
“Ehem ... yang dapat kado dari Rafka?” dehem Dimas.
Afifah sengaja ke teras samping rumah, karena sudah pasti Dimas akan menyusulnya ke sana, benar Dimas menyusulnya dan langsung menyindirnya soal kado dari Rafka.
“Kenapa, cemburu?” tanya Afifah.
“Enggak, sih! Terserah kamu saja mau menerima kado dari siapa,” jawab Dimas.
“Hmm ... lagian gak Cuma Rafka yang kasih kado di sekolahan tadi, banyak kok teman-teman lainnya, tapi memang aku taruh di loker semua, gak aku bawa, kan tadi kita mau jalan,” jelas Afifah. “Mau banyak kado dari siapa pun, yang paling buat aku speechless ya Cuma dari om,” imbuhnya.
“Gitu, ya?”
“Iya, Om Sayang ...,” jawab Afifah dengan memeluk Dimas.
“Ish ... jangan gini, nanti ada yang lihat.” Dimas sedikit mengurai pelukan Afifah, karena takut ada yang melihatnya.
“Biarin saja lihat, atau aku bilang saja sama mereka, kalau kita pacaran? Daripada aku ditanya terus siapa pacarnya?” ujar Afifah.
“Yakin kamu siap? Kalau mereka gak setuju, marah atau bagaimana?” tanya Dimas.
“Biar saja, aku maunya sama om,” jawab Afifah.
Merasa disayang oleh Dimas, dan dicintinya tentu Afifah tidak mau hubungannya sembunyi-sembunyi terus. Apalagi sudah ada lampu hijau dari keluarganya, karena sudah banyak yang tanya sudah memiliki pacar atau belum. Ingin rasanya Afifah bilang, kalau dirinya pacaran dengan Dimas, tapi ia tahu pasti akan ada pertentangan dalam hubungannya dengan Dimas atau tidak, karena Dimas adalah mantan suami ibu sambungnya.
“Kira-kira bunda ngizinin aku pacaran sama om gak, ya? Bunda marah gak ya, Om? Kalau tahu anaknya malah pacaran sama mantan suaminya dulu?” tanya Afifah pada Dimas.
“Kalau itu om gak tau, Fah. Ya om sih mau mereka setuju atau enggak, om tetap milih kamu,” ucap Dimas.
“Hmm ... beneran nih? Ntar giliran ditentang malah kabur?” celetuk Afifah.
“Justru kalau dilarang om bakal lanjutin!” tegas Dimas.
Afifah duduk di bangku yang panjang, Dimas pun duduk di tempat yang sama. Ia beringsut merapatkan duduknya dan mendekati Afifah. Dimas merengkuh tubuh Afifah ke dalam pelukannya. Entah kenapa dia sesayang itu pada Afifah.
“Apa pun yang terjadi nantinya, om mau kamu jangan pernah menyerah ya, Fah? Om sayang kamu, om benar-benar mencintaimu, Fah. Om serius ingin menikahimu kelak, kalau tidak serius untuk apa Om memberikan semuanya untuk kamu?” ucap Dimas dengan memeluk Afifah.
“Hmm ... aku gak akan menyerah, kita jalani semua ini dulu ya, Om? Afifah masih sekolah, belum juga nanti kuliah. Afifah sayang sama om.” Afifah mengeratkan pelukannya di tubuh Dimas.
Afifah mendongakkan wajahnya menatap Dimas, lalu dikecupnya kilas bibir Afifah oleh Dimas. “Sudah yuk masuk, takut ketahuan. Pacarannya lanjut besok saja,” ucap Dimas.
“Ih gak mau ah! Mau di sini saja, pacaran sama om,” rajuk Afifah.
“Jangan begitu, nanti ada yang lihat, Sayang ...,” gemas Dimas dengan mencubit pipi Afifah.
“Ya suadh, tapi cium aku lagi, masa tadi cepet banget ciumnya?” cebik Afifah.
“Ih jangan lama-lama, ntar om gak bisa lepas, ini tempatnya gak memungkinkan, tuh dengar adikmu yang tampan juga nyariin kamu, dari tadi manggilin kamu. Sudah sana masuk, nanti om menyusul,” tutur Dimas.
“Oke, i love you om,” bisik Afifah lalu mengecup kilas bibir Dimas.
“Om juga cinta kamu, sudah sana masuk,” titah Dimas.
“Cium ...,” rengek Afifah dengan memajukan bibirnya.
“Cup ....” Dimas mencium bibir Afifah, tapi Afifah menahannya, dan memberikan kecupan yang dalam untuk Dimas, hingga mereka lama berciuman.
