Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Sebelas Dua Belas


__ADS_3

Dimas kecewa dengan Salma, yang semalam tidak jadi menemuinya. Salma juga mematikan ponselnya, sampai Dimas menghubunginya tidak bisa. Nomor ibunya Salma juga sengaja Salam non aktifkan, supaya Dimas tidak tanya-tanya soal dirinya. Salma juga mencabut kabel telefon rumahnya, supaya Dimas tidak menghubungi telefon rumahnya. Salma hanya tidak mau membagi ceritanya dengan laki-laki lain, apalagi Dimas itu mantan suaminya terdahulu. Dia lebih memilih menceritakan masalahnya dengan Askara pada ibunya secara pelan-pelan, meski nantinya ibunya syok mendengar ceritanya, daripada dia harus cerita dengan mantan suaminya dulu.


Salma hari ini ikut ibunya ke toko roti, daripada dia jenuh di rumah, dia memilih membantu ibunya di toko rotinya. Salma sedang sibuk menata roti yang baru saja matang di rak dan etalase. Dia melihat mobil Dimas masuk ke halaman toko rotinya. Salma dengan cepat menata roti di rak dan di etalase, lalu dia segera masuk ke dalam dapur, pura-pura membantu pekerja yang sedang membuat roti.


“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya Salma.


“Gak usah, Mbak. Mbak Salma di luar saja,” jawabnya.


“Boleh aku bikin adonan? Aku pengin coba bikin kue,” tanya Salma.


“Iya boleh dong, Mbak? Itu bahan-bahannya di sana,” jawabnya. “Memang Mbak Salma bisa bikin kue?”


“Ih mbak ini, ya bisa dong? Lihat saja nanti,” jawab Salma.


Salma sebetulnya tidak mau saja ketemu Dimas, dia lebih memilih sibuk di dapur untuk membuat kue. Dia sudah lama juga tidak membuat kue. Dulu saat dengan Dimas, dia sering membuatkan kue kesukaan Dimas. Setiap weekend, dia selalu membuatkan kue untuk Dimas. Setelah dia berpisah dengan Dimas, dia tidak pernah lagi membuat kue.


“Kok malah bikin kue kesukaan Dimas sih?” batin Salma.


Namun, Salma tetap melanjutkan membuat adonan kuenya. Dia tidak peduli kalau dirinya sedang membuat kue kesukaan mantan suaminya. Salma memang jarang sekali masak saat berumah tangga dengan Dimas, tapi setiap weekend, dia selalu menyempatkan membuatkan kue kesukaan Dimas. Kadang juga dibantu oleh Dimas saat dulu.


“Dulu, kamu sering menemaniku membuat kue ini, Dim,” gumam Salma.


^^^


Dimas menemui ibunya Salma, dia menanyakan Salma di mana, karena di rumah Salma tidak ada, dan kata pembantu di rumah Salma ikut ibunya ke toko.


“Ibu jangan bohong ah, pasti Salma ikut ke sini, kan?” tanya Dimas lagi.


“Kamu ini, dibilang Salma gak ikut ibu?” jawab Bu Mila menyembunyikan, kalau Salma tidak ikut ke toko. Bu Mila tahu, kalau Salma sedang tidak ingin bertemu dengan Dimas, jadi ia menyembunyikan Salma yang padahal ikut ke toko.


“Bu, jangan bohong ih? Kayaknya aku tadi lihat Salma di rak sebelah sana?” tanya Dimas.


“Salah lihat mungkin?” jawab Bu Mila.

__ADS_1


Dimas tidak kehilangan akal. Dia tahu ibunya Salma bohong, karena tadi dia jelas melihat Salma sedang menata roti di depan rak dan di depan etalase.


“Eh mbak, Salma di sini, gak?” tanya Dimas pada pelayan yang ada di depan rak.


“Oh Mbak Salma? Ada di dalam, di dapur,” jawabnya.


Dimas membuang napasnya dengan kesal, lalu menatap ibunya Salma dengan tatapan kesal juga karena dibohongi. Ibunya Salma hanya tersenyum saja melihat Dimas yang kesal seperti itu.


“Ih ibu tega bohongi aku?” ucap Dimas.


“Kenapa kalau ibu bohong? Iya Salma di dalam, di dapur mungkin?” ucap Bu Mila.


“Ibu ih, bohong sukanya!” tukas Dimas, lalu langsung masuk ke dalam dapur.


Dimas melihat Salma yang sedang sibuk membuat adonan kue. Dia mendekati Salma, dengan kesal dia berjalan ke arah Salma.


