
Benar seperti dugaan Dimas, kalau Afifah pasti ada yang suka di sekolahannya. Apalagi Afifah itu gadis yang cantik, manis, dan pintar. Tidak mungkin tidak ada yang suka dengan gadis itu. Tapi, Dimas yakin Afifah akan setia dengan dirinya. Dimas yakin Afifah tidak akan berpaling dengan dirinya, meskipun banyak sekali cowok yang lebih tampan dan lebih muda darinya. Baru masuk sekolah saja, Afifah sudah ada yang suka, apalagi nantinya?
Dimas tidak akan menyerah, dia tetap akan memperjuangkan Afifah apa pun risikonya. “Biar saja, dia deketin cowok, kalau jodohnya sama aku ya pasti sama aku?” ucap Dimas.
Afifah terus menghindari Rafka, dia masih trauma dekat dengan anak sekolah, apalagi Vero sudah benar-benar menyakiti dirinya, dan membuat dirinya trauma. Ia sudah tidak mau percaya dengan cowok yang masih sekolah. Takutnya ia akan jatuh pada lubang yang sama.
Mengingat kejadian Vero kemarin, membuat ia selalu hati-hati dalam memilih teman, apalagi kalau ada laki-laki yang mendekatinya, pasti dia akan perlahan menjauhinya.
“Fah, ditungguin Kak Rafka tuh!” panggil Ayu.
“Ayudya ... kan aku sudah bilang, aku gak mau!” ucap Afifah.
“Kenapa sih kamu selalu begitu kalau dideketin cowok?” tanya Siska.
“Kalian tahu kan, masih ingat soal Vero dulu, kan? Aku sudah gak bisa percaya sama cowok lagi, intinya belum bisa percaya, dan masih trauma. Takut seperti kemarin aku, Yu?” ucap Afifah.
“Iya sih, Vero nyakitin banget? Tapi kayaknya Kak Rafka baik kok?” ujar Siska.
“Iya, baik, tapi aku masih takut,” ucap Afifah.
Afifah mengambil buku bindernya. Ia mengambil selembar kertas, lalu ia menuliskan surat untuk Rafka.
Teruntuk Kak Rafka.
Afifah minta maaf selalu menolak ajakan Kak Rafka, itu semua karena Afifah masih belum mau dekat dengan cowok. Afifah masih trauma untuk percaya sama cowok, karena Afifah pernah mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan oleh mantan Afifah. Jadi, Afifah mohon Kak Rafka mengerti, ya? Afifah gak mau cari ribut, kalau mau berteman, berteman saja. Tapi, maaf aku tidak mau jika diajak pergi berdua, atau apa pun yang hanya berdua saja. Terima kasih atas perhatian dan pengertiannya.
Afifah.
Afifah memita Ayu mengantarkan surat yang ia tulisa pada Rafka. Biar saja putih abu-abunya tak memiliki kisah yang romantis, tapi di rumah dia memiliki cerita cinta yang manis dengan Dimas.
“Tolong kasihkan ke Kak Rafka, ya?” pinta Afifah pada Ayu.
“Oke aku kasihkan ke dia.” Jawab Ayu.
__ADS_1
Afifah tidak pernah cerita soal Dimas, dia simpan sendiri kisah cintanya dengan Dimas, hanya dirinya dan Dimas yang tahu.
^^^
Tiga tahun lamanya Dimas dan Afifah LDR- an. Mereka masih enjoy menjalaninya, tidak ada kata bosan, dan sama sekali tidak pernah cekcok dan salah paham. Dimas bisa mengimbangi Afifah, dia banyakin sabarnya menghadapi Afifah yang kadang cepat badmood, atau kadang gak mau diganggu kalau weekend, karena jatahnya nonto Drama Korea. Dimas paham itu, dia yang sabar, sampai Afifah selesai nonton Film, lalu telefonan.
Namanya juga pacaran sama anak ABG yang masih labil, jadi Dimas harus sabar sekali dengan Afifah yang seperti itu.
Seperti janjinya Dimas, dia akan pulang saat ulang tahun Afifah ke tujuh belas tahun. Tapi, janjinya meleset, karena Dimas masih banyak sekali pekerjaannya. Untung saja Afifah juga memakluminya. Mereka sama-sama mengerti. Afifah tahu bagaimana Dimas di sana, kerjanya serepot apa, Afifah tahu semua. Jadi, meskipun janjinya Dimas meleset, dia tidak marah. Afifah tetap akan menunggu Dimas, kapan waktunya Dimas pulang.
