Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Merasa Bersalah


__ADS_3

Afifah kalau sedang fokus menonton, dia tidak mau diganggu. Kadang sampai uring-uringan dengan ayahnya kalau ayahnya ganggu dia nonton film.


“Berani ngadu sama eyang? Terus ngadunya gimana? Gini ya, eyang nih pacar Fifah gangguin! Gitu ngadunya?” ujar Dimas.


“Om sudah dong?” cebik Afifah kesal.


“Iya sudah, om tidur di sini saja, om temanin kamu,” ucap Dimas.


“Serah deh!” jawab Afifah.


“Hmmm ....” Dimas mengusap kepala Afifah dengan sayang, ia biarkan Afifah dengan dunianya. Memang anak remaja kalau sedang nonton film kesukaannya pasti tidak mau diganggu seperti Afifah sekarang.


Dimas ketiduran sambil menunggui Afifah nonton film. Selesai menonton, Afifah mematikan laptopnya. Ia melihat Dimas yang sudah tertidur lelap. Afifah tersenyum, lalu ia pergi ke kamar untuk mengambil selimut. Afifah menyelimuti tubuh Dimas, lalu mengecup keningnya.


“Selamat tidur om pacarku,” ucap Afifah lirih, lalu ia masuk ke kemarnya.


Afifah melihat wallpaper ponsel Dimas yang masih menggunakan foto Renata. Ada sedikit rasa kesal dan cemburu, tapi ya sudahlah Afifah mau protes juga orangnya sudah tidur. Afifah dengan menggerutu kesal dia ke kamarnya untuk tidur, apalagi dia sudah sangat mengantuk sekali setelah selesai nonton film.


Di mana pun liburannya, Afifah tidak bisa lepas dari tontonan favoritnya itu. Bahkan kalau sedang menonton dia sampai lupa waktu, dan tidak mau diganggu. Afifah merebahkan tubuhnya. Ia masih berpikir kenapa saat tadi ia minta Dimas menjadi pacarnya? Padahal Afifah juga punya kriteria sendiri untuk dijadikan pacar, apalagi bunda dan ayahnya melarang keras dirinya untuk pacaran.


“Ih aku malah ngajakin pacaran sama Om Dimas. Bodoh sekali sih! Aku kan jadi bohongin bunda sama ayah? Mana aku tadi udah ciuman sama Om Dimas? Ih kenapa sih kamu jadi ngeblank gini, Fah? Benar kata bunda, aku gak boleh kebanyakan nonton drakor. Kalau udah kebanyakan nonton drakor Om Dimas pun kelihatannya berubah wujud dari Song Joong-ki. Om Dimas nyebelin sekali, katanya mau jadi pacarku, malah masih memajang foto mantannya di ponselnya?” gerutu Afifah.


Afifah tidak mau pusing, dia memejamkan matanya, tidak mau lagi mengingat Dimas. Biar saja ia sudah terlanjur berciuman dengan Dimas tadi. “Aku gak mau jadi pacaranya Om Dimas lagi! Orang dia masih sama mantannya kok?” ucap Afifah.


^^^


Pagi hariny Dimas terbangung, ia masih tidur di sofa ruang tengah. Ia melihat ada selimut bermotif mickey mouse menyelimuti tubuhnya. “Apa Afifah yang menyelimuti aku semalam?” tanya Dimas lirih.


Dimas melipat selimutnya, lalu membawanya ke kamar. Ia merebahkan tubuhnya lagi yang masih terasa pegal, karena semalam tidur di sofa menamani Afifah yang sedang nonton film, tapi malah dirinya ketiduran dan ditinggal Afifah ke kamarnya.

__ADS_1


Afifah sudah rapi pagi ini, karena dia ingin ikut eyangnya ke toko. Afifah berpapasan dengan Dimas yang baru saja keluar dari kamarnya. “Kamu mau ke mana sudah rapi sekali, Fah?” tanya Dimas.


“Pengin ikut eyang ke toko. Lagian di rumah pasti sendirian,” jawab Afifah.


“Katanya mau pergi sama om? Kamu gak ingat om kemarin kan mau ajak kamu jalan-jalan?”  tanya Dimas.


“Enggak ah, aku pengin ikut ke toko eyang saja,” jawab Afifah.


Afifah sebetulnya ingat kalau dirinya akan diajak jalan-jalan sama Dimas. Afifah tidak mau berduaan sama Dimas, apalagi ayahnya dari pagi-pagi sekali sudah menelefonnya, dan setiap kali menelefon terus mengingatkan jangan kebanyakan chat sama teman cowok. Jangan pacaran dulu, jadi Afifah merasa bersalah sekali kalau dirinya bohong sama bunda dan ayahnya. Afifah sudah diberikan kebebasan memegang ponsel setiap hari, ayah dan bundanya juga percaya pada dirinya kalau ponselnya akan digunakan dengan baik, bukan untuk main-main. Jadi dengan kejadian semalam Afifah kembali berpikir kalau dia tidak mau melanjutkan hubungannya dengan Dimas.


“Aku diberi kepercayaan sama ayah, masa aku khianati? Gak aku gak mau pacaran, aku gak mau lagi deka-dekat sama Om Dimas,” ucapnya dalam hati.


