Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Kedatangan Vero


__ADS_3

Dimas keluar dari kamarnya, ia langsung menyusul ke meja makan. Masih ada Afifah dan eyangnya yang masih belum selesai sarapan. Dia langsung bergabung dengan Afifah dan Bu Mila.


“Pagi semua ...,” sapa Dimas.


“Pagi, Dim ... buruan sarapan,” jawab Bu Mila.


“Siang, Om,” jawab Afifah.


“Ini masih pagi, Afifah!” tukas Dimas.


“Jam delapan ya udah hampir siang, Om!” cetus Afifah.


“Kalau jam sepuluh itu menjelang siang!” sanggah Dimas.


“Sudah ... kalian malah sibuk debat soal waktu? Lagian kamu memang kesiangan kan, Dim? Kalau ibu gak bangunin kamu ya mungkin kamu sampai siang?” lerai Bu Mila. “Sudah sarapan dulu,” titah Bu Mila.


“Ini tumben keponakanku sudah cantik dan rapi?” tanya Dimas.


“Itu mau diapelin sama cowoknya,” ledek Bu Mila.


“Ih eyang ... apaan sih? Bukan cowoknya, teman kok,” cebik Afifah.’


“Oh ya ... wah sudah punya pacar, ya? Aku bilang ah sama ayah dan bundanya,” canda Dimas.


“Apaan sih, orang bunda sama ayah sudah tahu, sebelum eyang tahu kok?” ucap Afifah. “Sudah tuh sarapan dulu!” cebik Afifah.


Dimas mengangguk, menuruti Bu Mila dan Afifah untuk sarapan. Dia duduk di depan Afifah, sesekali ia melihat wajah Afifah, dengan curi-curi pandanga seperti cowok ABG yang sedang jatuh cinta, beraninya hanya curi pandang.


Dimas menikmati sarapannya, sambil mendengarkan eyangnya Afifah yang sudah selesai sarapan bicara sama Afifah, dan menasihati Afifah kalau sudah punya pacar nantinya. Afifah hanya mengiya-iyakan saja. Lagian dengan Vero dia hanya berteman saja, belum ada hubungan spesial apa pun, tapi tidak tahu ke depannya nanti.


“Tuh dengar nasihat eyang!” timbrung Dimas.


“Ish ... main nimbrung saja nih! Udah deh om makan saja, habiskan dulu sarapannya! Lagi makan jangan banyak bicara!” omel Afifah.


“Oh iya Bu Fifah, maaf ya?” ucap Dimas.


Dimas menghabiskan sarapannya, sambil mendengarkan cucu dan eyang sedang berbincang. Dimas agak kesal kenapa Bu Mila malah seperti mendukung Afifah dekat dengan Vero, padahal baru kenal kemarin, dan Cuma kenalan sebentar saja.


“Oh iya, Dim. Nanti kamu temani Afifah dulu, ya? Kamu kan berangkat ke kantor agak siangan. Jadi biar Afifah gak sendirian di rumah. Ibu hari ini kan harus gaji karyawan juga, jadi mungkin ibu pulang sebelum dhuhur,” ucap Bu Mila.


“Oh siap, Bu!” jawab Dimas semangat. “Dimas gak ke kantor hari ini, biar nanti orang kantor aku suruh bawa berkas penting ke rumah saja, mau pantau ponakan yang kedatangan teman cowok, takutnya macam-macam. Tar ada apa-apa Salma yang ngomel ke Dimas?” sambungnya.

__ADS_1


“Ih apaan sih, Om? Ya gak macam-macam lah!” tukas Afifah. “Justru om yang macam-macam!” umpatnya dalam hati.


“Ya kan barangkali? Barangkali kan belum tentu kejadian, Afifah? Sudah jangan ngambek. Om meman pengin di rumah, om habis begadang semalam nonton bola, jadi masih ngantuk. Biar deh nanti siangan atau sorean orang kantor om suruh ke rumah kali saja ada berkas penting yang harus om tanda tangani,” ucap Dimas.


“Enak sekali jadi bos, ya? Main nyuruh-nyuruh!” cebik Afifah.


“Ya begitulah, daripada om di kantor tapi om ngantuk?” ucap Dimas.


“Terserah om, deh!”


