Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Alasan Dimas


__ADS_3

Pagi ini Afifah diantar Dimas ke sekolahannya. Senang sekali rasanya ke sekolahan diantar oleh pacar. Meskipun pacarnya sudah om-om, tapi Afifah tidak peduli itu, toh Dimas masih terlihat muda sekali. Sopir Afifah hari ini memang disuruh Dimas untuk libur beberapa hari, biar Dimas bisa antar jemput Afifah, sekalian melihat cowok yang bernama Rafka yang suka sama Afifah.


Hari ini, Dimas juga mencari alasan supaya bisa mengajak jalan Afifah. Seribu alasan Dimas susun rapi, supaya nanti sepulang sekolah Afifah bisa diajak dia jalan, sekaligus memberikan kejutan untuk Afifah.


“Ayo, kamu sudah siap?” tanya Dimas.


“Sudah dong?” jawab Afifah.


“Dim, gak sarapan dulu?” tawar Askara.


“Sudah tadi,” jawab Dimas.


“Makasih, ya? Titip Afifah, untung ada kamu, aku harus buru-buru menemui klien soalnya. Lagian Pak Sopir izin dadakan sekali,” ucap Askara.


“Iya gak apa-apa, memang Sopirnya Afifah izin kenapa?” tanya Dimas basa-basi, padahal Dimas sendiri yang menyuruh Sopirnya Afifah libur tiga atau lima hari, biar Dimas bisa antar jemput Afifah, sebelum ia sibuk dengan pekerjaannya.


“Katanya saudaranya ada yang hajatan. Jadi dia harus ikut ke sana,” jawab Askara.


“Oh begitu? Ya sudah gak apa-apa kok, Afifah biar sama aku, kalau sopirnya belum berangkat. Aku masih santai kok, belum ada pekerjaan yang menyita waktu,” jelas Dimas.


“Makasih sekali, aku akhir-akhir ini sibuk terus soalnya, Dim,” ucap Askara.


“Iya aku tahu, apalagi kemarin aku sempat merepotkanmu untuk menghandle kantor Ayahnya Salma, ya sebagai gantinya aku rela jadi sopirnya Afifah dulu deh,” ujar Dimas.


“Ya sudah yuk, Om! Malah ngobrol! Afifah jam pertama olahraga, gurunya tepat waktu sekali soalnya!” ajak Afifah.


“Ya sudah yuk? Pamit sama bunda dan ayah,” tutur Dimas.


Afifah pamit dengan Ayah dan Bundanya, juga Eyangnya. Bu Mila sudah tidak boleh tinggal di rumahnya. Salma pengin ibunya di rumahnya dulu, daripada di rumah sendirian.


Afifah masuk ke dalam mobil, Dimas menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukannya ke sekolahan Afifah. Dimas penasara sekali dengan cowok yang bernama Rafka, seperti apa rupanya yang setiap hari gak menyerah untuk kejar Afifah, ingin mendapatkan cintanya Afifah.


Sesampainya di depan gerbang sekolahan Afifah, Dimas meraih tangan Afifah supaya tidak langsung keluar dari mobil. “Masa gak salim dulu sama calon suamimu?” ucap Dimas.


“Eh lupa, kirain sama Pak Sopir,” jawab Afifah.


“Salim dulu, lalu cium!” pinta Dimas.


“Gak mau cium ah! Ntar ada yang lihat!” ucap Afifah.


“Gak akan ada yang lihat, gelap kaca mobil om,” ucap Dimas.


Afifah mencium tangan Dimas, lalu Dimas menarik tubuh Afifah dan memeluknya. “Dari kemarin pengin peluk kamu gini,” ucap Dimas.


“Om, ntar ada yang lihat!” Afifah sedikit berontak saat dipeluk Dimas.


“Diam dulu, om kangen sekali sama kamu.” Dimas mengeratkan pelukannya pada Afifah, lalu meregangkan pelukannya, dan ia tatap wajah Afifah. “Pacarku sudah gede, sudah bukan bocil lagi, sudah pintar dandan, bibirnya makin manis pula. Cup!” Dimas mendaratkan kecupan bibir pada Afifah.


“Om!” pekik Afifah.


“Ssttt... janga keras-keras. Sudah sana sekolah,” ucap Dimas.


“Oke, nanti jemput, ya?” pinta Afifah.


“Iya, Sayang?” jawab Dimas.


Afifah membalikkan tubuhnya, ia raih handle pintu, tapi ia urungkan niatnya untuk membuka pintu. Afifah membalikkan tubuhnya lagi menghadap Dimas. Ia mendekati Dimas, lalu wajahnya mendekati wajah Dimas. Cup! Afifah mengecup pipi Dimas. “Aku sayang om,” ucap Afifah.


“Om juga, love you.”


“Love you too, Om,” jawab Afifah, lalu ia memberanikan diri mengecup bibir Dimas. “Sudah, ya? Afifah sekolah dulu, om kerjanya yang semangat,” bisik Afifah.


“Iya, Sayang ... kamu juga yang semangat, ya? Nanti kita jalan sepulang sekolah,” ucap Dimas.


“Oke,” ucap Afifah.

