
Badan Afifah masih terasa pegal sekali, apalagi bagian bawahnya tepatnya pangkal pahanya, masih terasa nyeri dan sakit. Rasanya ada yang mengganja, seperti milik Dimas masih tertanam di dalam miliknya. Afifah masih berada di dekapan Dimas. Dari semalam Dimas tidak melepaskan Afifah dari pelukannya. Penantiannya yang sangat lama, akhirnya Dimas bisa memeluk seorang perempuan lagi yang menjadi istrinya.
“Om ... bangun, udah pagi. Tubuh aku berat,” ucap Afifah dengan menggeliatkan tubuhnya.
“Sebentar, Sayang? Aku masih ingin peluk kamu. Masa baru saja tidur tadi sudah pagi? Cepat sekali!” cebiknya lalu mengeratkan kembali pelukannya pada Afifah.
“Ish ... suamiku ini, mau bangun jam berapa coba? Ini sudah mau siang, tuh lihat jam dinding, sudah jam tujuh, Om. Aku kan harus menyiapkan sarapan untuk Om?” ucap Afifah.
“Gak usah, nanti biar bibi yang bikin sarapan. Aku gak akan menyuruh istriku masak, kamu hanya boleh di kamar, hanya boleh menemaniku setiap hari, kecuali kamu kuliah!” ucap Dimas.
“Ih, masa begitu? Masa aku gak boleh buatkan kopi atau masak untuk suamiku?” protes Afifah.
“Udah nurut suami, pasti berkah dan bahagia. Kamu tahu, aku sudah lama menanti hal seperti ini, tapi mau melewatkan begitu saja? Gak bisa dong?” ucap Dimas.
“Ya sudah, peluk aku sepuas om deh, tapi kasih morning kiss dulu dong? Masa peluk-peluk saja?” pinta Afifah.
Dimas mengecup pipi, kening, dan bibir Afifah. Lalu ia menenggelamkan lagi wajahnya di dada Afifah. Ia merasakan nyaman dan damai memeluk istrinya. Ia memang sangat merindukan momen seperti ini, setelah lama menduda.
Setelah Rani meninggal, ia mencoba mencari perempuan, sampai ingin kembali pada Salma, tapi setiap ingat sakitnya, ia jadi down, tidak mungkin akan memiliki istri dengan sakit yang seperti itu. Yang ada dia malah akan mengecewakan istrinya.
Dimas memang banyak menjajaki perempuan lain, setelah Salma kembali menikah dengan Askara, tapi tetap saja dia tidak bisa sembuh, dan selalu membuat kecewa perempuan yang ia pacari. Yang dicari dalam sebuah pernikahan paling utama adalah hubungan ranjang, tapi bagaimana mau berhubungan intim di atas ranjang, kalau lobak milik Dimas saja gak bisa berdiri?
Karena Afifah, Dimas bisa kembali normal, dan hanya dengan Afifah dia bisa mencapai *******. Pernah dia mencoba ingin berhubungan dengan Renata, ternyata miliknya tidak mau mengeras sama sekali, tapi saat dengan Afifah, sampai keluar berkali-kali saja masih bisa tegang dan kokoh.
“Sayang ...,” panggil Dimas.
“Iya, Om. Kenepa?” jawab Afifah.
“Masih sakit gak ininya?” tanya Dimas sambil mengelus-elus milik Afifah.
“Masih, Om. Pegal sekali pahanya, itunya juga masih kerasa mengganjal, kayak punya om masih ada di dalam,” jawab Afifah.
Dimas tersenyum gemas melihat wajah Afifah yang lucu dan menggemaskan saat bangun tidur. Wajah naturalnya terlihat sempurna, cantik dan manis sekali. Ia kecup bibir Afifah dengan lembut, sesekali ia **********, dan Afifah membalasnya. Mereka semakin hanyut dalam kecupannya, hingga saling bertukar saliva.
“Om coba tengok milik kamu, ya? Om sembuhkan biar gak perih lagi,” ucap Afifah.
“Caranya?” tanya Afifah.
__ADS_1
“Sudah, nanti kamu tahu. Om sembuhkan, ya?” ucap Dimas.
“Hmm ... coba deh, bisa sembuh enggak?” ucap Afifah.
“Oke, rileks, ya? Jangan tegang,” tutur Dimas sambil menciumi tengkuk Afifah.
“Ah ... iya, Om,” jawab Afifah.
Dimas mengusapnya lembut, ia membuat Afifah melayang lagi. Dimas menanggalkan pakaian Afifah satu persatu, Afifah pun sama, ia melucuti pakaian Dimas, semuanya tanpa tersisa.
Dimas memeberikan kecupan lembut pada milik Afifah, sesekali **********, hingga Afifah mengerang lirih. Afifah tidak bisa menahan gelora hasratnya, ia menggeliat, mengejang hebat, dan tubuhnya bergetar karena perbuatan Dimas yang terus membuat Afifah ingin lagi dan lagi mencapai puncak.
