Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Gara-Gara Semut Merah


__ADS_3

Salma merasa pernikahan keduanya dengan Askara sangat berbeda. Sekarang, Askara selalu ingin bermanja dengan dirinya. Padahal dulu tidak begitu. Meskipun suka bercinta, tapi tidak semanja ini. Salma malah merasakan kalau Askara sepeti Dimas saat dulu, saat baru menikahinya, Dimas begitu manja dan gak mau jauh-jauh dari dirinya. Ke kantor pun selalu ajak Salma.


“Sayang ....” Panggil Askara.


“Iya, Sayang ... Gimana?” tanya Salma.


“Mulai besok temani aku ke kantor, ya? Pengin sama kamu terus,” pinta Askara.


“Nanti yang mengerjakan pekerjaan rumah siapa? Nanti malah gangguin kamu? Terus yang jemput Fifah?” jawab Salma.


“Iya juga, nanti Fifah sendirian. Kalau pekerjaan rumah, aku akan cari orang buat asisten di rumah. Sudah nanti aku atur deh,” ucap Askara.


Baru saja Salma merasakan Askara sama dengan Dimas dulu, tiba-tiba Askara juga ingin mengajak dirinya untuk selalu ikut ke kantor.


^^^


Setelah menjeput Afifah di sekolahannya, Salma dan Askara mengajak makan siang Afifah di luar, karena Salma belum masak untuk makan siang.


“Kok tumben, bunda sama ayah jemput Fifah barengan? Terus kok makan di luar?” tanya Afifah.


“Ayah memang sengaja pulang cepat, terus biar kita makan siang di luar,” jawab Askara.


“Afifah kira ayah sama bunda mau ke mana atau dari mana,” ucap Afifah. “Ayah, bunda, temani Fifah ke toko buku sekalian, ya?” Pinta Afifah.


“Iya nanti bunda temani, kita makan siang dulu, kamu mau makan apa?” jawab Salma, lalu bertanya pada Afifah ingin makan apa.


“Afifah ngikut saja deh, yang penting makan,” jawab Afifah.


Sesampainya di Restoran, mereka memesan makanan, sambil menunggu makanan yang dipesan mereka datang, mereka mengobrol, menanyakan bagaimana Afifah di sekolahannya.


“Bunda sama ayah di lehernya kok ada merah-merah?” tanya Afifah.


“Ah masa sih?” Salma langsung melihatnya lewat cermin yang ia bawa di tasnya.


“Astaga ... Ini bekas kecupan Askara. Itu juga di leher Askara. Kenapa gak kerasa sih? Sampai gini kan aku malu sama Afifah?” batin Salma.


Askara mengambil cermin kecil dari tangan Salma dan melihat lehernya, benar ada bekas merah kecupan Salma.


“Aku sampai gak sadar Salma meninggalkan bekas merah di leher, saking aku menikmati permainannya. Dia begitu hebat tadi, bisa mengimbangi permainanku,” batin Askara.


“Iya kan merah? Ayah sama bunda kenapa sama-sama ada merah di lehernya?” tanya Afifah polos.


“I—itu, tadi sebelum jemput kamu, bunda sama ayah bersih-bersih kamar, eh ada semut merah yang gigit, ayah juga kena gigit,” jelas Salma.


“Iya, begitu, Fah. Tadi ayah bantuin bunda, eh malah ikutan kegigit,” imbuh Askara.


“Oh jadi sama-sama digigit semut merah? Afifah kira kenapa? Kok bisa samaan begitu?” ucap Afifah.


“Iya begitu ceritanya, Sayang,” ucap Salma.

__ADS_1


“Tumben di kamar bunda ada semut?” tanya Afifah.


“Semalam ayah ngerjain kerjaan kantor di kamar, sambil ngopi dan nyemil, ya begitu ada sisa-sisa cemilan yang disemutin, Fah,” jelas Askara.


“Ih ayah kebiasaan! Dulu ya iya begitu, naruh cangkir kopi di kamar? Untung gak disemutin?” ujar Afifah.


Untung saja dulu saat masih berdua saja dengan Afifah, kebiasaan Askara seperti itu, minum kopi sambil mengerjakan pekerjaan kantor yang belum selesai di kamarnya. Dan kelupaan sampai pagi cangkirnya tidak di bawa keluar kamar.


Selesai makan siang, Salma dan Askara mengantar Afifah ke toko buku. Banyak buku yang ingin Afifah beli, karena lama sekali dia tidak pergi ke toko buku.


“Salma?” Panggil seorang wanita yang ada di depan Salma sedang memilih buku bersama anak kecil.


“Iya, siapa, ya?” tanya Salma.


“Salma .... Kamu lupa?” Wanita tersebut balik bertanya pada Salma.


“Iya, siapa, ya? Aku benar-benar lupa,” jawab Salma.


“Ih kamu tega ya lupa sama aku?” ucapnya.


“Sebentar, sebentar .... Siapa ya?” pikir Salma.


“Diandra, Sal. Kamu lupa?” ucapnya memberitahukan namanya.


“Ah iya, Diandra? Aku lupa, gimana kabarmu?” tanya Salma.


“Iya ini anakku,” jawab Salma. “Afifah, salim dulu, itu Tante Diandra, teman bunda waktu kuliah.” Salma mengenalkan Afifah pada Diandra.


“Halo, Tante .... Aku Afifah.” Afifah mengulurkan tangannya untuk salaman dengan Diandra.


“Hai cantik ... Kenalan juga nih anaknya Tante, Namanya Sheina.” Diandra mengenalkan anaknya pada Afifah.


“Halo Sheina, aku Afifah. Salam kenal.”