“Sal, kenapa semalam gak menemuiku? Aku menunggu kamu, Sal.” Ucap Dimas yang tiba-tiba menghampiri Salma ke dapur, saat Salma sedang membuat adonan kue. Padahal Salma ke belakang karena menghindari Dimas, eh malah dia masuk ke dalam dan langsung mendekati Salma?


“Kamu mengiyakan lho kemarin?”


“Aku berubah pikiran, rasanya gak pantas banget, aku menemuimu di cafe?” jawab Salma


“Gak pantes bagaimana, Sal?”


“Ya kamu tahu statusku apa kan, Dim? Kamu juga statusnya apa? Aku gak mau saja dibilang baru jadi janda sudah menemui laki-laki?” jelas Salma.


“Ih pikiran kamu kuno, Sal!” tukas Dimas.


“Kuno? Kamu bilang aku kuno? Aku hanya menghindari fitnah, dan menghindari masalah baru, Dim. Kalau kamu mau  ketemu aku, ya kamu ke rumah, kan ada ibu? Jadi gak berdua saja?” ucap Salma dengan tangannya yang tidak berhenti membuat adonan kue, dan membentuk adonan kecil-kecil.


“Kau buat kue kesukaanku, Sal? Masih ingat saja kamu, Sal? Tahu pasti aku mau ke sini?” ucap Dimas.


“Pede sekali anda, Pak? Orang pengin bikin saja, bantuin mbak-mbak bikin ini?” jawab Salma asal.

__ADS_1


“Gak usah bohong! Gak ada jual kue beginian, kalau jual ya musiman saja sih, gak setiap hari ada. Aku yakin kamu buat untuk sendiri, iya kan?” ujar Dimas.


“Terserah kamu deh, mau menilai yang bagaimana. Mending daripada ngomong terus, bantuin deh,” ucap Salma.


“Iya deh sini aku bantuin.” Dimas membantu Salma, ia mengingat dulu, setiap weekend selalu menemani Salma di dapur untuk membuat kue kesukaannya.


“Sudah sini aku masukkan ke dalam oven,” ucap Salma setelah selesai.


Salma memanggang kuenya beberapa menit, sambil menunggu kuenya matang, dia membereskan alat-alat yang tadi ia gunakan untuk membuat kue sambil ngobrol dengan Dimas.


“Kenapa gak mau menemuiku? Aku nunggu sampai jam sepuluh, Sal?” tanya Dimas lagi.


“Ya tadi kan sudah aku jawab? Lagian aku lebih memilih cerita sama ibu, Dim. Daripada sama orang lain, apalagi dengan mantan. Kalau kamu ingin tahu ya akan aku ceritakan, toh ibu juga sudah tahu?” jelas Salma.


“Jadi kamu dan Asakara sudah ...?”


“Iya, sudah cerai, Dim. Ya sudah dua bulan, hampir tiga bulan lah. Baru saja aku dapat akta cerainya kemarin, makanya aku langsung balik ke sini, aku gak mau di sana lagi, aku sudah keluar dari rumah sakit. Mungkin aku akan berhenti dari profesiku lagi,” jelas Salma.


“Lalu Aska setuju kamu menceraikannya?” tanya Dimas.


“Dia masih di Singapura, menemani Azzura berobat. Aku hubungi dia, ponselnya tidak aktif, dia saja gak menanggapi gugatanku, jadi ya cepat prosesnya, karena dia gak hadir di persidangan,” jawab Salma.


“Jadi sampai sekarang dia masih di Singapura?”


“Iya. Gak ada kabar juga. Mungkin  dia sudah tahu aku menggugat dia, dan sekarang status aku dan dia sudah berubah bukan suami istri lagi. Orang tua Askara, adik dan kakaknya, juga keluarganya tahu aku menggugat dia, menceraikan dia, dan sudah sah cerai saja mereka tahu, tapi aku tunggu Askara menghubungiku, sampai sekarang dia tidak menghubungiku sama sekali. Ya sudah biarin saja,” jelas Salma.


“Keterlaluan sekali dia?” tukas Dimas.


“Sama sebelas dua belas sama kamu! Kamu juga dulu mana peduli dengan perasaanku? Kamu sama dia sama saja!” ucap Salma kesal, lalu dia mendekati oven, melihat kuenya sudah matang belum.


Dimas hanya diam, dengan melihat Salma yang sedang mengambil kue yang sudah matang. Dimas berpikir sejenak, memang benar ucapan Salma, dirinya dengan Askara sama saja.


“Iya aku memang dulu sudah menyakitimu, Sal. Tapi, aku juga terpaksa, karena aku tidak mau perusahaanku tumbang saat itu, itu juga sebagian ada saham ayahmu, Sal. Aku harus mempertahankannya karena amanah ayahmu, jadi aku menikahi Rani,” gumam Dimas.

__ADS_1


__ADS_2