
Semakin hari kondisi Azzura semakin memburuk. Sejak kejadian itu, saat Askara terang-terangan bicara di depan dirinya, kalau Askara bertahan dengan dirinya hanya karena rasa kasihan, Azzura sudah tidak mau berharap lebih lagi pada Askara. Dia hanya pasrah, menunggu kapan hidupnya akan berakhir. Sakit yang diderita Azzura semakin parah, tapi Azzura hanya diam saja, apalagi sekarang Askara semakin cuek, dan sibuk dengan pekerjaannya. Azzura sudah tidak mau membuang waktunya untuk berdebat dengan Askara. Dia memilih diam ketika Askara pulang begitu larut. Azzura tidak mau banyak bicara lagi sejak kejadian itu. Diajak Askara bicara dia menjawab, kalau tidak diajak bicara dia hanya diam saja.
“Bi, bapak belum pulang, ya?” tanya Zura pada bibi yang masih belum tidur, padahal sudah pukul sebelas malam.
“Belum, Bu. Ada yang bisa bibi bantu?” tanya bibi.
“Enggak, Bi. Tanya saja,” jawab Zura. “Afifah sudah tidur kan, Bi?”
“Sudah, Bu, dari tadi malam Non Fifah tidur,” jawabnya.
“Ya sudah aku ke kamar, Bi,” pamit Zura.
Namun, belum sampai di depan pintu kamar, Azzura jatuh, dia pingsan di depan pintu kamar.
“Ya Allah, ibu!” Bibi langsung berlari ke arah Azzura. Menepuk-nepuk pipinya, tapi Azzura sudah tidak sadarkan diri.
“Non! Non Fifah! Tolong, Non! Ibu pingsan!” Bibi teriak tapi tidak ada sahutan dari Afifah.
Bibi ke kamar Afifah, dan membangunkan Afifah. Afifah yang mendengar ibunya pingsan, dia langsung bangun, dan menelefon ambulance. Hari ini perawat jaga sedang libur, dan ayahnya belum juga pulang, karena memang masih ada pekerjaan.
Afifah menghubungi ayahnya, tapi tidak ada jawaban, dan akhirnya Afifah meninggalkan pesan pada ayahnya.
^^^
Keadaan Azzura semakin parah, dia berada di ruang ICU, dan keadaannya masih kritis, belum sadarkan diri. Askara baru saja sampai, dan langsung menemui dokter yang menangani istrinya itu.
“Bagaimana, Dok?”
“Keadaan Bu Zura sudah semakin parah, sel kankernya sudah menyebar. Bu Zura pasien yang sangat kuat, dengan keadaan yang separah itu, tapi masih bisa bertahan jauh dari vonis dokter, tapi kali ini, saya sudah tidak bisa lagi memastikan, jika sampai besok keadaan Bu Zura masih sama, saya mohon maaf sebesar-sebesarnya, karena tim kami sudah sebaik mungkin menangani Bu Zura,” jelas Dokter.
Askara hanya diam. Iya, Zura memang kuat, dia mampu melawan sakitnya hingga melebihi batas yang divonis oleh dokter. Dua bulan yang lalu, setelah pertengkaran itu, keadaan Zura makin memburuk, Zura sering mengeluh dadanya sakit, dan kesulitan untuk bernapas. Sampai saat tadi pagi sebelum Askara ke kantor juga Zura mengeluh merasakan sakit di dadanya, tapi Askara tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, karena hari ini benar-benar banyak sekali pekerjaan dan harus menemui beberapa relasi bisnis.
Setelah bicara cukup lama dengan dokter, Askara pergi ke ruangan Azzura. Dia duduk di sebelahnya, dan menggenggam tangan Zura. “Maafkan aku, Ra,” ucap Askara.
