Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Malam Penuh Perjuangan


__ADS_3

Afifah masih memeluk erat Dimas. Dimas ingin sekali mengeksekusi langsung istrinya saat melihat wajah istrinya yang pura-pura polos, padahal sudah jago memuaskan Dimas meski menggunakan tangan dan mulut saja.


“Mau kamu bertingkah polos seperti ini aku tidak percaya, Afifah. Kamu itu sudah ahli, bahkan suhu sekaligus pawang prekutut yang lama tertidur bertahun-tahun,” batin Dimas gemas.


Dimas mengusap kepala Afifah lalu mengecupnya. “Sana ganti baju,” titahnya.


“Aku sudah pakai baju, tahu!” Jawab Afifah.


Dimas mengurai pelukannya, lalu ia menatap wajah Afifah. “Sudah pakai baju?” tanya Dimas dengan mengernyitkan dahinya.


“Ya, sudah,” jawab Afifah


“Coba buka,” pinta Dimas.


“Ehm ... Tapi ....” Jawab Afifah dengan menggigit bibir bawahnya.


“Jangan gigit bibir begini, nanti aku gigit kamu!” Dimas mengusap bibir manis Afifah. “Kalau sudah pakai baju, ngapain ditutup pakai ini? Buka dong bathrobe nya?” ujar Dimas.


Dimas perlahan menarik tali bathrobe yang dipakai Afifah. Talinya terlepas, dan terlihat tubuh Afifah yang seksi terbalut oleh gaun malamnya yang tipis dan menerawang. Setiap lekuk tubuh Afifah terlihat sempurna.


Dimas melepas bathrobe Afifah, terjuntailah ke bawah. Tampaklah Afifah yang seksi dengan baju dinasnya.


“Sudah biasa pakai baju gini saja kamu malu?” tanya Dimas.


“Ya malu, Om,” jawabnya.


“Kenapa malu? Kan sudah biasanya? Di lemari juga penuh baju-baju seksimu yang setiap hari digunakan kalau kita di kamar berdua?” kata Dimas.


“Tapi kan beda, Om?” ucap Afifah.


“Beda di mananya, Sayang?” tanya Dimas.


“Ya jelas beda lah om? Kan ini malam pertama? Biasanya kan kita begitu main-main. Kalau malam ini bukan untuk main-main lagi om, tapi malam ini aku itu menunaikan tugasku sebagai seorang istri, bagaimana aku gak gugup gini, Om?” ujar Afifah.


“Iya sih, lalu sekarang sudah siap belum?” tanya Dimas.


“Siap gak siap, aku harus siap, Om,” jawab Afifah.


Dimas membawa Afifah ke pelukannya lagi. Gadis berusia dua puluh tahun itu pasrah di depan pria dewasa yang usianya hampir empat puluh tahun. Ia menikmati dekapan hangat suaminya, yang kini sudah berada di atas tubuhnya.


Afifah pasrah saat Dimas mulai mencumbunya dengan kecupan mesra. Ia menikmati setiap sentuhan dari suaminya. Meski sudah sering dia melakukan seperti ini dengan Dimas saat pacaran, tapi malam ini rasanya beda sekali. Malam ini sungguh tiada tara nikmatnya saat dicumbu dan disentuh pada area sensitifnya.

__ADS_1


Afifah mendesah lirih, saat Dimas sudah mulai melucuti pakaian dinasnya. Malam ini Dimas melakukannya begitu lembut, yang membuat Afifah semakin dimabuk kepayang. Biasanya Dimas lakukan itu dengan beringas, hingga Afifah belingsatan menerima setiap sentuhan Dimas.


Perlahan Dimas mulai dengan penyatuannya. Afifah memejamkan matanya, saat Dimas sedang berusaha menerobos gawang Afifah. Berkali-kali Dimas gagal, karena Afifah menjerit kesakitan. Padahal baru saja ujungnya yang menyentuh bibir gawang Afifah.


“Sakit, Om!” Pekik Afifah dengan terisak


“Sssttt ... Jangan nangis, Sayang. Tahan sedikit, ya? Gawangmu masih tertutup rapat sekali soalnya. Kamu yang rileks, seperti biasanya kalau kita begituan. Jadi gak terlalu sakit,” tutur Dimas.


“I—iya, Om. Tapi jangan keras-keras, pelan ya, Om?” ucap Afifah dengan terbata.


“Iya, Sayang ... Om pelan-pelan, kamu yang rileks, ya? Jangan tegang, pasti gak akan sakit kok,” ucap Dimas.


“Hmm ... Iya, Om,” jawabnya.


Dimas mulai lagi memberikan sentuhan lembut yang membuat Afifah semakin panas. Tubuhnya mulai merespon dengan baik. Afifah menggeliat kan tubuhnya dengan cantik, tubuhnya mengejang, dan bergetar hebat saat sudah mencapai puncak.


“Rileks begitu, ya? Om masukin pelan-pelan,” bisiknya.


