
Afifah mendengarkan ayahnya bicara di balik telefon. Ia hanya mengiya-iyakan saja, supaya ayahnya tidak memperpanjang ceramahnya. Pasti kalau dia melawan durasinya akan bertambah, mungkin sampai dini hari gak selesai ayahnya ngomong.
“Iya ayah, Sayang? Kan mumpung liburan Fifah nonton? Nanti kalau sudah sekolah lagi pasti kan bisa nonton lama-lama?” ucap Afifah.
“Ya kalau kamu begini, nanti kalau sudah gak liburan malah jadi kebiasaan, pasti nonton terus? Lagian apa sih faedahnya nonton begitu? Yang ada merusak pikiran kamu, Nak?” tutur Askara.
“Ih ayah, iya deh Afifah kurangi nontonnya? Bunda juga sering nonton Drama China kok?” protes Afifah.
“Kok bunda dibawa-bawa sayang? Bunda nonton kan pas lagi jenuh saja, Nak?” sahut Salma.
“Ya sama saja, Bunda?” ucap Afifah. “Bunda sama ayah sehat, kan? Bagaimana program hamilnya, Bunda?” tanya Afifah.
“Bunda sama ayah di sini sehat, Nak. Kamu juga sehat-sehat di situ, ya? Kalau untuk programnya, doakan saja ya, Sayang?” jawab Salma.
“Tadi kamu ikut opa sama oma ke mana, Fah?” tanya Askara.
“Ke pernikahan anaknya teman Opa Ardha. Afifah dikenalkan sama cucunya Om Alka, Yah,” ucap Afifah.
“Siapa itu? Apa anaknya Om Daren?” tanya Askara.
“Ah iya benar, Yah,” jawab Afifah. “Namanya Vero, ya? Baru masuk SMA katanya. Ayah tahu, Vero sekolah di SMA favorit Afifah yang dulu Afifah sering bilang sama ayah, kalau Fifah SMA mau di sana,” ucap Afifah.
“Hmm ... tapi ayah belum ada kepikiran buat pindah, Nak. Nanti ya? Kan masih lama?” ucap Askara.
“Iya juga masih lama, Yah. Kalau gak pindah juga gak apa-apa kok, Yah?” ucap Afifah.
“Kita bicarakan nanti ya, Sayang? Kalau ayah sama bunda sudah pulang?” ucap Askara.
“Fah, kamu baik-baik ya nak di situ, nurut sama eyang,” ucap Salma.
“Iya, Bunda,” jawab Afifah.
“Fah, mana Om Dimas, ayah mau bicara,” pinta Askara.
Afifah memberikan ponselnya pada Dimas, dan Dimas mulai bicara dengan Askara, entah apa yang dibicarakan sepertinya sangat serius, mungkin mereka membicarakan urusan kantor.
“Apa Afifah masih di situ, Dim?” tanya Askara.
“Iya ini masih duduk di sebelahku?” jawab Dimas.
“Coba loudspeaker, Dim. Biar dia dengar aku dan Salma mau bicara,” pinta Askara.
__ADS_1
“Oh, oke sebentar,” jawab Dimas. “Sudah mau bicara apa dengan Afifah, Ka, Sal?” tanya Dimas pada Askara dan Salma.
“Oh iya Dimas, aku minta tolong itu Afifah dipantau, jangan nonton film terus. Liburan itu cari kegiatan yang bermanfaat, bukan malah nonton film terus!” tegas Askara.
“Mnch ... gitu kan jadinya?” gerutu Afifah lirih dengan raut wajah yang kesal.
“Tolong jagain anakku, Dim. Dia sukanya begitu kalau nonton gak ingat waktu, sekiranya sudah lama, tegur dia,” ucap Askara lagi.
“Iya, siap! Nanti kalau lihat dia sedang nonton aku matikan wiFi nya,” jawab Dimas.
“Ayah ih gitu sekali?” protes Afifah.
“Ya kamunya gak ingat waktu sih, Fah?” ucap Salma.
“Bunda sekarang malah belain ayah ih?” cebik Afifah.
“Ya kalau kamu benar bunda bela, Nak?” ucap Salma tegas.
“Ya sudah, kamu istirat. Eyang masih di situ?” tanya Askara pada Afifah.
“Iya ini masih, mau bicara sama eyang?” tanya Afifah.
“Ada apa Askara?” tanya Bu Mila.
“Iya, itu urusan ibu nanti. Kalian di sana sehat-sehat, semoga diberikan kelancaran untuk programnya,” ucap Bu Mila.
“Iya ibu ... doakan Salma dan Mas Askara ya, Bu?” ucap Salma.
