.


Kania terpaksa sekali bekerja di bagian yang tidak ia inginkan. Tapi, meski begitu, Kania tetap menerima gaji sesuat dengan gaji Sekretaris sekaligus asisten pribadi, karena Dimas juga tidak mau mengecewakan Kania soal gaji tiap bulannya, yang memang di bagiannya Beni, gajinya di bawah dari gaji yang harus di terima Kania sebagai sekretaris.


Bu Mila sebetulnya dari semalam sudah menghubungi Bu Sari, tapi nomor Bu Sari tidak aktif, sampai siang pun belum aktif nomornya. Sampai Kania ingin menelefon mamanya untuk bicara soal Dimas dan pekerjaannya juga susah. Kania benar-benar terpaksa sekali menjalani pekerjaannya yang tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


^^^


Siang ini, Dimas menjemput Afifah di Kampus dan sekalian ingin mengajak Afifah untuk mencari gaun pernikahannya. Afifah sangat tidak percaya kalau sebentar lagi ia akan menikah.


“Om,” panggil Afifah yang duduk di sebelah Dimas yang sedang mengemudikan mobilnya.


“Apa sayang?” tanya Dimas.


“Kita benar mau menikah?”


“Iya dong, Sayang? Masa bohongan?” jawab Dimas.


“Gak nyangka banget, ya?” ucap Afifah.


“Iya, memang harus segera di laksanakan, apalagi umurmu sudah matang untuk menikah,” jelas Dimas. “Fah, masa mau menikah kamu manggilnya om terus?” ujar Dimas.


“Lalu mau aku panggil apa, Sayang?”


“Apa, ya?”


“Ehm ... bagaimana Daddy? Kan Om kayak Sugar Daddy?” celetuk Afifah.


“Daddy? Boleh deh, gak apa-apa, pantas kok, daripada om terus, kok aku geli, ya? Berasa Om-om lagi pacaran sama bocah,” kekeh Dimas.


“Dih, emang aku masih bocah, Daddy?” ucapnya.

__ADS_1


“Bagus, ganti Daddy saja manggilnya!” ucap Dimas dengan senang.


“Siap, Daddy,” ucap Afifah lalu memeluk Dimas.


__ADS_2