
Setelah tiga hari di rumah, dan Afifah sempat demam karene kelelahan, akhirnya sekarang Dimas dan Afifah sudah berada di Paris. Mereka menikmati bulan madunya. Impian Afifah terwujud, ia ingin ke Paris, apalagi bersama orang yang sangat ia cintai. Sudah berencana liburan ke Paris bareng keluarga, tapi ada-ada saja halangannya.
Mereka sedang menikmati makan malam di sebuah restoran. Sudah tiga malam mereka berada di Paris, tapi mereka sama sekali belum keluar-keluar untuk jalan-jalan. Baru malam ini mereka keluar makan malam di restoran. Biasanya dia memesan makanan di hotel, dan diantarkan pelayan ke dalam kamar. Afifah dan Dimas hanya menikmati bulan madunya di dalam kamar. Memang tujuan bulan madu seperti itu, bukan? Untuk mendapatkan kepuasan batin, kalau jalan-jalan itu adalah bonus. Bagi Dimas dan Afifah seperti itu, mereka puas-puaskan dulu di dalam kamar, tidak peduli kemarin saat di rumah Afifah sampai demam karena kelelahan, dan saluran kemihnya juga sedikit bermasalah, karena buat buang air kecil sampai kesakitan.
Namun, tidak membuat Afifah jera, karena dia sudah merasakan seperti apa nikmatnya surga dunia. Dia tidak mau keluar kamar, dia ingin menautkan tubuhnya dengan Dimas, sampai dia puas, lalu tertidur dalam pelukan Dimas.
Tapi, malam ini, Dimas membujuknya untuk keluar, mengajak Afifah makan malam, sekaligus jalan-jalan untuk menikmati malam di Paris. Melihat Menara Eifel di malam hari. Mereka menikmati makan malam berdua di restoran yang ternama di sana.
“Bagaiamana? Enak makanannya?” tanya Dimas.
“Enak sekali, Kak,” jawabnya.
“Ini restoran yang menunya paling enak menurutku,” ucap Dimas.
“Kakak pernah ke sini berapa kali?” tanya Afifah.
“Mungkin empat kali ini,” jawab Dimas.
“Ngapain ke sini? Apa dulu waktu sama Bunda juga ke sini bulan madunya?” tanya Afifah penasaran.
“Kenapa bahas ke situ? Enggak pernah sih ajak Bunda ke luar negeri, bundamu tidak mau, dia sukanya itu liburan ke daerah ...,”
“Pantai, kan?” potong Afifah.
“Iya benar, jadi paling waktu itu ke Bangka Belitung, kan di sana pantainya masih menyatu dengan alam. Bundamu itu senang sekali kalau diajak jalan ke pantai,” jelas Dimas.
“Lalu pas ke sini? Kok gak ajak Bunda? Katanya empat kali ke sini?” tanya Afifah yang kepo.
“Ya karena sudah pisah sama bundamu, ke sini paling sama Rani, istri kedua Kakak, sama pas Rani sudah meninggal, itu urusan kerjaan,” jawabnya.
“Padahal aku, ayah, sama bunda dulu pengin sekali liburan bertiga ke luar negeri, tapi gak pernah kesampaian, ada-ada saja halangannya. Tapi, malah liburan sama ibu dan ayah, kami ninggalin bunda. Itu yang buat aku menyesal sampai sekarang. Meskipun perginya ke Bali sih, tapi tetap saja aku merasa bersalah sampai sekarang,” ucap Afifah. “Padahal pengin banget liburan sama bunda ke luar negeri, tapi belum kesampaian, ayahnya sibuh kerja, bunda urus cafe, eh malah mereka berdua ke luar negeri untuk program hamil. Ya sudah, gak jadi,” lanjut Afifah.
“Apa kita suruh bunda dan ayah menyusul ke sini?” tanya Dimas.
__ADS_1
“Ih ntar gangguin kita?” ucap Afifah.
