
Afifah sampai di rumahnya bersama Dimas. Askara sudah tahu kalau Afifah pulang dengan Dimas karena Dimas menjelaskan pada Askara kalau Vero sudah bersikap kasar dengan Afifah.
“Afifah sini duduk samping opa,” titah Zhafran. “Opa pengin bicara sama kamu,” lanjutnya.
Afifah dengan menyembunyikan tangan kanannya di balik badannya, ia duduk di sebelah Zhafran. “Kok gak salim sama opa?” tanya Zhafran.
“Ehm ... i—iya, Opa. Aku lupa.” Afifah mencium tangan opanya, dengans sedikit meringis karena tangannya sakit.
“Tanganmu kenapa, Nak?” tanya Askara.
“Gak apa-apa, tadi kepleset di kelas, terus tagannya buat menyangga, Yah,” jawab Afifah.
“Oh, begitu? Bukan karena Vero?” tanya Askara. “Jangan bohong sama ayah, ayah gak akan marah kalau kamu bicara jujur, Fah,” lanjutnya.
“Iya Afifah udah jujur kok?” jawab Afifah menunduk.
“Afifah, ayah tahu kamu bohong. Kamu itu gak bisa bohong dari ayah, kalau kamu jujur kamu pasti bicara dengan menatap mata ayah, gak nunduk gini,” ucap Askara. “Ayo bicara pelan-pelan, kenapa tadi? Apa yang Vero lakukan sama kamu?” tanya Askara.
“Vero narik tangan Afifah. Afifah ngajak pulang yah, karena sudah malam, pulang les Vero ngajak ke cafe, lalu ke pantai. Afifah rasa sudah malam, Vero malah gak mau diajak pulang, kan ayah bilang jam delapan sudah harus di rumah?” ucap Afifah.
“Lalu kenapa kamu pulang sama Om Dimas?” tanya Askara.
“Ya karena ada Om Dimas, lagian aku gak suka Vero sudah kasar, Afifah jadinya takut mau pulang sama Vero,” jawab Afifah jujur.
Askara mengusap kasar wajahnya. Ia menyalahkan dirinya karena sudah mengizinkan Afifah keluar bersama dengan Vero. Askara hanya ingin Afifah merasakan masa remajanya seperti tamannya yang lain, karena Askara tidak mau dicap ayah yang otoriter sekali oleh anaknya, tapi ternyata malah mendapatkan hal seperti ini.
“Kita bilang saja sama Alka, cucunya kasar sekali seperti ini,” ucap Binka.
“Jangan, Ma. Biarkan saja, biar Vero ke sini, meminta maaf sama Afifah bagaimana. Kalau dia masih berani ke sini minta maaf, artinya dia bertanggung jawab, kalau tidak berarti dia pengecut!” ucap Zhafran.
“Iya benar begitu saja, Pa. Kalau kita bilang sama Alka takutnya malah urusannya jadi ke sana-sana, belum nanti Alka pasti bilang sama Daren,” ucap Askara.
“Bunda mau tanya sama Afifah, apa Afifah sudah pacaran dengan Vero?” tanya Salma.
Afifah hanya diam saja, dia bingung mau jawab apa pada bundanya. Ia sebetulnya tidak ingin bohong sama bundanya, tapi tidak mungkin juga dia bilang sudah jadian, dan karena Afifah gak mau dicium Vero menarik tangan Afifah dengan kasar sampai bengkak.
“Kok gak dijawab, Fah?” tanya Askara.
“Ya sudah Afifah istirahat gih, bunda gak butuh jawaban Afifah kok. Bersih-bersih lalu istirahat. Mulai besok, bunda mau seperti semula, kamu selalu bersama sopir saja berangkatnya, demi keamanan kamu. Mau, kan?” ucap Salma.
“Iya, Bunda,” jawab Afifah.
“Ayo bunda antar ke kamar,” ucap Salma.