“Gak sakit, kan?” tanya Dimas.
“Hmmm ... enggak, aku mau seperti semalam?” pinta Afifah.
“Oke, sebentar, om masih ingin seperti ini,” jawab Dimas.
Dimas mencumbu tubuh istrinya dari atas sampai bawah. Ia menandai setiap jengkal tubuh istrinya dengan kecupan lembut. Dada Afifah pun penuh dengan tanda merah yang Dimas berikan. Lebih parahnya lengan, dada, dan bahu Dimas, ada bekas gigitan Afifah, karena semalam Afifah menggigitnya keras saat sedang melakukan penyatuan dengan Dimas.
Dimas kembali melakukan penyatuan pada Afifah. Sudah cukup mudah, tapi tetap saja masih agak susah. Ia menghentakkannya, dan membuat Afifah menjerit keras. Reflek Afifah menutup mulutnya, karena sadar jeritannya sangat keras, dan takut ada yang mendengarnya di luar.
“Gak apa-apa, jerit yang keras, mau kamu meracau bagaimana, bebas sayang, gak bakal ada yang dengar, karena kamar ini kedap, aku sengaja pasang peredam, biar kamu bebas jerit-jerit di kamar, karena aku suka,” ucapnya.
“Nakal, ya? Masa senang sih istrinya menjerit-jerit?” ucap Afifah dengan terengah-engah.
“Kamu seksi saat menjerit-jerit, aku suka,” ucap Dimas. “Aku lanjutkan, ya?” bisiknya lalu ia menciumi tengkuk Afifah.
“Hmm ... lanjutkan saja, udah gak terlalu sakit, aku mau agak kerasan seperti tadi, Om,” pintanya.
“Nanti nangis?”
“Enggak, Om. Yang keras, ya?” mohon Afifah, dengan sesekali menggerakkan pinggulnya.
“Eh ... sudah gak sabar ya? Apa kamu mau di atas?” tanya Dimas.
“Boleh, aku coba,” jawab Afifah.
__ADS_1
Afifah makin liar pagi ini, ia memimpin permainannya di atas tubuh Dimas. Ia meliuk-liukan tubuhnya dengan indah di atas Dimas. Dimas hanya bisa mengerang menikmati apa yang dilakukan istrinya. Hingga mencapai puncak bersama, dan tubuh Afifah langsung terkulai lemas di atas tubuh Dimas.
“Pintar sekali istriku,” puji Dimas dengan menciumi kepala Afifah.
“Kan suamiku yang ngajarin?” jawab Afifah.
“Tapi aku gak ngajarin kamu gerak di atas lho?”
“Ya kan pakai naluri dan perasaan dong om? Cari enaknya gimana, biar Om puas,” jawab Afifah.
“Mandi, yuk?” ajak Dimas.
“Nanti, mau begini saja dulu, biar punya om mengecil, lalu lepas sendiri,” jawab Afifah.
“Yang ada gak bisa kecil, Sayang? Malah tambah besar,” ucap Dimas dengan tersenyum nakal.
“Ya udah lagi saja kalau gak bisa kecil,” ucap Afifah.
Dimas mengganti posisi, ia sekarang berada di atas tubuh Afifah. Miliknya kembali mengeras, sekarang Dimas yang memimpin permainannya. Afifah hanya pasrah menikmatinya, sekaligus kembali merasakan perih. Meskipun perih, Afifah sangat menikmati permainan pagi ini, dibandingkan semalam dia tegang dan takut karena berkali-kali Dimas melakukannya tidak bisa masuk ke dalam, yang ada Afifah tambah kesakitan semalam. Hampir satu jam, semalam mereka melakukannya, dan pada akhrinya Dimas berhasil mencetak gol ke gawang Afifah.
Mereka kembali melakukannya berkali-kali, sampai lupa waktu. Saat mereka menengok jam dinding, ternnyata sudah menunjukkan puluk sembilan pagi. Tapi, mereka tidak peduli, padahal di rumah mereka masih ada keluarg Afifah. Mereka kembali melakukannya lagi, karena Afifah minta lagi pada Dimas. Dimas tidak mau melewatkannya begitu saja, apalagi Afifah yang minta. Kembali mereka melakukan penautan tubuhnya.
“Kakak! Bangun!” Yusuf menggedor pintu mereka.
Dimas dan Afifah tertawa. Apalagi mereka lagi tanggung, dan sekarang sudah permainan yang keempat kalinya.
“Aduh .... tuh anak gak tahu kakaknya lagi enak-enak apa? Ganggu saja dia! ” ucap Afifah kesal.
“Sudah, ya?” ucap Dimas.
“No! Teruskan, biar saja dia nangis!” pinta Afifah.
“Tapi nanti nangis si Yusuf,” ucap Dimas.
“Biar saja Ucup nangis!” jawab Afifah.
Afifah tidak mau melewatkan permainan ke empat kalinya, di pagi ini, apalagi sedang enak-enaknya, gak mungkin dia menyudahinya.
__ADS_1