
Afifah tidak menyangka Dimas malah akan pergi meninggalkannya selama itu. Padahal ia baru saja merasakan kalau dirinya selalu dilindungi Dimas, dan baru merasakan Dimas yang begitu menyayangi dan mencintainya.
“Besok datang ya ke rumah om, ikut ayah sama bunda, sama eyang juga. Om mau ngadain pesta lah, buat perpisahan om yang mau di London lama, ya meskipun om bisa pulang, tapi kan lama pulangnya?” ucap Dimas.
“Iya, nanti aku ikut,” jawab Afifah.
“Kamu masih lapar?” tanya Dimas.
“Masih, pengin steak om,” jawab Afifah.
“Oke, kita makan, lalu beli buku yang kamu pengin tadi."
Afifah merasa sedih sekali, baru saja ia nyaman dan merasa dilindungi Dimas, malah lusa Dimas akan ke London. Rasanya ada sesuatu yang hilang dari hati Afifah. Padahal dia selama ini ngotot minta putus dan jauh dari Dimas, bahkan ia malas sekali kalau bertemu dengan Dimas. Tapi, sekarang malah dia merasa akan kehilangan Dimas. Ia merasa nanti saat Dimas di London, ia tidak ada lagi yan menjaganya dan tidak ada lagi yang perhatian dengannya.
Afifah dan Dimas sudah berada di Restauran untuk makan steak. Afifah terlihat murung sekali. Dimas tahu, mungkin dia syok karena habis melihat Vero yang seperti itu. Dimas tahu kalau Afifah masih labil. Dimas yakin Afifah sudah jatuh cinta dengan Vero, kalau tidak cinta kemarin malam tidak akan menerima Vero. Buktinya dia mau menerima Vero, dan tangannya di cium Vero pun mau saat berada di cafe.
Afifah dari tadi diam, makanan di depannya pun hanya dilihatin saja. Dia biasanya paling suka sekali dengan steak. Pasti makannya juga lahap, bahkan dia pesan porsi double.
“Kenapa makananmu hanya dilihat begitu, Fah?” tanya Dimas.
“Gak nafsu makan, Om,” jawab Afifah.
“Kenapa masih ingat Vero?” tanya Dimas.
“Huft ... jangan sebut nama dia lagi, Om,” jawabnya.
“Mau Om suapin?”
“Iya,” jawabnya.
Padahal Afifah bukan memikirkan Vero. Dia malah memikirkan Dimas yang lusa akan pergi meninggalkannya ke London. Afifah sangat tidak rela kalau Dimas ke London, entah kenapa dia benar-benar tidak rela.
“Om ...,” panggil Afifah.
“Apa?” jawab Dimas.
“Om benar lusa mau ke London?” tanya Afifah.
“Iya, om mau ke sana,” jawab Dimas.
“Seminggu sekali pulang, kan?” tanya Afifah yang membuat Dimas tertawa kecil.
“Memangnya Jakarta-Bandung seminggu sekali bisa pulang? London jauh Afifaah?” jawab Dimas.
“Yah, Afifah kira bisa seminggu sekali om pulang?” keluh Afifah.
“Kenapa tanya seperti itu?” tanya Dimas.
“Ya kali saja bisa pulang seminggu sekali? Mana lima tahun lagi?”
“Nanti om pulang kan kamu sudah sembilan belas tahun? Jadi sudah bisa om nikahin kamu?” canda Dimas. Tapi, itu bukan bercanda lagi, karena memang Dimas ingin serius.
“Ih nikah gimana? Gak lucu ah! Masa aku mau nikah sama om-om?” tukas Afifah.
“Jadi benar gak mau?” tanya Dimas.
__ADS_1
Afifah tidak menjawabnya, tapi dia malah melihat wajah Dimas yang sedang serius memotong steak miliknya untuk disuapkan pada dirinya.
“Om, masa tega sih om ninggalin Fifah? Ninggalin calon istri om?” ucap Afifah.
Dimas menghentikan kegiatannya memotong steak. Ia meletakkan garpu dan pisaunya di piring lalu menatap wajah Afifah yang masih ditekuk karena gundah mendengar Dimas mau ke London dan tinggal di sana selama lima tahun.
