
Salma pergi menenangkan dirinya karena Askara masih saja membahas Dimas. Padahal selama dua bulan kembali bersama lagi dengan Askara, Salma berusaha tidak mengungkit soal Azzura. Karena bagi Salma semua itu sudah selesai. Semua itu sudah tidak ada gunanya lagi untuk di bahas. Namun, Askara malah mencari perkara lain, ia seharian penuh membahas soal Dimas. Padahal Salma sebisa mungkin tidak membalas untuk membahas soal Azzura. Ia tetap biasa saja, tidak ingin meributkan hal yang sudah berlalu yang begitu menyakitkan baginya. Salma malah mengalah, dan berusaha membuat Askara nyaman, membuat Askara percaya bahwa dirinya sangat mencintai Askara meskipun telah disakiti Askara karena Azzura.
Askara masih diam di kamarnya, ia tidak mengejar atau mencegah Salma yang keluar meninggalkannya. Ia masih merasa cemburu dengan Dimas. Padahal Dimas hanya menganggap Salma teman, atau mungkin saudara.
Tidak mungkin juga Dimas akan merusak kebahagiaan Salma dengan Askara. Ia tidak sebodoh itu. Kalau Dimas ingin Salma, ia tidak akan pernah mau mengembalikan Salma pada Askara. Mungkin Dimas akan berobat sampai sembuh dan menikahi Salma lagi, tapi Dimas tahu, meski Salma pernah ingin kembali dengan dirinya, Salma hanya kasihan saja, karena tanpa sengaja Salma mengucapkan sumpah serapah pada Dimas saat dulu pacaran, hingga Dimas benar-benar sakit karena ucapan Salma. Dimas yakin Salma tidak serius dan sudah tidak mencintainya lagi. Dimas tahu Salma masih sangat mencintai Askara, apalagi Salma sangat menyayangi Afifah.
Afifah ke kamar ayahnya, ia menghampiri ayahnya yang masih duduk di tepi ranjang dengan menundukkan kepalanya.
“Ayah kenapa gak kejar bunda? Ayah mau bunda pergi lagi? Ayah sudah gak sayang bunda? Kok ayah marahin bunda tadi? Bunda pergi, Yah, nanti kalau bunda gak pulang lagi gimana?” ucap Afifah dengan terisak.
Askara masih diam, mendengar dan mencerna ucapan Afifah. Memang dirinya terbawa emosi karena cemburu dengan Dimas. Askara juga marah karena tiba-tiba Salma membahas soal Azzura.
“Ayah, sudah dong jangan marah sama bunda? Bunda gak salah, Yah. Kita kan yang salah waktu dulu ada ibu kembali. Aku jadi kasar sama bunda, ayah juga begitu? Masa sekarang ayah marahan lagi sama bunda? Om Dimas itu memang baik, Yah. Ke Afifah saja baik, apalagi ke Bunda? Ayah jangan marahin bunda karena sering dapat telefon dari Om Dimas. Om Dimas telefon kan Cuma ngasih kabar Eyang Uti, sama tanya kabar Afifah, ayah, dan bunda,” ucap Afifah.
Askara menghela napasnya. Ia menatap Afifah yang sangat khawatir bundanya pergi lagi. “Ayah jangan biarkan bunda pergi, Afifah baru merasakan kebahagiaan lagi memiliki bunda dua bulan ini, ayah jangan biarkan bunda pergi,” ucap Afifah dengan tatapan sendu pada ayahnya. “Cari buda sekarang, Yah. Nanti kalau bunda gak pulang gimana?” pinta Afifah.
“Iya, nanti ayah cari bunda. Maafin ayah ya, ayah sudah marah-marah sama bunda. Nanti ayah cari bunda. Kamu jangan nangis, ya?” ucap Askara.
“Kalau bunda gak pulang gimana, Yah?” ucap Afifah dengan takut.
“Pasti bunda pulang, percaya sama ayah,” ucap Askara.
