
Dimas yakin pasti Renata mengajak Vero ke apartemennya. Dimas memang tidak mau menerima apartemen yang sudah ia kasih ke Renata. Biar saja, Dimas tidak butuh itu, Dimas butuh perempuan yang setia dan mengerti dirnya, dan bisa menerima kalau dirinya sedang sakit, ternyata Renata sama saja seperti yang lainnya.
“Kali ini akan terbuka kartumu, Vero! Dan hari ini, aku pastikan kamu tidak bisa memiliki Afifah! Aku rela Afifah punya hubungan dengan cowok, asal dia baik, gak kayak kamu, kecil-kecil sudah jadi penjahat wanita!” umpat Dimas dalam hati. “Aku akan terus pantau Afifah, bahkan dia punya cowok lagi setelah Vero, aku akan pantau dia, kalau Afifah tidak bisa denganku, aku rela asal dia dengan laki-laki yang baik!”
Benar dugaan Dimas, Vero dan Renata sedang menuju ke apartemen Renata. Saatnya Afifah harus tahu kalau Vero bukan cowok baik-baik. Dimas berjalan beriringan dengan Afifah menuju ke unit Renata dengan mengendap-endap takut ketahuan Vero dan Renata yang juga sedang menuju ke unitnya. Dimas yakin Renata pasti belum mengganti kode pintunya.
“Hati-hati, jangan sampai mereka tahu kita mengikutinya,” bisik Dimas.
“Udah ah ayok pulang saja! Gak guna ngikutin mereka, Om!” bisik Afifah.
“Biar kamu tahu kalau Vero bukan cowok yang baik!” ucap Dimas.
“Ish ... memang dia bukan cowok baik om, kalau baik ya pasti dia gak akan nyakitin aku sampai tanganku gini?” ujar Afifah.
“Udah sadar rupanya nih bocah?”
Afifah mendengkus kesal. Dia terus mengikuti intruksi Dimas untuk hati-hati supaya tidak ketahuan oleh Vero dan Renata. Mereka masuk ke dalam, Dimas mulai mendekati pintu unit apartemen Renata. Dimas diam sejenak di sisi pintu, ia tidak langsung menggrebek mereka, biar mereka beraksi dulu bagaimana di dalam. Kalau dia langsung menggrebek mereka, pasti mereka belum melakukan apa-apa, sayang kalau sudah masuk ke dalam tapi mereka sedang tidak melakukan apa-apa.
“Kenapa gak masuk?” tanya Afifah.
“Ya nanti biar mereka ngapa-ngapain dulu, kalau belum ngapa-ngapain percuma kita masuk!” jawab Dimas.
“Oh gitu?”
“Iya adek cantik ...,” ucap Dimas gemas.
“Berisik ah!” tukas Afifah.
Afifah berdiri di samping Dimas, ia berpikir soal Vero. Tidak menyangka Vero yang terlihat sangat kalem, dia pintar, sang juara kelas, juara olimpiade matematika dan fisika, tapi kelakuannya seperti itu, sama tante-tante pun mau. Afifah benar-benar tidak menyangka Vero seperti itu.
Sudah hampir sepuluh menit mereka di depan unit Renata, akhirnya Dimas mulai beraksi, dia menekan kode pintu, dan benar ternyata belum diganti oleh Renata. Dimas dengan leluasa bisa masuk ke dalam unit Renata. Ia mengendap dan mengajak Afifah di belakangnya. Terdengar suara rintihan dua manusia yang sedang melakukan adegan panas. Afifah yang mendengarnya langsung merinding, ia sesekali mengusap tengkuknya yang merasakan bulu romanya berdiri seketika.
“Tuh lihat,” bisik Dimas dengan menunjukkan Afifah ke arah sofa.
Mata Afifah membeliak melihat adegan orang bercinta di depan matanya. Afifah melihat dengan mata kepalanya sendiri Vero sedang menggagahi tubuh Renata yang sudah telanjang bulat. Vero terlihat bernafsu sekali saat menggapit tubuh Renata di bawahnya. Hentakan demi hentakan terdengar oleh Afifah, dan rasanya Afifah mau muntah melihat adegan di depannya.
Suara Renata yang manja saat Vero menghentakkan tubuhnya di atas tubuh Renata terdengar ngeri di telinga Afifah. Ia menutup telinga dan matanya, rasanya hatinya tercabik-cabik sekali melihat cowok yang ia taksir kemarin ternyata bukan cowok baik-baik.
Dimas merekam aksi mereka yang sedang bercinta, mereka belum sadar Dimas dan Afifah sudah masuk ke dalam unitnya.
“Hebat ... hebat!” Dimas bertepuk tangan setelah merekam mereka, dan setelah Vero mengerang penuh kenikmatan karena sudah mencapai puncak, begitu pun dengan Renata yang juga sedang keenakan.
