Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Aku Cemburu


__ADS_3

Salma memutuskan untuk tinggal bersama Askara di Jogja setelah kembali menikah dengan Askara. Sudah dua bulan Salma kembali mengarungi rumah tangga bersama Askara, setelah satu tahun lamanya dia berpisah karena disebabkan oleh mantan kekasih Askara yang kembali lagi dengan keadaan sakit-sakitan.


Salma menikah dengan Askara karena ia begitu sayang dengan Afifah. Melihat Afifah sendirian di rumah sedangkan Askara harus bekerja sampai larut malam membuat hatinya terketuk lagi untuk kembali menemani Afifah. Padahal belum ada sehari dia melihat Afifah sendirian di rumah, menunggu ayahnya yang pulang kerja larut malam, tapi ia sudah tidak tega dengan keadaan Afifah. Apalagi Afifah dan Askara hanya tinggal di rumah berdua, tidak ada pembantu membuat Afifah harus belajar mandiri sedini mungkin. Padahal anak seusia Afifah yang baru kelas lima SD harusnya masih sibuk dengan dunianya sendiri. Entah dengan temannya atau apa. Namun, Afifah harus apa-apa sendiri. Bahkan dia pun sudah bisa memasak, cuci dan setrika baju, nyapu, ngepel, semua itu Afifah sudah terbiasa sendiri.


Tidak seperti anak seusia Afifah lainnya yang masih apa-apa bergantung pada orang tuanya. Bahkan semuanya diladeni oleh orang tuanya atau asistennya.


Setiap pagi selama Salma kembali tinggal dengan Afifah dan Askara, Salma selalu sudah melihat dapur rapi, dan sudah ada teh di dalam poci yang sudah siap untuk dituang. Semua itu karena Afifah yang menyiapkan. Padahal Salma sudah melarang Afifah melakukan semua itu, ia tidak mau Afifah nanti kelelahan dan sekolahnya tidak konsentrasi.


“Bunda kan bilang sama kamu, Fah? Jangan gini, kamu boleh bangun pagi, tapi gak usah begini. Ini pekerjaan bunda, bukan pekerjaan kamu, Sayang?” tegur Salma pada Afifah yang sedang menuangkan teh ke dalam cangkir.


“Ih bunda, gak apa-apa, kan Fifah sudah biasa? Lagian kalau gak buat gini ngantuk lagi? Daripada tidur ya sudah cuci piring, bersihin dapur, bikin teh. Biar bunda juga gak kecapean,” jawab Afifah.


“Ini tugas bunda, tugas kamu belajar dan sekolah. Sudah besok-besok lagi bunda gak mau lihat kamu seperti ini. Bunda setiap hari kan bilang gak usah begini,” tegas Salma.


“Ih bunda ... Gak mau ah, tetap begini. Kalau gak begini saja, kita bareng-bareng saja masak di dapur? Kan seru? Biar bunda gak kecapekan juga?” saran Afifah.


“Sudah-sudah sama Fifah siap-siap ke sekolah, gih!” titah Salma. “Cek lagi PR, ada PR atau enggak, cek tugas-tugas lainnya, pelajari lagi yang kemarin guru terangkan,” imbuhnya.


“Siap, bunda!” jawabnya semangat.


Sejak bundanya kembali, Afifah selalu ingin menjaga bundanya, selalu sopan bertutur kata, setiap hari Afifah selalu ingin buat bundanya tersenyum bahagia, karena ia masih terus terngiang kesalahan terbesarnya pada Salma dulu. Ia membentak Salma, bahkan membiarkan Salma pergi dari rumah. Ia juga sempat membenci Salma.


Pun dengan Askara, dia benar-benar menjadi sosok suami yang penuh kasih sayang pada Salma, tidak pernah protes meski masakan Salma tidak enak, tidak pernah membentak Salma, selalu bertutur kata baik dengan Salma, dan ia pun selalu mengerti Salma. Bahkan Salma sempat bingung dengan sikap Askara yang sepertinya takut kalau dirinya marah.

__ADS_1


Selesai membuat sarapan, Salma langsung kembali ke kamarnya. Dilihatnya Askara yang sedang mengambil baju untuk ke kantor, ia langsung mengambil alih, untuk mengambilkan bajunya Askara.


“Maaf aku sampai lupa mempersiapkan bajumu, Mas. Saking asyiknya masak,” ucap Salma.


“Sudah tidak apa-apa, bunda kan lagi sibuk?” jawab Askara.


“Tapi kan ini tugasnya aku, Mas,” ucap Salma.


“Suami-istri harus saling bantu, Sayang. Gak melulu semua harus kamu yang ngerjain?” jelas Askara.


“Ya tapi kan lebih baiknya aku yang ngerjain? Karena ini tugas istri? Sudah pakai bajunya, lalu sarapan, aku bersihkan badan dulu,” ucap Salma.