“Ayo cari bunda, yah?” pinta Afifah.
“Iya sebentar ayah siap-siap dulu,” ucap Askara.
Afifah keluar dari kamar ayahnya, dia menunggu ayahnya di ruang tamu. Benar kata Afifah, harusnya dia tidak seperti itu pada Salma. Tidak membahas soal Dimas. Apalagi Dimas dan ibunya Salma baik sekali dengan Afifah. Adanya Salma mau kembali lagi dan memaafkan dirinya juga karena Dimas dan ibunya.
“Harusnya aku tidak semarah ini, harusnya aku tidak balik marah saat Salma membahas Azzura, karena kenyataannya memang aku yang menyakiti Salma karena Azzura, dan kembalinya Salma pada Dimas juga karena Azzura,” ucap Askara dalam hati.
__ADS_1
^^^
Askara dari tadi menelefon Salma, tapi ternyata ponsel Salma tertinggal di rumah, Salma pergi tidak membawa ponsel. “Bundamu tidak bawa ponsel lagi, Fah?” ucap Askara panik.
“Ayah sih, pakai marahin bunda! Gini kan aku kehilangan bunda lagi?!” ucap Afifah dengan penuh rasa kecewa.
“Ayah akan cari bunda sampai ketemu,” ucap Askara.
“Ke mana coba carinya? Ponsel bunda saja gak dibawa? Kalau bunda di luar ada apa-apa gimana, Yah?” ucap Afifah dengan khawatir.
“Jangan buat ayah tambah khawatir dong, Nak? Bunda pasti gak akan kenapa-napa,” ucap Askara menenangkan Afifah yang menangis hingga sesegukkan.
“Ayah jahat!” pekik Afifah. “Ayo buruan cari bunda!” Afifah menarik tangan Askara untuk segera keluar dan mencari Salma.
Askara mengambil kunci mobilnya, ia mencari Salma dengan pelan-pelan mengemudikan mobilnya. Askara benar-benar khawatir dengan Salma yang keluar dengan keadaan marah, dan tidak membawa ponsel. Meskipun Salma dulu tinggal lama di Jogja saat kuliah, tetap saja Askara khawatir karena sudah lama Salma tidak di Jogja.
“Ayah, di mana bunda? Kok gak ada bunda dari tadi?” ucap Afifah dengan panik.
“Kalau bunda dijahatin orang gimana, Yah? Ayah sih sukanya marah-marah sama bunda?” ucap Afifah.
“Iya, ayah minta maaf, ayah gak akan lagi marah sama bunda,” ucap Askara.
“Kalau bunda marah, ayah jangan ikutan marah, kasihan bunda, Yah. Nanti bunda pergi lagi meninggalkan kita gimana, Yah? Aku gak mau tinggal berdua lagi, aku baru punya bunda, ayah malah gini marahin bunda?” Afifah benar-benar takut sekali bundanya pergi, ia takut kalau harus seperti dulu, bundanya gak mau kembali, dan akhirnya tinggal berdua lagi dengan ayahnya.
Askara membenarkan ucapan Afifah. Iya benar baru sebentar Afifah merasakan memiliki bunda, tapi bundanya malah pergi lagi.
“Maafkan aku, Sal. Aku janji gak akan bahas soal Dimas lagi, aku memang cemburu, maaf aku tidak bisa mengontrol cemburuku, dan membuat kamu pergi lagi. Pulang, Sal. Afifah marah denganku kalau kamu sampai gak pulang,” ucap Askara dalam hati.
^^^
__ADS_1
“Mau ke mana mereka? Panik sekali kelihatannya? Makanya gak usah sok marah-marah? Baru ditinggal beberapa menit saja sudah pada kelabakan? Gak enak kan gak ada bunda di rumah?” ucap Salma lirih lalu masuk ke dalam rumahnya. “Gak dikunci lagi? Keluar rumah gak dikunci? Ceroboh sekali Askaran?” Salma bicara sendiri sambil masuk ke dalam rumahnya.