“Itu pasti, Nak,” jawab Bu Mila.
“Ya sudah, Bu. Barangkali ibu mau istirahat,” pamit Salma.
Setelah selesai menelefon, Bu Mila pamit ke kamarnya, karena sudah ingin istirahat. Sekarang Bu Mila jadi cepat lelah, apalagi kadang kala kesehatannya terganggu, karena memiliki riwayat hiper tensi dan gula darah.
“Eyang istirahat dulu ya, Fah? Ingat pesan bunda sama ayah,” ucap Bu Mila.
“Iya, Eyang. Selamat tidur, mimpi indah, Eyang?” ucap Afifah.
Afifah masih duduk di sebelah Dimas saat Bu Mila sudah masuk ke kamarnya. Afifah juga ingin kembali ke kamarnya, tapi saat akan beranjak dari tempat duduknya, Dimas meraih tangan Afifah, hingga Afifah jatuh di pangkuan Dimas, dan menghadap Dimas.
“Om, lepaskan!” pekik Afifah.
__ADS_1
“Om gak akan lepasin kamu, Afifah!” ucap Dimas dengan menatap lekat wajah Afifah.
“Om jangan begini?” Afifah berontak di pangkuan Dimas.
“Om mau lepasin kamu, asal kita jangan putus!” ucap Dimas.
“Ih apaan om ini! Gak mau, kita tetap putus!” tegas Afifah.
“Om gak akan lepasin kamu!” Dimas semakin erat memegangi tubuh Afifah.
“Om, Afifah gak mau. Kalau om begini, Afifah gak bisa mengendalikan diri. Jangan bikin Afifah begini, Om. Afifah itu hanya takut om menyentuh yang seharusnya tidak om sentuh. Hanya itu. Afifah takut, Om. Jadi kita udahan saja, ya? Silakan om bisa menunggu Afifah kalau sudah dewasa, tapi yang namanya jodoh tidak tahu, Om. Afifah masih ingin bebas,” ucap Afifah. “Lagian om kan banyak teman cewek, lalu kenapa mesti Afifah yang harus jadi pacar om?” lanjutnya.
“Om gak tahu, om sayang kamu, Fah. Oke, kalau itu yang Afifah mau, om akan nunggu kamu. Ya sudah sekarang tidur, ya? Sudah malam?” ucap Dimas.
“Ya sudah lepasin Afifah om,” pinta Afifah.
“Biar om gendong kamu ke kamar,” ucap Dimas.
“Ih jangan! Afifah bisa sendiri!” tolak Afifah, tapi Dimas sudah terlanjur menggendong Afifah di depannya menuju ke kamarnya.
“Om apaan sih!” Afifah terus berontak.
“Diam apa om cium kamu lagi?” ucap Dimas, yang membuat Afifah langsung diam.
“Cium saja om, aku pengin merasakan bibir manis om lagi,” ucap Afifah dalam hati. “Eh jangan, aku gak mau sampai seperti kemarin malam. Aku gak mau!” lanjutnya dalam hati.
“Gitu dong gadis pintar,” ucap Dimas.
Lagian Dimas pun gak mau cium-cium Afifah lagi. Ia takut akan kebablasan, karena bibir Afifah yang ranum sangat menggairahkan, sampai-sampai senjatanya menjadi keras, padat, dan berisi lagi.
“Kenapa bocah ini menjadi canduku sih? Gadis kecilku canduku. Gila, aku bisa sembuh tapi aku kena penyakit lain lagi, yaitu suka sama anak di bawah umur. Oke, akan tunggu kamu sampai dewasa. Aku pastikan tidak akan ada cowok yang macam-macam denganmu. Tiadak rela kalau sampai kamu termiliki laki-laki lain! Aku akan buktikan kamu bisa jadi milikku, Afifah!” ucapnya dalam hati sambil menatap wajah cantik Afifah.
“Om ih lihatnya!” Afifah menutup mata Dimas yang sedang menatapnya penuh arti.
“Fah, om gak lihat nanti nabrak ini?” ucap Dimas.
“Makanya jangan jelalatan matanya!” tukas Afifah.
Mereka sudah di kamar Afifah. Dimas langsung merebahkan tubuh Afifah di ranjang. Ia naikkan selimut Afifah lalu mengusap kepalanya dengan lembut. Rasanya Dimas ingin sekali mencium kening Afifah, tapi takut kebablasan.
“Sudah, kamu tidur. Mimpi indah, ya? Om matikan lampunya,” ucap Dimas.
__ADS_1
“Hmm ... om juga tidur sana, mimpi indah juga, Om,” ucap Afifah dengan mengurai senyumannya.