Dua orang yang sedang dimabuk kepayang sontak menoleh dan langsung mencari apa pun yang bisa untuk menutup tubuhnya.
“Keren kalian! Kamu masih SMA sudah bisa menggagahi tubuh tante-tante ya, Ver? Untung keponakanku tidak terpancing rayuan iblismu!” geram Dimas.
“Ka—kalian bisa di sini?” Renata tergagap dengan napas terengah bertanya pada Dimas.
“Makanya ganti kode pintunya. Bilangnya mau mengosongkan aparteman yang aku belikan ini, eh ternyata buat mesum dengan anak SMA,” jawab Dimas santai.
Dimas mengambil baju mereka yang berserakan lalu melemparkan ke arah mereka. “Pakai bajunya!”
Renata dan Vero langsung memakai bajunya, mereka malu bukan kepalang, terlebih Renata yang kemarin sempat pamer dengan Dimas kalau dia akan diperistri pengusaha kaya raya asal Kore dan lebih kaya dari Dimas. Ternyata malah ketangkap basah bercinta dengan anak SMA, dan itu pacara Afifah, keponakannya Dimas.
“Ini pengusaha kaya raya asal Korea yang mau menikahimu, Re?” sindir Dimas.
Dimas tersenyum pongah, melihat wajah Renata yang merah karena malu. Apalagi dia sudah pamer-pamer dengan Dimas yang katanya mau dinikahi pengusaha kaya raya.
__ADS_1
“Lebih tepatnya sih dia pengusaha air kenikmatan, Re?” Dimas terkekeh melihat mereka yang gusar dan malu.
Dimas meraih tubuh Afifah yang semakin lemas dan hampir terjatuh. Afifah masih memejamkan matanya dan menutup telinganya. Wajahnya seperti orang yang ketakutan. “Sudah tenang, Fah,” ucap Dimas dengan mengusap lengan Afifah.
Afifah perlahan membuka matanya, ia menatap Vero dengan tatapan penuh dengan kebencian. Rasanya jijik sekali melihat perbuatan Vero yang seperti binatang.
“Gak nyangka seorang Vero seperti ini perbuatannya. Juara kelas, juara olimpiade, kapten basket, ketua osis, tapi mesum!” murka Afifah.
“Fah, a—aku bisa jelaskan!” sergah Vero.
“Mau dijelaskan bagian mananya, Kak Vero? Coba jelaskan, atau mungkin bisa ulang dari depan adegannya?” tantang Afifah.
“Afifah, tolong jangan sebarkan apa pun tentangku soal ini, Fah. Aku mohon!” pinta Vero dengan penuh sesal.
“Oh begitu? Lagian gak ada gunanya sebar-sebar kelakuan bejat kamu! Gak ada untungnya! Aku Cuma mau kita putus, jangan temui aku lagi, jangan pernah lagi muncul di depanku, atau kontak kamu muncul di hapeku! Jijik berteman atau menjalin hubungan sama orang munafik seperti kamu!” berang Afifah.
“Kamu mau minta apa dariku, aku turuti, asal jangan sebarkan semua ini, Fah. Aku mohon, reputasiku di sekolahan bisa-bisa terancam, tolong jangan bilang sama opa, Fah. Aku mohon!” Tubuh Vero bergetar, ia menunduk dan memohon pada Afifah. “Om Dimas, tolong Video itu jangan disebar luaskan,” pinta Vero.
“Bagaimana, Om? Kita sebarkan ke Opa Alka, atau di sekolahannya Vero?” tanya Afifah.
“Gak usah, om gak mau cari gara-gara saja. Biar saja buat kenang-kenangan om video ini, karena ada tubuh mantan pacar om yang seksi. Ya kali saja om butuh tontonan panas,” jawab Dimas.
“Sepanas apa pun tontonannya, bukannya kamu gak bisa on, Dimas? Kamu kalah sama anak SMA! Dasar orang sakit!” sindir Renata geram.
“Eits, sakit? Aku sudah sembuh, buktinya ini sudah bisa on, mau lihat? Apa mau adu besar, panjang, dan berotot sama anak SMA itu? Atau mungkin mau adu tahan lama? Ayok kalau mau, mau coba threesome? Ayo aku siap! Tapi, ada anak kecil di sebelahku, dia belum cukup umur, aku pulangkan dulu dia, lalu kita threesome mau? Kamu buktikan lebih tahan lama mana, lebih besar, panjang, dan berotot mana?” tantang Dimas.
“Gila! Kamu gila, Dimas!” teriak Renata.
“Kamu yang gila kali?” ucap Dimas santai.
“Gak terima di putusin kamu? Idih memang perempuan cantik kamu saja? Perempuan gatel seperti kamu banyak!” jawab Dimas.
