
Dimas mengantarkan Afifah dan Vero untuk jalan-jalan. Biarlah jadi sopir mereka tidak apa-apa, yang penting Afifah hari ini bahagia. Afifah duduk di belakang bersama Vero, sedangkan Dimas ia sendirian di depan, mengemudikan mobilnya. Meskipun sendirian di depan, pandangan Dimas tak lepas pada Afifah, ia mengamati Afifah yang duduk di belakang bersebelahan dengan Vero. Dari tadi mereka terlihat begitu akrab, Dimas tidak menghiraukan mereka yang ngobrol dari tadi, yang penting ia bisa mengawasi Afifah dari spion.
“Ini mau ke mana?” tanya Dimas.
“Kita nonton, yuk?” ajak Afifah.
“Boleh,” ucap Vero.
“Oke, kita ke bioskop. Mau nonton apa nih?” tanya Dimas.
“Sepertinya film ini bagus, Om?” Vero menyarankan sebuah film yang akan ditontonnya.
“Boleh-boleh, kita langsung ke bioskop nih?”
“Iya dong, Om? Biar Vero gak kemalaman pulangnya, nanti habis nonton antar jalan-jalan kami ya, Om? Om pasti tahu kan tempat yang bagus untuk foto-foto, yang instagramable lah,” ucap Vero.
“Banyak, nanti om antar kalian deh. Pokoknya nikmati liburan kalian sekarang, mumpung om gak ngantor nih, jadi bisa antar kalian jalan-jalan sepuasnya. Untung kamu datang, Afifah jadi mau kan diajak jalan, dia dari kemarin diajakin jalan-jalan gak mau, malah milih nonton drama korea, kadang sampai tengah malam? Apa gunanya liburan coba kalau Cuma di kamar saja berhadapan dengan laptop?” ujar Dimas.
“Iya ih, mumpung liburan Afifah, jalan-jalan ke mana? Liburan masa di rumah saja? Gak seru tahu?” ujar Vero.
“Degar tuh Vero ngomong?” ucap Dimas.
“Iya ih, om cerewet sekali ih!” tukas Afifah.
“Om Dimas ada benarnya, Fah. Lagian apa sih enaknya nonton drakor gitu? Bikin mager tahu?” ujar Vero.
__ADS_1
“Tuh dengar, Vero saja bilang begitu?” ucap Dimas.
“Ih kalian para cowok gak ngerti sih!” ketus Afifah.
“Sudah jangan ngambek, ya kebanyakan cowok begitu, ya terserah kamu sih mau gimana, senyaman kamu mau liburan bagaimana. Sudah jangan ngambek,” ucap Vero sedikit merayu Afifah yang ngambek.
Dimas melihatnya semakin tak keruan, tapi bairlah, namanya juga ABG. Dimas hanya diam terserah mau bagaimana Afifah dan Vero. Lagian paling Vero ketemu Afifah kan Cuma hari ini, besok, besok, dan besoknya lagi pasti gak akan ketemu.
Seharian full Dimas menemani Afifah jalan dengan Vero. Dari nonton, sampai ke tempat-tempat wisata yang instagramable. Dimas sebetulnya malas, tapi biarlah, biar Afifah bahagia, melihat Afifah tersenyum bahagia dengan Vero saja Dimas sudah senang, karena dari kemarin dia sudah membuat Afifah kesal. Bahkan sejak malam itu, malam di mana mereka jadian, mereka sudah tidak lagi akur, hanya perdebatan yang terjadi antara Dimas dan Afifah.
^^^
Sudah sepuluh bulan Askara dan Salma di Singapura. Mereka memutuskan untuk pulang, karena kabar bahagia telah menyapa Askara dan Salma. Salma akhirnya dinyatakan hamil setelah melakukan beberapa tahapan terapi, dan program hamil di sana. Salma dan Askara lega bisa pulang ke Jogja lagi, karana dia sudah dinyatakan positif hamil, dan kini kandungan Salma sudah masuk lima bulan. Lima bulan di sana mereka melakukan terapi dan program hamil, dan ternyata tujuan baik mereka dilancarkan, hanya lima bulan saja Salma bisa hamil. Kini Salma bisa merasakan hamil lagi, setelah beberapa tahun perutnya kosong, tidak pernah hamil lagi.
“Iya, Sayang. Kasihan Afifah, di rumah sama oma dan opanya. Untung ayah sama bunda mau menemani Afifah, kalau tidak, pasti kasihan dia,” ucap Askara.
“Iya, sudah gitu ibu sekarang sering drop, jadi gak bisa ke Jogja menemani Afifah,” ucap Salma.
“Dimas juga jarang sekali menjenguk Afifah, karena memang dia sedang sibuk di kantor,” kata Askara.
Meskipun Dimas sibuk d kantor, Dimas tidak kehilangan banyak akal. Saat Afifah membutuhkan sopir pribadi, Dimas memerintahkan orang suruhannya untuk menjadi sopir pribadi Afifah. Jadi Dimas akan tahu keadaan Afifah, dan kegiatan Afifah ngapain saja. Tidak mungkin dia tanya Ardha atau Alana soal Afifah, mau tanya sendiri pada Afifah, sekarang Afifah seperti menghindarinya. Jadi ia putuskan mencari orang kepercayaan untuk dijadikan sopir pribadi Afifah, supaya dirinya bisa memantau Afifah meskipun dia jauh dari Afifah.
“Ayah, apa kita pindahkan Afifah ke Jakarta saja? Jadi biar kelas tiga dia sekolah di sana. Kan kita juga berobat di sana? Tidak di Jogja?” ujar Salma.
“Yakin kamu mau pindah ke sana?” tanya Askara. “Aku tidak mau pikiranmu macam-macam kalau kita pindah ke Jakarta lagi, nanti kandunganmu kenapa-napa, aku takut itu,” lanjutnya.
__ADS_1
“Aku mau, demi anak-anak kita, Mas. Tinggal di rumah kamu dulu saja aku mau kok,” jawab Salma.
“Enggak, rumah itu sudah aku jual, Sayang. Aku sudah beli rumah baru, Papa Zhafran yang mengurus semuanya,” jelas Dimas.
“Kamu yakin jual rumah itu? Sayang kan banyak kenangan kamu?” ujar Salma.
“Kenangan yang silam dan menyakitkan bukankah harus kita buang? Sudah lah, kita kan sudah buka lembaran baru, jadi kita juga harus punya rumah baru, untuk kita dan anak-anak kita,” ucap Askara.
“Benarkah begitu?” tanya Salma yang masih belum percaya dengan mata berkaca-kaca.
“Benar, Sayang? Jangan nangis dong?” Askara menyeka air mata Salma.
Sebetulnya Salma tidak masalah jika tinggal di rumah Askara dulu. Karena letaknya strategis, dan tidak jauh juga perjalanannya untuk pergi ke rumah Salma. Salma sadar, kalau dirinya anak satu-satunya, jadi tidak mungkin di usia ibunya yang sudah senja, malah meninggalkan ibunya diurus sama orang lain.
“Aku juga mau biar kamu dekat sama ibu, Sal. Kamu anak satu-satunya, mau siapa lahi kalau bukan kamu yang mengurusnya? Tidak mungkin Dimas terus, kan?” ucap Askara.
“Aku juga mikir ke situ, Mas. Aku pengin ngajak kamu pindah sebetulnya sudah lama, tapi ya aku juga pengin program hamil dulu. Berhubung program hamil kita berhasil, dan Insya Allah anak kita sehat di dalam perutku, aku ingin pulang ke Jakarta, biar aku bisa urus ibu juga. Kasihan Dimas gak nikah-nikah juga mungkin karena bingung dengan ibu,” ucap Salma.
“Iya juga kasihan dia, gak nikah-nikah, lagi-lagi diputus pacarnya?” ucap Askara.
“Aku nebak sih karena ibu dia putus sama pacarnya, yang kedua karena dia sakit,” ucap Salma.
“Dimas pernah bilang sama aku, dia sudah normal, tapi ya begitu dia memberatkan ibu, jadi dia memilih untuk jaga ibu, katanya sebagai penebus dosa dia yang sudah membuat ibunya kecewa, jadi ia ingin rawat ibu yang tak lain sahabat dari ibunya Dimas,” jelas Askara.
Kali ini setelah mendengar cerita Askara, Salma sadar, ia memang harus pulang, haru menjaga ibunya juga.
__ADS_1