“Tadi kamu bilang apa? Calon istri, Om?” tanya Dimas.
“Hmm ... kan Om bilang kalau mau nikahi aku kalau sudah pulang?” jawab Afifah. “Lalu kenapa ditinggalin calon istrinya?”
“Karena calon istrinya masih kecil, jadi kalau Om di sini terus takutnya kamu gak konsentrasi sekolahnya. Sekolah yang pintar, hadiahnya Om akan nikahi kamu, jangan pacaran, ya?”
“Ada-ada saja, masa hadiahnya dinikahi?” dengus Afifah.
“Maunya hadiah apa? Kalau Om nikahi kamu kan Om akan kasih semua yang Om miliki buat kamu?” ucap Dimas.
“Lagian bagaimana aku bisa semangat belajar? Yang selalu menyemangati jauh?” ucap Afifah.
“Ada hape, semua jadi dekat. Sudah masih lusa perginya kamu kok galau gini?” ujar Dimas. “Ayo buka mulutnya, habiskan steaknya.” Dimas menyuapi Afifah lagi sampai steaknya habis.
Afifah sedikit menyesal, karena sejak kenal dengan Vero, dia selalu ngotot minta putus dengan Dimas. Ia merasa Vero yang lebih pantas menjadi pacarnya, karena umurnya selisih tidah jauh, tapi ternyata kelakuan Vero membuat Afifah jijik dan pengin muntah.
“Om apa gak bisa diundur berangkatnya?” tanya Afifah.
“Enggak bisa, Sayang ... lusa Om harus berangkat,” jawab Dimas.
“Afifah kira bisa,” ucapnya.
“Kenapa bilang gitu?” tanya Dimas.
“Memang masih mau jadi pacar om?” tanya Dimas. “Tapi, kalau ghak mau juga om akan maksa kamu supaya tetap jadi pacar om, meskipun nanti saat Om di London kamu punya pacar, tapi Om yakin kamu akan bersama Om lagi,” ujar Dimas.
“Masih mau gak, ya? Kalau mau tapi kan harus LDR?” jawab Afifah.
“Ya gak masalah LDR an?” ucap Dimas.
Dimas mengusap kepala Afifah, ia pandangi wajah bocah kecil yang wajahnya masih imut, manis, dan sangat cantik. Memang tubuh Afifah bongsor, tapi tetap saja wajahnya masih imut dan manis sekali.
“Fah, tunggu om, ya? Om juga sebetulnya gak ingin ninggalin kamu, tapi karena memang pekerjaan Om, ya mau bagaimana lagi?” ucap Dimas.
“Aku akan nunggu Om, benar ya Cuma Afifah pacar Om? Afifah juga gak akan cari pacar lagi, takutnya nanti seperti Vero? Kelihatannya baik, ternyata begitu?” ucap Afifah.
“Iya, Om gak akan cari pacar lagi. Cuma kamu,” jawab Dimas.
“Janji?”
“Iya, Sayang? Buktinya kamu minta putus saja om gak mau?” jawab Dimas.
“Janji, ya? Jangan cari pacar lagi?”
“Iya, Afifah, Sayang ....” Dimas rasanya gemas sekali melihat wajah Afifah yang murung dan gundah karena mendengar dirinya akan ke London.
Dimas juga sebetulnya tidak ingin meninggalkan Afifah jauh-jauh, tapi mau bagaimana lagi, dia memang ada pekerjaan di sana? Mungkin kurang lebihnya lima atau enam tahun Dimas di sana.
“Tapi bagaimana dengan Bunda dan Ayah, Om? Kalau mereka tahu kita pacaran apa dibolehkan nantinya? Kan, Om mantan suami bunda?” tanya Afifah.
__ADS_1
“Gak usah mikir itu, itu masih jauh. Banyak hal yang harus kamu lakukan sekarang, kamu harus bisa kejar cita-citamu, Om akan menunggumu. Soal Bunda, Ayah, dan lainnya. Kita pikirkan lima atau enam tahun lagi. Sudah kita jalani saja LDR kita dengan penuh kebahagiaan,” ujar Dimas.
