
Dimas duduk di ruang tamu bersama lainnya, ia tidak menyangka Kania berani mendatangi rumah Afifah bersama mamanya untuk membahas masalah posisi di kantor. Padahal Kania sudah menyetujuinya dia pindah bagian, apalagi Dimas sudah memberikan upah yang sesuai dengan Mita, karena Dimas merasa bersalah sudah memindahkan Kania di bagian lain.
“Ini ibu nih biang keroknya!” ucap Salma menyalahkan ibunya.
“Ya, kan ibu gak tahu, Sal? Iya ibu sih merasa salah dan tidak enak juga sama Bu Sari. Tapi, kan harusnya mereka menyadari kalau Dimas gak mau? Toh ibu kan Cuma menawarkan saja, ibu punya Dimas, yang belum memiliki pasangan. Lagian ibu tahunya selepas putus dengan Renata Dimas gak pacaran lagi? Ternyata sama cucunya ibu? Kalau dari awal tahu Dimas sama Afifah, ibu ya gak akan cariin Dimas jodoh? Ibu kan hanya kasihan, dia gak dapat-dapat pasangan hidup? Ternyata lagi nungguin Afifah gede? Kalau tahu dari dulu, ya ibu gak akan khawatirin Dimas? Ibu ini kan dititipi amanah oleh mama dan papanya Dimas, jadi ibu begini sama Dimas, peduli sekali?” jelas Bu Mila.
“Iya, sih, tapi kan harusnya ibu tanya dulu sama Dimas, jangan asal iya-iya saja, Bu?” ujar Salma.
“Iya ibu bilang sama Bu Sari, nanti ibu tanya sama Dimas dulu, eh ... belum tanya sudah keburu ke sini? Ya ibu kasih foto Dimas. Ibu juga selalu bilang gak janji, karena ibu belum tahu Dimas ada calon atau enggak?” ucap Bu Mila.
“Tapi kan gini jadinya, Bu?” ujar Salma.
“Sudah, Salma ... ibu gak salah, aku saja gak pernah terbuka dengan ibu atau dengan kamu dan Askara. Eh sorry dengan ayah dan bunda maksudku. Bagaimana aku mau bilang sama kalian semua, orang aku macarin anak dibawah umur? Yang ada aku diusir dari sini dan kalian gak terima aku macarin Afifah?” ucap Dimas.
“Ya, iya sih? Tapi, aku sudah merasa sejak kamu akan ke London, kamu bisikin Afifah kalau kamu bilang I Love You pada Afifah, kan? Terus kamu cium tuh pipi Afifah dengan mesra, kayak gak layaknya om cium keponakannya, melainkan sedang cium kekasihnya,” ucap Salma.
“Peka sekali bunda ini, ya?” ucap Askara.
“Iya lah! Pas malam terakhir kamu di sini, sebelum berangkat ke London, kamu ciuman sama Afifah di taman belakang rumah kamu, kan? Aku sering mergokin kalian, tapi bingung sih mau tanya, takut salah juga. Toh Ayahnya Afifah seperti sudah setuju sekali kamu dengan Afifah?” ujar Salma.
“Ih pantas bunda selalu tanya siapa pacar Afifah?” ucap Afifah.
“Bunda juga sering baca buku harian kamu, kamu selalu menuliskan sesuatu kalau sedang rindu sama calon suamimu, kan? Bunda baca semua sebetulnya, pas kamu ulang tahun, kalian selalu curi-curi waktu berduaan, pokoknya bunda itu sudah curiga, tapi bunda percaya kalau kamu bisa jaga diri, dan percaya kalau Dimas akan setia sama kamu,” jelas Salma.
Afifah reflek memeluk Salma. Dia bergelayut manja pada bundanya. Meskipun bukan anak kandung, Afifah begitu menyayangi Salma.
“Bunda gak marah aku menikah sama Om Dimas? Bunda udah gak ada rasa atau cinta sama Om Dimas, kan?” tanya Afifah.
Salam memandangi wajah Afifah yang sedang berada di pelukannya. Ia menjentikkan jarinya ke kening Afifah.
“Pertanyaanmu itu sungguh lucu! Masa bunda masih cinta sama Om Dimas? Kalau masih cinta gak bakal bunda balik sama ayahmu. Bunda hanya mencintai ayahmu, gak usah khawatirin perasaan bunda pada Om Dimas. Semuanya sudah selesai sejak dulu sekali, ya meski berniat mau balikan, tapi tetap saja yang ada di pikiran bunda, nama ayahmu?” jelas Salma.
“Ah masa? Jangan bikin ayah ge-er, Bunda?” ucap Askara.
“Ih gak percaya ya sudah?” ucap Salma.
__ADS_1
“Bunda, Ayah. Boleh gak, besok Afifah ke makam ibu? Kan Afifah mau menikah, ya meskipun dulu kita ada konflik karena ibu, tetap saja ibu adalah ibuku, kan? Aku izin sama bunda dan ayah, besok aku ingin ke makam ibu,” ucap Afifah.
“Ya boleh dong, Sayang?” ucap Salma. “Besok kita sama-sama ziarah ke makam ibumu,” imbuhnya.
“Terima kasih, Bunda,” ucap Afifah, lalu mengeratkan pelukannya pada Salma.
^^^
Dimas sudah siap memakai jasnya. Ia sudah rapi dan bersiap untuk mengikrarkan janji sucinya pagi ini di hadapan penghulu dan para saksi. Dia dari tadi mondar-mandir seperti orang yang panik sambil menunggu penghulu datang.
“Duduklah, Dim? Kamu dari tadi mondar-mandir saja? Apa gak capek?” tegur Bu Mila yang menemani Dimas di kamarnya.
“Ibu ... aku kok gugup begini, ya? Perasaan dulu waktu menikah dengan Salma gak gini-gini amat sih?” ucap Dimas.
“Beda orang ya beda rasa dong, Dimas? Gak usah grogi begitu, tenang, duduklah. Minum dulu biar fokus,” ujar Bu Mila.
“Gak ada nafsu buat minum dan makan, Bu,” ucapnya.
“Sudah tuh biar gak gugup minum dulu, Dim. Nanti jangan salah nyebut nama lho? Yang mau kamu nikahi Afifah, awas sampai menyebut nama perempuan lain!” ucap Bu Mila.
“Kali saja yang kamu sebut mantan kamu? Entah mantan pacar atau mantan istrimu?” ujar Bu Mila.
“Ah ibu jangan bilang gitulah?” rajuk Dimas.
Penghulu sudah datang, Dimas keluar didampingi Bu Mila. Kelurga yang Dimas punya hanya Bu Mila. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain Bu Mila. Sedangkan Afifah, dia masih di kamar bersama bundanya. Afifah tak kalah groginya. Dari tadi Afifah juga tidak mau diam, dia mondar-mandir, perasaannya tidak keruan.
“Fah, keluar yuk? Tuh Dimas sudah menunggu,” panggil Askara.
“Sekarang, Yah?” tanya Afifah.
“Tahun depan, Fah!” jawab Askara kesal.
“Ih ayah ... aku takut, Yah. Nih tangan Afifah dingin banget,” ucap Afifah.
“Giliran begini saja kamu tremor? Kalau udah sama Dimas di kamar mau nya nempel terus?” ucap Askara.
__ADS_1
“Ih ayah, beda rasanya.”
“Sudah yuk, keluar. Ayo sama bunda,” ajak Salma.
“Bunda, kok gini ya rasanya? Deg-degan gak karuan banget,” ucap Afifah.
“Semua yang mau menikah rasanya pasti begini, Sayang?” ucap Salma.
“Memang dulu bunda begitu?” tanya Afifah.
“Iya lah, masa enggak? Semuanya pasti merasakan yang seperti ini,” jawab Salma.
“Lebih deg-degan mana, saat sama Om Dimas, atau ayah, Bun?” tanya Afifah.
“Bisa-bisanya nih anak, lagi begini tanyanya yang aneh-aneh!” tukas Askara.
“Ya kan tanya, Ayah?” ucap Afifah.
Afifah diapit ayah dan bundanya. Lalu ia duduk di sebelah Dimas. Afifah dan Dimas saling berpandang. Mereka saling mengulas senyum. Afifah terlihat begitu sangat cantik, bak seorang ratu.
“Pak Dimas, sudah siap?” tanya Penghulu.
“Ah, iya, Pak. Siap!” jawabnya.
“Ya sudah, jangan lihat calon istrinya terus, nanti setelah ini puas-puasin deh lihatnya,” ucapnya.
“Dengar, tuh. Afifah enggak akan ke mana-mana, jangan dilihatin terus, fokus, biar kamu gak salah mengucapkannya,” tutur Askara.
“Iya, Ayah,” ucap Dimas. “Lagian salahnya Afifah cantik sekali hari ini?” imbuhnya.
“Namanya pengantin ya cantik, Pak Dimas?” ujar penghulu.
Dimas lancar mengucapakan ijab qobulnya. Untung saja dia tidak salah sebut nama calon mempelainya. Suara sah dari para Saksi terdengar, Dimas dan Afifah sudah resmi menjadi suami istri.
Dimas menyematkan cincin kawin di jari manis Afifah, pun Afifah, dia juga menyematkan cincin di jari manis Dimas. Dimas mengecup kening Afifah. Rasanya lega sekali, Dimas sudah menikahi Afifah. Gadis kecil yang membuatnya sembuh dari sakitnya, gadis kecil yang sudah menjadi candu untuknya sejak dulu pertama kali dia menciumnya.
__ADS_1