Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Berbaik Hati Boleh, Tapi Sekadarnya Saja


__ADS_3

Mereka menikmati kue bikinan Salma sambil berbincang-bincang. Dimas merasa Salma sekarang berbeda, dulu saat dipujinya, Salma langsung berbangga hati, bahkan terlihat bahagia. Sekarang, Salma cenderung cuek, biasa saja sikapnya, bahkan Salma tambah ketus bicaranya.


“Ibu, Salma, aku pamit dulu, ya? Aku mau balik ke kantor,” pamit Dimas.


“Iya sana, jangan mentang-mentang bos kamu mah seenak jidatnya saja ninggalin kantor?!” ucap Salma.


“Salma ... bicaranya kok gitu?” tegur Bu Mila.


“Ya kan memang Dimas seenaknya saja ninggalin kantor, nanti giliran kantor ada masalah apa-apa yang disalahin karyawannya? Atau nanti cari investor kaya raya dengan syarat harus  menikahi anak perempuannya? Hah ... dasar!” seloroh Salma.


“Sal ... kamu kalau bicara kok begitu? Jangan begitu? Salma yang ibu kenal tidak begini ucapannya,” tutur Bu Mila.


“Mungkin Salma yang sekarang sudah terkontaminasi dengan sikap lelaki durjana yang sok suci, yang sok gimana, ya? Ya seperti Dimas lah contohnya, sama juga seperti mantan suamiku satunya, yang gak tahu tuh masih di Singapura atau istrinya sudah mati!” ucap Salma.


Kalau sedang mengingat disakiti Dimas dan Askara, Salma mendadak berubah ceplas-ceplos bicaranya. Dimas tahu, Salma masih sakit hati karena dirinya, sampai sekarang saja Salma masih membahasnya.


“Aku sedang tidak mau membahas yang sudah berlalu, Sal. Aku sudah berusaha menutup semua itu. Kamu boleh marah sama aku, silakan kamu mau apakan aku, asal jangan ungkit masa lalu, yang malah menambah luka di hatimu. Tutup semua luka itu, Sal.  Kamu harus bisa menyembuhkannya dengan caramu sendiri, jangan diingat, jangan dibahas lagi, karena kamu akan sakit sendiri, Sal,” tutur Dimas.


“Ya.” Jawab Salma singkat.


“Aku pamit ya, Bu?” Dimas mencium tangan Bu Mila. “Sal aku balik ke kantor, ya?”


“Hmmm ... hati-hati,” jawab Salma.


“Boleh sisa kuenya aku bawa?” tanya Dimas.


“Bawa saja,” jawab Salma.

__ADS_1


“Hati-hati ya, Dim?” ucap Bu Mila.


“Iya, Bu,” jawab Dimas.


Selepas Dimas pergi, Salma duduk kembali di sebelah ibunya. Dia menemani ibunya sampai sore, karena mau pulang juga dia malas sendirian di rumah. Paling juga kalau Salma jenuh, dia lebih memilih pergi ke makam ayahnya, dan makam putrinya.


“Sal ... Sal ... kamu itu sama Dimas ucapannya mbok ya jangan begitu? Dimas itu kurang baik apa sama kita, Sal?” ujar Bu Mila.


“Lalu aku harus bicara yang bagaimana, Ibu? Lemah lembut? Seperti dulu saat aku menjadi istri Dimas? Gak bisa bu! Semua sudah beda. Dulu aku berkata lembut penuh kasih sayang ya karena aku dulu masih jadi istrinya? Sekarang? Aku siapanya? Hanya kepingan masa lalunya yang masih terluka. Lantas apa aku masih pantas bicara baik dengan nada lembut dengan dia? Orang yang pernah menggoreskan luka di hatiku, Bu?” ucap Salma.


“Setidaknya dia masih baik, masih mempertanggung jawabkan semuanya, Sal. Dia meninggalkanmu, tapi tidak meninggalkan tanggung jawabnya, dia masih mau memberikan hak padamu. Dia masih mau membantu ibu. Jika ibu membutuhkan bantuan apa pun bantuannya, dia yang datang lebih awal, dia begitu menghargai ibu, dan menganggap ibu seperti ibu kandungnya, Sal,” tutur Bu Mila.


“Dia seperti itu ya mamang harus, Bu. Gak salah dia masih ngasih buat aku, bantuin ibu, ngasih modal ibu, kan itu semua karena ada saham ayah di perusahaan dia. Jadi, dia mau memberikan hakku setiap bulan ya gak masalah sama sekali, mau membantu ibu, mau ngasih modal tambahan ibu, itu memang haknya, karena saham ayah banyak di perusahaannya,” ucap Salma. “Yang sudah terjadi ya sudah? Aku sekarang menganggap Dimas itu orang lain, Bu. Bukan siapa-siapa lagi. Dan, aku gak mandang dia masih sering ngasih aku, ngasih ibu, lantas aku harus tunduk, harus patuh, dan harus berkata lembut penuh sopan santun dengannya. Aku lihat siapa lawan bicaraku, Bu! Lawan bicaraku itu orang yang pernah menghancurkan hidupku, Bu!”


