
Salma tertidur di dalam mobil, mungkin dia lelah, karena tadi Dimas mengajak Salma untuk jalan lebih dulu. Hanya sekadar ke mall, karena Dimas tahu hobi Salma dari dulu adalah ngemall. Menghabiskan waktu untuk belanja di pusat perbelanjaan memang hobinya Salma, bukan hanya Salma, mungkin semua perempuan memiliki hobi yang sama yaitu Shoping. Entah di mall yang elite, bahkan pasar tradisional, yang penting beli-beli barang kesukaannya, adalah hobi perempuan pada umumnya.
Namun kali ini, meski Salma memborong beberpa baju, tas, sepatu, dan aksesoris lainnya, dia tidak mau Dimas yang mengeluarkan uang. Dia kekeuh memakai uangnya sendiri untuk belanja. Dan, dia juga mulai mengatur keuangannya karena sekarang pemasukannya hanya dari jualan saja. Padahal dia punya uang dari Dimas, tapi Salma tetap tidak mau menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Kecuali kalau ada yang meminta sumbangan atau dalam bentuk serupa, dia menggunakan uang pemberian dari Dimas, dan itu pun Salma meminta izin dulu dengan Dimas.
Padahal saat mau membayar belanjaannya, Dimas menyodorkan kartu lebih dulu, tapi dengan cepat Salma menukarnya dengan kartunya sendiri. Dimas hanya menuruti saja, karena kalau memaksanya sama saja cari ribut dengan Salma. Paling Dimas mengeluarkan uang saat mengajak Salma makan, karena bagi Salma kalau pergi dengan laki-laki, terus laki-laki itu ngajakin makan, laki-laki itu wajib membayarkan makannya.
Dimas memandangi wajah Salma yang sedang tertidur. Ada rasa bahagia, ketika dia melihat Salma sedang tertidur. Dimas menyingkirkan rambut Salma yang menutupi sebagian wajahnya saat sedang menunggu lampu merah.
“Kamu masih sama, Sal. Andai kamu tahu, Sal semua yang aku punya, semua yang ada pada diriku masih utuh untukmu, meski aku pernah menikahi Rani,” batin Dimas.
Menikah dengan Rani, hingga hampir lima tahun, Dimas sama sekali tidak menyentuh Rani. Itu semua karena Rani tahu, Dimas tidak pernah mencintainya, dan karena sebab tertentu. Padahal Dimas sudah berusaha mencoba untuk memberikan hak Rani sebagai istrinya, tapi tetap saja Dimas tidak bisa. Sama sekali tidak bisa untuk melakukannya dengan Rani. Bukan Dimas tidak mau, Dimas mau-mau saja menyentuh Rani, apalagi dia adalah istri sahnya, dan selama bersama dengan Rani, Dimas pun berusaha belajar mencintainya. Namun, seperti ada sebuah kutukan pada diri Dimas, hingga dia sama sekali tidak bisa melakukannya dengan Rani, meski dia menicntai Rani.
Ya, Dimas dinyatakan impotent sejak menikahi Rani. Entah kenapa miliknya tidak bisa digunakan untuk bercinta dengan Rani. Padahal dia sudah ingin sekali menyentuh Rani, karena bagaimana pun mereka suami-istri, apalagi sampai mau lima tahun lamanya mereka hidup bersama. Selama itu Rani pun hanya bisa pasrah, apalagi dari dulu dia sangat mencintai Dimas, sejak masih kecil, hingga mereka remaja, dan mereka pisah karena Dimas pindah rumah, lalu Dimas bertemu dengan Salma. Dimas hanya menganggap Rani sahabat dari dulu, dia tidak menyimpan rasa pada Rani, tapi Rani yang sangat mencintainya hingga Rani rela menjadi istri yang tak pernah disentuh Dimas, karena Dimas sakit impotent. Bagi Rani memiliki Dimas dalam hidupnya jauh lebih cukup, meski tidak disentuhnya sama sekali, sampai ajal menjemputnya.
