
Afifah masih tidak percaya seminggu lagi dia akan menikah dengan Dimas. Niatnya meluruskan masalah, tapi ternyata malam ini malah dilamar oleh Dimas, dan seminggu lagi dia akan dinikahi oleh Dimas. Afifah masih bingung, ia tidak tahu harus bagaimana setelah nanti dirinya menjadi seorang istri dari Dimas. Ia dari tadi gelisah, tidak bisa tidur. Malam ini semua bermalam di rumah Dimas. Afifah keluar dari kamarnya. Dia memilih duduk di terasa belakang, melamun memikirkan nanti bagaimana setelah menikah dengan Dimas.
“Aku dari kemarin minta dinikahi Om Dimas, tapi setelah Om Dimas mau menikahiku, aku kok jadi bingung begini? Masa aku seminggu lagi mau menikah?” ucap Afifah yang panik.
Dimas melihat Afifah masih belum tidur. Dia tahu pasti Afifah sedang bingung karena akan menikah mendadak. Tapi, itu yang memang Dimas harapkan, dia juga tidak ingin menunggu lama, karena mau sampak kapan lagi dia menunggu?
Dimas mendekati Afifah, dia duduk di sebelah Afifah, lalu meraih tubuh Afifah dan membawanya ke dalam pelukannya.
“Ngagetin saja ih!” ucap Afifah.
“Lagian ngapain sih malam-malam masih di luar? Mikirin apa? Kaayaknya dari tadi aku lihat kamu ini kebingungan? Kenapa?” tanya Dimas.
“I—ini beneran kita akan menikah minggu depan, Om?” tanya Afifah.
“Ya benar dong? Masa salah?” jawab Dimas.
“Lalu harus bagaimana kalau sudah menikah nanti, Om?” tanya Afifah.
“Bagaimana gimana maksudnya, Fah?”
“Ya, takut saja, katanya sakit?” jawab Afifah ngasal.
“Sakit gimana? Aku kan gak menyakitimu?” ucap Dimas.
“Itu om, kalau begituan katanya sakit?” tanya Afifah.
Dimas gemas sekali melihat Afifah yang memikirkan hal seperti itu. Padahal dari kemarin Afifah selalu meminta Dimas melakukan lebih, tapi sekarang malah ketakutan sendiri, memikirkan katanya sakit.
“Kamu ini lucu ya, Fah?” ucap Dimas.
“Lucu gimana?” tanya Afifah melongos.
“Ya lucu, bikin om gemas sekali, pengin gigit kamu, terus om masukin sekalian biar kamu merasakan sakit atau nikmat?” canda Dimas.
“Ih jangan dong? Katanya sakit soalnya, Om?” cebik Afifah.
“Kemarin pengin lebih? Kok sekarang mikir sakit? Itu gimana konsepnya, Fah?” ujar Dimas.
__ADS_1
“Kata temanku yang sudah pernah sakit, Om? Sampai gak bisa jalan, terus keluar darah, masa sih?” ucap Afifah.
“Lugunya calon istriku? Padahal kamu saja pernah merasakan jari om masuk? Masa takut?” ucap Dimas terkekeh.
“Jari kan kecil, Om? Itunya om gede! Pajang lagi?” cebik Afifah. “Dah gitu keras banget?” imbuhnya.
“Tapi enak, kan? Kayak ngemut es krim?” kekeh Dimas.
“Om, jangan bilang gitu! Ntar pengin!”
“Nah kan pengin lagi? Sabar ya seminggu lagi? Kan tadi pagi sudah? Sampai meleleh-leleh?” ucap Dimas.
“Lagi, ya?” pinta Afifah.
“Ish ... jangan! Nanti seminggu lagi, kita kan minggu depan menikah? Nanti puas-puasin, mau diapain deh,” ucap Dimas.
“Ih, habisnya om yang mulai!”
“Tadi siapa yang mulai bilang sakit? Kamu, kan? Sakit yang bagaiamana, Sayang? Orang kamu saja menikmati, minta lagi dan lagi malahan? Kita jangan begituan dulu, ya? Seminggu kok, kan nanti setelah itu kita bisa bebas mau melakukan kapan saja?” ujar Dimas.
“Ya sudah sana tidur. Jangan takut lagi, gak usah mikir apa-apa. Yang penting kita menikah sah, kan kita bebas mau apa-apa, om juga tenang sudah menyanding kamu setiap haridi rumah, lihat kamu setiap hari. Kamu gak usah mikir yang enggak-enggak, ya? Kita jalani saja, kita nikmati saja apa yang akan kita lalui,” tutur Dimas.
“Oke,” jawab Afifah.
“Ya sudah sana,” titah Dimas.
“Gendong sampai kamar,” ucap Afifah dengan manja.
Dimas menuruti keinginan Afifah, dia menggendong Afifah sampai di depan pintu kamarnya. Hanya sampai di depan pintu saja, padahal Dimas ingin ikut masuk ke kamar Afifah, tapi itu tidak mungkin, karena semua keluarga Afifah bermalam di rumahnya.