__ADS_1


Afifah turun dari mobilnya, lalu Dimas pun ikut turun, karena ingin tahu siswa yang bernama Rafka.


“Kok Om turun?” tanya Afifah,


“Penasaran saja sama cowok yang naksir kamu, Fah,” jawab Dimas.


“Oh Rafka? Itu tuh yang pakai sepeda motor matic,” ucap Afifah.


“Oh dia? Awas saja kalau gangguin kamu lagi!” ucap Dimas geram.


“Gak usah khawatir, bukan lawan om, kok!” ujar Afifah.


“Afifah maunya om, gak mau yang lain. Om harus tanggung jawab, sudah cium-cium Afifah soalnya, aku maunya sama cowok yang sudah cium aku, itu saja, gak mau yang lain!” ucap Afifah.


“Bagus! Itu baru namanya pacar om! Sudah sana masuk!” titah Dimas.


Afifah masuk, lalu melambaikan tangannya pada Dimas. Ia senang sekali pagi ini mendapatkan ciuman yang nyata dari pacarnya, tidak hanya lewat hapenya, tapi ia merasakan bibir Dimas langsung. Bibir yang selalu menggoda dirinya, karena sangat manis sekali.


Dimas mengajak Afifah pergi ke suatu tempat. Ia ingin memberikan kejutan untuk Afifah, entah kejutan apa yang sudah Dimas siapkan untuk kekasihnya itu. Afifah juga dibuat penasaran sekali oleh Dimas, kejutan apa yang telah disiapkan kekasihnya itu.


“Om ini mau ke mana?” tanya Afifah.


“Mau ke suatu tempat,” jawab Dimas.


“Awas om macam-macam!” tukas Afifah.


“Enggak, Fah? Masa om macam-macam sama kamu?” jawabnya.


Dimas membelokkan mobilnya ke sebuah rumah yang besar dan mewah. Rumah bak istana di negeri dongeng. Entah itu rumah siapa Afifah tidak tahu.


“Ini om mampir ke rumah siapa?” tanya Afifah.


“Sudah jangan banyak tanya, kita turun!” jawab Dimas.


“Om gak macam-macam, kan? Om gak akan nyulik Afifah?” tanya Afifah yang sudah mulai ketakutan.


“Habisnya ini rumah bagus, tapi menyeramkan, aku takut di bawa ke rumahnya penjahat, lebih tepatnya ke rumah mafia yang suka jualin organ tubuh manusia!” ucap Afifah.


“Om gak sekejam itu, Fah!” tukas Dimas. “Ayo masuk!” ajak Dimas dengan menggamit tangan Afifah.


Tangan Afifah dingin, karena dia sangat takut Dimas macam-macam. Dimas hanya tersenyum saja melihat Afifah yang ketakutan seperti itu.


“Selamat sore, Tuan,” sapa pelayan di rumah tersebut.


“Selamat sore. Sudah siap semuanya?” tanya Dimas.


“Sudah, Tuan. Silakan masuk,” jawabnya.


Dimas mengajak Afifah masuk ke dalam. Afifah tertegun melihat rumah yang begitu luas, dengan ornamen klasik dan mewah. Dimas mengajak ke ruang makan, di sana beberapa pelayan sudah menunggu Dimas dan Afifah datang. Di meja makan juga sudah tersedia banyak menu makanan dan buah-buahan. Meja makan yang terlihat sangat mewah dan kalsik dengan gaya eropa itu, yang terbuat dari marmer, atasnya dihiasi dengan lampu gantung yang menambah ruang makan itu terlihat sangat elegan.


“Ayo makan dulu, Fah,” ucap Dimas. Dimas juga mengisyaratkan pada asistennya untuk meninggalkannya. Mereka menunduk, lalu meninggalkan Diimas. Persis seperti di dalam kerajaan, saat raja dan ratu akan makan, semua pelayan undur diri dengan sopan. Seperti itu yang terlintas dalam pikiran Afifah.


Afifah masih bingung, ia makin banyak diam, karena dia takut. Saat makan pun ia berdoa terus, takut di dalam makanannya dikasih racun oleh Dimas.


Selesai makan Dimas mengajak Afifah ke belakang, ke sebuah bangunan yang seperti pendopo, di sana sudah ada dua orang, entah siapa orang tersebut, ketakutan Afifah semakin bertambah melihat dua orang memakai jas hitam, rapi, dan klimis itu. Afifah benar-benar semakin takut.


“Siapa mereka, Om?” tanya Afifah dengan raut wajah yang takut.


“Itu teman om, kita ke sana, ya? Mereka mau bicara penting dengan kamu,” jawab Dimas lalu mengajak Afifah ke sana.


“Mau apa sih, Om? Jangan macam-macam, Om!” ucap Afifah ketakutan.


“Enggak, Sayang? Om gak macam-macam, kamu tenang, ya?” Dimas menenangkan Afifah yang sudah mulai ketakutan lagi.


“Ini namanya bukan ngasih kejutan, Om! Bikin orang panik dan jantungan!” ucap Afifah.

__ADS_1


“Sudah, ayok ke sana!” Dimas menggamit tangan Afifah menuju ke pendopo rumahnya.