Salma mengantar Afifah ke kamarnya. Ia juga ingin bicara dengan Afifah dari hati ke hati, supaya tidak terjadi kesalahpahaman dan keributan. Salma tahu anak seusia Afifah masih labil dan egois pemikirannya, jadi butuh waktu tenang dan nyaman untuk bicara serius dengan Afifah.
__ADS_1
Askara masih geram sekali dengan Vero yang tidak tanggung jawab seperti itu. Sudah membuat Afifah seperti ini, tapi malah tidak bertanggung jawab. Harusnya tetap mengantarkan Afifah pulang, atau mungkin ikut di belakang mobil Dimas untuk ke rumah Afifah.
“Ini yang benar kejadiaannya seperti apa, Dim?” tanya Zhafran.
“Ya aku sih Cuma tahunya mereka berdebat, Afifah sudah pengin pulang, tapi Vero belum mau, dan menarik tangan Afifah sampai jadinya Afifah nangis karena kesakitan,” jawab Dimas.
“Aku kan bilang sama kamu, Dim? Kenapa kamu gak ngikutin dia? Pantau dia dari dekat kan bisa?” ucap Askara.
“Ya kalau aku pantau dari dekat ya pasti ketahuan, Askara? Aku pantau dia agak jauh, karena yang ada penghalang untuk bisa aku sembunyi cukup jauh,” jelas Dimas. Padahal Dimas tahu apa yang mereka lakukan. Gak mungkin dia bilang Afifah ditarik tangannya oleh Vero karena Afifah nolak dicium Vero.
“Sudah yang penting Afifah gak apa-apa, Cuma terkilir saja sepertinya,” ucap Zhafran. “Makanya jangan asal percaya kamu, Ka. Sekarang banyak sekali anak-anak yang nekat,” tutur Zhafran.
Askara memang menyuruh Dimas untuk mengikuti mereka, karena setelah Zhafran cerita soal Daren Askara jadi khawatir dengan Afifah. Memang salah dirinya yang terlalu percaya dan mengizinkan Afifah keluar dengan Vero. Untung saat Askara merasa khawatir dan takut ada apa-apa sama Afifah, Dimas mengirimkan foto Afifah yang sedang di cafe dengan Vero, jadi Askara langsung meminta Dimas untuk mengawasi Afifah.
^^^
Salma di kamar Afifah, dari tadi Afifah memeluk Salma dan meminta maaf sama Salma, dia mengaku baru saja jadian sama Vero. Afifah memang tak bisa bohong dengan Salma, apalagi kalau Salma sudah bertanya dan terus mendesak dirinya untuk jujur, pasti Afifah langsung jujur sama Salma.
“Maafin Afifah, Bunda,” ucap Afifah.
“Gini dong jujur sama bunda, bunda ini gak mau kamu menutup-nutupi apa pun yang terjadi sama kamu, Fah,” ucap Salma. “Terus benar Vero gak mau pas kamu ajak pulang? Terus sampai tangan kamu gini?” tanya Salma.
“Bunda, tapi bunda janji dulu jangan bilang ayah, Afifah takut dimarahin ayah, terus takut ayah bilang sama Opanya Vero, sama papanya Vero juga. Afifah malu, Bunda,” ucap Afifah.
“Memang kenapa harus malu, Afifah?” tanya Salma.
“Ayo cerita sama bunda, bunda janji bunda gak akan bilang sama ayah atau siapa pun,” ucap Salma.
“Janji ya bunda, jangan bilang sama siapa-siapa?” pinta Afifah.
“Iya, Sayang. Cerita sama bunda, apa pun keluh kesah Afifah bunda akan dengarkan,” ucap Salma.