“Salam kenal juga Afifah,” jawab Sheina ramah.


“Sayang, ini buku yang kamu cari, kan?” Askara mendekati Afifah dan Salma.


“Iya, ayah ... Ini yang aku cari,” jawab Afifah.


“Sal, ini suamimu?” tanya Diandra.


“Oh iya, ini Askara suamiku,” jawab Salma. “Ini Diandra teman kuliahku dulu, Mas.” Salma memperkenalkan Askara pada Diandra.


“Askara.”


“Diandra,” balas Diandra. “Sebentar, sebentar, kok Askara? Bukannya suami kamu Dimas?” tanya Diandra.


“Ehm ... Aku sudah lama pisah sama Dimas,” jawab Salma.

__ADS_1


“Oh, aku gak tahu. Maaf,” ucap Diandra. “Padahal kalian cocok sekali dulu, bikin iri pasangan lain lho kalian dulu? Tapi, namanya jodoh gak tahu ya, Sal?” sambung Diandra.


Salma paham Askara mulai tidak nyaman dengan ucapan Diandra.


“Ya begitulah jodoh, Di. Ya sudah kami duluan, ya? Ini Afifah sudah selesai pilih bukunya,” pamit Salma.


“Oh iya, Sal. Sampai ketemu lagi, boleh aku minta nomor telefon kamu?” pinta Diandra.


“Oh iya, kemarikan ponselmu, aku akan masukan nomorku,” jawab Salma dengan meminta ponsel Diandra.


Salma menulis nomornya lalu menyimpannya. “Ini, Di.” Salma memberikan ponsel Diandra lagi.


“Terima kasih, aku miscall ya?”


“Oke, duluan ya, Di?” pamit Salma.


Askara terlihat ditekuk wajahnya. Ternyata Salma di sini ada yang mengenalinya, teman kuliahnya dulu. “Dimas lagi, Dimas lagi?” batin Askara kesal.


Sesampainya di rumah, Askara masih saja diam, seperti di mobil juga dia diam saja. Salma tahu Askara tidak enak hati dengan ucapan Diandra tadi saat menyebut nama Dimas. Askara juga langsung masuk ke kamar, dan mendiami Salma.


“Mas, jangan diam terus dong? Kamu marah karena Diandra bilang Dimas?” Salma berusaha membujuk Askara.


“Pasti dulu kalian jadi pasangan teromantis, terbaik, terfavorit, pokoknya begitulah saat sama Dimas,” ucap Askara.


“Kalau udah gini susah nih, cemburu terus kamu mas! Lagian sudah sih, aku sama Dimas sudah gak ada rasa kok!” ucap Salma kesal.


“Udah gak ada rasa, masih sering komunikasi ya sama saja, Sal!”


“Kamu pernah gak mikir? Apa sebabnya aku bisa komunikasi lagi sama Dimas? Pernah gak kamu mikir aku kembali dekat sama Dimas karena siapa? Karena Azzura yang membuat aku dekat dengan dia lagi!” Salma sudah tidak bisa membendung marahnya lagi, dari pagi sampai menjelang malam Askara masih saja membahas soal Dimas.


“Kenapa bawa-bawa Azzura? Dia sudah gak ada, kok jadi bawa-bawa dia?!”


“Kamu gak ngerasa semua itu karena Azzura? Di saat kita sedang bahagia-bahagianya, dia datang, dia minta kamu menikahinya lagi, akhirnya aku izinkan. Setelah itu apa yang kamu lakukan sama aku? Kamu usir aku dari kamarku, karena akan dipakai Azzura, kamu gak peduli saat aku pergi, bahkan Afifah, anak yang aku sayangi meski dia bukan anak kandungku, dia diam saja! Kamu tidak membujukku sedikit pun saat itu, malah kalian pergi senang-senang tanpa pamit, aku tahu Zura sakit saat itu, tapi apa kamu gak mikir perasaanku bagaimana? Sampai aku mengajukan cerai saja kamu gak peduli, Mas! Dan saat itu aku hanya punya Dimas yang bisa mendengar ceritaku, apa keluargamu peduli sama aku? Sama perasaanku? Malah mereka menyalahkanku! Sudah sadar yang membuat aku kembali dekat dengan Dimas siapa?” Salma tidak peduli ia bicara begitu keras, dan dia yakin Afifah mendengarnya.


“Stop membahas itu! Aku juga menyesal, Sal!” hardik Askara.


“Iya setelah Zura pergi kamu menyesalnya! Coba Zura sembuh? Gak akan kamu menyesal. Aku yang menyesal kenapa aku kembali sama kamu!” erang Salma.


“Oh kamu menyesal?”


“Iya, kalau kamu bahas ini terus, bahas Dimas terus aku menyesal berada di sini. Harusnya aku tidak menjalani pernikahan ini. Aku salah mencintaimu, karena kamu yang aku cintai malah terus menyudutkan aku pada masa laluku. Padahal aku sudah mencoba sekuat hati tidak ingin membahas Zura lagi, Mas. Gak ada keinginan begitu, semua karena aku mencintaimu, juga karena sudah berlalu, tapi mas selalu apa-apa dikaitkan ke Dimas,” ucap Salma.


Salma keluar dari kamarnya, ia melihat Afifah di depan pintu kamarnya dengan tatapan sendu karena mendengar ayah dan bundanya bertengkar.


“Bunda mau ke mana? Jangan pergi bunda,” cegah Afifah.


“Bunda keluar dulu sebentar, Afifah di rumah saja, ya?” jawab Salma.


“Bunda ... Jangan tinggalin Fifah lagi.” Afifah memeluk Salma, tidak memperbolehkan Salma pergi.

__ADS_1


__ADS_2