“Kenapa malah ke toko eyang?” tanya Dimas.


“Opa Ardha sama Oma Alana mau ke sini, Om,” jawabnya. Padahal Afifah bohong, dia tidak mau saja dekat-dekat dengan Dimas, apalagi semalam dia masih melihat wallpaper Dimas tampilannya fotonya Renata.


“Oh mau ke sini? Kok gak bilang dari semalam?” tanya Dimas.


“Ya sudah benar nih gak mau om ajak jalan?” tanya Dimas lagi.


“Enggak usah, Om,” jawab Afifah.


“Ya sudah, om ke kantor, ya?” pamit Dimas.


“Hmm ... ke kantor saja,” jawab Afifah.


Dimas merasa Afifah aneh sekali, tidak seperti kemarin yang di ajak ke mana pun dia mau-mau saja. Harusnya pagi ini mau sekali Afifah diajak jalan-jalan Dimas, apalagi Afifah semalam meminta Dimas jadi pacaranya?


“Mungkin anak seusia Afifah masih labil, jadi ya begitu,” batin Dimas. “Kok aku yang kecewa Afifah menolak ajakanku?”

__ADS_1


^^^


Afifah sedikit lega, karena benar oma dan opanya datang ke rumah eyangnya, jadi dia tidak berbohong pada Dimas, padahal Afifah asal ngomong saja karena untuk alasan dia tidak mau diajak jalan sama Dimas. Afifah takut kalau nanti Dimas malah melakukan hal lebih, seperti menciumnya lagi, apalagi dia selalu terngiang ucapan ayahnya dan bundanya, kalau sudah haid hati-hati jangan dekat sama laki-laki, apalagi kalau dicium selain ayahnya nanti bisa hamil. Padahal Afifah tahu ayahnya Cuma menakut-nakuti saja, tapi kata-kata hamilnya itu yang membuat Afifah semakin takut, karena dia masih panjang masa depannya.


Afifah duduk di sebelah eyangnya di depan meja makan. Afifah kali ini lebih banyak diam, ada Dimas pun dia tidak banyak bicara.


“Fah,  nanti kan oma sama opamu mau ke sini, nanti gak apa-apa ya, kalau eyang tinggal arisan sebentar? Soalnya eyang kan sudah janji mau berangkat? Eh tiba-tiba oma dan opamu ngasih kabar mau ke sini?” ucap Mila.


“Iya eyang, gak apa-apa, eyang pergi arisan saja, nanti biar oma sama opa di sini saja sama Fifah,” jawab Afifah.


“Jadi oma sama opanya Afifah benar mau ke sini, Bu?” tanya Dimas.


“Iya, tadi ngabarin mau mampir ke sini, katanya habis pulang ke acara pernikahan anaknya kerabat Pak Ardha,” jawab Mila.


“Iya katanya pengin mampir ke sini, Eyang. Afifah juga tahu baru tadi pagi habis subuh, oma baru bilang sama Fifah,” ucap Afifah.


Ternyata benar, Afifah gak bohong, padahal Dimas mengira Afifah bohong pada dirinya, karena Afifah tiba-tiba cuek dengannya, dan tidak jadi ikut jalan-jalan dengannya. Dimas sendiri tidak tahu kenapa sampai merasa kecewa karena Afifah tidak mau diajak jalan-jalan. Padahal biasanya tidak merasa sekecewa ini.


^^^


Dimas tidak konsentrasi di kantor karena memikirkan Afifah, padahal dia tidak pernah begini, tapi entah kenapa sejak tadi pagi, melihat selimut Afifah menyelimuti tubuhnya ia merasa bahagia diperhatikan Afifah. Dan, tiba-tiba paginya Afifah cuek sekali, sampai membatalkan untuk ikut jalan-jalan dengannya. Yang Dimas ingin Afifah tidak cuek seperti itu, tapi malah Afifah bersikap cuek dengannya. Dimas kira setelah semalam Afifah menyelimutinya paginya Afifah tidak secuek itu.


“Kok aku jadi mikirin anak ABG yang labil, ya? Aku baru putus dari Renata, bukannya aku mikirin dia, malah mikirin Afifah yang gak mau diajak jalan? Terus dia cuek sekali sama aku? Afifah ... Afifah ... semalam baru saja kamu bilang mau jadi pacar om? Terus main cium-cium bibir om lagi? Kamu benar-benar buat om gelisah, Fah!” Dimas menggerutu kesal karena dari tadi kerjanya tidak konsentrasi dan terus memikirkan Afifah.


Dimas yang dicueki Afifah akhirnya tidak tahan, di mengambil ponselnya lalu mengirim chat pada Afifah.


[Lagi apa, Fah? Sudah makan siang?]


Dimas meletakan ponselnya, ia terus-menerus melihat ponselnya, tapi tidak ada balasan dari Afifah.  Sampai satu jam Afifah tidak membalas pesannya. Dimas yang kesal akhirnya menelefon Afifah, tapi tetap saja tidak ada jawaban dari Afifah.

__ADS_1


“Tumben sekali dia ditelefon sama dichat responnya lama sekali?” gerutu Dimas.


__ADS_2