
Askara masih terus membujuk Salma untuk pulang, karena dia pun membutuhkan Salma untuk di rumah. Memang dirinya salah, sudah bersikap seperti itu pada Salma, sampai Salma pergi dari rumah, dan tidak mau lagi membantu perawatan Azzura.
Bagaimana Salma tidak marah, Askara dan Azzura sudah keterlaluan sekali. Saat Salma sedang tidak karuan hatinya, setelah melihat Askara menikahi Azzura, Askara bukannya menghibur, menenangkan hatinya, memberikan perhatian lebih padanya, dia malah meminta Salma pindah kamar. Bagaimana Salma tidak murka saat itu? Sudah dimadu, diusir dari kamarnya pula?
“Sal, aku mohon pulanglah,” pinta Askara.
“Nanti aku pulang, untuk ambil barang-barang yang masih di sana, sama ngasih surat gugatan yang masih aku urus,” jawab Salma.
“Sal, kamu jangan macam-macam, ya! Aku gak mau kita pisah!” cetus Askara penuh penekanan.
“Untuk apa masih bersama kalau hubungan kita sudah separah ini?”
“Parah yang bagaimana, Sal? Aku kan Cuma minta kamu ngerti sama keadaan, Sal!”
“Aku saja yang harus ngerti kalian? Kamu, Mbak Zura, mana mau ngertiin aku? Adil tidak?!”
“Kamu kan tahu, Zura sedang butuh support kita semua, Sal?”
“Kita? Kamu saja sana, gak usah bawa-bawa aku! Sudah ya mas, aku gak mau kembali, aku gak mau membantu menangani pengobatan Mbak Zura, aku gak mau pulang karena untuk menemani Fifah, dan satu lagi aku sudah tidak mau melanjutkan pernikahan kita!” tegas Salma.
“Tega ya kamu, Sal!”
“Iya, aku memang tega, kenapa? Masalah?” jawab Salma dengan menajamkan pandangannya pada Askara.
“Aku tidak akan mengabulkan permintaan cerai kamu, Sal!”
“Terserah, aku sudah gak mau kok? Mau apa? Mau kamu paksa bagaimana, aku tetap tidak mau!”
“Kejam kamu!”
“Iya aku kejam, memang kejam!” jawab Salma.
__ADS_1
“Kamu akan menyesal, Sal!” umpat Askara dengan beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari rumah Salma.
“Kayaknya sebaliknya, kamu yang akan menyesal!” jawab Salma
Askara pulang dengan kecewa. Membujuk Salma sangat sulit sekali, padahal dia sudah berusaha bicara baik-baik dengan Salma, tapi tetap saja Salma tidak mau pulang. Apalagi sikap Salma yang bicara dengan tegas, menohok, tapi tetap tenang membuat Askara semakin tidak bisa meruntuhkan pendirian Salma yang tetap bersih kukuh tidak mau kembali ke rumahnya.
^^^
POV Askara.
Salma memang perempuan yang sulit sekali dibujuk. Dia keras kepala, kukuh dengan pendiriaanya, tidak bisa diganggu gugat apa yang sudah menjadi keputusannya. Aku memang salah, aku terlalu menuruti apa yang Zura mau tanpa mengerti apa mau Salma dan bagaimana perasaan Salma, hingga aku lupa dengan sikap Salma yang seperti itu, yang sekali kecewa dia sulit untuk dibujuk lagi.
Hatinya tidak mudah goyah, jika dia kecewa dia katakan kecewa, tidak penuh basa-basi. Aku memang sudah mengecewakannya. Aku benar-benar lupa, kalau Salma orang yang teguh dengan pendiriannya, sekali tidak dia bilang tidak, sekali iya dia bilang iya. Dan, sekali dikecewakan sulit untuk membuat hatinya kembali baik-baik saja.
Aku harus bagaimana supaya Salma pulang ke rumah, aku juga membutuhkannya, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Zura, dia setiap hari butuh aku. Dia juga tidak mau aku tinggal, hingga pekerjaan kantor aku bawa ke rumah demi untuk menemani Zura yang tidak mau ditinggal aku.
Memang dia manja, dia dari dulu seperti itu. Saat mengandung Afifah saja dia sama sekali tidak mau ditinggal aku. Dia ingin selalu ditemani aku, kalau ada meeting pun dia maunya ikut, gak mau aku tinggal. Sekarang juga begitu, jujur saja waktuku dengan Salma juga berkurang, bahkan tidak ada. Pamit mau ke rumah Salma saja Azzura seperti marah.