Malam ini, Afifah mendapatkan kejutan dari bunda dan ayahnya. Dia sudah tujuh belas tahun, itu artinya Afifah sudah menginjak usia dewasa. Afifah mengucek matanya, karena ia dibangunkan oleh bunda dan ayahnya yang tengah malam memberikan kejutan padanya. Tepat jam dua belas malam Afifah mendapatkan kejuatan dari ayah dan bundanya.
“Selamat ulang tahun putri cantiknya bunda ...,” ucap Salma.
“Ih bunda .... so sweet sekali? Tumben pakai kue segala?” ucap Afifah.
“Kan tujuh belas tahun, Sayang? Anak ayah sudah dewasa, ya? Selamat ulang tahun tuan putri ayah?” ucap Askara.
Askara dan Salma memeluknya, lalu menyuruh Afifah meniup lilin. Afifah berdoa lalu meniup lilinnya.
“Kenapa nungguin besok? Gak sekarang saja?” protes Afifah.
“Besok saja, ya? Pokoknya tunggu saja besok kejutannya,” ucap Salma.
“Ya sudah Afifah tunggu,” ucap Afifah yang masih ngantuk. “Ayah besok anterin Afifah ke toko buku, ya? Mau beliu buku dan alat tulis lagi,” pinta Afifah.
“Iya besok ayah antar kamu,” jawab Askara.
“Sana tidur lagi. Sini bunda cium dulu.” Salma mencium Afifah dengan penuh kasih sayang.
“Ayah sama bunda juga tidur lagi sana? Afifah ngantuk banget nih?” ucap Afifah.
“Ya sudah sana tidur lagi,” titah Askara.
__ADS_1
Afifah kembali masuk ke kamarnya. Ia malah belum mendapatkan pesan dari Dimas, ucapan selamat ulang tahun dari Dimas juga belum ia dapatkan. Sedikit kesal, tapi Afifah paham Dimas pasti sibuk sekali dengan pekerjaannya.
“Gak ada yang menarik, pesan gak ada dari Om pacar, udah mending tidur lagi. lagian pasti Om pacar lagi sibuk kerja. Katanya biar bisa buatkan istana untukku. Ah semoga saja dia semakin sukses dan lancar usahanya. Eh ... aku yang ulang tahun kok malah aku yang doain dia? Harusnya aku dong yang didoakan?” ucap Afifah sambil menarik selimutanya lagi.
Meskipun tidak ada kabar dari Dimas, Afifah percaya, dia tidak langsung marah-marah atau protes kayak kebanyakan cewek kalau tidak dapat kabar dari cowoknya.
^^^
Afifah terbangun dari tidurnya di pagi hari. Untung saja hari ini hari minggu, jadi ia bisa sedikit siang bangunnya, apalagi dia masih datang bulan, jadi tidak harus bangun sholat subuh. Dia bablas saja bangun sampai jam tujuh.
“Afifah! Bangun!” suara berisik menggedor-gedor pintu kamar Afifah. “Anak gadis bangun kok siang sekali?”
Afifah menguap mendengar suara berisik di depan kamarnya. Ia menggeliatkan tubuhnya, lalu mengucek matanya. “Kayaknya yang manggil bukan suara ayah? Bukan juga opa? Lalu siapa tadi yang gedor-gedor pintu kamarku sambil teriak manggil aku?” ucap Afifah lirih sambil berpikir.
“Kak Fifah, bangun!” panggil suara anak kecil kesayangannya.
“Eh Yusuf ternyata yang manggil aku? Aku kira Om Dimas, suaranya soalnya tadi kayak Om Dimas,” ucapnya bingung, karena nyawanya belum seratus persen kumpul.
“Afifah? Bangun sudah siang!” panggil suara yang mirip Dimas lagi.
“Tuh kayak Om Dimas suaranya? Apa aku ini ngelindur?” ucapnya.
Dengan malas dia beringsut turun dari tempat tidurnya. Lalu ia membuka pintu kamarnya.
“Selamat ulang tahun gadisnya om?” Dimas berada di depan pintu kamar Afifah dengan membawakan boneka dan buket bunga untuknya.
“Om Dimas?!” matanya membelalak melihat siapa yang datang pagi ini. Dengan wajah berantakan dan masih awut-awutan dia memeluk Dimas dengan erat.
“Ih nyebelin! Katanya gak pulang?” ucapnya dengan mencubit lengan Dimas.
“Hmm ... senangnya kedatangan tamu yang dirindukan?” ucap Askara.
“Jadi ini kejutan yang ayah bilang semalam?” tanya Afifah.
__ADS_1
“Bukan dong? Tuh kejutan dari ayah di depan, sana lihat sendiri,” titah Askara.
Afifah langsung ke teras depan, melihat kejuatan apa yang diberikan oleh ayahnya. Afifah teriak dengan bahagia melihat kejutan dari ayahnya.