Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Kedatangan Tamu Asing


__ADS_3

Afifah masih berada di pelukan Dimas. Dari tadi Dimas mencoba menahan diri supaya tidak berbuat lebih pada Afifah. Ia memang sudah sering menyentuh Afifah, tapi dia tidak mau melakukannya lebih, karena ia tidak mau menyakiti Afifah.


“Sudah, jangan ngambek. Nanti kita lakukan itu, kalau Om sudah menikahimu,” ucap Dimas.


“Aku takut, Om malah mau kalau dijodohin sama anak temannya eyang,” ucapnya.


“Gak akan, lah! Om akan  bilang, sesegera mungkin Om akan bilang sama Ayah dan Bundamu,” tegas Dimas.


“Janji?”


“Janji, Sayang?” jawab Dimas, lalu menciumi pipi Afifah dengan gemas.


“Ayo bersihkan badanmu, kamu ini sudah bolos kuliah, malah minta beginian? Bersihkan badanmu, kita keluar, Om mau ajak kamu jalan-jalan, lalu ke rumah, nanti malam om juga akan ke rumah ayahmu,” ajak Dimas.


“Habis aku kesal dengan eyang mau jodohin om sama anak temannya!” cebik Afifah.


“Gak usah dengarkan eyang, ya? Om gak akan mau, Sayang?” ucap Dimas meyakinkan.


Afifah mengangguk, dia langsung beranjak dari tempat tidur, dan mengambil handuk, lalu membersihkan dirinya ke kamar mandi.


^^^


Sore hari Afifah sudah berada di rumahnya, setelah puas menghabiskan waktu bersama Dimas, Afifah kembali pulang, tapi ia dikejutkan oleh tamu yang ada di rumahnya. Seorang perempuan paruh baya, dan di sebelahnya ada perempuan cantik, yang tidak asing bagi Afifah.


Afifah menyapa eyangnya, ia langsung mencium tangan eyangnya, dan memberi salam pada tamu eyangnya.


“Ini cucuku, Jeng Sari. Afifah namanya,” ucap Bu Mila mengenalkannya pada Bu Sari.


“Afifah yang dulu sering liburan di rumah Jeng, kan?” tanya Bu Sari.


“Iya, benar. Masih ingat saja, Jeng?” jawab Bu Mila.


“Ingat dong? Mana bisa aku lupa dengan gadis cantik ini? Matanya indah, manis sekali,” puji Bu Sari.


“Ah Eyang Sari bisa saja?” ucap Afifah tersipu malu.


“Oh iya, Afifah, kenalkan ini Kak Kania. Anak bungsunya Eyang.” Bu Sari memperkenalkan Kania –putrtinya pada Afifah.


“Hai, Kak, salam kenal,” ucap Afifah dengan malas, karena dia yakin, kalau Kania adalah anak Bu Sari yang akan dijodohkan dengan Dimas.


“Hai, Afifah, salam kenal juga,” jawab Kania. “Ehm ... kayaknya aku tadi lihat kamu, ya? Tapi, di mana, ya?” tanya Kania.


“Ah, kakak salah lihat kali?” jawab Afifah.


“Astaga ... iya, dia tadi calon Sekretaris baru Om Dimas! Gawat nih? Mana dia yang Om Dimas pilih lagi buat gantinya Mbak Mita! Aku tidak akan membiarkan dia masuk ke dalam kehidupan Om Dimas. Aku pastikan rencana perjodohan mereka gagal!” geram Afifah dalam hatinya.


“Iya, mungkin salah lihat kali, ya? Ah tapi enggak mungkin aku salah lihat,” ucap Kania.


“Sudah gak usah diingat-ingat, anggap saja ini pertemuan pertama kita, Kak,” ucap Afifah. “Aku masuk dulu, ya?” pamit Afifah.


Afifah masuk dengan mulutnya komat-kamit, ngedumel tidak jelas, karena dia kesal dengan Eyangnya yang tiba-tiba mau mengenalkan anak dari temannya itu pada Dimas. Apalagi anak dari temannya itu calon Sekretaris barunya Dimas.


“Kenapa mesti dia, sih? Kenapa cewek itu? Apa gak ada yang lain? Kenapa Eyang malah jodohin Om Dimas sih? Gak tahu apa, Om Dimas itu sudah sama aku!” gerutu Afifah kesal.


Salma melihat Afifah pulang-pulang dengan ngedumel mulutnya. Salma yakin Afifah marah karena ada tamu eyangnya datang, apalagi membawa anaknya yang akan dikenalkan oleh Dimas. Sudah jelas, dan sangat jelas kalau Afifah memiliki hubungan dengan Dimas. Ditambah Salma mendengar dengan jelas, apa yang Afifah ucapkan tadi.