Bu Mila tetap menunggu Vero sampai rumahnya. Bagaimanapun Bu Mila harus tahu teman Afifah yang namanya Vero seperti apa rupanya. Bu Mila mungkin agak siangan ke toko, biar bisa mengobrol dengan Vero dulu, ia tidak mau melepas Afifah begitu saja. Kecuali teman perempuan yang datang. Ditinggal langsung ke toko pun tidak masalah.


^^^


Afifah masih menunggu Vero di teras rumahnya dengan gelisah. Ya tentu saja gelisah, karena baru pertama kalianya ada teman laki-laki yang mau main ke rumahnya  bukan untuk mengerjakan tugas kelompok sekolah. Melainkan teman yang baru kenalan kemarin dan dikenalkan oleh opanya. Afifah merasakan gugup dan tidak tahu lagi pokoknya rasanya campur aduk seperti orang yang akan bertemu dengan pacarnya.


“Kenapa mondar-mandir aje, Neng?” tanya Dimas dengan terkekeh melihat Afifah seperti orang yang kebingungan.


“Ish ... ganggu aja nih orang! Bisa gak sih om gak usah ngagetin, gak usah ngikutin aku?” cebik Afifah.


“Ya gak bisa dong? Kamu kan pacarku? Aku akan pantau kamu, meski kamu berlari sampai ujung dunia pun aku tetap akan memantau kamu!” tegas Dimas.


“Pacar, pacar! Kita sudah putus!” geram Afifah. “Sudah sana masuk!” perintah Afifah.


Dimas menghampiri mobil tersebut, lalu menerima beberapa map dari seorang laki-laki yang kata Dimas itu dari kantornya. Setelah menerimanya, orang suruhan Dimas langsung pamit untuk ke kantor lagi. Baru saja melangkahkan kakinya, ada mobil yang masuk ke dalam halaman rumah lagi.  Dimas hanya melihat mobil itu melewatinya, ia berjalan sambil memandangi mobil yang sudah berhenti di depan teras rumah.


Seorang sopir terlihat membukakan pintu mobil belakang, dan keluarlah seorang cowok dengan pakaian rapi, gayanya cool, tubuhnya tinggi dan tegap, berkulit putih, tampan. Dimas yakin itu adalah Vero, cowok yang dikenalkan opanya Afifah kemarin.


“Hai ....” Afifah langsung menyapanya, dan menjabat tangan Vero.


“Hai, Fah. Jauh juga ya ternyata?” ucap Vero.


“Iya jauh dong,” jawab Afifah. “Bagaimana perjalanan ke sini?” tanya Afifah.


“Menyenangkan pastinya, apalagi mau ketemu kamu? Meskipun jaraknya jauh, gak masalah,” jawab Vero.


Dimas yang mendengar jawaban Vero dia hanya bisa tertawa dalam hati. Biasa anak ABG labil kalau masih dalam fase pendekatan ya akan bicara seperti itu. Ibarat kata gunung yang tinggi pun akan ia daki, dan lautan yang luas pun akan ia sebrangi.


“Dasar Ababil! ABG labil!” geram Dimas dalam hati.


“Ini teman kamu, Afifah? Diajak masuk dong, masa di luar saja dari tadi?” ucap Dimas.

__ADS_1


“I—iya, Om,” jawab Afifah.


“Saya om-nya Afifah. Afifah sudah cerita sama om, katanya teman cowoknya mau datang ke sini. Ayo masuk, itu sudah ditunggu eyangnya Afifah juga,” ajak Dimas.


Dimas berusaha biasa saja. Menurutnya Vero bukan saingan ketatnya, apalagi masih bocah tampangnya, ke sini saja diantar supir? Dimas kira akan naik sepeda motor sendiri untuk menemui Afifah. “Lagaknya seperti anak mami nih bocah? Ah ini mah bukan apa-apanya aku!” ucap Dimas dalam hati.


Afifah mengajak Vero ke dalam, mempersilakan Vero duduk di ruang tamu. Bu Mila juga menemuinya, disuruhnya asisten oleh Bu Mila untuk membuatkan minum dan mengambilkan kue-kue buatannya. Mereka mengobrol, Bu Mila pun dari tadi tidak diam, beliau tanya-tanya soal Vero, sekolahnya di mana, tinggalnya di mana, pokoknya Bu Mila mengajak bicara dengan Vero, dan Vero pun sepertinya tidak masalah Bu Mila bertanya-tanya.


