
Askara berpikir macam-macam, ia takut anak perempuannya kalau sampai pacaran dengan Vero dan sampai menikah nantinya, lalu mengetahui bisnis mertuanya, malah akan bermasalah pada Afifah. “Semoga saja Afifah gak beneran suka sama Vero. Aku gak mau anakku jadi korban. Duh tadi ayah ngizinin mereka jalan dulu lagi?” ucap Askara.
“Sudah, bunda yakin Afifah belum terlalu suka sama Vero, kalau dia suka beneran sama Vero, dia pasti mau-mau saja diajak Vero jalan waktu pulang sekolah tadi? Buktinya Afifah masih mendengarkan selalu nasihat kita?” jelas Salma.
“Iya, mudah-mudahan Afifah gak suka sama Vero. Mama juga takut jadinya, ya sudah kalian diam saja, meskipun sudah tahu soal Daren, biar saja dia menikmati bisnis gelapnya itu, nanti juga ada balasannya,” tutur Binka.
“Nanti papa akan bilang sama ayahmu, dia itu masih sama, sukanya begitu,” ucap Zhafran pada Salma.
“Iya, Pa," jawab Salma.
“Kalian gak usah khawatir, Afifah pasti baik-baik saja,” ucap Zhafran.
Zhafran sebetulnya juga sedikit khawatir dengan cucunya yang dekat dengan anaknya Mafia. Tapi, Zhafran berpikir positif saja, kalau Afifah tidak apa-apa, dan tidak suka dengan Vero, hanya sebatas teman saja.
Afifah pulang les diajak Vero keluar, karena tadi Vero sudah bilang dengan Askara sepulang Afifah les, dia mau ajak Afifah jalan. Afifah yang sudah mendapat izin dari ayahnya, dia mau-mau saja diajak jalan oleh Vero, apalagi dia sedang menikmati masa PDKT dengan Vero, jelas Afifah senang mendapatkan izin dari ayahnya untuk jalan dengan Vero.
“Kita mau ke mana, Kak?” tanya Afifah.
“Ke pantai yuk?” jawab Vero.
“Ih udah mau gelap, Kak. Lagian lihat sunset pun udah gak bisa dong?” jawab Afifah.
“Ya sudah maunya jalan ke mana? Mau cari makan dulu? Ke cafe mungkin?” tanya Vero.
“Boleh deh,” jawab Afifah.
Vero menuruti Afifah, tapi tetap saja dia akan ajak Afifah ke pantai. Ia ingin segera memiliki Afifah, entah kenapa banyak sekali cewek yang cantik dan seksi malam ini mengajak Vero keluar, malah dia milih Afifah dulu.
Mereka sudah sampai di cafe, Vero dan Afifah memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan datang, Vero mengajak ngobrol Afifah.
“Fah, ini serius kamu maunya pacaran kalau sudah tujuh belas tahun?” tanya Vero sambil menunggu pesanannya datang.
“Iya, aku gak boleh pacaran dulu sama ayah, kalau belum tujuh belas tahun,” jawab Afifah.
“Lalu apa bedanya dengan sekarang, Fah? Kamu juga jalan sama aku? Kita begini juga kan sudah kayak pacaran, Fah?” jelas Vero.
“Ya iya, sih? Temanku sih sudah banyak yang pacaran, ya aku juga pengin merasakan punya pacar, tapi takut ketahuan ayah,” ucap Afifah.
“Masa gak bias diam-diam kita pacaran, Fah?” ucap Vero. “Kita backstreet hanya kita yang tahu hubungan ini.” Vero meyakinkan Afifah untuk pacaran diam-diam dari bunda dan ayahnya.
“Terus kita diam-diam saja pacarannya, Kak?” tanya Afifah.
“Ya begitu, Fah. Gimana?”
“Ehm ....”
“Afifah, mau tidak jadi pacarku?” tanya Vero dengan menggenggam tangan Afifah.
“Kak aku takut ayah marah,” ucap Afifah.
“Ya kita kelihatannya kayak berteman saja, Fah. Nanti baru pas kamu sudah tujuh belas tahun, kamu baru bilang sama ayah dan bunda kalau kamu sudah pacaran,” ucap Vero.