Dimas tidak menyerah untuk melakukan pengobatan, tapi semuanya sia-sia. Dimas sama sekali tidak bisa ereksi. Kadang dia bisa, tapi hanya hitungan beberapa menit saja, setelah itu Dimas kesusahan untuk ereksi lagi. Baik Dimas dan Rani sama-sama tersiksa batinnya. Tapi, karena mereka hidup rukun dengan penuh kasih sayang, dan cinta, akhirnya Rani menerima kekurangan Dimas, dan Dimas pun menjadi sangat mencintai dan menyayangi Rani.
“Kalau kamu tahu aku sekarang sakit, kamu mungkin tidak akan bilang aku ini calon suamimu, Sal. Aku sakit, dan selama ini mau aku nonton film blue sampai berkali-kali aku tidak bisa ereksi, Sal. Aku sudah ke dokter, aku sudah berobat, aku sudah berusaha dengan pola hidup sehat, bahkan aku sampai sewa perempuan nakal untuk menggodaku, tapi aku sama sekali tidak bisa, Sal. Aku ini kenapa bisa seperti ini, Sal? Apa karena aku menyakitimu?” batin Dimas dengan sedih.
Dimas sampai sekarang pun belum bisa normal lagi seperti dulu saat bersama Salma. Padahal dia dengan Salma sampai bisa punya keturunan, tidak mungkin kalau Dimas dari dulu impotent bisa punya anak, dan bisa membuat Salma tak perawan lagi, kan? Tapi, saat dengan Rani semuanya berubah. Dimas sama sekali tidak bisa menyentuh Rani, tidak bisa ia gunakan senjatanya untuk menyenangkan Rani. Dia kadang kasihan dengan Rani, yang hanya bisa menuntaskan gairah Rani dengan jari dan lidahnya saja. Padahal sudah sepanas itu pemanasan mereka, tapi tetap saja senjata Dimas hanya diam saja, tidak mengeras, malah tambah lemas, letih, lesu tak karuan. Sampai Dimas frustrasi, dan menyuruh Rani untuk menikah lagi.
Namun, Rani tidak mau. Karena dia hanya ingin Dimas yang menjadi suaminya. Dia sangat mencintai Dimas, apa pun kekurangan Dimas, meski tidak bisa memuaskan batinnya, Rani tetap setia, dan sampai dia mengembuskan napasnya dia masih menjadi istri Dimas, dan Rani masih perawan, karena belum pernah merasakan senjata Dimas yang menurut Salma sangat memuaskan dirinya.
“Apa aku harus mencoba denganmu, Sal? Apa aku harus membayangkan aku sedang bercinta dengamu? Kau dulu begitu menggairahkan, pantas Askara ngebet sekali ingin memilikimu lagi. Tapi, kau harus kembali dengan dia, Sal. Daripada dengan aku, aku tidak bisa lagi memuaskan dirimu, dan aku tahu kamu itu pemain yang hebat di atas ranjang, Sal. Wanita yang sangat aku kagumi dari kecantikannya dan lekuk tubuhnya,” ucap Dimas dalam hati.
Dari SMA mereka berpacaran, hingga Salma selesai kedokteran, mereka juga sering melakukan petting kalau ada kesempatan. Dan, milik Dimas normal-normal saja? Tapi begitu berpisah dengan Salma, semua berubah. Senjata pamungkasnya tidak bisa ia gunakan untuk memuaskan Rani. Dan hanya dengan jari saja juga lidahnya dirinya bisa memuaskan Rani.
“Masa aku harus coba lagi dengan Salma? Atau aku ini harus bilang dengan Salma selama aku nikah dengan Rani senjataku tidak bisa aku gunakan untuk perang di atas ranjang? Lagian kenapa bukunya Rani gak dibaca-baca sih, Sal? Kalau kamu baca kan kamu pasti tahu keadaanku saat ini?” batin Dimas.
^^^
Mereka sudah sampai rumah. Selepas maghrib mereka sampai di rumah. Salma masih saja tidur, mungkin dia juga kekenyangan makan pizza dan makanan lainnya tadi, jadi dia pulas sekali tidurnya. Dimas pelan-pelan membangunkan Salma. “Sal, bangun sudah sampai ....” ucap Dimas lirih.