Berbeda dengan Dimas, dia hanya diam, dan sesekali melihat Vero dengan penuh arti, karena dia sambil menilai bagaimana Vero. Menurut Dimas dia baik, sopan, pintar, tapi tetap saja dirinya merasa tersaingi. Posisi Vero juga kuat, karena selain oma dan opanya Afifah, ayah dan bundanya juga sudah tahu kalau Vero mau main ke rumah Bu Mila menemui Afifah.


Tidak Dimas sangka, tumben-tumbennya Askara dan Salma mengizinkan teman cowok main sendirian menemui Afifah, padahal dirinya sedang tidak di rumah. Baru saja Askara mengirimkan pesan pada Dimas, untuk memantau Afifah dengan Vero, karena katanya Vero ingin mengajak Afifah jalan-jalan, juga nonton.


“Eyang, kalau Vero ajak Afifah jalan-jalan, terus nonton boleh?” tanya Vero. “Tadi Vero sudah pamit sama Opa Ardha juga, dan ayahnya Afifah, katanya suruh pamit sama eyang?” lanjutnya.


“Kalau begitu ya kamu tanya Afifah saja, dia mau atau enggak,” jawab Bu Mila.


“Bagaimana, Fah?” tanya Vero.


“Kalau ayah, opa, dan eyang boleh ya aku mau,” jawab Afifah.


“Tapi diantar Om Dimas, ya?” ucap Bu Mila.


“Kok Om Dimas, Eyang?” tanya Afifah setengah protes.


“Ya harus sama Om Dimas,” tegas Bu Mila.


Bu Mila sengaja, biar Dimas bisa memantau Afifah, kalau dengan sopirnya takutnya Vero macam-macam. Tidak mungkin sopirnya menolak apa yang Vero perintahkan, jadi untuk antisipasi hal yang tidak memungkinkan Bu Mila meminta Dimas yang mengantarkan mereka mau jalan-jalan ke mana.


“Kan Vero bawa Sopir, Eyang?” ucap Vero.


“Biar sopir kamu istirahat, kan baru perjalanan jauh, sama Om Dimas saja,” ucap Bu Mila. “Kamu gak keberatan kan, Dim?” tanya Bu Mila pada Dimas.


“Tentu saja tidak? Dengan senang hati aku akan antar mau ke mana mereka jalan,” jawab Dimas dengan senang.


“Oke, ya sudah kamu siap-siap Afifah, eyang pamit ke toko, ya?” ucap Bu Mila.


“Dim, titip Afifah sama Vero,” ucap Bu Mila lalu pamit untuk ke toko.


“Siap, Bu!” jawabnya dengan semangat.


Akhirnya Dimas bisa memantau dua anak remaja ini jalan-jalan. Biar pun kesal, Dimas tetap slow. Dia tidak mau terlihat cemburu di depan Vero. Dia ingin terlihat biasa saja, agar terlihat seperti om dan keponakan, padahal rasanya ingin sekali menyingkirkan Vero, supaya tidak mengajak Afifah jalan.

__ADS_1


“Oke, sampai di mana perjuangan kamu untuk dekat dengan Afifah, Vero? Langkahi dulu mayatku, kalau kamu inin Afifah! Gak semudah itu kamu akan mendapatkan Afifah, meskipun kamu sudah mengantongi restu dari keluarga besar Afifah. Kalian masih remaja, para bocil yang baru kemarin, yang baru bisa merasakan indahnya jatuh cinta. Gak semudah itu aku memberikan celah padamu, Vero!” ucap Dimas dalam hati.


Afifah malah gelisah sekali, karena Dimas yang menganatarkan jalan-jalan dengan Vero. Afifah takutnya Dimas marah-marah pada Vero, apalagi Dimas masih belum mau putus. “Aduh ... kenapa eyang nyuruh Om Dimas, sih? Nanti kalau Om Dimas marah-marah sama Vero gimana? Orang Vero belum datang saja Om Dimas sudah menampakkan wajah yang terlihat marah dan tidak suka?” ucap Afifah sedikit panik.


__ADS_2