Dimas langsung menyapa dua tamunya yang dari tadi sudah menikmati hidangan yang telah disiapkan para pelayan. “Maaf menunggu lama Pak Agung, Pak Levi,” ucap Dimas.


“Tidak masalah, Pak Dimas,” ucap mereka.


“Bisa kita mulai sekarang, kan?” tanya Dimas.


“Iya, bisa, Pak,” jawab Levi.


“Sebelumnya perkenalkan, ini yang namanya Afifah,” ucap Dimas, memperkenalkan Afifah pada mereka.


“Salam kenal Nona,” ucap mereka lalu menjabat tangan Afifah.


“Jadi ini Afifah yang akan menjadi ahli warisnya, Pak?” tanya Agung.


“Betul, Pak Agung,” jawab Dimas.


“Ini maksudnya ahli waris apa ya, Pak?” Afifah memberanikan diri untuk bertanya.


“Silakan baca dokumen ini, Nona.” Agung memberikan dokumen di dalam map pada Afifah.


Afifah membacanya dengan mencermati setiap kata. Ia tidak menyangka Dimas memberikan rumah atas namanya, dan rumah yang sekarang Afifah datangi sudah atas namanya, tinggal menungu persetujuan Afifah dan tanda tangan Afifah.


“Ini apa maksudnya, Om?” tanya Afifah.


“Yang kamu baca apa bunyinya?” Dimas balik bertanya.


“Rumah ini atas namaku,” jawab Afifah.


“Iya, benar. Atas nama calon istriku, yaitu kamu, Afifah,” ucap Dimas. “Kado Ulang Tahun untukmu,” imbuhnya.


“Jangan ngada-ngada, Om. Lagian kita masih lama menikahnya, aku masih SMA, Om? Terus kita belum dapat restu orang tua kita, malah kita pacaran diam-diam dari mereka?” ucap Afifah.


“Sekarang tanda tangan saja, masalah itu gampang,” tegas Dimas.


“Tapi, Om ....”


“Stop! Jangan mendebat lagi! Tanda tangan!”


“I—iya,” jawab Afifah.


Perempuan mana yang tidak senang dan bahagia mendapat kado ulang tahun rumah mewah bak kerajaan. Tapi, Afifah masih bingung, lantaran dia belum jujur pada kedua orang tuanya soal hubungannya dengan Dimas.


Selesai menandatangani semua dokumen dari kuasa hukum Dimas, kedua tamu Dimas yang tak lain kuasa hukumnya pamit untuk pulang. Tinggalah Afifah dan Dimas yang duduk bersebelahan.


“Om berlebihan sekali!” ucap Afifah.


“Sudah, ini semua untuk kamu. Om itu serius sama kamu. Tinggal kita jalani, setelah kamu kuliah, om akan segera bilang dengan Ayah dan Bundamu, juga pada keluarga besarmu, kalau om ingin menikahimu. Om akan bilang dan jujur pada semuanya kalau om mencintaimu, Afifah,” papar Dimas.


“Aku gak tahu harus senang atau bagaimana, aku bingung. Kita ini pacaran masih umpet-umpetan tapi gini?” ucap Afifah.


“Sudah, jangan bingung-bingung. Lebih baik, kita keliling-keliling sebentar, lalu kita pulang, nanti takutnya ayah sama bundamu marah kalau pulang terlalu sore,” ucap Dimas.


“Oke, terserah om deh, aku nurut, tapi kalau om macam-macam, aku pergi!” jawab Afifah.


“Gak macam-macam, paling cium kamu saja.”


Dimas langsung mengecup pipi Afifah. Afifah menatap lekat wajah Dimas di depannya, lalu Dimas mengecup bibir Afifah dengan lembut, dan dibalas dengan lembut oleh Afifah, hingg lidah mereka saling membelit dan bertukar saliva. Ciuman mereka semakin dalam, dan kembali Dimas menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh.


“Om ... jangan gini,” Afifah menghentikan tangan Dimas yang akan menyingkap rok Afifah.


Afifah langsung beranjak dari tempat duduknya, ia membenarkan bajunya, lalu langsung mengajak Dimas untuk berkeliling rumahnya. “Ayo, katanya mau keliling-keliling lalu pulang?” ajak Afifah.


Dimas hanya mengernyitkan keningnya lalu mengangguk. Rasanya tidak enak sekali menahan sesuatu yang sudah mengganjal di bagian bawahnya. Untung saja Afifah tadi tidak sengaja menyenggol bagian bawah Dimas yang keras, hingga ia tersikap, dan langsung menghentikan Dimas untuk melakukannya lebih.

__ADS_1


“Ini belum saatnya, Afifah! Kamu jangan menjadi seperti ini, lagi-lagi Dimas yang akan membawa kamu ke lembah hitam! Stop jangan diteruskan, mulai sekarang kamu harus sedikit jaga jarak, ia dia pacarmu, tapi kalau bertemu setiap hari begini, yang ada akan keterusan, Fah! Hargai dirimu, sayangi dirimu!” rutuk Afiah sambil berjalan di sisi Dimas.


__ADS_2