Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Tidak Bisa Tidur


__ADS_3

Afifah masih belum bisa memejamkan matanya. Ia masih terbayang-bayang wajah om-nya yang tampan itu. Selembut itu Dimas memperlakukan Afifah, sampai Afifah meleleh hatinya, padahal sebelumnya ia bersih keras menolak Dimas, dan berontak saat digendongnya. “Ah ... kenapa sih Om Dimas tampan sekali? Tapi, masa aku mau pacaran sama om-om? Nanti orang menyangka kalau aku itu simpenannya? Ih ngeri! Gak mau ah! Bodoh amat Om Dimas mau menunggu aku, aku gak mau lah, nanti pas aku sudah lulus SMA, dan sudah lulus Kuliah Om Dimas sudah jadi kakek-kakek dong? Memang di dunia ini laki-laki tampan Cuma Om Dimas saja?” ucapnya lirih.


Afifah memejamkan matanya, tidak peduli dengan Dimas lagi. Anak seusia Afifah memang masih sangat labil, jadi ya seperti itu. Kadang-kadang pengin sama Dimas, kadang penginnya cari yang lebih dari Dimas, karena Dimas sudah tua, seusia bundanya.


Sedangkan Dimas di dalam kamarnya, ia masih terpaku menatap langit-langit kamarnya. Wajah Afifah yang manis dan menggemaskan terbayang selalu di matanya. Baru kali ini Dimas jatuh hati sampai terbayang-bayang wajahnya, hingga mengganggu waktu istirahatnya.


“Jam dua pagi? Jadi dari tadi aku hanya membayangkan Afifah saja? Sialan! Bocah kecil itu malah menghantui tidurku. Sampai jam dua pagi mata ini masih saja belum mau terpejam!” umpat Dimas.


Dimas mencoba memejamkan matanya, tapi rasa kantuknya kalah dengan pikirannya yang berisi tentang Afifah. Gadis kecil yang mampu memorak-porandakan hatinya. Lagi dan lagi bayangan Afifah menyapa Dimas dengan senyuman manisnya.


Dimas beranjak dari tempat tidurnya, ia tidak tahu lagi bagaimana caranya memejamkan matanya, karena dari tadi saat akan menutup mata, bayangan Afifah selalu muncul di hadapannya. “Jatuh cinta sih jatuh cinta! Kenapa sampai begini?” tanya Dimas dalam hatinya.


Dimas tidak pernah merasakan hal semacam ini, bahkan saat dulu jatuh cinta sama Salma pun tidak seperti ini rasanya, dan dengan perempuan lain pun Dimas tak seperti ini rasanya. Dia dihantui bayang-bayang Afifah malam ini, sampai mau memejamkan matanya pun ia tidak bisa. Dimas ke dapur mengambil air minum. Sampai tenggorokannya kering pun ia masih belum bisa memejamkan matanya. Ia meneguk air putih sampai tandas, lalu ia mencari makanan yang agak berat, biasanya kalau makan makanan yang tinggi karbo akan cepat mengantuk. Ia melihat ada roti pisang keju di atas meja makan, mungkin Bu Mila membawanya dari toko. Biasanya Afifah memang suka roti pisang keju, jadi Bu Mila membawakannya.


“Padahal pantanganku makan makanan yang seperti ini tengah malam, ditambah susu cokelat, sudah ini pantangan sekali, tapi kalau gak begini aku gak akan bisa tidur. Mungkin kalau aku kenyang aku akan tidur, dan bisa menghentikan bayangan Afifah yang terus datang menghantuiku,” ucap Dimas sambil menuang susu cokelat ke dalam gelasnya.


Dimas menikmati roti pisang keju dengan segelan susu cokelat. Ia  memang menjaga pola makannya, makan roti hanya sekadarnya saja, apalagi makan di tengah malam seperti saat ini yang ia lakukan.


“Sudah habis, mungkin sebentar lagi ngantuk akan menyapaku?” ucap Dimas lirih.