Salma padahal dari tadi duduk di samping rumah, di taman yang lampunya temaram, jadi tidak terlihat kalau Salma di situ. Lagian Salma mau pergi ke mana? Orang tadi pamitnya dengan Afifah Cuma keluar sebentar? Benar dia keluar rumahnnya, tapi Cuma menenangkan pikirannya di teras samping yang ada tamannya. Harusnya mereka tahu tempat favorit Salma di rumah, kalau sedang ingin menenangkan pikiran atau sedang meditasi, pasti Salma memilih di samping rumah.
Salma tahu anak dan suaminya sedang kalut mencari dirinya. Biar saja, biar mereka mencari, supaya tahu rasanya ditinggal dirinya keluar. Padahal hanya keluar di samping rumah saja. Salma mengambil bahan masakan, ia tahu anak dan suaminya belum makan malam. Salma memasak makanan untuk mereka.
“Biar saja, biar mereka merasakan aku pergi lagi. Lagian ada-ada saja Askara? Cemburu kok gitu banget, ya kalau aku sangat dekat dengan Dimas? Orang telefonan saja ada Afifah dan Afifah ikut bicara? Kecuali aku telefonan sama Askara diam-diam, sendirian, dan mengenang masa lalu? Telefonan saja karena ibu kangen sama aku? Malah kebanyakan ibu yang bicara sama aku dibandingkan Dimas,” ucap Salma lirih sambil mengiris sayuran.
Sudah hampir dua jam Askara belum pulang, masih mencari Salma yang tahunya beneran pergi dari rumah, padahal Salma asik di rumah menyiapkan makan malam untuk Askara dan Afifah. Salma malah yang khawatir karena Askara dan Afifah tidak pulang-pulang.
“Haduh ... malah aku yang khawatir? Sudah dua jam dia gak pulang-pulang, lebih baik aku telefon deh, daripada mereka cari-cari aku terus, kasihan Afifah belum makan juga?” ucap Salma dengan mengambil ponselnya lalu mencari kontak suaminya.
Askara mendengar panggilan masuk, ia menepikan mobilnya lalu melihat siapa yang menelefonnya. Matanya berbinar melihat nama kontak yang memanggilnnya. “Bunda telefon, Fah! Berarti bunda sudah pulang!” ucap Askara dengan perasaan lega.
“Alhamdulillah, sini aku mau bicara.” Afifah langsung mengambil ponsel ayahnya dan menggeser tombol hijau di layar ponsel, lalu ia menyentuhu icon loudspeaker biar ayahnya dengar suara bundanya.
“Bunda .... Bunda ke mana saja sih?” tanya Afifah dengan khawatir.
“Bunda di rumah dari tadi. Buruan pulang, bunda sudah masak untuk makan malam. Bunda sudah di rumah, lagian kamu mau cari bunda di mana? Orang bunda dari tadi di rumah, dengar kamu berdebat dengan ayahmu juga?” ucap Salma.
“Memang bunda tadi di mana? Bikin ayah khawatir saja?” ucap Askara.
“Lagian ayah marahnya begitu? Sudah buruan pulang, bunda sudah masak,” pinta Salma.
“Iya ayahminta maaf, ayah pulang, ya? Bunda mau dibawain apa?” tanya Askara.
“Apa saja deh, cemilan buat nanti malam menemani kamu kerja juga boleh, apa saja yang ayah suka, pasti bunda suka,” jawab Salma.
“Oke, tunggu ayah pulang,” ucap Askara.
__ADS_1
Askara menyudahi panggilannya dengan Salma. Rasanya lega sekali Salma sudah di rumah. Askara membelikan cemilan untuk nanti malam buat menemani ngobrol dan mengerjakan pekerjaan kantor yang belum terbengkalai karena tadi Askara tidak masuk kantor.