“Ehm ... kalau begitu iya,” jawab Afifah.
“Iya apa, Afifah?” tanya Vero.
“Iya, aku mau jadi pacara kakak,” jawabnya.
“Yakin?” tanya Vero lagi.
“Iya yakin, Kak,” jawab Afifah lugas.
“Makasih ya, Fah?” Vero mencium tangan Afifah saat Afifah menerima cintanya.
Afifah menggenggam tangan Vero, ia terseyum malu di depan Vero. Akhirnya dia merasakan pacaran dengan cowok yang ia taksir juga. Mereka kembali mengobrol dan tidak terasa sudah jam tujuh malam. Vero mengajaknya pulang, karena Askara mengizinkannya hanya sampai jam delapan malam saja.
“Jam delapannya masih kurang satu jam kan, Fah?” tanya Vero.
“Iya, kenapa memangnya, Kak?” tanya Afifah.
“Kita jalan ke pantai dulu yuk?” ajak Vero.
__ADS_1
“Ehm ... gimana, ya?” ucap Afifah.
“Ya untuk merayakan jadian kita,” ucap Vero.
“Ya sudah yuk.” Afifah menuruti Vero yang mengajak ke pantai.
Sesampainya di pantai, Vero menyetandarkan sepeda motornya. Ia mencari kedai di pinggiran pantai, untuk ngobrol dengan Afifah. Mereka memesan minuman saja, dan duduk di tepi pantai. Vero menggenggam tangan Afifah, ia membenarkan rambut Afifah yang berantakan tertiup angin pantai.
“Aku sayang kamu, Fah. I love you,” bisik Vero.
“Love you too, Kak,” balas Afifah.
Wajah Vero mendekati wajah Afifah, ia menatap Afifah yang sudah memejamkan matanya, wajah Vero semakin mendekati wajah Afifah, dan bibir mereka nyaris tak berjarak lagi. Afifah langsung menjauhkan tubuhnya dari Vero, entah kenapa ia tiba-tiba ingat dengan Dimas, dan ingat perkataan Dimas waktu itu, kalau dirinya tidak boleh menjatuhkan harga dirinya lagi di depan cowok yang belum jadi suaminya, cukup dengan Dimas saja, dan itu pun sudah, jangan diulang lagi. Kata-kata Dimas itu tiba-tiba terngiang di telinga Afifah.
“Jangan, Kak,” ucap Afifah.
“Kenapa? Masa sudah jadi pacarnya gak mau dicium?” tanya Vero.
“Ya gak gitu, Kak. Kita kan baru pacaran, dan itu pun diam-diam dari ayah dan bundaku? Aku gak mau kita sampai di luar batas dulu, Kak,” jawab Afifah. “Kita pulang yuk, Kak,” ajak Afifah.
“Iya sebentar lagi,” jawab Vero.
Vero mencari cara supaya ia bisa mencicipi bibir Afifah yang manis dan seksi sekali. Entah kenapa Vero ingin sekali ******* habis bibir Afifah malam ini. Pikirannya sudah melayang, dan hasratnya juga sudah menggebu ingin sekali melakukan lebih pada Afifah. Vero yakin tubuh Afifah sangat menggoda sekali, apalagi sudah pasti masih perawan.
“Sial, dia nolak dicium aku?! Baru pertama kali aku ditolak ciuman oleh cewek! Malam ini aku harus bisa dapatin bibir nih cewek, bila perlu aku kasih enak, aku grayangin semua tubuhnya!” umpat Vero.
Vero tak kehilangan akal. Dia dari tadi menciumi rambut Afifah, dan sesekali ia mencium tengkuk Afifah. “Kak jangan gini?” ucap Afifah dengan lirih dan merasakan sensasi merinding nikmat saat Vero berhasil mencium leher belakangnya.
“Kenapa, Fah?” tanya Vero.
“Kak, udah yuk pulang,” ajak Afifah.
“Sebentar lagi, ya?” Vero menarik tangan Afifah, untuk duduk lagi.
Ia mengajak Afifah mengobrol untuk menetralkan suasana yang sempat menegang tadi. Setelah Afifah seperti merespon rayuan Vero, Vero kembali melanjutkan aksinya untuk menikmati bibir indah Afifah.
“Kak ih jangan?” tolak Afifah.
“Gak bisa, Kak, ayo pulang!”
“Sebentar dong, Fah!” Vero sedikit kasar dan memaksanya.
“Ahw ... sakit, Kak!” pekik Afifah saat Vero menarik tangan Afifah dengan keras.
“Maaf, Sayang,” ucap Vero.
Afifah menunduk, dia merasakan sakit di pergelangan tangannya, Vero memandangi wajah Afifah yang sudah berkaca-kaca matanya.
“Maaf ya, Fah?” ucap Vero.
“Iya.”
“Afifah pulang!” suara bariton laki-laki yang Afifah kenal terdengar di belakang Affiah.
Suara siapa lagi kalau bukan suara Dimas? Dimas dari tadi melihat Afifah dan Vero. Sejak berada di cafe. Dimas baru saja menemui klien, dan setelah selesai meeting dengan klien, dia melihat Afifah dan Vero. Dimas mengurungkan niatnya untuk pulang, ia pantau Vero dan Afifah. Ia juga tahu mereka sudah jadian diam-diam di belakang ayahnya Afifah. Dimas mengikuti Afifah ke pantai dengan Vero, dia melihat dengan jelas apa yang akan Vero perbuat pada Afifah. Hingga Dimas tidak tahan, dan geram karena melihat Vero memaksa Afifah, ingin mencium Afifah.
“Pulang, Fah!” titah Dimas.
“Om ... aku pulang sama Om saja, ya?” pinta Afifah.
“Tanganmu kenapa?” tanya Dimas, pura-pura tidak tahu. “Apa kamu menyakiti keponakanku?” gertak Dimas pada Vero.
“Eng—enggak kok om,” jawab Vero takut.
“Afifah biar pulang sama aku! Ayo Afifah!”
Afifah langsung mendekati Dimas. Ia merasa sangat dilindungi Dimas malam ini. Afifah takut sekali jika harus pulang dengan Vero, karena ia tahu kalau Vero ternyata kasar sekali, menarik tangannya saja sampai dia kesakitan. Afifah berjalan di sisi Dimas. Dimas masih diam tidak mau bicara, tapi wajahnya menyiratkan kemarahan.
Dimas benar-benar tidak rela tangan Afifah dibuat sakit oleh Vero. “Baru jadian saja sudah disakiti, Fah? Bagaimana selanjutnya? Apalagi kalian pacaran diam-diam dari ayahmu! Kalau mau diam-diam harusnya dia bisa jagain kamu!” geram Dimas gemas.
Afifah terisak lirih, ia memegang tangan kanannya yang sakit. Dimas marah sekali dengan Vero malam ini, rasanya ingin sekali mematahkan lehernya, tapi ia sadar, Vero bukan tandingannya. Biar saja nanti Dimas akan memberikan peringatan pada Vero. Ia tidak rela, keponakan sekaligus orang yang ia sayangi dilukai oleh orang lain.
__ADS_1
“Coba lihat tanganmu!” Dimas menengadahkan telapak tangannya di depan Afifah, tapi Afifah masih menyembunyikan tangannya yang sakit. “Coba tanganmu, Afifah?” ulang Dimas dengan nada sedikit lembut.
“Sakit sekali, Om,” isaknya.
“Astaga ... sampai merah gini, bengkak pula?” desah Dimas.
“Jangan bilang ayah ya, Om?” ucap Afifah.
“Hmm ... sudah kamu jangan nangis, kita mampir ke apotek beli obat biar tangan kamu gak tambah bengkak,” ucap Dimas.
Dimas geram sekali dengan perbuatan Vero yang kasar. Sudah jelas, Vero menuruni papanya yang juga keras sekali orangnya juga kasar. Dimas keluar dari mobilnya untuk membelikan obat oles pereda nyeri dan bengkak. Dimas kembali ke mobil, ia langsung mengobati tangan Afifah, mengurutnya dengan pelan dan membenarkan otot yang terkilir.
“Fah, sedikit sakit, ya? Tahan dikit,” ucap Dimas.
“Jangan sakit-sakti, Om. Akkhh!!!” pekik Afifah.
“Sudah, besok sembuh. Sini om olesin obat lagi,” ucap Dimas.