“Sudah pintar ya, Sekarang?” ucap Dimas sambil menghiru udara, karena tadi hampir kehabisan napasnya.
“Kan om yang ngajarin?” jawab Afifah genit.
“Sudah sana masuk, jangan bikin om tambah tinggi, Fah! Susah soalnya harus ada lawannya, dan lawannya itu Cuma kamu!” ucap Dimas.
“Kenapa Cuma aku?” tanya Afifah.
“Ya karena Cuma kamu yang om mau, dan Om cinta,” ucap Dimas. “Sudah jangan banyak tanya, itu adik kamu manggil kamu, sana buruan masuk!” perintah Dimas.
__ADS_1
"Mnch ... Ucup kebiasaan ih!" cebik Afifah kesal.
Afifah masuk ke dalam, karena Yusuf dari tadi mencari-cari Afifah. Kalau mau tidur, bukannya minta ditemani bundanya tapi mintanya ditemani Afifah.
Lagi-lagi karena ulah Afifah hasrat Dimas makin menggebu. Ia tidak tahu kenapa gadis itu membuat Dimas merasakan panas-dingin tak keruan sekali. Bisa-bisanya sakit yang bertahun-tahun dideritanya sembuh oleh Afifah. Sekarang Dimas dinyatakan sembuh oleh Dokter, itu semua karena Afifah, gadis yang sangat ia cintai saat ini.
Dimas menahan gejolak hasratnya sendirian. Bertahun-tahun ia baru merasakan sekeras ini senjatanya saat tadi Afifah lincah menciumi bibirnya, dan meraba dadanya lembut. Afifah begitu pandai sekarang mencumbu Dimas, sampai hasrat Dimas bergejolak dan ingin melakukannya lebih dari sekadar ciuman.
Afifah masuk ke dalam. Dia langsung menggendong adiknya yang baru berusia tiga tahun lebih beberapa bulan itu. Yusuf langsung minta ikut kakaknya, langsung minta gendong dan minta dibuatkan susu oleh kakaknya.
“Kenapa gak sama bunda sih, Cup?” gemas Afifah. “Kalau minta susu ya sama bunda dong, Sayang? Masa sama kakak?” ucap Afifah sambil menggendong Yusuf ke dapur untuk membuatkan susu.
“Jangan Cup manggilnya, Kakak!” kesal Yusuf.
“Lalu siapa manggilnya? ‘Kan namamu Ucup?” jawab Afifah dengan gemas.
“No! Namaku Yusuf, bukan Ucup!” teriak Yusuf.
“Ucup aja, ah!” ledek Afifah.
“Yusuf!” teriaknya.
“Ucup ah,” ledeknya lagi.
“Kakak nakal!” teriaknya lalu menangis.
“Iya ... iya ... iya, enggak! Yusuf adikku yang paling tampan sekali,” ucap Afifah meredakan tangis Yusuf yang kesal dengannya karena memangginya Ucup.
“Jangan Ucup! Jelek namanya! Yus kan tampan?” ucapnya dengan tersedu.
“Iya, Sayang? Iya ini Yusuf yang tampan sekali. Sudah diam, duduk di sini kakak bikinkan kamu susu,” ucap Afifah.
Afifah mengambil tissue lalu memberikannya pada Yusuf, “usap air matamu, stop jangan menangis!” titah Afifah.
“Maafin kakak, ya? Sini peluk.” Afifah memeluk adiknya lalu menciumi pipinya.
“Iya,” ucap Yusuf.
Afifah mengambil botol susu milik Yusuf, lalu membuatkan susu untuk adiknya itu. Yusuf menunggu Afifah dengan duduk di kursi. Matanya sudah terlihat sayup-sayup seperti mengantuk. Selesai membuatkan susu, Afifah langsung menggendong adiknya, dan membawanya ke kamar. Seperti itu kalau sedang mau dengan Afifah, tidur pun maunya ditemani Afifah dulu.
^^^
Hubungan Afifah dan Dimas sudah semakin dekat. Mereka sekarang lebih sering menghabiskan waktu bersama. Berangkat sekolah selalu Dimas yang mengantarnya, pulang pun Dimas yang menjemputnya. Afifah tidak peduli jika keluarganya juga akan tahu kalau dirinya pacaran dengan Dimas, toh sekarang dia sudah tujuh belas tahun, dan sebentar lagi dia akan masuk kelas tiga.