“Hmm ... sudah sampai, tah? Aku masih ngantuk banget, Dim ....”
“Ya sudah kamu bangun dulu, nanti lanjut tidur di kamarmu,” tutur Dimas.
“Hmm ... capek jalannya,” ucapnya manja.
“Mau aku gendong?” tanya Dimas.
“Iya. Ayo gendong, aku capek sekali,” rengek Salma manja.
Dimas turun dari mobilnya, lalu membukkan pintu Salma. Dia langsung menggendong tubuh Salma di depan, membopongnya sampai ke dalam rumah.
“Non Salma kenapa, Mas Dimas?” tanya bibi.
“Ngantuk dia, tolong bukakan pintu, Bi,” jawab Dimas.
“Silakan, Mas,” ucapnya.
__ADS_1
“Ibu sudah pulang?” tanya Dimas.
“Sudah, tapi ibu tadi keluar dengan Bu Yani,” jawabnya.
“Oh iya, hari ini ada arisan, ya sudah bi, minta tolong lagi bukakan pintu kamar Salma, Bi,” pinta Dimas.
Bibi membukakan pintu kamar Salma, lalu dia pamit untuk membuatkan kopi untuk Dimas. “Mas Dimas mau kopi?”
“Boleh, Bi.”
“Ya sudah bibi buatkan.”
Dimas menidurkan Salma di tempat tidur. Dia memosisikan tidurnya Salma supaya nyaman. Dimas mengusap kepala Salma, lalu mencium keningnya. Dimas menatap wajah Salma yang begitu cantik saat tertidur.
“Mimpi indah ya, Sal?” ucapnya lalu ia kembali mencium kening Salma.
Dimas keluar dari kamar Salma, lalu ia mengambil barang belanjaan Salma tadi, dan menaruhnya lagi di kamar Salma. Dimas kira Salma masih tertidur pulas, karena tadi saat ia tinggal Salma sangat pulas sekali tidurnya. Ternyata Salma sedang mengganti baju dengan gaun tidur.
“Dimas! Gak ketuk pintu dulu!” erang Salma.
“Ups, maaf ini mau naruh belanjaan kamu.” Ucap Dimas dengan masih di depan Salma yang sedang menutupi sebagian tubuhnya yang telanjang.
“Udah dong pergi! Ngapain masih di sini sih!” teriak Salma.
“Iya Sal, iya. Maaf.” Ucapnya lalu bergegas pergi dari kamar Salma.
“Bagaimana bisa aku kembali dengan Salma? Kalau senjata pamungkasku saja gak berguna seperti ini? Yang ada aku gak bisa muasin Salma seperti dulu?” batin Dimas.
Salma akhirnya tidak bisa tidur. Dia tidak habis pikir Dimas melihat tubuhya yang setengah telanjang tadi. Dia hanya menggunakan bra dan ****** ***** saja saat Dimas masuk ke kamarnya, dan dia yakin Dimas pasti melihatnya, tidak mungkin tidak melihatnya.
“Tuh kan ... Dimas sih! Aku kan mikir yang enggak-enggak jadinya? Kamu pakai nylonong masuk kamar, gak ketuk pintu dulu? Ya dia gak salah sih, aku memang tadi digendong dia ke kamar, karena capek, dan saat mau ganti baju aku gak kunci pintu? Tapi aku kan malu? Ya meski dulu aku pernah telanjang bulat di depannya, bahkan bermain di atas tubuhnya yang masih menggairahkan sampai sekarang, tetap saja aku malu? Gimana besok kalau aku ketemu dia? Pasti aku malu banget, dan dia pasti pikirannya sekarang lagi ngeres!” batin Salma.
^^^
Dimas terus membayangkan lekuk tubuh Salma tadi untuk bahan pengobatan senjatanya yang masih tertidur lemas tak berdaya. Entah kenapa setelah dulu menceraikan Salma seperti langsung mendapat sebuah karma terkutuk pada tubuhnya. Bisa-bisanya di malam pertama dengan Rani senjatanya langsung tidak bisa ia gunakan. Selama lima tahun senjatanya tidak berdaya, tidak bisa digunakan. Bahkan sampai membayangkan lekuk tubuh Salma yang seksi juga Dimas tidak bisa sama sekali membangkitkan senjata pamungkasnya.