“Hmm ... Iya, Om. Pelan ya, Om?” jawabnya.


Dimas mencoba lagi membobol pertahanan Afifah. Benar-benar sulit sekali, dan penuh perjuangan. Afifah mencoba rileks dan menikmatinya, meskipun ia sesekali menjerit, dan mengerang kesakitan saat gawangnya akan dibobol dengan lobak jumbo berurat milik Dimas.


Jleb!


“Om ...,” pekiknya lirih.


“Iya, Sayang? Bagaimana?” tanya Afifah.


“Aduh, sakit, Om. Jangan gerak-gerak dulu please ... Sakit sekali,” ucap Afifah.


“Iya, kamu rileks, ya? Om pelan-pelan kok,” ucap Dimas.


“Sungguh diluar dugaan, ini bukan malam pertama, tapi malam penuh perjuangan! Sampai perpanjangan waktu sepuluh menit untuk mencapai gol saja sulit sekali, jadi lima puluh lima menit, gila sih, sampai mau satu jam gak gol-gol terus. Sumpah ini diluar dugaan sekali, sampai aku mikir, besok Afifah akan kesakitan tidak setelah ini,” batin Dimas.


Afifah mengatur napasnya. Ia masih merasakan sakitnya tertusuk lobak jumbo. Teman-teman Afifah bilang, kalau begituan sakitnya sebentar, tapi Afifah masih merasakan sakit yang teramat hebat di pangkal pahanya.


“Besok gimana ini? Sakit sekali rasanya. Apa aku bisa jalan besok?” batin Afifah.


“Gimana? Sudah? Om gerakin, ya?” tanya Dimas.


“I—iya, Om. Pelan, ya?” jawab Afifah.

__ADS_1


Dimas menggerakkan tubuhnya pelan-pelan di atas tubuh istrinya. Afifah sudah semakin menikmatinya. Hingga akhirnya mereka sama-sama mencapai puncak.


“Bagaimana? Apa masih sakit?” tanya Dimas.


“Banget, Om,” jawabnya.


“Ini di luar sayang. Aku tahunya gak bakal sesulit ini, kamu juga tegang terus, gak rileks kayak biasanya,” ucap Dimas.


“Gimana gak tegang, Om? Bayangin lobak om masuk saja aku dah takut, bakal muat apa enggak?” jawab Afifah. “Om, gak sobek kan milikku?” tanya Afifah.


“Gak lah! Yang sobek yang di dalam. Sampai berdarah,” jawab Dimas.


“Keluar darah? Banyak, Om?” tanya Afifah.


“Iya, cukup banyak,” jawab Dimas.


Afifah panik, ia ingin bangun dan melihat, tapi tubuhnya lemas sekali.


“Sudah, gak usah ditengok. Nanti saja. Kamu sedang capek, tidur saja dulu, sini peluk om.” Dimas memeluk Afifah dan menciumi wajah Afifah.


“Terima kasih ya, Sayang. Kamu sudah jaga sesuatu yang berharga dalam hidupku untuk om,” ucap Dimas.


“Iya, Om. Sama-sama. Jangan lepas peluknya, ya? Afifah lemas sekali tubunya, pengin nambah daya dengan dipeluk om,” ucap Afifah.


“Iya, gak akan om lepas, sampai pagi,” ucap Dimas.


Mereka istirahat sebentar sebelum membersihkan badannya. Tenaga Dimas dan Afifah benar-benar terkuras malam ini. Dimas kira, akan beronde-ronde malam ini, ternyata satu ronde saja sudah membuat tubuhnya lemas, karena hampir satu jam dia mengakali gawang lawan yang sulit untuk dibobolnya.


^^^


Afifah digendong Dimas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Benar seperti dugaan Dimas, kalau Afifah tidak bisa jalan. Kakinya bergetar hebat saat akan berdiri. Pangkal pahanya juga sakit sekali rasanya.


Setelah membersihkan tubuhnya, Dimas mengambilkan baju Afifah. Ia membersihkan badan Afifah yang masih basah, lalu memakaikan bajunya.


“Om, itu darahnya banyak sekali,” ucap Afifah dengan wajah yang panik.


“Gak apa-apa, biar saja, nanti om beresin. Pakai dulu bajunya, lalu kamu duduk di sofa, om akan tata tempat tidurnya dulu, om ganti spreinya lagi,” ucap Dimas.


Dimas dengan telaten memakaikan baju Afifah, lalu dia menggendongnya, dan mendudukkan Afifah di sofa. Dimas langsung membereskan tempat tidurnya, mengganti seprei, setelah selesai ia menggendong Afifah lagi.


Mereka tidur, beristirahat untuk menyambut hari esok yang penuh kebahagiaan. Dimas sebetulnya ingin lagi, tapi Afifah masih kesakitan, jadi tidak berani meminta lagi.

__ADS_1


“Masih ada hari esok. Biar besok saja aku mintanya, kasihan Afifah, dia kelelahan dan kesakitan,” batin Dimas.


__ADS_2