Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Penerus Alfarizi Bertambah Satu


__ADS_3

Afifah meninang adiknya. Dia bahagia sekali memiliki adik laki-laki yang sesuai dengan harapannya. Wajahnya juga mirip Afifah apalagi matanya.


“Nanti kalau kamu sudah besar, jagain kakak dari cowok yang jahatin kakak ya, Dik? Kakak juga akan jagain kamu. Tapi, kamu kan cowok, jadi cowok itu harus kuat, harus pintar, cerdas, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya. Kayak Dasa Dharma Pramuka saja ya, Dik? Dan, satu lagi, jadi cowok harus setia, dan jangan pernah kamu nyakitin hati seorang perempuan, khususnya pada ibu dan kakakmu yang cantik ini,” ucap Afifah pada adiknya.


Salma dan Askara tersenyum bahagia, karena sudah memberikan Afifah seorang adik yang sangat dinantikan dan diharapkan  Afifah.


Keluarga Askara baru sampai di rumah sakit, karena tadi Ardha harus menghampiri Zhafran dulu ke rumahnya, jadi mereka berangkat bersama untuk ke rumah Sakit melihat cucunya.


“Itu opa datang tuh?” tunjuk Afifah saat opa dan omanya datang.


“Wah ... pintar sekali nih digendong kakak? Kamu bisa gendong bayi juga, Fah?” tanya Alana.


“Bisa dong, Oma? Masa kakak gak bisa gendong, ya? Ya, meskipung dibantu eyang tadi?” jawab Afifah.


“Ayo ikut opa?” pinta Ardha.


“Tuh sama Opa Ardha tuh, apa mau sama Opa Zhafran?” ucap Afifah.


Ardha mengambil alih menggendong bayinya Salma. Salma yang ibunya malah belum bisa menggendongnya karena dia masih belum bisa duduk, badannya masih kaku, jadi ia hanya bisa rebahan saja.


“MasyaAllah ... cucunya aku dua-duanya kayak Opa Zhafran semua? Kok ya anakmu ikut ke Kak Zhafran semua, Aska?” tanya Ardha.


“Ya kan Papa juga Opanya, Ayah?” jawab Askara.


“Lagian kamu, anakku saja malah mirip kamu? Tuh Askara kayak siapa? Lebih ke kamu? Nina lebih ke Binka? Adil dong dua anaknya Askara gen-nya lebih ke aku? Biar aku punya cucu yang gen-nya turun dari aku,” cetus Zhafran.


“Iya sih, dua anak kakak ikutnya gak kakak wajahnya? Ada generasi Opa Leon muda nih?” ucap Ardha sambil mencium pipi bayinya Salma. (Yang penasaran dengan cerita Leon, silakan baca cerita The Best Brother bagian paling akhir, nanti akan bertemu dengan Thalia juga di sana. Thalia dan Arkan orang tua Zhafran dan Ardha. Atau baca dari Rahim pengganti juga bisa, ya?).


“Ini sudah dikasih nama belum, Aska?” tanya Zhafran.


“Sudah ada kandidat namanya sih? Tapi, Salma masih bingung, bingung milihnya, Pa,” jawab Askara.


“Memang nama yang kamu siapkan apa saja?” tanya Askara.


“Ada tiga sih, yang pertama Yusuf, Reyfal, dan satunya Dandi. Kalau belakangnya aku pakai nama Alfarizi,” jawab Askara.


“Aku maunya Yusuf saja. Nabi Yusuf kan tampan, anakku tampan, kan?” celah Salma.


“Nah itu ayah juga setuju,” timpal Ardha.


“Kalau aku penginnya Reyfal, tapi nurut Salma saja deh,” ucap Askara.


“Bagus itu Yusuf, papa juga suka,” timpal Zhafran.


“Jadi sudah ya, ini pasti? Yusuf Alfarizi,” ucap Askara.


“Bunda juga setuju,” ucap Alana.