“Sial! Kenapa tidak bisa sih! Arrgghhhttt! Aku harus berobat ke mana lagi? Ke Dokter mana lagi supaya aku sembuh? Aku tersiksa seperti ini? Ya Tuhan ... apa ini sebuah hukuman, aku diberi sakit yang seperti ini? Lima tahun lamanya aku belum bisa sembuh dari sakit ini,” ucap Dimas dengan gusar dan cemas.
Salma tidak sengaja mendengarkan ucapan Dimas yang bilang kalau dirinya sedang Sakit. Salma tidak tahu Dimas sakit apa, tapi Salma dengan jelas melihat ekspresi wajah Dimas yang ketakutan, cemas, dan memang seperti sedang merasakan sakit.
“Kamu sakit apa, Dim? Kenapa kamu gak cerita kalau sedang sakit? Ibu pasti tahu Dimas sakit apa, nanti aku tanya ibu. Pasti ada hubungannya dengan bukunya Rani, dan surat Rani. Karena dia seperti ingin aku membacanya. Memang dia sakit apa?” batin Salma bingung.
Salma melihat bibi keluar dari dapur membawakan kopi untuk Dimas. Lalu Dimas membawa kopinya ke teras belakang, paling dia ngopi sambil merokok di depan kolam renang. Salma masuk ke dalam dia mencari kotak di mana buku milik Rani dan surat dari Rani ia simpan.
“Ini dia. Mungkin aku akan menemukan jawaban, Dimas sebenarnya sakit apa. Aku baca dulu surat dari Rani untukku. Memang apa isinya? Sampai Dimas gak mau membukanya, tapi memang Dimas itu orangnya amanah, jadi ya dia gak mau tahu apa isi surat ini,” batin Salma.
Salma membuka perlahan amplop warna biru muda yang berisi surat dari Rani. Salma membacanya perlahan.
Dear Salma ....
__ADS_1
Hai, Sal? Bagaimana kabarmu? Semoga kamu sehat selalu ya, Sal? Salma ... dengan surat ini, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih banyak sudah membagi suamimu untukku. Jujur, aku ini malu denganmu Sal. Maafkan aku, karena aku sudah mengambil Dimas darimu. Tapi, satu yang harus kamu tahu, Dimas sama sekali belum menyentuhku, Sal. Ya belum menyentuhku karena dia sakit. Mungkin kalau tidak sakit, kami sudah dikaruniai anak, kami juga akan hidup sempurna layaknya suami istri. Tapi, Dimas sakit, Sal. Sejak malam pertama kami, Dimas tidak bisa menyentuhku karena dia sakit.
Aku tidak paham kenapa dia tiba-tiba sakit seperti itu. Dia sudah berusaha berobat, bahkan sampai luar negeri, dan hasilya masih tetap sama, tidak ada hasil sama sekali. Hampir lima tahun kami berumah tangga, kami sama sekali tidak melakukan kegiatan seksual seperti layakanya suami istri, karena Mas Dimas tidak bisa ereksi. Ya Mas Dimas dinyatakan impotent. Sungguh aku dan Mas Dimas sendiri tidak menyangka kalau Mas Dimas sampai impotent, karena selama sama kamu dia baik-baik saja, bukan?
Kami berobat, hingga tahu ketiga, berobat, terapi medis, terapi herbal, sama sekali tidak membuahkan hasil. Dadi dokter biasa, sampai dokter paling hebat sama saja tidak ada perubahan. Dari obat herbal biasa sampai termahal, juga sama saja, Sal. Atau mungkin itu sebuah kutukan, atau karma karena Mas Dimas sudah menyakitimu, Sal?
Sal, sebetulnya aku ingin bicara ini dengan mu jauh-jauh hari. Tapi, aku yakin kamu tidak mau untuk menemuiku, karena aku tahu kamu benci sekali dengan aku dan Mas Dimas. Akhirnya aku menuliskan semua ini untukmu.