“Apa kemarin belum puas? Katanya kamu pengin liburan bareng ayah dan bunda ke luar negeri? Biar nanti kakak telefon, suruh siap-siap ke sini. Nanti biar Om siapkan untuk mengurus keberangkatan ayah dan bunda ke sini,” ujar Dimas.
“I—iya sih mau, tapi apa tidak merepotkan kakak?” tanya Afifah.
“Ya enggak dong, Sayang? Lagian kan kemarin kita sudah puas-puasin di kamar selama tiga hari. Sekarang saatnya kita jalan-jalan bareng ayah, bunda, dan Yusuf,” jelas Dimas.
“Eyang jangan ditinggal dong? Kasihan sendirian,” ujar Afifah.
“Iya, sekalian eyang diajak. Nanti kalau sampai di hotel, kita telefon mereka,” ucap Dimas.
Dimas ingin mengabulkan apa pun yang Afifah inginkan, termasuk ingin liburan bareng ayah dan bundanya ke Paris. Mumpung Dimas pekerjaan juga masih senggang, jadi bias untuk sepuluh harian lebih di Paris, untuk membahagiakan Afifah, yang memimpikan liburan bersama keluarganya. Dimas segera mencarikan apartemen untuk tinggal Askara dan Salma nanti saat di Paris. Ia juga pastinya akan check out dari hotel, dan memilih tinggal bersama dengan Askara dan Salma di Apartemen. Gampang kalau Dimas ingin bercinta, ia bisa check in lagi di hotel dengan Afifah.
^^^
Selesai makan malam, mereka berjalan-jalan menikmati malam. Menikmati indahnya Menara yang Pernah masuk dalam daftar Keajaiban Dunia. Menara Eifel terlihat begitu indah dan memukau di malam hari. Afifah menggenggam tangan Dimas, mereka berjalan beriringan, menikmati malam yang indah.
Dimas mengajak duduk di bangku taman, dan Afifah menurutinya. Saat mereka akan melangkahkan kakinya mendekati bangku yang ada di taman, Afifah mendengar suara perempuan memanggil nama Dimas.
“Ah, masa sih? Kok kakak gak dengar?” jawab Dimas.
“Dimas!” Terdengar teriakan perempuan lagi untuk kedua kalinya memanggil nama Dimas.
“Kak, tuh kan, benar? Ada yang manggil nama kakak, perempuan,” ucap Afifah.
“Iya, tapi siapa yang manggil aku?” tanya Dimas.
“Ya gak tahu, lah!” jawab Afifah.
“Dimas ...!” Perempuan cantik berlari ke arah Dimas dan Afifah, Dimas melihatnya, dan ia mengenali siapa perempuan itu.
“Elena?” ucap Dimas lirih.
__ADS_1
“Siapa dia?” tanya Afifah.
“Ah, dia teman kakak,” jawab Dimas gugup.
Elena mendekati Dimas, ia berlari dengan raut wajahnya yang senang. Ia langsung memeluk Dimas, dan menciumi pipi Dimas. “Dimas ... apa kabar? Apa kau datang ke sini akan menepati janjimu padaku, Beib?” ucapnya. “Aku selalu menunggumu, Sayang,” imbuhnya.
Afifah mengepalkan tangannya, rasanya ingin sekali merobek-robek mulut perempuan yang bernama Elena itu, yang sudah merusak malam bahagianya dengan Dimas. Afifah juga ingin menampar wajah perempuan itu yang sudah berani memeluk suaminya, dan menciumi wajah suaminya.
“Kau siapa?!” tanya Afifah dengan menatap tajam Elena.
“Dia siapa, Kak?!” tanya Afifah pada Dimas.
“Hai, aku Elena, teman dekat Dimas, dekat sekali, dan kau, apa kau adiknya Dimas? Atau keponakan?” tanya Elena dengan tubuhnya masih memeluk Dimas.
“Lepaskan, Elena! