
Askara dan Salma merencanakan untuk melakukan program hamil. Salma sudah sangat menantikan kehadiran buah hati dalam pernikahannya. Pernikahannya yang sudah memasuki tahun kedua, membuat Salma ingin segera memiliki anak. Sejak dulu ia keguguran, sampai sekarang Salma belum pernah hamil lagi, bahkan tanda-tanda hamil pun jarang ia rasakan. Padalah menstruasinya lancar, tidak masalah, dan hormon juga stabil kata Dokter yang ia temui untuk konsultasi. Pun dengan Askara, dia juga normal, tidak ada kendala apa-apa dalam sistem reproduksinya. Sudah banyak dokter yang mereka kunjungi selama setahun ini, tapi hasilnya selalu sama. Mereka sama-sama normal.
Salma takut tidak bisa hamil lagi, karena umurnya sudah tidak muda lagi. Jadi dia selalu khawatir, takut ada masalah dalam dirinya. Padahal Askara tidak mempermasalahkan itu, tapi yang namanya perempuan tetap saja takut kalau tidak hamil-hamil.
“Sudah gak usah gitu wajahnya, memang belum rezeki mau gimana lagi, Bund?” ucap Askara saat melihat istrinya yang baru saja mencoba test urine di pagi hari, dan hasilnya negatif lagi. Padahal sudah terlambat datang bulan satu minggu.
“Aku takut gak bisa hamil lagi, Yah,” keluh Salma.
“Jangan takut, pasti kamu bisa hamil, hanya belum waktunya saja,” ucap Askara menenangkan Salma.
“Kita jadi mau ikut program hamil, kan?” tanya Salma.
“Jadi dong, aku juga pengin punya anak lagi, punya anak laki-laki. Sama perempuan juga, kembar juga boleh,” jawab Askara.
“Tapi kasihan Afifah kalau kita tinggal lama di Singapura, Yah? Nanti sama siapa?” ucap Salma.
“Ada oma sama opanya, bunda gak usah khawatir,” ucap Askara. “Keluargaku banyak, jadi Afifah banyak temannya kalau sendiri. Pasti ayah sama bunda mau lah nemenin Afifah. Kak Nina juga pasti mau menemani Afifah,” jelas Askara.
“Ya sudah, biar nanti kalau liburan ke ibu dulu, baru pulang ke sini bunda sama ayah yang menemani. Katanya bunda juga pengin di sini, kangen suasana sini,” ucap Alana.
“Iya, nanti biar Afifah di ibu dulu, kalau Dimas pulang nanti diantar Dimas ke sini, aku sudah telefon dia tadi,” ucap Askara.
“Cie ... sekarang malah ayah yang sering telefonan sama Dimas?” ledek Salma.
“Kan ayah ada kerja sama dengan dia, Bund? Jadi ya sering telefonan sama Dimas, lagian dia juga baik sama Afifah?” jelas Askara.
Askara sudah jarang cemburu lagi sejak Dimas juga jarang ke rumahnya, paling kalau ke rumahnya untuk mengantar ibunya Salma saja, dan untuk bahas soal pekerjaan.
__ADS_1
^^^
Salma melihat Afifah dari tadi main ponsel sampai melupakan belajarnya. Dari tadi sibuk dengan aplikasi untuk membuat video konten, dan chat dengan teman-temannya.
“Afifah ... kamu belajar apa mainan hape sih? Dari tadi bunda lihat kamu malah sibuk mainan hape mulu? Bunda kan bilang, bunda sama ayah kasih izin kamu pegang hape, tapi jangan berlebihan. Waktunya belajar ya belajar, main hape ya main hape, Fah?” tegur Salma dengan memeluk putrinya yang sedang asyik main hape.
“Ih bunda ... baru sebentar juga? Orang PR sudah aku kerjain? Aku juga sudah belajarnya?” jawab Afifah dengan kesal.