Hanya itu saja yang Askara ucapkan. Dia benar-benar tidak tahu harus bicara apalagi. Sudah dua bulan dia juga saling cuek dengan Zura. Itu semua karena dirinya tidak mau ribut lagi dengan Zura. Ia ingin tenang, tidak mau lagi ada perdebatan yang tidak jelas, perdebatan yang tidak pernah ada ujungnya, hanya membahas keegoisan Zura saja.
“Ra, aku minta maaf ya? Akhir-akhir ini aku sering mendiami kamu, aku sering pulang malam. Pekerjaanku memang sedang banyak, Ra. Jadi aku sering pulang malam. Aku tahu kamu perempuan kuat, kalau kamu masih kuat bertahanlah, Ra. Kalau tidak, aku ikhlas. Maafkan aku, sudah melukai hatimu karena ucapanku. Jujur aku memang sudah tidak mencintaimu, Ra. Ternyata aku salah, bukan cinta yang aku rasakan saat dengamu, tapi karena aku sayang, aku kasihan melihat kamu yang tidak memiliki siapa-siapa lagi. Cintaku ternyata masih utuh untuk Salma, meski dia hadir setelah kamu, tapi dia mampu mengalihkan cinta untukmu,” ucap Askara lirih.
Askara menundukkan kepalanya, dia masih menggenggam tangan Azzura, sesekali ia mengusap kepala Azzura yang tertutup oleh penutup kepala.
__ADS_1
“Mas ....” Lirih Zura memanggil Askara.
“Ya, Ra, aku di sini,” jawab Askara.
“Maafkan aku, Mas. Selama ini aku merepotkanmu. Maafkan aku,” ucapnya.
“Aku panggil dokter, ya? Kamu jangan banyak bicara dulu, Ra,” ucap Askara panik.
Azzura menarik tangan Askara. “Gak usah,” ucapnya terbata.
“Ra, harus panggil dokter, ya?”
“Aku hanya ingin bicara dengan kamu, Mas,” jawabnya.
Askara kembali duduk di sebelah Azzura, dia menuruti apa kata Zura, yang ingin bicara dengannya. “Kamu mau bicara apa? Nanti saja, ya? Habis aku panggil dokter?” ucap Askara.
“Mas, terima kasih, terima kasih sudah memberikan kesempatan padaku untuk bersama kamu lagi, bersama Fifah, meski kehadiranku melukai perempuan lain. Itu semua karena aku ingin saat-saat terakhirku bersama kamu. Terima kasih sudah sangat sabar menghadapiku yang selalu marah, yang selalu membuat mas jengkel, dan akhirnya kita bertengkar. Aku sadar, aku ini salah, tapi karena aku ingin kamu, aku tidak peduli jika yang aku lakukan ini salah, Mas,” ucap Azzura.
“Iya, aku sudah memaafkan kamu, Ra. Aku paham bagaimana kamu sekarang. Kamu yang kuat, ya? Katanya pengin lihat Fifah masuk SMP, terus masuk SMA?” ucap Askara.
“Titip Fifah, Mas. Sampaikan maafku padanya,” ucap Azzura.
“Ibu juga sayang kamu, Nak,” ucapnya.
“Afifah juga sayang ibu,” ucap Fifah.
“Fah, panggil dokter, Nak,” titah Askara, karena Asakra tahu Azzura semakin memburuk keadaannya, napasnya semakin berat, dan sedikit tersengal. Lalu Afifah bergegas memanggil dokter.
“Mas, aku mencintaimu. Maafkan aku mas,” ucapnya.
“Iya aku maafkan kamu. Aku juga mencintaimu, Ra,” ucap Askara.
“Terima kasih, Mas,” ucapnya.
Perlahan genggaman tangan Azzura semakin renggang, matanya perlahan tertutup, dadanya sedikit tersengal, lalu dia seperti tertidur, dan alat pendeteksi jantung berbunyi panjang.
