Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Pamit


__ADS_3

Askara dan Afifah sampai di rumah Salam. Afifah sedikit lega karena dia bisa bertemu dengan Salma. Salma yang membukakan pintu saat mereka datang, dan Afifah langsung berhambur memeluk Salma.


“Afifah kangen, bunda,” ucapnya dengan suara lirih.


“Maafkan bunda ya, bunda belum sempat menemui kamu, Fah,” ucap Salma.


“Iya bunda, tidak apa-apa. Fifah tahu bunda sibuk, kok,” jawab Afifah.


“Kamu sudah sehat, Nak?” tanya Salma.


“Iya, sudah. Kalau aku sakit ayah kasihan, karena ayah yang urus Afifah sendiri, Bunda,” jawab Afifah.


“Memang tidak ada oma?” tanya Salma. Dan, Afifah hanya menggelengkan kepalanya saja.


Askara memang tidak mau memberitahukan kepada keluarganya, kalau Afifah sedang sakit. Itu semua karena Askara tidak mau keluarganya tahu kalau Afifah sakit karena merindukan Salma. Nanti yang ada semua keluarga Askara menyalahkan Salma karena membuat Afifah sakit.


“Ayo masuk, Fah,” ajak Salma.


“Siapa yang datang, Sal?” tanya laki-laki dari belakang. Tentu saja itu suara Dimas.


“Ada Afifah, Dim,” jawab Salma.


Dimas keluar, dia menemui Afifah dan Askara. “Eh ada Keponakan om yang cantik, apa kabar? Katanya kemarin sakit?” tanya Dimas.


“Iya, sudah sembuh kok, Om,” jawabnya.


“Maaf ya, om belum sempat ajak bunda jenguk kamu, om sama bunda sibuk sekali,” ucap Dimas.


“Iya, gak apa-apa, Om,” jawab Afifah.


“Silakan duduk, Mas, Fifah,” ucap Salma.


Mereka duduk, Afifah duduk di sebelah Salma, dia sangat merindukan Salma. Namun, Salma terlihat cuek, jadi dia ingin bergelayut manja atau memeluknya sedikit tidak enak dengan sikap Salma yang acuh. Mereka hanya diam saja, ya mereka berempat hanya diam, duduk di tempat masing-masing dengan mulut terkunci, karena bingung apa yang akan dibicarakan.


Disatu sisi Salma tidak enak dengan Afifah karena sampai dia sembuh dan ke sini dia sama sekali tidak menjenguknya. Dia mengabaikannya. Dan di sisi lain, dia ingat saat Afifah ke sini tapi dia sampai malam tidak pulang-pulang. Salma  malu sekali, ternyata Afifah malah ke sini, menemuinya lagi. Di saat dirinya dengan Dimas sedang asik bercumbu rayu.


“Ehm ... sebentar bunda buatkan minum, ya? Bunda juga buat kue itu, bunda ambilkan sebentar, ya?” ucap Salma dengan gugup.


“Gak usah repot-repot, Sal. Kita mau cepetan kok,” ucap Askara.


“Iya bunda, aku sama ayah ke sini Cuma mau pamit kok,” ucap Afifah.

__ADS_1


“Pamit? Pamit ke mana?” tanya Salma.


“Ehm ... Sal, bisa bicara sebentar?” tanya Askara.


“Bicara? Ya silakan saja bicara,” jawab Salma.


“Kita bicara berdua saja bisa? Di luar?”


“Oh, i—iya,” jawab Salma mengiyakan, setelah Dimas mengisyaratkan kalau dirinya memperbolehkannya untuk bicara dengan Askara berdua.


“Afifah, ayah bicara dulu sama bunda, ya?”


“Iya, Yah.” Jawab Afifah.


Salma keluar bersama Askara, mereka duduk di teras depan, saling bersisian, hanya meja kecil yang menjadi penyekat mereka.


“Mau bicara apa, Mas?” tanya Salma.


“Aku sama Fifah mau pindah ke Jogja. Ya aku Cuma mau bilang, terima kasih sudah pernah menjadi sosok ibu yang baik untuk Afifah. Maafkan aku jika selama ini aku sudah menyakitimu. Sekarang, aku mau kamu bahagia dengan Dimas,” ucap Askara.


“Kenapa mesti pindah?” tanya Salma.


“Kan ada bunda, Mas? Terus kenapa pas dia sakit bunda tidak ke rumah mas?” tanya Salma.


“Kalau bunda tahu, nanti kamu yang disalahkan lagi, Sal. Karena Afifah  manggilin kamu terus pas sakit, dan kamu tidak datang. Aku tidak mau kamu terlibat perselisihan mulut lagi dengan keluargaku, jadi ya aku tidak mau bilang dengan mereka kalau Afifah sakit,” ucap Askara.


Salma diam, dia malu sekali karena sampai hati dia tidak menjenguk Afifah saat sakit, dan sampai sembuh, lalu dia ke sini lagi untuk pamit dengannya karena akan pindah ke Jogja.


“Aku minta maaf sekali lagi ya, Sal. Semoga kamu bahagia dengan Dimas, aku pamit, ya?” ucap Askara.


“Iya, Mas, aku juga minta maaf,” jawab Salma.


Afifah di dalam dengan Dimas, Afifah hanya diam saja karena Dimas juga tidak mengajak bicara dengannya.


“Fah, kamu mau pamit ke mana tadi?” tanya Dimas.


“Aku sama ayah mau pindah ke Jogja, Om,” jawab Afifah.


“Kok mendadak?”


“Sebenarnya sudah ada rencana jauh-jauh hari, Om. Tapi aku sakit, terus kan aku belum urus surat pindah sekolah?” jawab Afifah.

__ADS_1


“Oh begitu?”


“Iya, om. Oh iya, om jangan sakiti bunda, ya? Bunda itu orang  yang baik sekali, om. Afifah titip bunda, ya?”


“Iya om gak akan nyakitin bunda,” jawab Dimas.


Sebetulnya Dimas tidak enak hati dengan kedatangan Afifah dan Askara. Apalagi selama menjalin hubungan dengan Salma dia banyak melakukan hal yang salah dalam hubungannya. Bukannya mempercepat pernikahannya, tapi Dimas seolah mengulur waktu terus, padahal Bu Mila juga menanyakan kapan akan diresmikan hubungannya.


Dimas tidak mungkin menikahi Salma,  karena dirinya belum bisa normal seperti sediakala. Sedangkan dia tahu Salma membutuhkan itu. Dimas sebetulnya ingin bicara dengan Salma, kalau dirinya tidak ingin menikahinya. Bagaimana menikahi Salma kalau dirinya saja impoten? Tidak bisa membuat puas istrinya saat di ranjang. Dimas yakin Salma membutuhkan sosok yang tidak seperti dirinya.


Salma juga sempat berpikir, dia sempat dilema untuk menikah dengan Dimas. Menikah juga  butuh kebutuhan batin yang memuaskan, tapi apa mungkin Dimas akan sembuh jika menikah dengannya lagi? Belum tentu Dimas sembuh, toh sudah banyak sekali dokter yang Dimas kunjungin untuk berobat, nyatanya beluim juga sembuh?


Salma masih duduk di sebelah Askara, dia tidak menyangka Askara akan pindah ke Jogja dengan Afifah, dan dia pamit ke sini lebih dulu.


“Sal, jaga diri kamu baik-baik, ya?” ucap Askara.


“Iya, Mas. Kamu juga, ya?” jawab Salma.


“Ya sudah aku panggil Afifah, nanti kemalaman sampai sana,” ucap Askara.


Askara masuk ke dalam memanggil Afifah. Afifah langsung salim dengan Dimas, dia juga mendekati bundanya yang berdiri di sebelah ayahnya.


“Bunda, Afifah pamit, ya? Afifah akan merindukan bunda,” ucap Afifah.


“Iya, Sayang. Bunda juga pasti akan merindukanmu, Nak,” ucapnya.


“Bunda gak mau ngasih kenang-kenangan apa gitu sama aku?” tanya afifah.


“Kenang-kenangan? Oke, bunda akan ambil sesuatu buat kamu.” Salma ke kamarnya, dia mengambil buku agenda berwarna merah muda, ia akan berikan buku itu pada Afifah.


“Tulislah, setiap kamu merindukan bunda, Nak. Sampai jumpa di lain waktu, Afifah. Bunda juga akan merindukanmu,” ucap Salma.


“Iya, bunda. Ini ada hadiah untuk bunda.” Afifah memberikan sebuah kotak untuk Salma.


“Apa ini?”


“Nanti bunda buka saja, Afifah pamit ya, bunda?”


Askara dan Afifah pamit dengan Salma. Mereka juga akan mampir ke toko ibunya Salma, karena mau pamit dengan ibunya Salma.


Selepas Afifah pergi, Salma duduk di sofa ruang tamu, dia membuka hadiah dari Afifah. Ternyata isinya sebuah buku yang di dalamnya Afifah susun foto-foto dirinya dengan bundanya, sejak dia masih kecil hingga sekarang. Di dalam buku itu tertulis juga puisi untuk Salma dari afifah. Salma menangis membacanya. Tidak menyangka Afifah benar-benar tulus meminta maaf padanya. Afifah ingin dekat dengan dirinya, bukan karena ingin dirinya dan ayahnya kembali, melainkan dirinya ingin tetap memiliki sosok bunda, meski tidak lagi bisa bersama. Tapi, Salma terlalu kejam sekali dengannya. Dia tidak menghiraukan Afifah, bahkan sampai Afifah sakit pun dia tidak menghiraukannya.

__ADS_1


__ADS_2