
Pagi ini seusai sarapan, Askara dan Salma dikejutkan dengan kedatangan Vero di rumahnya, katanya ingin menjemput Afifah untuk berangkat bersama ke sekolahannya. Vero menunggu di ruang tamu, sedangkan Askara mengajak Afifah ke dalam. Meskipun Askara meperbolehkan Afifah dekat dengan Vero, bukan berarti seperti ini, Afifah tidak bilang sama sekali Vero mau mengantarnya ke sekolah.
“Kamu yakin berangkat sama Vero?” tanya Salma.
“Iya bunda,” jawab Afifah.
“Kenapa gak bilang sama ayah, kalau kamu mau sama Vero?” tanya Askara.
“Soalnya Vero tiba-tiba ajak berangkat bareng, Yah. Ya aku iyain saja?” jawab Afifah.
“Lain kali jangan begitu, ya? Kamu bilang sama ayah dulu, bukan ayah gak suka kamu berangkat dengan Vero, tapi ya setidaknya kamu bilang dulu sama ayah,” tutur Askara.
“Iya ayah, maaf,” ucap Afifah menunduk.
“Kamu hati-hati ya berangkatnya, Fah? Dengar kata ayah ya? Lain kali jangan begitu,” tutur Salma juga.
“Iya, Bunda,” jawab Afifah.
Salma kurang suka dengan Vero, entah apa yang membuat Salma merasa ada yang gak cocok jika Afifah dengan Vero. Meskipun Salma tahu keluarga Vero seperti apa, dan Vero juga seperti apa, tapi tetap saja hatinya kurang lega kalau Afifah dengan Vero. Sejak dekat dengan Vero, Afifah juga semakin jauh dari ayah dan bundanya, seakan dia punya dunia sendiri. Lebih sering di kamar, jarang ngobrol sama bunda atau ayahnya, dan lebih fokus pada ponselnya.
Salma juga tahu siapa Daren ayah dari Vero. Iya mereka baik sih, tapi tetap saja Salma tidak suka Afifah dekat sama Vero, malah Salma sukanya Afifah dekat dengan teman sekolahnya dulu waktu di Jogja yang sering kerja kelompok bareng Afifah di rumah. Dulu Salma sering memerhatikan teman Afifah itu, yang sepertinya suka dengan Afifah, dari cara bicaranya dan menatap Afifah kalau sedang kerja kelompok. Salma tahu sepertinya teman Afifah dulu itu suka sama Afifah, tapi memang sepertinya bukan tipe Afifah, karena anak itu agak kalem dan sederhana sekali.
Salma keluar menemui Vero saat Afifah sedang bicara dengan ayahnya dan mengambil bekal yang sudah Salma siapkan. Salma ingin sesekali menyapa Vero, karena kemarin dia belum sempat menyapa Vero saat Vero main dirinya sibuk dengan pekerjaannya.
“Ver, kamu ini apa tidak kejauhan putar baliknya? Sekolahanmu lebih dekat daripada sekolahan Afifah, lho?” tanya Salma sambil duduk di depan Vero.
“Gak apa-apa, Tante. Lagian masih pagi kok,” jawab Vero.
“Kamu naik sepeda motor?” tanya Salma.
“Iya, biar agak cepat, Tante,” jawabnya.
“Hati-hati lho?” tutur Salma.
“Iya tante, siap!” jawabnya.
Salma memerhatikan Vero dengan cermat sekali, dari atas sampai bawah, ke atas lagi. Dia benar-benar jeli sekali kalau ada cowok yang suka dengan Afifah, dia tidak mau Afifah salah memilih pacar, atau salah berteman dengan cowok. Salma benar-benar harus tahu bagaimana teman cowok yang dekat dengan Afifah. Biar Afifah tidak menyesal di kemudian hari. Meski Afifah bukan anak kandungnya, ia tidak mau Afifah seperti dirinya. Pacaran dari SMP mulus-mulus saja, giliran sudah menikah, bahagia, ternyata disakiti teramat dalam. Dimas dulu berani mengutarakan kalau dirinya akan menikahi teman masa kecilnya. Salma tidak ingin kejadian itu menimpa anak-anaknya kelak.
Sebetulnya Salma sedikit trauma dengan laki-laki. Setelah disakiti Dimas, dirinya kembali disakiti laki-laki yaitu Askara. Kalau saja tidak melihat Afifah yang membutuhkan dirinya, Salma pun sebetulnya tidak ingin kembali pada Askara. Tapi, sekarang Askara membuktikan ucapannya, kalau dia begitu menyesal melakukan hal seperti dulu saat Azzura datang, Askara benar-benar membuktikan kalau dirinya benar-benar mencintai Salma.
“Bunda, Afifah pamit, ya?” Afifah mencium tangan Salma dan Askara.
“Kalian hati-hati,ya?” ucap Askara.
“Jangan ngebut-ngebut ya, Ver? Kamu bawa anak gadis tante,” ucap Salma.
“Iya, Tante. Gak ngebut kok, ini masih pagi jadi santai,” jawab Vero.