Salma meinggalkan toko, ia keluar. Ia memilih menenangkan diri. Luka lama karena Dimas, masih membekas di hatinya sampai saat ini, meski telah usai, dan berlalu lama, dan Salma pun tahu tujuan Dimas menikahi Rani karena apa, tapi apa pun alasannya, tetap saja bagi Salma, Dimas sudah menyakitinya, dan tidak pantan dirinya berbaik hati dengannya.


“Berbaik hati hanya sekadarnya saja, tak perlu berlebihan, apalagi dengan orang-orang yang sudah menyakiti kita. Rasanya tidak etis kalau harus berbaik hati sekali dengannya,” ucap Salma dengan melajukan mobilnya.


“Paling di ke makam mantan istrinya? Gak mungkin dia mampi ke makam anaknya? Paling lupa?” ucap Salma. Lalu dia turun dari mobil dan masuk ke area pemakaman.


Salma melihat  Dimas berjongkok di depan makam Zaskia. Tidak menyangka Dimas akan mendatangi makam anaknya juga. Katanya dia akan ke kantor, tapi dia malah datang ke makam Zaskia.


“Papa janji, papa akan jaga mamamu, Sayang. Meski mamamu masih marah sama papa, papa tidak akan pernah lelah menjaganya, meski dari kejauhan. Papa masih sangat menyayangi dan mencintai mamamu. Kamu jangan sedih, suatu hari nanti mama akan tinggal dengan papa lagi. Papa janji tidak akan meninggalkannya, jadi kamu tenang di sana, ya? Papa sayang Kia. Love you, Sayang,” ucap Dimas lalu mencium nisan mendiang putrinya.


Salma mendengar semua yang dikatakan Dimas. Setengah tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Iya, Salma tidak percaya kalau Dimas masih sangat mencintainya.


“Dim?” panggil Salma.

__ADS_1


“Kamu di sini, Sal?” tanya Dimas.


“Iya, aku baru saja datang, kamu katanya ke kantor, kok di sini?”


“Pengin lihat makam Kia,” jawabnya.


“Makam Kia kok bersih ya? Apa kamu yang selalu bersihin makamnya?” tanya Salma.


“Iya, aku setiap pagi ke sini, tadi pagi gak sempat, jadi baru ke sini,” jawab Dimas.


Salma mengangguk, lalu dia berjongkok di depan makam putrinya. “Kia ... maafin mama, mama baru datang. Mama baru jenguk Kia. Kia jangan sedih lagi, ya? Mama bahagia, mama baik-baik saja, meski mama dan papa sudah berpisah. Kia jangan sedih, meski mama dan papa berpisah, kami masih menyayangi Kia. Kia anak yang kuat, anak yang pintar, pasti Kia mengerti keadaan mama sekarang. Sekarang, mama tidak akan lagi meninggalkan kamu, Nak. Mama akan tinggal di sini lagi, di rumah eyang, kita akan berdekatan lagi, mama akan ke sini, jengukin kamu setiap hari,” ucap Salma, lalu mencium nisan Kia.


“Dan Kia jangan sedih, papa akan jagain mama,” ucap Dimas.


Setelah cukup lama mereka saling bercengkrama di depan makam Zaskia juga di makam ayahnya Salma, Salma pamit pulang, pun Dimas. Mereka berjalan beriringan, menuju ke mobil mereka.


“Kamu mau ke mana lagi, Sal?” tanya Dimas.


“Pulang Dim, mau beberes kamar, semalam belum aku beresin, aku tidur sama ibu semalam,” jawab Salma.


“Ya sudah hati-hati, ya?” ucap Dimas.


“Iya, kamu juga hati-hati, Dim,” ucap Salma.


“Sal, tar malam boleh aku main ke rumah ibu?” tanya Dimas.


“Iya main saja,” jawab Salma.

__ADS_1


Salma masuk ke dalam mobilnya, lalu ia melajukan mobilnya untuk pulang. Salma melambaikan tangannya pada Dimas yang belum masuk ke dalam mobilnya, lalu Dimas mengikuti mobil Salma, sampai Salma sampai di depan rumahnya.


“Dia kebiasaan sekali, padahal aku sudah biasa nyetir, tapi kalau aku nyetir selalu dia khawatir, dan mengikuti sampai tujuan?” batin Salma.


__ADS_2