“Yakin PR nya sudah selesai? Ingat lho dua bulan lagi kamu ujian kenaikan kelas, kamu mau naik kelas, kan? Kamu juga harus mempertahankan nilaimu, jangan sampai turun, harus stabil, bila perlu harus naik, Fah?” tutur Salma.
“Iya bunda sayang ... Afifah tahu kok?” jawab Afifah.
“Ini LKS kamu ada tulisan PR di halaman tiga puluh tujuh? Kamu belum kerjain nih PR nya? Katanya tadi sudah?” tanya Salma dengan meneliti buku-buku Afifah.
“Itu kan buat dikumpulkan hari Kamis, Bunda? Besok baru rabu, jadi ya besok saja ngerjainnya?” jawab Afifah.
Salma memang terlalu khawatir kalau Afifah bergaul dengan teman yang gak benar. Anak SMP zaman sekarang pergaulannya sudah agak ekstrim, kadang malah ada yang pacaran sama orang dewasa, kadang pacarannya juga sudah menjurus ke hal-hal yang tidak semestinya anak SMP seusia Afifah lakukan.
“Bunda, Om Dimas lama sekali jarang ke sini?” tanya Afifah.
“Ya kan Om Dimas di Australia, Fah? Nanti juga pulang, pas kamu liburan di rumah eyang nanti kan Om Dimas pulang?” jawab Salma.
“Ih apaan, bulan kemarin Om Dimas pulang kok? Biasanya kalau pulang kan mampir ke sini?” ucap Afifah.
“Oh iya, bulan kemarin pulang sepertinya, tapi hanya urus kerjaan sama ayah saja sih, itu waktu ayah ke Bandung, kan sama Om Dimas juga,” jelas Salma. “Afifah tahu Om Dimas pulang dari siapa? Apa ayah bilang sama kamu, Fah?” tanya Salma.
“Lihat dari Instagramnya Om Dimas,” jawab Afifah.
__ADS_1
“Kamu main Instragram juga? Ngikutin Om Dimas juga?” tanya Salma.
“Iya, sudah lama ih, Bund. Bunda sih jarang buka-buka, paling kalau promosi menu baru saja di Cafe bunda nongol?” ujar Afifah.
“Ya memang buat promosi saja Instagramnya bunda, gak buat mainan atau pamer-pamer apalah kek orang-orang,” jelas Salma.
“Bunda, kenapa dulu bunda bisa cerai sama Om Dimas?” tanya Afifah.
“Kamu itu tanya kok begitu? Gak usah tanya-tanya begitu, belum saatnya kamu tahu,” jawab Salma.
“Kan kalau bunda cerai sama ayah waktu itu karena ibu, kalau dulu sama Om Dimas kenapa?” tanya Afifah lagi.
“Sudah, gak usah tanya-tanya begitu. Kamu ini kepo sekali sih? Sudah mainan hapenya, sudah jam sepuluh malam, tidur sana, besok sekolah,” ucap Salma.
“Yah bunda, ditanya kok begitu?”
“Sudah sini hapenya, kamu tidur gih!” titah Salma.
“Ih bunda, orang lagi main hape diminta?” cebik Afifah.
“Besok lagi mainannya!” tegas Salma.
“Ih bunda gak asyik. Orang teman Fifah saja boleh pegang hape terus? Kalau malam juga masih pegang? Bunda kok gak ngebolehin?” protes Afifah.
“Kamu boleh pegang hape full sampai pagi lagi kalau kamu sudah SMA. Ayah sama bunda sudah sepakat itu, jadi Afifah nurut sama ayah. Sini buruan hapenya!” tegas Salma.
Salma sebetulnya tidak tega, tapi kalau keterusan lama-lama Afifah gak fokus sekolahnya. Terlalu ke hapenya, dan tidak konsentrasi belajarnya.
__ADS_1
Afifah kadang kesal dengan ayah dan bundanya yang sekarang malah jadi sering mengatur dirinya. Afifah jadi merasa kurang bebas sekarang. Apalagi teman-teman Afifah bisa full pegang hape dari pagi hingga malam.