Dimas tahu hari ini Afifah diantar oleh Vero pakai sepeda motor. Dimas membiarkannya. Biar saja Afifah menikmati dunia remajanya, tapi Dimas gak akan diam, dia tetap akan mengejar Afifah tapi tidak terlalu memburunya. Dimas membiarkan Afifah menikmati masa-masa anak gadis seusianya.
^^^
Dimas membelokkan mobilnya ke rumah Askara, pagi ini memang dia ada urusan dengan Askara, urusan pekerjaannya. Dimas melihat Askara dan Salma yang masih di depan teras, dan melihat ke arah mobilnya. Dimas terpaku melihat Salma dengan rambut yang tergerai, mengenakan daster motif bunga, dan perut yang sudah membuncit. Ia teringat dulu saat Salma tengah hamil. Begitu bahagianya dirinya saat itu. Setiap hari selalu ia manjakan Salma, tapi sayangnya dirinya dan Salma harus kehilangan buah hati yang sudah lama dinantikannya.
__ADS_1
“Kamu masih sama seperti dulu, Sal. Aku jadi ingat saat dulu kamu hamil, aku benar-benar bahagia sekali. Maafkan aku Salma, dulu aku pernah membuat dirimu terluka,” ucap Dimas lirih.
Dimas tersadar dari lamunannya. Sekarang sudah berbeda, Salma sudah bahagia, semuanya tinggal sebuah cerita masa lalu, dan sekarang Dimas justru jatuh hati dengan anak sambung Salma, entah pesona gadis kecil itu mengalihkan dunianya, setelah Dimas mendapatkan bibir ranum milik Afifah, ia tidak bisa melupakannya. Hingga banyak sekali perempuan yang lebih dari Afifah dia tidak meliriknya sama sekali.
Dimas turun dari mobilnya, dia langsung disambut Askara dan Salma. “Tumben pagi sekali, Dim?” tanya Askara.
“Gak ah, sudah siang kok bagi aku, masa jam tujuh masih pagi?” jawab Dimas.
“Kamu masih sama ya, Dim? Jam tujuh sudah siang sekali kalau kamu bilang,” ucap Salma.
“Ya memang sudah siang menurutku,” ucap Dimas.
“Masih tahu ya kebiasaan mantan?” cetus Askara di depan Salma dan Dimas.
“Wah ... wah ... wah ... ada yang cemburu nih? Hati-hati dong bu kalau bicara, si bapak sensitif sekali,” celetuk Dimas.
“Gak usah cemburu, kayak gak tahu Dimas sama aku bagaimana,” ucap Salma.
“Ya kalian mantan. Iya, kan?” cebik Askara.
“Iya, dia mantan suamiku, kamu juga pernah jadi mantanku, bukan?” ujar Salma.
“Sudah ah meributkan soal mantan! Salma bukan levelku lagi!” cetus Dimas. “Aku mau cari yang masih muda, yang fresh, yang masih ranum, biar aku tambah muda,” lanjutnya.
“Idih levelnya dara muda sekarang! Asal jangan anak di bawah umur saja kamu pacari, Dim!” celetuk Salma.
“Gawat itu, bisa-bisa incarannya anak SMA nih sekarang?” timpal Askara.
“Nah benar sekali bapak ini kalau bicara?” ucapnya dengan berkelakar. “Benar seleraku anak kamu sekarang, Pak Askara. Bukan lagi istrimu!” cetusnya dalam hati sambil tersenyum membayangkan memanggil Askara dengan sebutan ayah, dan memanggil Salma dengan sebutan bunda.
“Matamu itu! Gak usah lihat-lihat istri orang!” Dengan reflek Askara menutup mata Dimas. Lalu menonyor kepala Dimas. “Bilangnya udah gak level, malah ngelihatin Salma begitu!” ucapnya geram.
“Seksi saja istrimu lagi hamil?” ucap Dimas yang membuat Askara semakin gemas.
“Bilang apa tadi? Jaga tuh mata!” sembur Askara.
“Siap, Pak!” jawab Dimas. “Sudah ayo jadi tidak? Sudah siang malah ngajak berdebat saja nih bapak!”
“Emang sejak kapan aku jadi bapakmu?” tukas Askara.
“Kali saja mau jadi bapakku? Aku kan anak yatim?” jawab Dimas dengan senyum meledek.
“Idih gak sudi aku jadi bapakmu!” celetuk Askara.
“Ya bodo amat!” jawab Dimas santai.
“Kalian malah ribut sekali sih? Sudah tuh Dimas sudah siap, sana kamu siap-siap,” lerai Salma.
“Dia yang mulai kok?” ucap Askara.
“Idih bapak dulu kok yang mulai!” celetuk Dimas.
“Bapak, bapak! Emang gue bapak lo?!”
__ADS_1
“Kali saja mau jadiin gue anak angkat, Pak?” jawab Dimas.
“Gak sudi!” sembur Askara. “Gue jadiin tumbal saja mau?” gurau Askara.
“Enak saja, masih muda nih mau dijadiin tumbal. Lo mau cari pesugihan apa lagi? Kurang apa lo udah punya semua, Pak!”