Afifah juga sudah semakin berani menunjukkan kalau dirinya benar-benar mencintai Dimas, bahkan mereka sering melakukan hal yang harusnya tidak boleh Afifah lakukan dengan Dimas, meskipun tidak dalam melakukannya, hanya sekadar bercumbu saja.
Tadi saja sebelum turun dari mobil Dimas, saat berangkat Afifah membirkan Dimas mencumbunya dulu. Afifah tidak tahu, kenapa dengan Dimas sekarang sudah berani berbuat seperti itu. Itu semua karena Afifah percaya kalau Dimas tidak akan meninggalkannya. Dimas memang serius dengan Afifah, dia tidak peduli jika nantinya tidak akan disetujui orang tua Afifah, Dimas akan tetap berusaha mendapatkan Afifah dengan caranya sendiri.
“Afifah!” panggil seorang cowok saat Afifah akan masuk ke kelasnya setelah dari kantin.
“Ya, Kak Rafka?” jawab Afifah.
“Bisa kita bicara sebentar?” ajak Rafka.
“Oh iya, mau bicara di mana?” tanya Afifah.
“Di taman dekat Aula saja, ya?” jawab Rafka.
“Oke,” jawab Afifah.
Afifah yakin Rafkan akan tanya soal siapa pacarnya. Karena, Rafka dari kemarin chat Afifah tanya soal Dimas. Rafka pernah melihat sepintas Afifah berciuman di dalam mobil Dimas, saat mengantarkan Afifah sekolah. Setelah sering ciuman dengan Afifah, Dimas mengantarkan Afifah tidak di depan pintu gerbang sekolahannya lagi, karena di depan pintu gerbang ada Satpam dan Guru yang sudah berdiri menyambut siswanya. Dimas berhenti di halte yang tidak ramai siswa biasanya, jadi Dimas dan Afifah bebas berciuman di dalam mobil.
“Mau bicara apa, Kak?” tanya Afifah.
“Fah, kamu benar sudah punya cowok?” tanya Rafka.
__ADS_1
“Iya, Kak. Masa kakak gak percaya?” jawab Afifah.
“Siapa? Om-om itu?” tanya Rafka.
“Kalau, iya?” jawab Afifah.
“Bukannya dia seusia ayahmu?”
“Iya, namanya Dimas, dia seusia bunda, teman bunda dulu. Kenapa, Kak? Kaget ya aku pacaran sama orang yang lebih tua, yang pantasnya jadi ayahku?” ucap Afifah. “Itulah cinta, Kak. Gak memandang umur. Kami seriusan kok, Kak,” imbuhnya.
“Ya, gimana sih, ya? Aku menyayangkan saja. Masa depanmu masih panjang, Fah. Kenapa sama Om-om? Ka—kamu bukan simpanan dia, kan?” selidik Rafka.
“Bukan, lah! Dia duda, kalau dia suami orang, aku gak mau dong?” jawab Afifah.
“Gak salah sih, kamu mau dengan Om-om itu, tampangnya masih kayak anak kuliahan,” ujar Rafka.
“Ya begitulah. Aku minta maaf ya, Kak. Aku tolak kakak, karena aku dari kelas dua SMP sudah pacaran sama Om Dimas. Jadi aku ya gak bisa dong terima cowok lagi?” ucap Afifah.
“Setia sekali kamu, Fah? Gak takut pacarmu itu selingkuh? Perempuan seusia pacarmu kan banyak yang seksi dan cantik-cantik?” ujar Rafka.
“Kalau dia milih selingkuh, gak bakal dong aku sama dia kuat LDR tiga tahun? Aku baru ketemu dia lagi kemarin lho, Kak? Waktu aku ulang tahun, sejak pertama jadian, dia ke London, ada kerjaan di sana, jadi aku sama dia LDR. Kurang lebih tiga tahunan lah kami LDR-an,” jelas Afifah.
“Aku gak nyangka lho, Fah. Kamu pacaran sama Om-om dan dia bisa sesetia itu sama kamu? Aku kira kamu gak mau pacaran, ternyata kamu malah suhu, pacaran sama Om-om?” ujar Rafka.
“Tapi, kamu jangan bilang siapa-siapa ya, Kak? Hanya Kak Rafka yang tahu aku pacaran sama dia, temanku yang lain tidak tahu soalnya,” ucap Afifah.
“Iya enggak, lagian mau cerita sama siapa, Fah? Ya sudah, kakak lega sudah mendengar penjelasan darimu. Yang penting pesan kakak, jaga dirimu baik-baik ya, Fah? Kamu ini pacaran dengan orang yang lebih dewasa, kadang seumuran saja bisa melakukan hal-hal yang seperti itu? Apalagi sama yang lebih dewasa, duda lagi? Kan, pengalaman, Fah?” tutur Rafka.
