Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Ingin Selalu Bersama


__ADS_3

Askara mengerutkan keningnya, saat Salma membelokkan mobilnya sebuah ke hotel mewah. Hotel berbintang lima dengan fasilitas mewah.


“Ini kok ke hotel? Mau apa?” Tanya Askara pura-pura tidak tahu.


“Mau ngajarin kamu biar gak cemburuan gitu!” jawab Salma.


“Wajar dong aku cemburu, kamu istriku. Mana ada yang rela istrinya didekatin mantannya?” cebik Askara.


“Mana ada yang rela juga sih seorang istri saat dulu suaminya lebih mementingkan istri keduanya? Cemburu kamu masih mending, apalagi Dimas tahu diri, kalau kamu suamiku, dulu Azzura bagaimana? Aku gak hanya cemburu, malah aku sakit hati berkepanjangan. Tapi ya sudahlah, Azzura sudah meninggal, gak mungkin arwah dia tiba-tiba muncul dan akan merebutmu lagi!” ucap Salma, namun ucapan itu hanya terlintas di dalam hati Salma saja.


“Ya sudah aku minta maaf, karena kamu sudah cemburu, aku akan jaga jarak dengan Dimas deh untuk ke depannya. Ya aku juga memang salah, gak bisa menempatkan diri, kalau aku ini sudah bersuami lagi. Maaf ya, jangan ngambek dong? Yuk turun, kita masuk, kita habiskan pagi ini di sini, sambil menunggu Afifah pulang sekolah,” ajak Salma.


“Yakin kita di sini Cuma sebentar saja? Sayang lho kalau Cuma sebentar,” ucap Askara.


“Maunya sampai besok? Atau berapa hari?” tanya Salma.


“Ya minimal semalam lah,” jawab Askara.


“Kalau maunya begitu, nunggu nanti, ya? Nanti kita cari waktu kalau Afifah liburan, kita ajak dia, masa kita mau senang-senang sendiri?” tutur Salma.


“Boleh, nanti maunya ke mana? Bali, atau ke mana?” tanya Askara.


“Bali? Kayaknya enggak deh, aku gak mau ke sana, selain Bali saja. Ke Labuan Bajo mungkin, atau ke Nusa Penida, menikmati pantai yang indah, yang masih benar-benar menyatu dengan alam, atau ke Raja Ampat juga boleh. Tanggung lah kalau ke Bali,” jawab Salma.


Padahal Salma gak mau diajak ke Bali karena waktu itu Askara mengajak liburan Azzura ke sana. Salma tidak mau mengunjungi tempat di mana Askara pernah ke sana dengan Azzura, kalaupun Askara mengajak kembali ke Jakarta, ia lebih memilih pindah rumah daripada harus tinggal lagi di rumah Askara dulu.


“Jauh sekali ke Raja Ampat?” ucap Askara.


“Aku belum minta ke Paris, atau ke Amerika lho? Raja Ampat masih di negara kita, di Indonesia!” jawab Salma.


“Ya sudah nanti kita atur waktu nanti, kamu mau ke mana terserah kamu, asal jangan ke tempat dulu kamu bulan madu sama Dimas,” ucap Askara.


“Kamu diajak ke Raja Ampat saja bilang jauh? Aku dulu sama Dimas ke California, Amerika Serikat. Kita ke Disneyland California, ya karena itu impianku dari dulu pengin ke sana. Jauh mana sama Raja Ampat?” ucap Salma.


“Senang ya, jalan-jalan sampai Luar Negeri? Sama aku kamu malah belum pernah diajak ke mana-mana,” ucap Askara.


“Sudah, itu dulu. Sekarang ya sekarang. Kita jalani sekarang, karena yang sedang kita jalani saat ini adalah bekal masa depan kita. Jangan bahas masa lalu lagi, yang ada malah bikin sakit hati kamu, Mas. Aku saja sudah gak mau bahas-bahas masa lalu kamu. Aku ingin menutup rapat, gak mau buka-buka lagi. Lagian kita hidup untuk lihat ke depan, bukan lihat ke belakang. Boleh lah sesekali nengok ke belakang, itu pun harus pakai spion, untuk jaga-jaga. Gak langsung noleh, yang ada malah jatuh,” tutur Salma.


Salma melihat Askara diam tidak menjawab ucapannya lagi. Salma merasa kali ini Askara makin cemburu, apalagi kalau bahas soal Dimas. Padahal Askara yang lebih dulu membahas Dimas, tapi Askara sendiri yang cemburu dan terlihat kesal.


“Ayo turun? Mau sampai kapan di dalam mobil, atau kita mau enak-enak di sini saja?” ucap Salma.

__ADS_1


Askara melirik Salma lalu tersenyum dan menarik gemas hidung Salma. “Kamu sudah pengin, ya?” ucap Askara.


“Wajar dong aku pengin? Kan semalam tidak?” jawab Salma.


“Ya sudah buruan, nanti malah aku on di sini payah jadinya,” ucap Askara.


Mereka keluar dari dalam mobil, Salma langsung ke arah resepsionis untuk memesan kamar. Mereka diantar petugas hotel menuju kamarnya.


Setelah petugas mengantarkan ke kamar, dan mempersilakan mereka istirahat, Askara langsung menutup pintu kamarnya, dan langsung menggendong tubuh Salam ke tempat tidur. Ia sudah tidak sabar ingin menyentuh tubuh molek istrinya.


“Jangan kasar, buka yang benar, Mas. Kita gak bawa baju ganti,” bisik Salma.


“Maaf aku lupa, aku terlalu ingin, Sayang,” ucap Askara.