“Tadi kenapa Vero sampai narik tangan Afifah, karena Vero mau cium Afifah, dan Afifah gak mau, Bunda. Afifah mau pacaran, tapi kalau begitu Afifah gak mau,” ucap Afifah dengan mata berkaca-kaca. “Maafin Afifah bunda, Afifah hanya gak mau dicium laki-laki lagi, karena Afifah ingat ucapan Om Dimas. Afifah memang pernah ciuman, dan itu sama mantan suami bunda, sama Om Dimas. Maaf, Afifah suka sama Om Dimas, Bunda. Gak tahu kenapa Afifah suka sama Om Dimas, dengan Vero pun Afifah suka, tapi Afifah gak mau dicium Vero,” ucap Afifah dalam hati.
“Jadi Vero marah gitu?” tanya Salma.
“Iya, marah sama Afifah, terus Afifah minta pulang, Afifah langsung bangun dari tempat duduk, tapi Vero narik tangan Afifah dengan keras, Afifah gak ngada-ngada bunda, ada saksinya kok, Om Dimas lihat itu, tapi memang Afifah melarang Om Dimas ngomong yang sebenarnya, Afifah takut nanti malah ayah marah,” jelas Afifah.
“Ini sih udah keterlaluan, Fifah? Harusnya ayah tahu, tapi kalau kamu belum siap bilang sama ayah, ya nanti saja gak apa-apa,” ucap Salma. “Perlahan, nanti bicara baik-baik sama ayah, ya? Untuk sementara Afifah jauh dulu sama Vero ya? Sudah jangan pacaran dulu, kamu katanya pengin sekolah di SMA favorit?”
“Tapi kan ada Kak Vero, Bunda? Gak jadi di situ, ah. Masih banyak kan sekolah yang bagus? Afifah gak mau di sana, Afifah takut kalau Kak Vero deketin Afifah lagi,” ucap Afifah.
“Ya sudah, sekarang kamu gak usah pengin punya pacar dulu. Memang kadang anak seusia kamu, merasa insecure kalau belum punya pacar, sedangkan teman-teman kamu kebanyakan sudah punya pacar. Wajar ada rasa seperti itu, bunda pun pernah mengalaminya,” ucap Salma.
“Bunda bukannya dari SMP pacaran sama Om Dimas? Katanya bunda gak pernah punya teman dekat entah itu cewek atau cowok? Dari SMP temannya sama Om Dimas saja?” tanya Afifah.
__ADS_1
“Ya iya, sih. Tapi ya tetap saja bunda kadang iri temannya sudah punya pacar bunda belum?”
“Belum di mananya bunda? Bunda SMP lho pacaran? Terus teman, bunda gak punya? Mau insecure sama siapa coba? Sedangkan Afifah kan baru pindah sekolah saja sudah punya banyak teman?” ucap Afifah. “Dan semua temannya sudah pada punya pacar? Cuma Afifah saja,” imbuhnya.
“Kok jadi bahas bunda sama Om Dimas sih kamu?” tanya Salma.
“Ya pengin tahu saja, kan sepertinya pacarannya bunda sama Om Dimas itu lama, pasti banyak ceritanya? Terus kok sampai bunda cerai sama Om Dimas?”
“Sudah jangan tanya itu, ya? Karena sudah gak cocok saja, itu jawabannya,” jawab Salma.
“Kenapa gak balikan lagi? Kenapa Bunda milih balik ke ayah, kan padahal bunda udah mau menikah sama Om Dimas waktu itu?” tanya Afifah.
“Jawabannya karena kamu,” jawab Salma.
“Kok aku?” tanya Afifah bingung.
“Iya, karena kamu. Karena sejak kamu kecil, kamu yang bikin bunda jatuh cinta lagi. Kamu anak yang manis, anak yang lucu, anak yang menggemaskan, siapa yang gak jatuh cinta sama kamu, Nak? Bunda itu terlalu sayang sama kamu, bunda memang pernah egois sama kamu, bunda gak mau ketemu lagi sama kamu, bunda menghindari kamu, tapi bunda gak bisa ternyata, bunda selalu kangen kamu, bunda selalu pengin peluk kamu, itu kenapa saat dulu kamu membentak bunda, sakit sekali hati bunda. Lebih sakit dari melihat ayahmu menikahi ibumu lagi,” ucap Salma dengan mata berkaca-kaca,
“Ih ... bunda jangan nangis?” Afifah mengusap pipi Salma dengan sayang.