Sal, kalau masih ada kesempatan untuk berbaikan denganku dan Mas Dimas, aku mohon kamu mau jadi istri Mas Dimas lagi, ya? Aku yang akan mengalah, aku yakin hanya kamu yang bisa mengobati Mas Dimas. Kasihan dia, Sal. Dia begitu menderita karena sakitnya. Aku mohon, Sal. Tapi, bagaimana bisa kamu mengobati Mas Dimas? Kamu saja sudah memiliki suami lagi? Kamu sudah bahagia dengan suamimu, masa kamu yang mengobatinya? Ya barangkali suatu hari nanti, kamu akan dipertemukan lagi dengan Mas Dimas, di lain wkatu, dan dalam kondisi kalian sama-sama sendiri. Sekali lagi aku minta maaf yang sebesar-besarnya, Sal.
Rani Fajar Yuliana.
^^^
Salma tercenung setelah membaca surat dari Rani. Salma melihat tanggal di surat Rani. Tertulis di sisi kanan, surat itu sudah cukup lama dibuat oleh Rani, sepertinya saat satu tahun sebelum Azzura kembali ke rumah Askara.
“Astaga ... masa Dimas sakit begitu? Kalau dia sakit impotent ya dia gak bisa begituan sama aku dong dulu? Gak mungkin dia bisa muasin aku sampai aku punya anak juga. Dia dulu normal, senjatanya gede, panjang, dan memuaskan? Masa sekarang gak bisa? Atau tadi dia sedang mengeluh gak bisa bangun senjatanya, padahal dia baru saja lihat aku tidak pakai baju? Ya benar, Dimas pasti sedang mengeluh soal itu. Kasihan sekali Dimas? Lima tahun dia tidak bisa naikin senjatanya? Dan Kasihan juga Rani? Sampai meninggal masih perawan?” batin Salma.
Salma membaca buku milik Rani, lembar demi lembar ia baca. Dan, benar Rani hanya disentuh Dimas dengan jari saja. Miris sekali Salma membaca curhatan Rani di buku diarynya. Malam pertama suaminya impotent.
“Ya Tuhan, kasihan sekali nasibmu, Ran? Mana enak pakai jari, sedangkan milik Dimas begitu memuaskan dan membuatku ketagihan? Apa yang harus aku lakukan? Eh kok aku? Memang aku ini siapanya? Masa iya aku harus meraba-raba dia biar senjatanya bangun? Ah ya tidak begitu juga Salma? Bisa kok dengan cara lain, rayu dia, kasih sentuhan lembut, pasti kalau laki-laki normal bisa bangun senjatanya? Tapi masa aku mau begitu sama Dimas. Gak mungkin sekali!” batin Salma.
Salma menaruh buku dan surat milik Rani, lalu ia keluar, menyusul Dimas yang sedang di belakang. Paling juga dia sedang ngopi dan merokok. Benar Dimas sedang merokok, padahal dari dulu saat dengan Salma, Dimas tidak merokok.
“Dim?” panggil salma.
“Iya, Sal, kamu kok gak tidur lagi?” tanya Dimas.
“Gerah, Dim, makanya aku cari angin, mungkin karena tadi aku tidur lama di mobil, jadi aku tidak ngantuk lagi. Hawanya panas sekali ya, Dim?” ucap Salma.
“Iya, Sal,”
“Kamu kenapa? Lemes banget, Dim?” tanya Salma.
“Gak apa-apa, Sal.”
“Renang sepertinya segar ya, Dim?”
“Mau renang?” tanya Dimas.
“Yuk,” ajak Salma.
“Kamu ajak aku?”
“Ya iyalah, mau ajak siapa lagi, Dimas?”
“Ya sudah, yuk?” Dimas mengiyakan ajakan Salma. Itu semua karena Dimas juga ingin mencoba, saat renang dengan Salma senjatanya akan naik atau tidak.
“Aku akan coba, semoga ini sebuah terapi dengan Salma. Semoga aku bisa kembali normal lagi. Mungkin kamu tidak tahu kalau aku ini sedang sakit, Sal,” batin Dimas.
__ADS_1