“Sabar, pelan-pelan, Mas,” bisiknya yang membuat gelora cinta Askara semakin menggebu.


“Kita seperti orang pacaran yang sedang check-in, ya? Gak bawa baju ganti, dan hanya beberapa jam saja di sini untuk menuntaskan hasrat, padahal di rumah bisa berkali-kali,” bisik Askara dengan mencumbu Salma.


“Sudah nikmati saja, sesekali begini, Mas, biar beda suasananya. Uhm .... Iya di situ, Mas. Aku suka,” lenguh Salma saat Askara menyentuh bagian yang paling sensitif.


“Begini nyaman tidak? Nikmat?” tanya Askara.


“Iya, begitu, Mas. Aku sudah tidak tahan.” Pekik Salma lalu ia mengambil posisi untuk di agas Askara.


Mereka menikmati permainan di atas ranjang dengan suasana berbeda. Salma mengendalikan permainannya kali ini, ia tidak peduli erangannya akan terdengar sampai luar, yang penting ia menikmati penautan tubuhnya dengan Askara.


Salma akui, dengan Askara ia mampu bercinta sampai berkali-kali. Apalagi Askara begitu perkasa, dan bisa memuaskan Salma dengan bermacam gaya bercinta. Sentuhan Askara sudah menjadi candu bagi dirinya.


^^^


Selesai mandi dan bermain di kamar mandi, Salma langsung mengajak Askara untuk menjemput Afifah ke sekolahannya.


“Ayok, Mas buruan! Nanti Fifah nunggu kita lama!” ajak Salma dengan cepat setelah dari resepsionis untuk check-out.


“Ih sabar, gak apa-apa, paling nunggu sebentar,” jawab Askara.


“Ih kasihan nanti kalau Afifah yang nunggu, masih mending kita yang nunggu dia mas, daripada Afifah yang nunggu kita,” jawab Salma.


“Aslinya aku masih pengin, Sal. Tapi sudah jamnya Fifah pulang, ya sudahlah,” ucap Askara.


“Nanti lanjut di rumah,” jawab Salma dengan jalan terburu-buru.

__ADS_1


Salma masuk ke dalam mobil. Dia yang mengemudikan lagi, karena ingin ngebut biar cepat sampai di sekolahan Afifah. Kalau Askara yang bawa mobilnya, sudah pasti akan santai, apalagi Askara masih ingin bercinta dengan Salma, karena merasa belum puas. Padahal sudah berkali-kali tapi Askara masih belum puas, apalagi Askara merasa kali ini Salma bermain dengan begitu bergairah.


“Tadi kalau sekali lagi kan masih sampai waktunya, gak apa-apa Afifah yang nunggu kita sebentar,” kata Askara.


“Gak, aku gak mau Fifah lama nungguin aku, aku gak pernah jemput dia sampai dia menungguku, lebih baik aku yang nungguin dia,” ucap Salma. “Nanti malam lanjut lagi ya, Sayang? Sabar ya?” ucap Salma lalu mencium bibir Askara.


Bukannya dilepas, Askara malah semakin dalam memagut bibir Salma dan tangannya menyentuh gundukan kembar di dada Salma.


“Mas .... Udah jangan dibuka, itu ada Satpam!” Salma menghentikan tangan Askara yang akan membuka kancing baju Salma.


“Ih biarin saja, kita kan suami istri?”


“Iya tahu, tapi ini di tempat umum, Sayang? Udah ahhh ... Jangan diremas, nanti aku keenakan!” Salma menyingkirkan tangan Askara yang meremas lembut dadanya. “Lanjut di rumah, ya?” pungkasnya.


“Gak bebas sayang, nanti kalau kamu mau mendesah gak bebas kayak tadi. Suka deh kamu yang mendesah seksi seperti tadi?”


“Kalau Afifah dengar bagaimana? Jadi ingat dulu, Afifah pernah dengar aku menjerit nikmat saja dia khawatir ketok-ketok pintu kamar terus? Ingat tidak?” tanya Salma.


“Oh iya, ingat, malah dia nangis mengkhawatirkan kamu, kan?”


“Iya dia sampai nangis. Sudah ah jangan bicara gini lagi, lanjut di rumah saja nanti,” ucap Salma.


“Ya sudah sini aku yang mengemudikan mobilnya,” pinta Askara.


“Aku saja, Mas istirahat saja, biar nanti malam on lagi,” jawab Salma.


“Oke, jangan ngebut-ngebut, ya?”


“Siap, Sayang!”


Salma merasa pernikahan keduanya dengan Askara sangat berbeda. Sekarang, Askara selalu ingin bermanja dengan dirinya. Padahal dulu tidak begitu. Meskipun suka bercinta, tapi tidak semanja ini. Salma malah merasakan kalau Askara sepeti Dimas saat dulu, saat baru menikahinya, Dimas begitu manja dan gak mau jauh-jauh dari dirinya. Ke kantor pun selalu ajak Salma.


“Sayang ....” Panggil Askara.


“Iya, Sayang ... Gimana?” tanya Salma.


“Mulai besok temani aku ke kantor, ya? Pengin sama kamu terus,” pinta Askara.


“Nanti yang mengerjakan pekerjaan rumah siapa? Nanti malah gangguin kamu? Terus yang jemput Fifah?” jawab Salma.


“Iya juga, nanti Fifah sendirian. Kalau pekerjaan rumah, aku akan cari orang buat asisten di rumah. Sudah nanti aku atur deh,” ucap Askara.

__ADS_1


Baru saja Salma merasakan Askara sama dengan Dimas dulu, tiba-tiba Askara juga ingin mengajak dirinya untuk selalu ikut ke kantor.


__ADS_2