“Ya memang seperti itu kalau bunda ingat itu pengin nangis. Kamu itu gadis kecil yang melupakan semua masa lalu bunda yang menyakitkan dengan Om Dimas, kamu yang selalu menghibur bunda, menikah dengan ayahmu juga karena bunda gak mau kehilangan kamu, jadi rasanya saat kemarin kamu lebih berpihak dengan ibumu, separuh hidup bunda hilang lagi,” ucap Salma.
“Maafin Afifah bunda, Afifah sering buat bunda nangis,” ucap Afifah dengan memeluk Salma.
“Sudah ya gak usah tanya-tanya lagi soal kenapa bunda lebih memilih kembali lagi sama ayah, daripada Om Dimas, karena jawabannya ya kamu,” ucap Salma.
“Ih berarti bukan karena bunda cinta sama ayah?” tanya Afifah.
“Sekarang bunda tanya sama kamu, kamu lebih milih bunda cinta banget sama ayah, atau bunda sayang dan cinta sekali sama kamu? Banyak di luar sana ibu tiri hanya cinta pada anaknya, kamu mau pilih mana coba?” Salma balik melontarkan pertanyaan pada Afifah.
“Iya sih, kalau cinta sama ayah saja, gak cinta dan gak sayang sama anaknya percuma ya, Bunda?” ucap Afifah.
“Nah kan itu tahu? Bunda ya sayang ayah, cinta sama ayah, tapi ayah kan punya kamu juga, jadi bunda bagi-bagi cinta bunda sesuai porsinya, Sayang?” ucap Salma.
“Bunda memang bunda yang paling baik di dunia ini,” ucap Afifah bangga.
“Sudah tidur, besok sekolah. Sini bunda peluk kamu, tapi susah sih perut bunda udah gede,” ucap Salma.
“Gak apa-apa gak usah peluk asal bunda di sini saja menemani Afifah sampai tertidur,” ucap Afifah.
Salma menemani Afifah tidur lebih dulu. Ternyata apa yang dikhawatirkan ayahnya Afifah dan opanya dari tadi kejadian. Mereka takut Afifah mendapatkan perlakuan tidak baik dari Vero, apalagi mendengar cerita tentang bagaimana orang tua Vero, dan apa pekerjaannya.
^^^
Dimas masih di depan, Dimas ingin sekali menceritakan sebenarnya sama Askara dan Zhafran soal Afifah dan Vero tadi, tapi mengingat dirinya juga mencintai Afifah, dan berharap Afifah, dia malah jadi gak enak hati. Apalagi dia sudah pernah ciuman dengan Afifah, meskipun itu bukan kemauannya, karena Afifah dulu yang mulai, dan dia hanya menuruti nalurinya sebagai lelaki normal, meskipun dia masih belum bisa normal saat itu karena dia sakit impoten
__ADS_1
“Bagaimana bisa aku jelasin kalau Afifah begitu karena gak mau dicium Vero? Sedangkan aku pernah cium dia sampai begitu? Ya meskipun bukan aku yang mulai lebih dulu, Afifah yang mulai, aku kan tujuannya mau menolong dia yang jatuh di kolam? Gak lebih dari itu, tapi dia yang berlebihan, sampai cium-cium aku? Ibarat kata kucing di kasih ikan, ya ayookk ...!” batin Dimas.
Biar saja, Dimas diam saja, nanti juga paling Afifah lama-lama cerita sama ayahnya? Gak mungkin juga Afifah mau diam terus sepert itu, apalagi dapat perlakuan kasar. Yang penting sekarang, Dimas akan selalu pantau Afifah di mana pun Afifah berada, Dimas akan menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Afifah, supaya dia aman, tidak diganggu Vero lagi.