Aku tidak bisa memilih, aku tidak mau kehilangan Salma karena aku sangat mencintainya, tapi aku juga tidak mau Zura melalui saat-saat terakhirnya sendirian. Dia memang egois, lebih egois dari Salma, karena dia sangat mengusaiku saat ini, sedangkan Salma, aku malah membuatnya marah, membuatnya kecewa hingga dia tidak mau pulang ke rumah.
Aku sampai di rumah Sakit, aku langsung ke ruangan Zura. Aku melihat dia belum tidur.
“Lama sekali sih, Mas? Pasti menemui Salma lagi? Sudahlah mas, kalau dia tidak mau ya sudah! Biarkan saja!” cetus Azzura.
“Ra, dia masih istriku, salah aku ke rumah dia cukup lama?”
“Secinta itu kamu dengan dia, Mas?!”
“Ya aku mencintainya.”
“Sudahlah, lagian dia sudah tidak mau sama mas, kan? Kalau dia minta cerai, ya sudah, Mas!”
__ADS_1
“Kok kamu bilang nya gitu, Ra? Aku gak bisa melepaskan dia, Ra. Gak bisa aku melepaskannya!” tegasku.
“Kenapa? Jelas-jelas dia keras kepala dan tidak mengerti keadaan sekarang?”
“Aku tidak mau berdebat, Ra! Kamu istirahat, besok ada terapi, kan?”
“Aku nunggu kamu dari tadi, kamu malah enak ya di rumah Salma?”
“Kalau aku enak di sana kenapa, Ra? Wajar dia istriku, Ra?” jawabku.
“Kamu enak-enakkan, sedang aku di sini sedang sakit, Mas!”
“Aku harus adil, Ra. Istriku bukan hanya kamu, dia juga istriku,” tegasku.
Padahal aku di rumah Salma hanya bertengkar, jangankan romantis-romantisan? Salma sedang begitu mana mungkin bisa diajak romantis? Aku memang rindu saat itu bersama Salma, tapi aku baru pergi sebentar saja Zura begini. Dia marah, dia hanya ingin dimengerti, tapi tidak bisa mengerti diriku yang juga butuh untuk menuntaskan kebutuhan batinku dengan Salma. Aku kangen dia yang dulu, yang selalu mengerti aku, tanpa aku minta. Aku kangen Salma yang selalu menghangatkan hatiku, tapi aku sudah merubah sikapnya, karena aku terlalu menuruti apa yang Zura mau.
Sejak kedatangan Zura, aku dan Salma sering bertengkar, karena aku terlalu menuruti apa yang Zura mau. Aku memang salah, karena bagaimana pun Salma adalah istri pertamaku, dan dia yang berhak mengatur, bukan Zura. Aku memang salah, aku terlalu mengutamakan Zura, bukan Salma.
“Aku memang salah, Mas. Tapi izinkan aku untuk bersamamu, tanpa gangguan dari siapa pun, Mas?” pinta Zura.
“Tapi aku punya Salma juga, Ra? Dia juga butuh aku? Sudah hampir dua minggu dia hidup sendiri, aku sama sekali tidak memedulikannya. Tolong ngerti dong, Ra? Salma juga butuh aku, aku pun masih butuh Salma,” ucapku.
“Butuh Salma untuk apa? Menyalurkan hasratmu? Aku sedang begini kamu mementingkan begituan sama Salma, Mas? Kejam sekali kamu padaku?!” cetus Zura dengan marah.
“Aku ini laki-laki normal, Ra! Aku melakukan itu dengan kamu, kamu tahu sendiri bagaimana sekarang? Kamu jadi begini, kan? Kamu ini kadang minta Salma pulang, minta aku bujuk Salma biar pulang, tapi sekarang aku ke rumah Salma gak ada satu jam kamu bilang aku mementingkan begituan? Tujuan kamu kembali itu untuk apa, Ra? Tolong jangan hancurkan rumah tanggaku dengan Salma, kamu aku nikah juga karena dia yang mengizinkan!”
“Aku kembali hanya ingin kamu dan Fifah. Aku ingin kita hidup bertiga saja, tanpa ada yang lain!”
“Tidak bisa dong, Ra? Sudah ada Salma!” tegasku.
Aku tidak mau berdebat lagi. Sudah cukup aku marah saat dengan Salma tadi, sekarang ditambah Zura yang seperti ini. Aku harus bujuk Salma, iya aku ingin bicara baik-baik lagi dengannya. Bagaimana bisa aku melepaskan perempuan sesempurna Salma, meski dia keras kepala, dan kalau sudah kecewa marahnya sampai berbulan-bulan? Aku sangat mencintai Salma. Aku juga mencintai Zura, tapi hanya sisa saja, dan itu sangat sedikit, lebihnya hanya kasihan pada dia.
__ADS_1