“Selamat tidur calon istriku? Mimpi indah, ya? Supaya kamu gak takut lagi?” Dimas mengecup kening Afifah.
“Selamat tidur juga calon suamiku, mimpi indah juga.” Afifah memeluk erat Dimas.
“Sudah masuk sana, Om juga ngantuk, besok Om ada meeting, kamu juga kuliah, kan?” ucap Dimas.
“Iya, besok aku kuliah. Om, terus Kania bagaimana?” tanya Afifah.
__ADS_1
“Nanti om atur, om pindahkan dia saja, sepertinya manager ada yang butuh asisten, nanti om suruh dia jadi asisten manager saja deh. Tenang masalah itu jangan takut lagi,” ucap Dimas.
Afifah percaya Dimas pasti akan segera menangani soal Kania. Toh Bu Mila juga sudah bicara pada Bu Sari kalau ternyata Dimas sudah punya calon istri. Jadi rencana perjodohan tidak jadi dilanjutkan.
^^^
Salma tidak sengaja melihat Dimas dan Afifah yang sedang bermesraan di depan kamar Afifah. Salma tersenyum sembari menaikkan bahunya, saat ia melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Dimas dan Afifah. Salma melihat Dimas benar-benar mencintai Afifah dengan tulus. Salma lega, akhirnya Dimas bisa membuka hati untuk perempuan lagi, dan tidak main-main perempuan lagi. Salma tahu setelah dirinya kembali dengan Askara, Dimas memang sering bergonta-ganti pacar. Mungkin Dimas sedang mencari perempuan mana dan seperti apa yang bisa menyembuhkan sakitnya. Ternyata malah Afifah yang bisa menyembuhkannya.
Salma yakin Afifah akan menjadi perempuan yang sangat beruntung diperistri Dimas, karena dia dulu pernah merasakan kebahagiaan saat menjadi istri Dimas. Dimas adalah tipe laki-laki yang memanjakan istri, tapi dengan Rani, dulu sama sekali tidak kata Bu Mila, karena mereka menikah terpaksa, atas permintaan terakhir orang tua Rani. Perempuan yang dulu dicintai Dimas hanya Salma.
“Aku percaya kamu bisa membahagiakan putriku yang sangat aku sayangi, Dim. Tapi, sekali kau rusak kepercayaanku lagi, dan kau sakiti Afifah, akulah orang pertama yang akan menghancurkan hidupmu!” ucap Salma dalam hati.
Salma masuk ke dalam kamarnya. Askara baru saja keluar dari kamar mandi. Askara mendekati istrinya yang lama sekali untuk mengambilkan air putih.
“Kamu lama sekali ambil air putihnya, Sal?” tanya Askara.
“Ayah ini seperti gak tahu saja, dapurnya di ujung, untung saja ada dispenser di ruang tengah. Ini Dimas bikin rumah kok kayak istana begini?” jawab Salma.
“Entahlah, mungkin ini sebagai wujud cintanya Dimas untuk Afifah?” ucap Askara.
“Itu pasti lah, Yah,” jawab Salma.
“Kamu ikhlas kan Dimas menikahi Afifah?” tanya Askara.
“Kok ayah tanyanya begitu? Ya ikhlas sekali dong? Masa enggak?” jawab Salma.
“Ya kali saja kamu tidak rela Dimas menikahi putriku,” ucap Askara.
“Justru aku gak enak sama ayah, karena putrimu dapat bekasku. Aku juga tidak menyangka, bisa-bisanya mereka saling cinta, dan aku yakin Dimas itu benar-benar tulus mencintai Afifah,” ujar Salma.
“Memang salah, Afifah dapat duda? Ya sudah biar saja, Dimasnya baik sama Afifah, sayang sama Afifah, bisa mengimbangi Afifah yang kadang masih manja? Kita sebagai orang tua, hanya bisa mendoakan, semoga pernikahan mereka akan bahagia sampai akhir,” ucap Askara.
“Iya sih, kadang bunda mikir, gimana kalau Afifah dapat yang seumuran? Yang sama-sama egonya tinggi? Bunda memang selalu berdoa, supaya Afifah mendapat pacar yang lebih dewasa, eh sama Dimas ternyata?” ujar Salma.
“Ayah juga selalu berdoa, semoga Afifah mendapatkan jodoh yang sayang dengannya. Ayah ini tidak mau anak perempuan ayah satu-satunya punya suami yang tidak tulus mencintai dan menyayanginya. Ayah rasa Dimas memang pantas untuk Afifah, meskipun dia umurnya terpaut jauh dengan Afifah,” ucap Askara.
Askara mengajak tidur Salma. Ia memeluk istrinya. Askara merasa sedih namun dibalik sedihya ia bahagia karena Afifah menemukan orang yang sangat menyayangi dan mencintainya.
__ADS_1