Ia kembali ke kamarnya. Menunggu kantuk yang tak kunjung datang. Namun, sia-sia saja. Ia menunggu kantuk datang, tapi yang terus datang bayang-bayang Afifah. Bayangan saat ia menciumnya di dalam mobil, penuh gairah hingga membuat kancing  kemeja Afifah bagian atas terlepas dua kancingnya, dan dirinya dengan bebas menjajahi dada Afifah. “Sialan! Bukan ngantuk yang datang tapi bayangan Afifah lagi! Arrgghhtttt .... Afifah!” umpatnya dengan mengerang.


Meski kantuk tak kunjung datang, Dimas tetap berusaha memejamkan matanya. Tidak peduli bayangan Afifah menyapa, biar saja ia dekap bayangan Afifah untuk menemani tidurnya. Hingga pukul empat pagi, ia baru bisa memejamkan matanya.


^^^


Pagi hari, Afifah sudah mandi, sudah wangi, dan sudah terlihat rapi sekali. Bu Mila melihat cucunya, tumben-tumbennya jam tujuh pagi sudah dandan rapi, biasanya baru keluar dari kamarnya dan masih acak-acakan rambut dan pakaiannya.


“Kamu sudah wangi tumben, Fah?” tanya Bu Mila.

__ADS_1


“Eyang, ada teman Afifah mau main ke sini. Namanya Vero, cucunya Opa Alka, temannya Opa Ardha, jadi Afifah agak pagi mandinya, katanya dia sudah jalan dari habis subuh ke sini,” jawab Afifah.


“Laki-laki temanmu?” tanya Bu Mila.


“Iya, Eyang. Gak apa-apa, kan?” jawab Afifah.


“Pacar kamu?” Bu Mila lagi-lagi bertanya seperti sedang menginterogasi Afifah.


“Bukan, Eyang .... Kita baru kenalan kemarin kok, waktu aku diajak Opa dan Oma ke pesta pernikahan anak temannya opa. Kita kenalan di situ, terus semalam chat Afifah, katanya pengin main ke sini, mumpung masih liburan,” jelas Afifah.


“Oke, tidak masalah. Eyang kira pacar kamu, jangan pacaran dulu lah, kamu masih kecil. Ya memang dulu bundamu masih SMP sudah pacaran, tapi eyang minta kamu jangan, ya?” tutur Bu Mila.


“Iya eyang, enggak kok, Afifah gak pacaran. Ya buat teman saja sih, kan gak ada salahnya berteman?” jawab Afifah.


“Ya sudah kalau hanya teman sih gak apa-apa,” ucap Bu Mila. “Ini Om Dimas belum keluar dari kamarnya, Fah?” tanya Bu Mila.


“Belum kelihatan sih dari tadi. Afifah kan bangun dari jam lima. Habis subuh tadi gak tidur lagi, cari angin ke belakang, sama chat dengan Vero, ngasih tahu alamat sini,” jelas Afifah.


Bu Mila mencoba mengetuk-ketuk pintu kamar Dimas, tapi tidak ada sahutan dari Dimas. Bu Mila memutas handle pintu, pintu kamar Dimas tidak dikunci, ia masuk dan melihat Dimas masih tertidur pulas, memeluk guling di bawah selimut tebal. Bu Mila mematikan AC dan membuka jendela kamar Dimas, supaya Dimas terbangun karena terkena sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya. Dimas menggeliatkan tubuhnya, ia mengerjapkan matanya karena silau terkena cahaya matahari yang masuk melalu celah jendela di kamarnya.


“I—ibu?” ucap Dimas dengan suara serak.


“Kamu pulas sekali tidurnya, Dim? Ibu bangunin kamu gak bangun-bangun. Ya sudah ibu pakai caranya Salma kalau bangunin kamu, kalau jendela dibuka, tirainya juga dibuka, pasti kamu bangun karena silau dengan cahaya matahari yang masuk. Bangun juga kan akhirnya?” ucap Bu Mila.


“Ibu masih ingat saja kebiasaan Salma. Ya aku juga masih ingat, Bu. Meskipun sudah aku lupakan dan aku tutup rapat kenang-kenangan itu, tetap saja kadang masih ingat, tapi ya sudahlah, itu juga salahku, Salma juga berhak bahagia dengan orang yang ia cintai sekarang,” ucap Dimas. “Mungkin kalau Dimas gak melakukan itu, Dimas masih bahagia punya mama, pasti Dimas dan Salma punya anak-anak yang lucu, yang bisa menemani ibu dan mama. Tapi, Dimas melakukan kesalahan yang membuat semuanya hancur, Bu.” Dimas mengingat semuanya, saat dulu bersama Salma, sampai pada akhirnya dia bertemu Rani, dan terjadilah perpisahan antara dirinya dan Salma.