“Afifah!” panggil Salma.

__ADS_1


“Ah, iya, Bunda!” jawab Afifah sedikit terjingkat. “Ada apa, Bunda?” tanya Afifah.


“Kamu kenapa? Pulang-pulang ngedumel?” tanya Salma.


“Kesal saja, Bunda. Kuliah hari ini benar-benar menguras otak sekali!” jawab Afifah.


“Yakin, karena kuliah? Bukan karena yang lain?” tanya Salma penuh selidik.


“Karena yang lain apa, Bunda?” tanya Afifah.


“Ya mungkin karena cowok kamu? Bunda kok semakin penasaran sama cowok kamu, ya?” jawab Salma dengan melipat tangannya di atas perut.


“Eng—engak! Afifah kesal karena mata kuliah hari ini kok?” jawab Afifah gugup.


“Yakin?” tanya Salma dengan sedikit menekan.


“Iya, yakin,” jawab Afifah.


“Yakin bukan karena Om Dimas?” tanya Salma blak-blakan.


Dia tidak akan menutupi lagi, Salma tidak mau penasaran lagi, dia akan mengajak Afifah bicara baik-baik soal Dimas. Sekarang juga, karena dia tidak mau Afifah juga sakit hati karena Dimas dijodohkan. Biar saja Afifah menjalin hubungan dengan mantan suaminya itu, toh mereka saling cinta, Dimas juga sangat baik dengan Afifah, Salma yakin Dimas pasti bisa menjaga Afifah dan menyayangi Afifah. Apalagi kalau ingat soal Vero dulu, Salma tidak mau terjadi dengan Afifah hal macam itu.


“Kok jadi Om Dimas sampainya?” ucap Afifah bingung.


“Iya, karena Om Dimas?” tanya Salma lagi.


“Bunda ini ada-ada saja tanyanya?” jawab Afifah.


“Ke kamar kamu, yuk? Bunda pengin cerita sama kamu. Sudah lama juga kitagak cerita-cerita, kan? Yakin gak mau cerita sama Bunda? Mana Afifah yang selalu anggap Bunda ini teman Afifah? Terus terang Bunda kesepian sekarang, setelah kamu sibuk dengan duanimu, Nak,” ucap Salma.


Benar kata bundanya, kalau Afifah sekarang semakin jauh dengan Bunda dan Ayahnya sejak ia bersama Dimas. Itu semua karena ia takut hubungannya dengan Dimas ketahuan oleh Ayah dan Bundanya.


Afifah duduk di sebelah Salma. Salma mengusap kepala Afifah dengan sayang. Tidak menyangka anak gadis yang sudah ia anggap seperti anak kandunganya sendiri sudah tumbuh makin dewasa, dan sudah memiliki pacar, yang tak lain mantan suaminya dulu.


“Sejak kapan Afifah punya hubungan sama Om Dimas?” tanya Salma.


Afifah diam dan menunduk, ia tidak mungkin mengelak lagi. Mau tak mau, dia harus jujur pada bundanya tentang hubungannya dengan Dimas. Ia harus jujur pada bundanya, juga dengan ayahnya.


“Sejak kapan, Afifah? Ayo jawab, bunda gak akan marah sama kamu kalau kamu jujur, Fah?” ucap Salma.


“Bunda, Afifah minta maaf. Iya, Afifah pacaran dengan Om Dimas, sudah lama sekali, Bunda,” jawab Afifah.


“Sejak kapan?” tanya Salma lagi.


“Kelas dua SMP,” jawab Afifah.


Salma tercengang, kelas dua SMP, Afifah sudah pacaran dengan Dimas? Salma tidak menyangka itu terjadi dengan Afifah dan Dimas.


“Kelas dua SMP?” tanya Salma tidak percaya.


“Iya, Bunda,” jawab Afifah.


“Ini bunda gak salah dengar? Jadi pas sama Vero?” tanya Salma.


“Aku dekat sama Vero Cuma mau bikin kesel Om Dimas saja, soalnya dia masih menemui Renata, Bunda. Masih pajang foto Renata juga. Masa katanya pacarku pajangnya foto Renata?” ucap Afifah jujur.


Salma menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Afifah kelas dua SMP pacaran sama om-om, mana om-om nya mantan suami Salma sendiri.

__ADS_1


“Itu kenapa setiap aku jalan sama Vero, Om Dimas ngikutin aku, Bunda. Untung malam itu pas Vero bikin tangan Afifah sakit Om Dimas langsung datang?” ucap Afifah.


“Kenapa bisa sama Om Dimas sih, Fah? Afifah kan tahu Om Dimas siapa?” tanya Salma.