“Ayo, Fah pulang! Atau kamu mau maki-maki cowokmu dulu?” ajak Dimas.
“Ih bukan cowokku lagi, kita sudah putus!” jawab Afifah.
“Bagus kalau sudah putus!”
Vero sebetulnya belum ingin putus dengan Afifah, ternyata hari ini malah ia kedapatan sedang bercinta dengan Renata. Malu sekali Vero karena Afifah melihatnya, apalagi ditambah semalam dia baru menyakiti Afifah, sampai tangan Afifah bengkak.
“Afifah aku mohong jangan bilang opa,” pinta Vero.
“Oke, aku akan tutup mulut, asal kita putus, gak ada hubungan lagi, gak ada kamu menemui aku lagi!” tekas Afifah.
“Oke kalau itu maumu, Fah.”
“Deal kita putus?”
“Iya, Fah,” jawab Vero menyesal.
“Ayo om pulang, biar mereka melanjutkan lagi, atau om mau gabung?” tanya Afifah.
“Gak ah, takut kena penyakit!” jawab Dimas.
Afifah berjalan gontai keluar dari unit Renata. Ia masih tidak menyangka Vero berbuat kotor seperti itu. Sesekali Afifah menyeka air maatanya, sakit sekali dadanya mengingat semua yang sudah ia lalu bersama Vero meskipun hanya dengan sebuah chat dan telefon. Vero yang kelihatannya sangat baik, sangat lembut, penyayang, tapi ternyata dia kasar dan menjijikan sekali.
Afifah berhenti sejenak, dia menunduk, lalu menjatuhkan tubuhnya di lantai. Ia tidak kuat lagi untuk berjalan, kakinya lemas.
__ADS_1
“Afifah, kamu kenapa?” tanya Dimas.
“Afifah capek, Om. Lemas sekali kakinya,” jawabnya dengan terisak.
“Kamu nangis?” tanya Dimas.
“Enggak, lagi makan, Om!” jawabnya kesal.
“Makan ati ya, Fah?” cetus Dimas dengan terkekeh.
“Aku gak lagi bercanda, Om! Aku capek!” Afifah semakin terisak. Dimas meraih tubuh Afifah lalu memeluknya.
“Ayo om gendong, naik ke punggung om,” titah Dimas.
Afifah menurutinya, karena memang kakinya lemas sekali, dia tidak bisa berjalan, karena masih terngiang adegan Vero dan Renata yang membuat hatinya sakit.
“Fah?” panggil Dimas yang merasakan Afifah masih terisak dan air matanya menetes di tengkuk Dimas.
“Hmm ... ada apa?” tanya Afifah.
“Om sayang sama kamu, om cinta sama kamu, Fah,” ungkap Dimas.
“Gak usah ngomongin cinta, Om!” tukas Afifah.
“Om serius, Fah. Om jatuh cinta sama Afifah sejak malam itu,” ucap Dimas.
“Udah Afifah gak mau dengar,” ucapnya.
“Kamu harus dengar ini, Fah. Om sayang sama Afifah, om siap menunggu kamu Fah. Kalau kamu juga siap menunggu om, terima kasih sekali,” ucap Dimas.
“Ish ... berisik sekali om ini, aku lapar!” tukasnya.
“Fah, om lusa mau ke London, mungkin lima tahun lagi om baru balik. Udah gak ada om yang jahilin kamu lagi mulai lusa. Om hanya pesan sama kamu, jaga diri baik-baik, kalau punya cowok pilih-pilih dulu dan hati-hati. Tapi, kalau Afifah memang masih mau jadi pacar om, tunggu om kembali, lima tahun lagi,” tutur Dimas.
“Om serius mau pergi?” tanya Afifah.
“Ya serius dong, Sayang?” jawab Dimas.
“Mau apa ke london?” tanya Afifah.
“Ada pekerjaan di sana, kurang lebihnya lima sampai enam tahun,” jawab Dimas.
“Kok lama?”
“Ya memang kontraknya segitu lamanya,” jawab Dimas.
Afifah tidak menyangka Dimas malah akan pergi meninggalkannya selama itu. Padahal ia baru saja merasakan kalau dirinya selalu dilindungi Dimas, dan baru merasakan Dimas yang begitu menyayangi dan mencintainya.
“Besok datang ya ke rumah om, ikut ayah sama bunda, sama eyang juga. Om mau ngadain pesta lah, buat perpisahan om yang mau di London lama, ya meskipun om bisa pulang, tapi kan lama pulangnya?” ucap Dimas.
“Iya, nanti aku ikut,” jawab Afifah.
“Kamu masih lapar?” tanya Dimas.
“Masih, pengin steak om,” jawab Afifah.
“Oke, kita makan, lalu beli buku yang kamu pengin tadi."
__ADS_1