“Mama juga, nama yang bagus,” sambung Binka.

__ADS_1


“Kalau ibu bagaimana?” tanya Askara.


“Kalau ibu, senang dan suka sekali, karena memang itu nama pilihan ibu, dari awal Salma hamil, dia sudah ngarang nama, kalau laki-laki namanya Yusuf, kalau perempuan namanya Sabrina, jadi ibu setuju,” jawab Bu Mila.


“Namamu Yusuf Alfarizi. Penerus Alfarizi tambah satu nih?” ucap Ardha lalu mencium cucunya.


“Sini gantian dong, aku pengin gendong Yusuf, Ar!” pinta Zhafran.


“Iya nih, Yusuf sama kembarannya dulu, ya?” Ardha memberikan Yusuf pada Zhafran.


“Cucuku yang tampan sekali, cucu laki-lakiku yang mirip opa, yang lainnya biar mirip Opa Ardha, yang penting ada satu laki-laki yang mirip Opa Zhafran, ya? Cucu kesayangan opa.” Zhafran bahagia sekali menimang cucunya.


“Ih berarti aku bukan cucu kesayangan dong!” celetuk Afifah.


“Opa sayang sama cucu-cucu opa, gak pilih kasih,” jawab Zhafran.


Afifah mendengkus karena merasa ada yang menyainginya, tapi meskipun begitu Afifah tidak peduli, karena dia senang sekali punya adik, apalagi adiknya tampan sekali, matanya mirip dengan dirinya.


^^^


Afifah menguap, ia merasakan kantuk yang teramat, karena tadi ia baru saja memejamkan matanya, tiba-tiba ayahnya membangunkannya karena bundanya merasa kontraksi.


“Kamu ngantuk, Fah? Mau pulang saja?” tanya Salma.


“Iya ya, ini masih tengah malam? Kita malah berisik sekali,” ucap Binka.


“Gak apa-apa, kita kan sedang bahagia, Mbak?” ucap Alana.


Meski mereka pernah berseteru karena Zhafran, tapi Alana dan Binka tidak mau larut dalam dendam, toh setelah Alana bercerai dengan Zhafran, dia mendapatkan Ardha yang lebih-lebih dari Zhafran. Ya, meskipun secara fisik sangat tampan Zhafran, tapi yang Alana butuh bukan soal fisik, tapi hatinya yang lemah lembut, dan tidak mengkhianatinya.


“Kalian curang, sudah pada gendong Yusuf, aku malah belum?” protes Salma.


“Kamu ini kan belum pulih betul, Sal?” ujar Bu Mila. “Nanti kalau sudah pulih, full akan dengan kamu terus,” imbuhnya.


“Ibu ...,” panggil Salma dengan manja.


“Apa, Nak?” tanya Bu Mila.


“Pengin peluk ibu,” pinta Salma.


Bu Mila mendekatinya, lalu memeluk Salma, menciuminya, dan memberikan selamat atas kelahiran anak pertamanya.


“Akhirnya Salma merasakan melahirkan anak lagi, Bu. Salma punya anak sekarang,” ucap Salma dengan mata berkaca-kaca.


“Iya, akhirnya ibu punya cucu lagi. Sudah kamu istirahat, ya? Ibu jagain kamu,” ucap Bu Mila.


“Fah, kamu mau pulang?” tanya Bu Mila.


“Iya, ngantuk, Eyang? Besok pelajaran pertama kan aku ulangan?” jawab Afifah. “Tapi pengin  disini sama Yusuf?” imbuhnya.

__ADS_1


“Pulang saja, kamu di rumah saja, terus besok ke sini lagi,” tutur Askara.


“Ayo pulang sama Opa Zhafran, Opa sama Oma akan temani kamu di rumah,” ucap Zhafran.


“Ya sudah Afifah pulang sama opa saja.”