“Oke, aku bisa jaga diri kok. Makasih ya, Kak? Sudah mau mengerti. Semoga kakak dapat cewek yang lebih baik. Aku minta maaf ya, Kak?” ucap Afifah.
“Iya semoga, tapi di versi kakak yang terbaik itu kamu, Fah. Jadi, izinkan kakak untuk selalu berharap padamu, meski kakak gak bisa lagi lihat kamu di sini,” ucap Rafka.
“Emang Kak Rafka mau ke mana? Jangan pindah planet, ya? Kakak ih ngeri ngomongnya, sudah gak mau di sini lagi?” ucap Afifah.
“Kakak mau ke Kairo, mungkin sih sampai kakak selesai S3 di sana, kakak kan dapat beasiswa ke Kairo,” ucap Rafka.
“Ih ... selamat, Kak. Keren lho kakak mau kuliah di sana. Gak salah kakak kan pintar agamanya?” ucap Afifah.
“Ya, Abah dan Ummik yang menyuruhku ke sana, Mbakku juga di sana, ini sedang menyelesaikan S3 nya di sana,” jelas Rafka.
“Semoga dipermudahkan semua urusan kakak di sana, ya?” ujar Afifah.
Afifah memang tahu kalau Rafka anak seorang Kyai dan memiliki Pondok Pesantren. Jadi pantas saja kakak beradik sampai kuliah di Kairo. Tidak salah karena mungkin untuk penerus di Pondok Pesantrennya. Afifah memang awam soal agama. Dia hanya melakukan kewajibannya saja sebagai seorang muslim pada umumnya, tidak memperdalam lebih soal ilmu agama, jadi dia memang kagum pada Rafka, hanya sebatas kagum saja, bukan suka atau cinta. Apalagi saat mendengar Rafka putus dari pacarnya dulu karena Rafka gak mau ciuman dengan pacarnya.
Banyak sekali yang mendukung Afifah dengan Rafka, tapi Afifah tetap satu cinta di hati, hanya untuk Dimas. Apalagi dia dulu yang pertama kali, dan mulai lebih dulu suka dengan Dimas? Bahkan dia yang pertama kalinya meminta Dimas menjadi pacarnya.
“Ya sudah ya, Fah? Makasih lho sudah mau ngobrol cukup lama. Ingat pesan kakak, ya? Jaga dirimu baik-baik, dan kakak minta maaf, karena kakak masih mengharapkanmu, entah nantinya kakak berjodoh atau tidak denganmu, yang penting kakak sudah bilang sama kamu kalau kakak mencintaimu, dan gak akan pernah berhenti menyebut namamu dalam setiap doa kakak,” ucap Rafka.
“Mencintai itu manusiawi, Kak. Sudah fitrahnya. Jadi, ya tidak masalah mau mencintai siapa pun, asal jangan memaksakan orang untuk mencitai kakak? Betul begitu, kan?” ucap Afifah.
“Iya, benar yang kamu ucapkan. Kakak juga gak maksa kamu buat menerima cinta kakak, apalagi memaksamu jadi pacar kakak? Tapi izinkan kakak untuk tetap mencintaimu ya, Fah?” pinta Rafka.
“Iya, gak apa-apa, asal aku jangan diguna-guna saja, Kak!” ucap Afifah dengan terkekeh.
“Astagfirullahaladzim ... kamu mikirnya sampai ke situ, Fah? Aku saja sama sekali gak mikir ke situ? Itu namanya sirik, Afifah?” tutur Rafka.
“Ya kirain saja, Kak?” ucap Afifah.
“Ya sudah ya, Fah? Terimas kasih sekali mau menemani kakak ngobrol. Ternyata kamu gak sejutek yang kakak pikir, enak diajak ngobrol,” ucap Rafka.
“Iya, sama-sama. Aku ke kelas juga ya, Kak?” pamit Afifah.
Rafka mengangguk, ia membiarkan Afifah ke kelasnya lebih dulu. Ia lihat Afifah yang berjalan ke kelasnya. Rafka menyayangkan sekali, ternyata benar Afifah pacaran dengan Om-om.
“Kalau Tuhan mengatur kamu adalah jodohku kamu bisa apa, Afifah? Aku akan selalu meminta pada Tuhan, semoga kamulau jodohku,” ucap Rafka lirih.
__ADS_1