Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Sama-Sama Memakai Cincin


__ADS_3

Afifah memberikan ponselnya, dia memperlihatkan foto-foto Vero dan Renata, juga videonya. Askara tidak menyangka kalau Vero dan Renata bisa segila itu. Askara meminta video itu pada Afifah untuk bukti pada jika Alka menanyakan hubungan Afifah dengan Vero, lalu Askara menghapus video dan foto yang ada di ponsel Afifah. Bu Mila dan Salma pun tidak menyangka Renata suka dengan anak SMA, dan itu adalah Vero.


Askara tidak menyangka Vero akan melakukan hal menjijikan seperti itu, padahal dia masih SMA, tapi mau sama tante-tante. Salma memang dari awal sudah menebak kalau Vero bukan cowok yang baik, hanya cover nya saja yang baik, tapi dalamnya amburadul. Terlebih Bu Mila, beliau tidak menyangka Renata akan seperti itu, padahal Bu Mila kenal dengan Renata yang sangat sopan, baik, dan lemah lembut. Itu kenapa Bu Mila ingin sekali Dimas serius dengan Renata. Ternyata semua itu di luar dugaan, Ranata malah suka dengan laki-laki di bawah umur, yang pantasnya jadi anaknya.


“Zaman edan sekarang! Anak SMA sama tante-tente sukanya, nanti yang cewek sama om-om!” gerutu Bu Mila yang tidak percaya Vero dan Renata seperti itu.


“Kalau anak ABG sama om-om sih masih wajar, Bu. Ini lho Vero, mau saja sama janda!” kesal Askara. “Aku kira dia itu baik, orang dia juara kelas terus? Eh ... malah cosplay jadi lelaki bayaran!” Askara masih geram gara-gara melihat foto dan Video Vero dengan Renata.


“Bukan dia yang jadi lelaki bayaran, Ayah? Aku yakin Vero yang ngeluarin duit, orang dia duitnya banyak? Renata kan agak matre? Buktinya belum apa-apa sudah minta apartemen sama Dimas? Dah gitu, katanya mau dibalikin apartemennya, sampai sekarang enggak, kan? Eh malah buat mesum sama anak SMA?” ucap Salma.


“Dunia tidak baik-baik saja sekarang, tingkah anak-anak sekarang makin gak benar!” cebik Askara.


“Fah, kamu jangan sampai salah pilih teman! Eyang gak mau kamu salah pergaulan di sini, anak-anak sekarang sudah ngeri pergaulannya!” tutur Bu Mila.


“Iya enggak, Eyang! Untung saja aku kemarin lihat mereka, jadi aku tahu Vero seperti apa orangnya, aku pikir baik sih, ternyata nyeremin!” ucap Afifah.


“Mulai besok kamu sudah berangkat bareng sopir, tuh Om Dimas kemarin nyariin sopir buat kamu, biar kamu diantar sopir terus, kalau bisa sopir itu nungguin kamu sampai kamu pulang sekolah!” ucap Askara.


“Idih, emang aku anak TK, Yah? Ditungguin sampai pulang? Ayah percaya dong sama Fifah, kalau Fifah gak begitu? Lagian Fifah mau fokus belajar, biar bisa kayak bunda, jadi dokter,” ucap Afifah.


“Yakin mau jadi Dokter? Katanya mau jadi Desainer?” tanya Salma.


“Yakin? Tapi ya gak tahu nanti kalau gak berubah pikiran, Bunda? Habis dua-duanya kepengin semua,” jawab Afifah.


“Ya tekuni dulu, bakatmu apa, apa yang terbaik untuk kamu Bunda akan dukung,” ucap Salma.


“Iya, Bunda.”


Afifah menyandarkan kepalanya ke bahu Salma sambil mengusap perut Salma yang sudah besar. Tinggal menunggu beberapa minggu lagi Salma akan melahirkan. “Ih adeknya nendang, Bunda,” ucap Afifah.


“Iya sudah aktif sekali adikmu,” jawab Salma.


Afifah mengusap perut bundanya karena bayi dalam perut Salma aktif bergerak. Afifah senang jika adiknya menyambut usapannya.

__ADS_1


^^^


Afifah mendapat pesan dari Dimas, ia segera membukannya. Wajahnya terlihat berbinar saat melihat layar ponselnya muncul nama Dimas.


[Baru meninggalkan kamu sebentar Om Sudah kangen, Fah]


Afifah senyum-senyum sendiri membacanya seperti orang sedang jatuh cinta, tapi benar Afifah sedang jatuh cinta pada Dimas.


[salah sendiri pergi! Ya harus bisa dong menanggung rindunya? Aku juga kangen banget, cepat pulang, ya?]


[Baru berangkat, Sayang? Masa di suruh pulang? Baik-baik, ya? Tunggu Om pulang]


[Iya. Oh, iya, tadi ayah tanya soal cincin. Aku jawab saja coulpe sama teman-temanku. Hehehe ....]


[Kenapa gak bilang dari calon suami saja?]


{Ih, gak lah! Nanti bilangnya, kalau Om sudah pulang.]


[Ya sudah, om matikan hape dulu ya, Sayang?]


[Kamu juga harus jagan hatimu. Om sayang kamu.]


[Cium ....]


Afifah selalu berani chat begitu dengan Dimas, tapi kalau di depan Dimas dia tidak berani bilang seperti itu.


[Sini Om cium jauh, tadi gak mau dicium? Muaach ....]


