
Pagi harinya, Salma yang sedang menyiapkan sarapan di dapur dikagetkan oleh Afifah yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya dengan memanggilnya lirih dan terlihat cemas di wajahnya.
“Bunda ....” Panggilnya dengan lirih dan cemas.
“Afifah? Kenapa? Kok wajahmu kelihatan cemas?” tanya Salma.
“Bunda itu ....” Ucapan Afifah terhenti, takun menjelaskan pada bundanya apa yang sedang ia alami.
“Itu kenapa, Sayang? Kamu kenapa?” tanya Salma yang juga ikutan panik.
“Bunda ... ayo ikut ke kamar Afifah, ayah belum bangun, kan?” Afifah menarik tangan Salma dengan cepat.
“Sudah sih, tapi masih di kamar. Ini mau apa ke kamar kamu? Sebentar bunda matiin kompor dulu,” tanya Salma.
“Ayo buruan, Bunda .... Fifah mau tanya” Afifah terus menarik tangan Salma supaya ikut ke kamarnya.
Salma penasaran sekali, apa yang ingin Afifah katakan, karena Afifah sampai terlihat cemas wajahnya. Afifah masuk ke kamar mandi, dan juga mengajak Salma untuk masuk. Salma semakin cemas, apa yang akan Afifah tunjukkan pada dirinya.
“Bunda ... ada bercak darah di ****** ***** Fifah,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Salma mengelus dadanya, ia sedikit lega. Takutnya ada apa Fifah sampai cemas seperti itu, ternyata pagi ini Afifah menstruasi pertama kalinya.
“Bunda, apa ini namanya menstruasi?” tanya Afifah.
“Iya, Sayang. Itu artinya kamu ini sudah dewasa. Bunda kan pernah bilang sama kamu, suatu hari kamu akan mendapat hal yang seperti ini,” jelas Salma.
“Ini gimana, Bunda? Aku harus pakai pembalut kayak yang bunda pakai itu?” tanya Afifah.
“Iya, nanti bunda ajari, sekarang kamu bersihkan, kamu mandi sekalian, terus bunda siapakan pembalutnya. Jangan cemas gini, setiap remaja normal seusia kamu pasti mengalami hal yang sama,” ucap Salma menenangkan.
“Iya, Bunda. Terima kasih, maafin Afifah semalam, ya?” ucapnya sambil memeluk Salma.
“Iya, bunda selalu memaafkan kamu. Kamu sekarang sudah dewasa, sudah menstruasi, itu artinya hormon kamu bekerja dengan baik. Mulai sekarang, karena kamu sudah dewasa, kamu juga harus bisa mengontrol pergaulan kamu, memilih mana yang baik mana yang gak, kamu harus jeli memilih teman, itu saja sih yang bunda inginkan, karena bunda takut sekali kamu terbawa arus yang gak baik, apalagi pergaulan anak sekarang semakin aneh-aneh. Bunda kadang takut sendiri, bunda keras sama kamu, karena bunda ingin yang terbaik untuk kamu, Sayang,” papar Salma.
“Iya bunda, maafin Afifah ya? Yang kadang melawan ayah dan bunda,” ucap Afifah.
“Ya sudah Afifah mandi gih, bunda siapkan pembalut kamu, ya?” ucap Salma.
“Tapi jangan bilang ayah kalau Afifah menstruasi ya, Bunda?” pinta Afifah.
“Loh kenapa? Ya gak apa-apa dong ayah tahu. Ayah kan ayah kamu, Nak?” ucap Salma.
“Afifah malu, Bunda?” jawab Afifah.
“Jangan malu, semua perempuan pasti akan mengalami hal seperti ini, nanti bunda kasih tahu ayahnya pelan-pelan kok. Sudah sana kamu mandi,” titah Salma. “Oh iya, Fah. Perutmu sakit tidak?” tanya Salma.
“Enggak sih,” jawab Afifah. “Memang kalau menstruasi sakit, Bun?” tanya Afifah.
“Biasanya nyeri sedikit, syukur kalau enggak, nanti kalau nyeri bunda buatkan minuman herbal pereda nyeri,” ucap Salma.
Salma keluar dari kamar Afifah dengan tersenyum lega. Afifah sudah menstruasi diumur yang sesuai, tidak terlalu dini dan tidak terlalu lama. Salma masuk ke kamarnya, ia berpapasan dengan Askara yang baru saja mau keluar kamar untuk olahraga sebentar di teras samping.