“Ar, nginep saja yuk di rumah Askara, daripada kejauhan pulang? Kan, besok pagi ke sini lagi?” Zhafran mengajak Ardha dan Alana untuk bermalam juga di rumah Askara.


“Aku gak bawa baju ganti, Kak,” ucap Ardha.


“Daripada ayah pulang, ayah nginep di rumah aku saja, nanti Afifah ambilkan baju milikku,” ucap Askara.


“Iya, Ayah. Ayah sama bunda nginep saja di rumah. Di kamar tamu atas yang bersebelahan itu kan biasa digunakan ayah sama bunda, satunya papa sama mama? Di lemari ada bajunya semua kok? Baju mama, baju bunda, ayah, dan papa, ada di sana,” jelas Salma.


“Oh iya, bunda lupa, pernah ninggal baju di rumah kamu waktu menginap kemarin,” ucap Alana.


“Kan Salma sama Mas Aska sengaja ada tiga kamar khusus buat ibu, mama, dan bunda kalau mau menginap? Salma kan punya tiga orang tua?” ucap Salma.


Afifah pulang dengan opa dan omanya. Bu Mila menjaga Salma di rumah sakit dengan Askara. Biar mereka pulang, supaya besok bisa ke sini lagi, giliran menjaga dengan Bu Mila.


^^^


Afifah sampai lupa belum memberi kabar pada Dimas, karena dia tidak membawa ponsel. Dia gugup dan panik sekali, jadi tidak membawa ponsel. Afifah duduk di sebelah Oma Binka, ia menyandarkan kepalanya di lengan Binka, lalu Binka mengusap-usap kepalanya dengan sayang, dan memijit-mijit telapak tangan Afifah. Binka merasa ada cincin melingkar di jari manis Afifah.


“Cincin kamu baru, Fah?” tanya Binka.


“Iya, baru. Beli kemarin bareng teman,” jawab Afifah setengah ngantuk.


“Oma kira dari pacarmu?” celetuk Binka.


“Ish ... kayak Bunda dan Ayah saja pikirannya!” desis Afifah.


“Kamu bagaimana dengan Vero?” tanya Alana.


“Ih, Oma! Jangan sebut nama dia lagi!” tukas Afifah.


“Oh iya, Oma lupa. Ya sudah biar saja gak usah diteruskan, belum pacaran saja sudah kasar?” ujar Nadia.


“Gak kasar lagi, tapi dia mesum!” tukas Afifah.


“Apa dia melecehkan kamu, Afifah?” tanya Zhafran dengan penuh penekanan.


“Enggak, dia kepergok mesum sama mantan pacarnya Om Dimas. Di apartemen Om Dimas!” Afifah keceplosan, padahal dia tidak ingin menyampaikan hal ini pada opa dan omanya, tapi namanya keceplosan dan merasakan ngantuk yang teramat, jadi ceplas ceplos ucapannya.


“Maksud kamu gimana, Fah?” tanya Ardha.


Afifah menceritakan semuanya pada opa dan omanya soal Vero. Semua tidak menyangka kalau Vero ternyata seperti itu. Padahal dilihat dari penampilannya Vero itu cowok baik-baik, siswa teladan, ketua OSIS pula? Ternyata melakukan hal menjijikan seperti itu.


“Benar kamu jangan deka-dekat lagi dengan Dia! Opa minta maaf sudah mengenalkan kamu dengan laki-laki macam dia,” ucap Ardha.

__ADS_1


“Hmm ... Afifah gak dekat-dekat dia lagi, Opa? Biar saja, Afifah mau fokus sekolah, gak mikir cowok dulu. Sudah, ya? Afifah ngantuk banget, nanti kalau sudah sampai rumah bangunin,” ucapnya sambil ngantuk.


Afifah memeluk Binka, dia tertidur di pelukan omanya. Binka mengusap kepala Afifah dengan sayang. Cucu perempuan semata wayangnya, yang sangat cantik dan manis itu, menjadi kesayangan opa, oma, dan eyangnya.


__ADS_2