“Sudah jangan diingat, makanya kamu cari pengganti Salma. Salma sudah bahagia, apa salahnya kamu juga bahagia dengan membuka hatimu untuk perempuan lain?” tutur Bu Mila.


“Aku sudah menemukan, Bu. Dia masih di bawah umur, dia cucu ibu –Afifah. Aku jatuh cinta dengan Afifah, Bu. Tapi rasanya itu tidak mungkin, apa kata semua orang kalau aku mencintai anak sambung dari mantan istriku?” ucap Dimas dalam hati.

__ADS_1


“Buka hati kamu untuk perempuan lain, kamu juga butuh pendamping kamu, Dimas? Untuk keluh kesah, untuk berbagi cerita, membangun keluarga yang bahagia?” tutur Bu Mila.


“Nanti, Bu, belum saatnya. Doakan saja, ya?” jawab Dimas.


“Ya sekuat apa pun ibu mendoakan, tapi kamunya gak ada usaha? Sama saja dong?” ucap Bu Mila.


“Ini lagi usaha kok, tapi perempuan itu belum mau sama Dimas, doakan saja ya, Bu?” ucap Dimas.


“Iya  ibu selalu mendoakan kamu, yang penting kamu usaha, jangan diam!” tegas Bu Mila. “Ini kenapa kamu bangun sampai setengah delapan? Apa kamu gak ke kantor?” tanya Bu Mila.


“Semalam nonton bola, Bu. Sampai jam empat pagi. Nanti saja lah siangan ke kantornya, lagian kata sekretarisku gak ada meeting hari ini,” jawab Dimas.


“Kalau nonton bola selalu gak ingat waktu!” tukas Bu Mila.


“Ini karena cucu ibu, yang menghantuiku sampai aku gak bisa tidur, Bu!” ucap Dimas dalam hatinya.


“Oh iya, Dim. Kebetulan kamu berangkat siangan, kamu bisa temani Afifah, karena ada temannya yang mau ke sini, mau main ke sini katanya,” kata Bu Mila.


“Teman? Siapa teman Afifah itu?” tanya Dimas penasaran.


“Namanya Vero katanya, dia dari habis subuh sudah perjalanan ke sini. Dikenalkan sama opanya kemarin katanya, cucu kerabat opanya. Mungkin ya bau-baunya akan dijodohkan nih Afifah. Maklum cucu perempuan satu-satunya, jadi ya biar dapat bibit, bebetl, bobot yang setara. Biasanya ada keluarga besar yang begitu, tapi kan gak sekarang juga sih harusnya, karena Afifah masih SMP? Ya mudah-mudahan berteman saja lah,” terang Bu Mila.


“Oh ya sudah, nanti Dimas temani, Bu. Dimas mau mandi dulu, ya?” ucap Dimas.


“Iya, mandi gih! Lalu sarapan,” titah Bu Mila.


“Iya, Bu,” jawab Dimas.


Dimas mengepalkan telapak tangannya, dia geram sekali mendengar teman Afifah yang bernama Vero mau datang, mau main ke sini menemui Afifah. Dimas kira Cuma kenalan saja, ternyata malah mau datang ke sini.

__ADS_1


“Sialan! Mau ada saingan gue nih?” gerutu Dimas kesal. “Lihat saja Afifah, kamu gak akan bisa cinta sama laki-laki lain selain sama aku! Aku pacarmu, Afifah. Kamu yang minta, dan aku tidak akan pernah mutusin kamu, meskipun kamu minta putus!” umpat Dimas.


Dimas mengusap kasar wajahnya, bisa-bisanya Afifah mengizinkan Vero datang ke rumah eyangnya. “Oke, lihat saja. Aku siap bersaing dengan laki-laki mana pun! Silakan kamu berteman dengan cowok lain, atau pacaran, aku akan tetap pegang kamu, Afifah! Sekali ada cowok yang menyakitimu, aku tak segan-segan akan memenggal kepalanya!” cetus Dimas.


__ADS_2