“Nanti kalau ayah tanya kenapa aku bisa sama om gimana?” tanya Afifah.
“Ayahmu sudah tahu kalau kamu sama om,” jawab Dimas.
“Lalu kalau tanya Vero?” tanya Afifah lagi.
“Maaf Fah, bukan om mau ikut campur soal hubungan kamu dengan Vero, tadi waktu kamu di cafe, om lihat kamu. Om foto kamu dan Vero, om kirim ke ayahmu, dan kamu tahu apa yang ayahmu bilang?” jelas Dimas.
“Memang ayah bilang apa?” tanya Afifah.
“Baca sendiri pesan dari ayahmu, supaya kamu percaya dan om gak ngada-ngada.” Dimas memberikan ponselnya pada Afifah, lalu Afifah membacanya. Tidak ia sangka ayahnya malah menyuruh Dimas mengikuti Afifah karena ayahnya sangat khawatir Afifah pergi dengan Vero.
“Sekhawatir ini ayah?” tanya Afifah.
“Namanya juga seorang ayah, khawatirnya, sayangnya, bahkan cintanya, gak bisa ditandingi oleh siapa pun, Fah,” jawab Dimas.
“Kalau ayah tanya soal tangan Afifah gimana, Om?” tanya Afifah.
“Ya cari tahu alasannya sendiri dong?” jawab Dimas.
“Nyebelin! Minta saran malah begitu!” tukas Afifah.
“Bilang jujur boleh, kamu begini karena Vero, karena gak mau dicium Vero, atau mau bohong ya boleh, kan kalau bohong dosa ditanggung sendiri?” ucap Dimas. "Lucu baru jadian tangannya cedera? Cedera karena jadian kan lucu?" kelakar Dimas.
“Ish ...nyebelin om ini!” cebik Afifah kesal.
“Kenapa nolak dicium Vero? Kemarin sama aku nyosor?” ucap Dimas dengan senyum yang meledek.
“Ih gak usah bahas ke situ, Om!” tukas Afifah.
“Ya om bicara sesuai fakta, kan? Kamu nolak dicium Vero sampai Vero marah dan buat tangan kamu terluka, tapi kemarin kamu malah cium-cium om sampai om terbawa suasana, dan melakukan banyak hal sama kamu. Dan kamu tahu Afifah, sampai sekarang om gak bisa melupakan, om merasa bersalah iya, om merasa gak bisa jaga kamu, dan om merasa Cuma kamu yang selalu bikin om gak bisa tidur. Entah, kenapa. Tapi, om rasa om benar-benar jatuh cinta sama kamu, Fah,” ungkap Dimas.
“Jangan gila, Om! Om mantan suami bunda, masa iya om mau sama anaknya bunda? Ya meskipun Afifah anak sambungnya. Umur kita juga terpaut jauh sekali, Om. Jelas Afifah gak mau sama om!” tegas Afifah.
“Kenapa kamu cium om kalau gak mau jadi pacar om? Di bibir kamu cium om!” tanya Dimas penasaran.
“Ya, ya karena gak tahu?” gagap Afifah.
“Gak tahu? Sadar gak kamu cium om saat itu secara tidak sengaja om bisa merasakan getaran entah itu apa om gak tahu, yang om paham om jatuh cinta sama kamu?” cetus Dimas. “Jelaskan sama om, kenapa kamu cium om?” pinta Dimas.
“Bibir om manis,” jawabnya singkat.
“Lalu kenapa kamu minta om jadi pacarmu? Tapi setelah itu kamu main kabur saja?” tanya Dimas lagi.
“Udah ah, aku khilaf!” jawab Afifah.
“Khilaf tapi menikmati ya, Fah? Terus kenapa gak mau dicium Vero?” tanya Dimas lagi.
“Gak mau aja,” jawab Afifah.
“Ya sudah jangan nangis lagi, ya? Nanti jelaskan baik-baik sama ayah dan Bunda, kenapa tangan kamu sampai begitu,”ucap Dimas.
Afifah mengangguk lalu dia memalingkan wajahnya dari Dimas. Ia melihat ke arah jendela, dan menikmati jalanan yang ramai di malam hari.
__ADS_1