Afifah mengangguk, memang harusnya seperti itu saja, tidak usah memikirkan hal itu. Yang Afifah mau dia bisa menjalin komunikasi yang baik dengan Dimas.
“Kita resmi pacaran lagi, ya?” ucap Dimas.
“Iya,” jawab Afifah lugas.
“Ya sudah habiskan makanannya, kita nanti langsung ke toko buku, terus pulang. Sudah mau sore nanti Bunda dan Ayahmu nyari. Om sih sudah bilang Bunda, kalau kamu minta makan steak sama cari buku, jadi Bunda gak khawatir.”
Selesai makan dan cari buku yang Afifah inginkan, Dimas mengajak Afifah pulang. Dia seperti menyenangkan keponakannya belanja, padahal ia sedang membuat senang pacarnya, apa pun yang Afifah mau Dimas membelikannya. Namanya juga pacar, Afifah tak segan-segan menggandeng tangan Dimas dengan manja.
“Sini Om bawain.” Dimas membawakan beberapa paper bag milik Afifah.
Afifah masuk ke dalam mobil, sedangkan Dimas menata belanjaan Afifah ke bagasi. Dimas merogoh saku celananya. Ia pandangi kotak warna pink yang isinya sebuah cincin. “Semoga Afifah mau,” ucapnya lirih.
Dimas bergegas masuk ke dalam mobil, lalu dia memasang sabuk pengamannya, juga memasangkan sabuk pengaman pada Afifah. “Kenapa belum dipasang sih, Sayang?” tanya Dimas.
“Biar om yang masangin,” jawabnya yang membuat Dimas gemas sekali melihat wajah Afifah.
“Ih gemas!” Dimas mencubit lembut pipi Afifah.
“Aww ... sakit ih!” pekik Afifah.
“Sini Om obatin.” Dimas mencium pipi Afifah secara tiba-tiba.
“Ih main cium-cium saja!” tukas Afifah.
“Kan, sama pacarnya?” jawab Dimas. “Oh iya Afifah Om ada hadiah buat kamu, kenang-kenangan sebelum Om berangkat ke London,” ucap Dimas.
“Apa kenang-kenangannya?” tanya Afifah.
Dimas mengambil kotak warna pink di saku celananya yang berbentuk love. “Buat calon istriku.” Dimas menunjukkan cincin yang tersemat di dalam kotak.
“I—ini cincin buat siapa? Kok dua?” tanya Afifah.
“Satu buat kamu, satu buat Om,” jawab Dimas lalu mengambil cincin untuk Afifah. “Sini jari manismu, Om pakaikan.”
Afifah menjulurkan jari jemari lentiknya di hadapan Dimas, lalu Dimas sematkan cincin yang modelnya lucu dan cantik sesuai untuk anak seusia Afifah.
“Ih cantik sekali cincinnya,” ucap Afifah senang. “Terima kasih, Om.” Afifah langsug reflek memeluk Dimas dan mencium pipinya.
“Sama-sama, Sayang. Pakaikan punya Om juga,” pinta Dimas.
Afifah menyematkan cincin di jari manis Dimas. Cincin couple tapi tak terlihat sama. Modelnya jauh berbeda, karena Dimas sengaja biar Askara dan Salma tidak mencurigainya.
“Ya sudah pulang yuk? Takut bundamu menunggu lama,” ajak Dimas.
“Oke,” jawab Afifah.
“Boleh om cium bibirmu, Fah?” tanya Dimas. Padahal Dimas Cuma mengetes Afifah saja.
“Ehm ... i—i ...,”
“Gak Om bercanda. Gak akan om cium lagi, nanti nunggu Om pulang dari London saja.” Dimas menukan ucapan Afifah yang ragu.
__ADS_1
Afifah malu sebetulnya, tapi mau bagaimana lagi, dia juga kepengin dicium Dimas lagi sebetulnya. Tapi, ternyata Dimas malah pura-pura saja, seperti ngetes dirinya mau dicium lagi atau tidak.