“Iya, Afifah tahu, Om Dimas mantannya bunda, mantan suami Bunda. Tapi, apa salah ya, Bun? Aku jatuh cinta sama Om Dimas? Apa salah kalau kita sama-sama saling mencintai? Om Dimas selama ini baik sama Afifah, dia jagain Afifah, benar-benar jagain, Bunda. Bunda marah Afifah sama mantan suami bunda?”


“Bunda gak marah, karena bunda sudah tahu gerak-gerik kalian. Kalau itu memang pilihan kamu, kamu sama Dimas saling cinta, bunda sama ayah bisa apa? Toh ayah juga dukung kalau kamu sama Dimas?” jelas Salma.


“Tapi eyang? Itu tamunya sudah ke sini, pasti kan nyuruh Om Dimas ke sini, kan?” tanya Afifah.


“Bunda sudah bilang sama Om Dimas, bunda sudah hubungi Om Dimas, nunggu ayahmu pulang, nanti ke rumah Om Dimas,” jelas Salma.


“Maksudnya?” tanya Afifah.


“Bunda sama ayah itu sudah curiga kalian pacaran. Ya tadinya mau minta penjelasan dari kalian, makanya bunda langsung telefon Om Dimas, kalau bunda sama ayah mau ke rumahnya, terus bunda suruh Om Dimas gak usah ke sini, kalau disuruh eyang ke sini,” jelas Salma.


“Tapi, Om Dimas pasti akan sering ketemu sama cewek itu bunda, kan dia calon sekretarisnya Om Dimas, baru diterima tadi,” ucap Afifah.


“Sudah gak usah mikir itu, Bunda tahu kok Om Dimas kalau udah sayang, udah cinta sama perempuan, dia gak akan berpaling, buktinya LDR an lama kan kemarin saat di London? Kalau Om Dimas laki-laki brengsek, ya pasti sudah pacaran lagi? Buktinya? Gak usah takut Om Dimas selingkuh,” tutur Salma.


“Tapi, kenapa dulu nikah sama perempuan lain saat masih sama Bunda?” tanya Afifah.


“Itu karena sebuah keadaan, yang sulit untuk dijelaskan. Sudah, Bunda gak mau bahas ini, intinya Om Dimas itu orangnya setia,” ucap Salma.


Salma jelas tahu bagaimana Dimas, nyatanya setelah menikah dengan Rani pun Dimas masih memberikan nafkah padanya, dan masih mencintainya juga. Menikahi Rani mungkin memang terpaksa, kasihan juga Rani gak pernah disentuh, karena setelah menikahi Rani, Dimas tiba-tiba sakit aneh seperti itu.


“Mungkin adanya Dimas bisa sembuh, dan aku bisa hamil karena Afifah juga. Ya, semua itu karena Tuhan, tapi aku ingat ucapan Dimas saat itu, yang bilang ada gadis yang bisa membuat Dimas sembuh, apa itu Afifah? Kalau iya, apa Afifah pernah begituan sama Dimas? Haduh ... bagaimana kalau sudah?” batin Salma.


“Fah, Bunda tanya boleh?” tanya salma.


“Boleh, mau tanya apa, Bunda?”


“Ehm ... jangan marah ya, bunda tanya ini sama kamu, kamu kan sudah dewasa, jadi wajar bunda tanya sama kamu soal ini.” Salma berhenti sejenak, ia mengatur napasnya, ia takut Afifah marah kalau tanya seperti itu.


“Mau tanya apa, Bunda?” tanya Afifah.


“Janji jangan marah, ya?”


“Iya, Bunda?”


“Apa Afifah pernah begituan sama Om Dimas? Afifah tahu lah pastinya pertanyaan bunda ini, tolong jawab jujur, ya?” tanya Salma dengan raut wajah yang penasaran.


“Sudah Afifah tebak, pasti tanya ini. Ya enggak lah, Bunda? Kami pacaran ya biasa saja, tapi ad sih yang luar biasa,” jawab Afifah.


“Yakin belum pernah?”


“Iya bunda, belum! Kalau bunda gak percaya, yuk ke rumah sakit, tes perawan!” tantang Afifah.


“I—iya, iya ... bunda percaya. Terus apa tadi yang luar biasa?” tanya Salma.


“Nanti bunda tahu, kalau sudah di rumah Om Dimas, pasti Om Dimas nyuruh bunda ke rumah barunya, kan?”


“Iya, alamatnya tadi baru di kasih,” jawab Salma.


“Ya sudah nanti di sana saja ngomongnya.”


Salma semakin penasaran dengan Afifah, tapi Salma sudah lega, sudah tahu hubungan Afifah dengan Dimas. Salma harus cepat-cepat mengambil tindakan, tentunya untuk meminta Dimas menikahi Afifah secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2