Salma pun sekarang lebih berhati-hati, sekarang lebih mengerti Askara, karena ia takut kalau dirinya tidak memuaskan Askara atau tindakannya tidak disukai Askara, Askara akan meninggalkannya lagi. Ia tidak mau ada perpisahan lagi dalam pernikahannya.


“Sal?” panggil Askara saat Salma akan masuk ke kamar mandi.


“Pengin manggil kamu saja,” jawab Askara.


“Ih mas lucu sekali, aku kira manggil ada apa?” ucap Salma.


“Sini sebentar, aku mau tanya sesuatu sama kamu,” pinta Askara.


“Mau tanya apa, Mas?” tanya Salma.

__ADS_1


“Sudah sini saja,” jawabnya.


Salma mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi. Ia kembali ke sebelah suaminya. Duduk di tepi ranjang di sebelah Askara.


“Ada apa, Mas? Mau tanya apa?” tanya Salma.


“Cuma mau tanya, kok sekarang bunda jarang manggil ayah sayang?” jawab Askara.


“Astaga ... Soal itu?” ucap Salma terheran.


Ya memang selama dua bulan kembali menikah dengan Askara jarang sekali Salma memanggil dirinya sayang, padahal dulu Salma bisa menempatkan keadaan, kalau ada Afifah dia memanggil Askara dengan sebutan ayah, kalau sendiri lebih ke sayang, bahkan Salma sangat manja dengan Askara ketika tidak di hadapan Afifah. Tapi, sekarang Salma jarang memanggil Askara sayang, dan bermanja pun kalau Askara tidak mulai memanjakan dia, Salma tidak mau memulainya.


“Kamu sekarang juga tidak semanja dulu? Biasanya saat tidak ada Afifah kamu manja sekali, aku rindu manjamu itu, Sayang,” ungkap Askara.


“Ehm ... Aku harus manja yang bagaimana ya, Mas? Aku bingung. Aku juga gak tahu kenapa begini. Iya sih aku akui sekarang aku jarang manggil mas sayang, gak tahu kenapa jadi begini,” jelas Salma.


“Jangan berubah, Sal. Aku mau kamu yang dulu. Yang selalu manja denganku, selalu memanggilku dengan panggilan sayang. Kita kan sudah menikah lagi, Sal? Ya memang kita sempat pisah, tapi apa tidak bisa seperti dulu?” ujar Askara.


“Kalau seperti dulu aku malah takut, Mas. Takut kamu meninggalkan aku lagi, takut aku disuruh pergi dari kamu? Kita kan memulai hidup baru lagi, Mas? Jadi kita mulai sesuatu yang baru, dan jangan mengulang yang dulu. Aku gak manggil kamu sayang, bukan berarti aku tak cinta, bukan berarti aku tak sayang,” jelas Salma. “Aku sangat mencintaimu, Mas. Aku kembali lagi bukan karena semata untuk Afifah saja, tapi untuk kamu juga. Aku mencintaimu, dan jangan ragukan cintaku, Mas,” pungkasnya.


Askara memeluk Salma, ia tahu Salma sangat mencintainya, tapi dirinya yang ketakutan sendiri kalau Salma akan pergi lagi. Askara takut, kalau Salma tidak benar-benar mencintainya lagi karena sudah banyak sekali luka yang ia goreskan di hati Salma.


Terkadang Askara malah takut kalau Salma dekat lagi dengan Dimas. Apalagi sampai sekarang hubungannya dengan Dimas masih baik-baik saja, Dimas juga masih sering menghubungi Salma, apalagi Dimaslah yang memegang perusahaan ayahnya Salma, karena memang dia yang diamanahi ayahnya Salma. Dimas juga yang selama ini menjaga ibunya Salma, ada apa-apa dengan ibunya Salma, pasti Dimas memberitahukan pada Salma.

__ADS_1


Kadang Salma juga yang mulai lebih dulu menghubungi Dimas, yang membuat Askara sedikit cemburu meskipun Salma menanyakan ibunya, karena menghubungi ibunya tidak bisa. Selama ini Dimas masih menjaga ibunya Salma, apalagi Dimas sudah menganggap ibunya Salma seperti ibunya sendiri. Dia menyayangi ibunya Salma seperti ia menyayangi ibunya sendiri.


“Jujur aku takut kehilangan kamu. Aku cemburu saat kamu dekat dengan Dimas, saat kamu berbincang dengan Dimas cukup lama lewat telefon. Aku tidak tahu, perasaan takut ini muncul tiba-tiba. Apa karena aku takut kamu membalas perbuatanku dulu? Atau apa aku tidak tahu. Yang aku tahu aku sangat mencintaimu, Sal. Dan aku cemburu kamu dekat dengan Dimas. Bagaimanapun Dimas mantan suami kamu dan cinta pertamamu,” batin Askara.


__ADS_2