__ADS_1
“Bunda ... ngagetin saja ih!” ucap Askara.
“Ih lagian ayah mau keluar gak bilang-bilang?” ucap Salma.
“Semalam ayah kan bilang, kalau ayah mau keluar?” ujar Askara.
“Maksudnya keluar yang mana nih?” tanya Salma.
“Semalam kan ayah bilang, bunda ayah mau keluar sebentar lagi, ingat kan? Terus bunda minta dicepetin karena bunda juga mau keluar?” jawab Askara dengan terkekeh.
“Itu mah keluar beda, Yah! Itu keluar yang enak!” tukas Salma.
“Nah kan itu tahu? Yuk lagi?” ajak Askara.
“Huss ... jangan ngadi-ngadi, Yah! Bunda belum selesai masak, bibi hari ini kan gak berangkat? Sudah bunda mau ambil pembalut,” ucap Salma.
“Bunda mens? Yah ... ayah mau minta lagi nanti kalau mau ke kantor, malah mens?” ucap Askara sedikit kecewa.
“Bukan bunda yang mens, Yah?” jawab Salma sambil mengambil pembalut.
“Terus siapa? Bunda mau kasih pembalut ke siapa?” tanya Askara.
“Sini duduk, Yah. Bunda mau bilang sesuatu sama ayah.” Salma menarik tangan Askara, meminta Askara duduk di sisi ranjang,
“Afifah sudah menstruasi. Baru saja tadi dia cemas manggil-manggil bunda,” jelas Salma.
“Afifah sudah mens?” tanya Askara.
“Bund, anak kita sudah dewasa, ya? Alhamdulillah Afifah mens di usia yang tepat,” ucap Askara.
“Iya, Yah. Kita sudah punya anak gadis sekarang. Tapi kasihan bunda belum bisa memenuhi keinginan dia yang pengin punya adik,” ucap Salma.
“Kalau itu sabar, Bun. Pasti kita bisa dikasih anak kok, sabar ya? Kita kan sebentar lagi mau ikut program hamil. Nunggu Afifah selesai ujian kenaikan kelas,” ucap Askara.
Salma memang ingin sekali memiliki seorang anak. Ia takut kalau dirinya akan sulit hamil lagi, apalagi usianya sudah tiga puluh tahun ke atas, takut sulit untuk hamil lagi.
^^^
Salma ke kamar Afifah, memberikan pembalut untuk Afifah dan mengajari cara memakainya. Afifah memerhatikannya dengan baik, lalu ia mencoba memasang sendiri, dan memakainya.
“Ih bunda, tidak nyaman sekali,” keluh Afifah.
“Nanti lama-lama juga jadi nyaman, Sayang. Ini pembalut yang paling bagus dan nyaman lho,” jelas Salma.
“Ih tapi gak nyaman sekali, kaya mengganjal gitu, gak enak. Masa kayak pakai pampers ya, Bun?” ucap Afifah.
“Kamu itu ada-ada saja. Sudah siap-siap ke Sekolah gih. Teliti lagi tugasnya, jangan sampai ada yang kelupaan,” titah Salma.
“Bunda, kok perutku agak melilit, ya? Perih gitu dari tadi. Afifah kira pengin pup, tapi enggak? Tapi melilit, Bun. Apa ini karena lagi mens, ya?” tanya Afifah.
“Iya, Sayang. Biasanya begitu, kalau gak terlalu sakit gak apa-apa. Tapi kalau sakit sekali, Afifah bilang, ya? Nanti konsultasi ke dokter,” ucap Salma.
__ADS_1
“Enggak sakit sekali kok, Bun. Biasa saja, tapi gak nyaman. Perutnya gak nyaman, pakai pembalut gak nyaman. Ternyata begini ya bun? Jadi dewasa gak enak,” keluh Afifah.
“Jangan bicara begitu, nanti kalau sudah terbias ya gak kerasa,” ucap Salma.
“Bunda ... Afifah boleh gak izin gak usah ke sekolah, gini banget, gak nyaman. Malu juga, takut tembus,” ucap Afifah.
“Yakin izin? Gak sayang ada pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris?” tanya Salma meyakinkan.