[Tadi ada ayah, kan semalam waktu makan malam di rumah Om sudah?]


[Oh iya, Om lupa. Jangan lupa chatnya dihapus, nanti diliat bundamu.]


[Oke, nanti aku hapus. Kalau sudah sampai video call ya, Om?]

__ADS_1


[Iya, Sayang ....]


Afifah mengakhiri chat dengan Dimas. Dia masih senyum-senyum, lalu ia lihat cincin di jari manisnya, dan ia ingat semalam saat berciuman dengan Dimas lagi. Ia tidak sadar kalau bunda dan ayahnya memerhatikannya dari tadi, saat ia mulai bertukar pesan dengan Dimas.


Salma terus memerhatikan Afifah yang senyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya, lalu bergantian menatap jari manisnya yang tersemat cincin pemberian Dimas.


“Tadi, aku lihat Dimas pun begitu, waktu dia sedang duduk menunggu kami datang di bandara. Dimas melihat cincin di jari manisnya? Dan, tumben sekali dia pakai cincin? Terus kayaknya cincin itu sangat berarti untuknya, sampai ia lihat dan ia cium cincinya. Terus ini Afifah juga begitu? Ah ... enggak! Masa itu cincin dari Dimas? Ngaco, kamu mikirnya, Sal!” batin Salma.


Salma menepiskan pikirannya negatifnya itu. Salma berpikir tidak mungkin juga Dimas akan memacari Afifah, gadis belia yang belum cukup umur. Namun, Salma teringat ucapan Dimas, kalau dia sekarang tertarik dengan anak remaja. Sontak Salma menatap Afifah lagi, yang masih dalam keadaan sama, masih senyum-senyum sendiri, dan masih memandangi cincin yang tersemat di jari manisnya.


Askara pun melihat dari kaca spion di depannya kalau Afifah seperti sedang berbunga-bunga, dari tadi senyam-senyum sendiri, dan sesekali melihat cincin di jari manisnya.


“Kamu senyum-senyum sendiri kenapa, Fah?” tanya Askara.


“Gak apa-apa, Yah? Memang, kenapa?” jawab Afifah.


“Kayaknya anak gadis bunda lagi jatuh cinta nih? Dari tadi senyam-senyum sendiri? Terus lihatin cincin di jari manisnya? Hayo ... itu sebetulnya dari siapa? Dari cowokmu, ya?” tanya Salma dengan penasaran sekali.


“Ih Bunda sama Ayah gitu banget? Orang lagi senyum-senyum gara-gara anak-anak di grup, kok? Mana ada cincin ini dari cowok? Orang ini beli bareng-bareng sama teman kemarin?” jawab Afifah meyakinkan Ayah dan Bundanya.


“Kalau Bunda sama Ayah gak percaya, ini ada buktinya, nih foto kami berempat, lihat jari-jarinya, kan samaan?” Afifah memperlihatkan foto jari-jari temannya yang juga memakai cincin yang hampir mirip dengan cincinnya. Serupa tapu tak sama lebih tepatnya.


“Iya sama, tapi agak beda kok?” Salma masih belum percaya. Ia meraih tangan Afifah, lalu melihatnya dengan cermat. “Iya sama,” ucapnya Ragu.


“Kan sama?” ujar Afifah.


“O, iya?” jawab Salma ragu.


Salma melihat lagi dengan teliti, Salma paling tahu soal perhiasan, mana yang imitasi, mana yang asli, mana yang intan dan mana yang berlian. “Ini sih berlian, dan ini begitu mahal pastinya, gak mungkin anak SMP beli semahal ini, pasti Afifah dapat dari seseorang ini. Masa Dimas? Tapi, memang Dimas kalau belikan aku perhiasan dulu memang yang paling mahal dan limited edition. Aku yakin ini berlian, bukan cincin imitasi yang pasaran itu!” Salma sangat yakin itu dari cowoknya Afifah, entah Dimas atau siapa pun, yakin seyakin-yakinnya itu adalah cincin bertahtakan berlian yang mahal, meski berliannya begitu kecil-kecil sekali.


Salma terus memutar otaknya, ia sangat penasaran sekali, dan sangat yakin itu cincin dari Dimas, apalagi Salma melihat Dimas juga memakai cincin di jari manisnya, dan sepertinya cincin yang Dimas pakai itu sangat berarti untuk Dimas, karena terlihat binar kebahagiaan saat Dimas melihat cincin yang melingkar di jarinya. Salma yakin cincin yang Dimas pakai itu kemarin beli barengan dengan Afifah, tapi kalau iya masa Dimas sama Afifah? Salma juga sempat berpikir itu cincin milik Rani dulu, mendiang istri Dimas. Tapi, tidak mungkin juga milik Rani? pikir Salma. Salma tak habis pikir kalau itu benar terjadi, apalagi dirinya pernah jadi istri Dimas, masa anak sambungnya jadi pacar mantan suaminya?


“Ini gak lucu!” cetus Salma, dan membuat Afifah menoleh memandangai Salma.

__ADS_1


“Gak lucu gimana, Bunda?” tanya Afifah.


“Oh tidak apa-apa. Bunda tadi lagi mikir itu kok ya ada pengamen pakai baju badut yang joget-joget? Mikirnya kalau ayah pakai kostum gitu lucu gak, ya? Tapi, kayaknya gak lucu deh? Ayah kan orangnya serius?” jelas Salma yang ngawur dengan sedikit gugup.


__ADS_2