“Ya kali saja mau gue jadiin tumbal? Kayaknya yang muda kan yang cocok buat tumbal, umpannya muda dapatnya pasti banyak.” Askara makin menjadi-jadi bercandanya, sampai Salma menggelengkan kepalanya, gak tahu kenapa dua laki-laki di depannya itu semakin mirip anak kecil yang sedang ribut, entah meributkan apa.
“Sudah ih kalian malah tambah-tambah ributnya! Kayak anak kecil!” sembur Salma.
“Ah iya bu, maaf,” ucap Dimas.
“Tenang saja aku pasti akan jadi menantumu!” cetus Dimas dalam hati dengan semangat.
Dimas dan Askara mulai serius membahas pekerjaannya sebelum ia berangkat ke kantornya. Sejak mereka ada kerja sama, mereka sering bersama, dan Askara juga makin akur dengan Dimas, tidak melulu cemburu dengan Dimas.
^^^
Afifah sudah sampai sekolahannya. Dia melepaskan helmnya, tapi Vero menyingkirkan tangan Afifah yang ingin melepasnya, Vero yang melepaskan helm Afifah dan membenarkan rambut Afifah yang berantakan.
“Belajar yang bener, biar bisa diterima di sekolahan kakak,” ucap Vero.
“Oke, siap kalau begitu,” jawab Afifah.
“Ya sudah sana masuk, nanti pulang bareng kakak lagi,” ucap Vero.
“Iya lah, orang berangkatnya bareng ya pulang harus bareng dong? Masa aku ditinggal?” cebik Afifah.
“Iya, iya, masa iya aku tega sih ninggalin kamu? Ya sudah sana masuk, kakak berangkat, ya?” ucap Vero.
“Hmm ... hati-hati, ya?” Afifah melambaikan tangannya pada Vero.
Afifah langsung masuk ke dalam sekolahannya setelah Vero berangkat. Afifah bertemu dengan teman sekelasnya di depan pintu gerbangnya. “Cie ... pacarnya, ya? Baru pindah ke sini beberapa bulan saja sudah punya cowok?” ucap Sinta teman sebangku Afifah.
“Ih dia temanku, bukan pacar. Ya masih PDKT sih? Anaknya teman ayahku,” ucap Afifah.
“Sudah buruan resmiin dong? Biar kita bisa double date,” ucap Sinta.
“Ish ... aku kira pacar kamu yang kemarin jemput kamu itu Afifah? Yang pakai mobil silver yang keren itu lho? Tapi kayaknya sih om-om gitu? Sugar Daddy tuh keren!” seloroh Ayu.
“Ih apaan sih! Itu om ku! Bukan pacarku, Ayu ... masa aku mau sama om-om sih?” cebik Afifah.
“Ya gak apa-apa sih? Orang tampan kok, yang penting kantong tebal! Aku sih lebih ngesip pacaran sama orang yang lebih dewasa, daripada sama yang seumuran atau selisih satu atau dua tahun? Sama saja, uang jajan ya dari orang tuanya, kalau yang sudah dewasa, sudah mapan kan pasti uang sendiri?” ucap Ayu.
“Ih Ayu sukanya sama om-om nih jangan-jangan?” timpas Sinta.
“Iya, aku akui pacarku sudah dewasa, sudah bekerja, sudah mapan pula, dia sudah punya usaha sendiri, ya begitulah,” jawab Ayu.
“Ih pacaran sama om-om malah buat mainan saja, tuh lihat Firly kan jadi panggilan om-om?” ucap Sinta.
“Tergantung, kalau yang laki-lakinya serius, pasti tidak seperti itu, malah lebih dewasa dan kayak melindungi banget,” ucap Ayu.
“Sudah ah, malah bahas cowok lagi? Buruan jam pertama ulangan! Sudah pada siap belum? Jangan sampai nilai kalian turun lagi!” ucap Afifah.
__ADS_1
Afifah juga merasa selalu dijagain Dimas, Dimas juga sering menuruti apa yang dia minta, tanpa menolaknya. Sedangkan Vero, namanya juga pacaran dengan yang masih sama-sama sekolah, jadi yang ada Cuma bucin saja yang Afifah dapat. Bahkan Vero malah mikirnya senang-senang. Padahal dia termasuk siswa yang pintar, tapi Vero malah seringnya hura-hura dengan temannya.
Meskipun Vero selalu dapat tiga besar, dia juga selalu dapat juara tiga besar clubing. Dia hobby dengan dunia malam yang gemerlap, meski dia tidak pernah mabuk sambil clubing, tapi tetap saja dia sudah sering mencicipi minuman yang berbau alkohol. Padahal Vero termasuk siswa yang dibanggakan di sekolahan, tapi dia tidak bisa lepas dari dunia malam yang gemerlap. Vero sering gonta-ganti cewek, dan sebelum ia mencicipi tubuh pacarnya dia terus akan memepetnya sampai dapat. Pergaulan yang bebas sudah meracuni hidup Vero sejak dia kelas tiga SMP. Dia memang berpawakan bongsor, jadi setiap orang yang melihatnya tahunya Vero sudah SMA atau bahkan sudah kuliah.