“Iya sih, ya sudah deh berangkat. Ada temannya kok, kayaknya Sevi sedang haid, jadi ada temannya, kan bisa tanya-tanya juga sama Sevi,” ucap Afifah.
“Nah kan? Sudah banyak kan teman Fifah yang menstruasi? Malah bunda sama ayah itu kepikiran kamu mau kelas dua SMP belum haid. Biasanya kan ada yang dari kelas enam SD sudah haid?” ucap Salma.
“Ya sudah Afifah berangkat deh, sayang kalau gak berangkat, jadi gak bisa lihat Kak Bayu main basket?” ucap Afifah.
“Hayo siapa Kak Bayu?” tanya Salma.
“Kakak kelas Afifah, kelas dua, dia jago basketnya lho, Bund? Ya gengnya Fifah suka semua sama Kak Bayu, ngefans gitu lah. Habis mirip Kim Tae-hyung, Bun. Cakep, kek aktor korea,” ucap Afifah.
“Kamu ada-ada saja? Ya sudah terserah kamu, kalau mau izin bunda bilang sama wali kelas kamu, kalau berangkat ya nanti bunda atau ayah antar kamu,
ucap Salma.
^^^
Selesai memasak, Salma menatakan bekal untuk Afifah juga. Askara dari tadi sudah berada di ruang makan, menemani Salma menata sarapan dan menyiapkan bekal untuk Afifah.
“Ayah mau bawa sandwich juga untuk cemilan di kantor?” tanya Salma.
“Itu saja, kue kacang buatan bunda kemarin, ayah bawa ke kantor, ya?” jawab Askara.
“Oke, bunda siapin dulu,” jawab Salma.
Afifah keluar dari kamarnya, ia sudah siap untuk ke sekolah. Afifah langsung ke meja makan, karena melihat bundanya dan ayahnya sudah menunggunya.
“Pagi ayah, bunda,” sapa Afifah.
“Pagi anak gadis ayah, sini ayah peluk,” ucap Askara. “Cie ... sudah mulai dewasa, sudah jadi anak gadis beneran sekarang,” ucap Ayah.
“Ayah kok bilang begitu?” tanya Afifah. “Bunda ngasih tahu ayah, ya?”
“Ya kenapa memangnya kalau bunda ngasih tahu ayah kalau anak gadis ayah ini sudah tumbuh dewasa dengan normal. Ayah juga harus tahu kalau kamu sudah haid, ayah malah lega kamu tumbuh menjadi gadis yang normal?” ucap Askara.
“Ya habisnya Afifah malu, Yah,” ucap Afifah.
“Kenapa malu? Masa sama ayah malu?” ucap Askara. “Sekarang Afifah kan sudah dewasa, Afifah harus tahu nih mana yang baik untuk Afifah lakuan, mana yang seharusnya tidak Afifah lakukan. Ayah hanya pesan itu saja, dan berhubung kamu sudah dewasa, Ayah juga percaya sama kamu, kalau kamu enggak bergaul macam-macam, ayah kembalikan ponselmu, sekarang kamu harus bijak, harus pintar menggunakan benda ini. Kamu gunakan dengan baik pasti akan menunjukkan jalan yang baik, kalau menggunakannya tidak baik, kamu juga harus siap-siap mendapatkan sesuatu yang gak baik pula,” tutur Askara.
“Jadi sekarang Fifah boleh pegang hape? Boleh dibawa ke sekolahan? Boleh sampai malam?” tanya Afifah dengan penuh antusias.
“Iya boleh, asal gunakan dengan baik, ayah gak mau karena benda ini kamu jadi malas belajar, sukanya main-main saja. Seimbangkan antara main ponsel sama belajar, pokoknya seimbang, ayah dan bunda sekarang izinin kamu pakai hape, ini milik kamu, gunakan ini sebaik mungkin,” pesan Askara.
“Terima kasih, Ayah, Bunda.” Afifah memeluk ayah dan bundanya.
__ADS_1
Semalam Askara dan Salma membuka-buka ponsel Afifah. Masih dalam tahap wajar dia menggunakan ponselnya. Paling hanya untuk lihat drama korea, lihat konten video, dan buat komunikasi dengan guru juga temannya, jadi masih dalam tahap wajar. Sebab itu Salma dan Askara memperbolehkan Afifah memakai ponsel lagi.