“Ra ... Zura? Bangun, Ra.” Askara menepuk-nepuk pipi Azzura pelan. Ia tahu istrinya sudah tidak bernyawa lagi. Askara menundukkan wajahnya, ia menangisi kepergian istrinya. Ada sedikit rasa sesal, karena seharian dia sama sekali tidak menghubungi Zura, dan mengabaikan pesan juga telefon dari Zura, karena dia benar-benar sibuk di kantor.
“Innalillahi wainna ilaihi rojiun,” lirih Askara. “Maafkan aku, Ra.” Tangis Askara semakin pecah.
__ADS_1
“Ayah ... ibu kenapa?” tanya Afifah.
“Sini, cium ibu, ibu sudah tenang, Sayang. Ibu sudah tidak sakit lagi,” jawab Askara.
“Bu, maafkan Fifah, ya?” ucap Fifah.
“Permisi saya periksa pasien dulu, Pak,” ucap dokter.
Dokter memastikan keadaan Azzura, “Innalillahi wainna ilaihi rojiun,” ucap Dokter lirih.
Perawat langsung membawa Azzura ke ruang pemulasaraan jenazah untuk diurus jenazah Azzura sebelum di bawa pulang. Askara duduk dengan Afifah, sambil menghubungi orang rumah untuk menyiapkan tempat sebelum jenazah Azzura dibawa pulang.
Askara juga memberitahukan Salma kalau Azzura meninggal, dia memberanikan diri menelefon rumah Salma. Walau bagaimana pun Salma pernah kenal Azzura.
“Hallo dengan saya Salma di kediaman Ibu Mila, dengan siapa ada yang bisa saya bantu?” ucap Salma lengkap seperti resepsionis.
“Sal, ini Askara.”
“Oh. Ada apa telefon?” tanya Salma singkat.
“Sal, aku hanya mau memberitahukan kalau Azzura baru saja meninggal.”
“Innalillahi wainna ilaihi rojiun, aku turut berbela sungkawa” ucap Salma lirih. “Ehm ... tapi ngomong-ngomong apa urusannya dengaku kalau Zura meninggal?” tanya Salma.
“Aku hanya memberitahukan saja, Sal. Kali saja kamu mau melayat, dan kamu kan kenal sama Zura. Maafkan semua kesalahan almarhum ya, Sal?”
“Iya, aku maafkan, tapi kalau untuk melayat, aku tidak tahu, kalau misal Dimas mau mengantarku, aku akan melayat, semoga dia besok tidak sibuk.” Jawab Salma.
“Oh dengan Dimas?”
“Ya mau dengan siapa lagi kalau tidak dengan Dimas?” jawab Salma. “Ya sudah, aku mau istirahat, aku kira siapa tengah malam telefon? Sekali lagi aku turut berbela sungkawa atas meninggalnya istrimu tercinta,” imbuh Salma.
“Iya, sama-sama, Sal,” jawab Askara.
Salma langsung memutus telefonnya. Askara tidak menyangka respon Salma seperti itu, dan Salma juga bilang akan ke pemakaman Azzura dengan Dimas. Askara yakin Salma memang akan kembali dengan Dimas, tapi ia tidak mau menyerah, ia ingin mendapatkan Salma kembali, apalagi sekarang Azzura sudah tidak ada.
“Aku gak akan melepasmu dengan laki-laki lain, Sal! Gak akan!” batin Askara.
Salma menggelengkan kepalanya saat setelah menerima telefon dari Askara. Salma kira siapa, tengah malam ada yang menelefon, untung dia belum tidur, karena Dimas baru saja pulang, dan dia juga baru selesai membuat kue untuk besok ia jual di toko.
__ADS_1
“Aku kira siapa yang telefon? Eh ternyata mantan yang menyampaikan berita duka, bahwa istri tercintanya meninggal dunia. Untuk apa sih ngasih tahu? Gak penting!” cetus Salma, lalu mencabut kabel telefonnya, dan masuk ke dalam kamar.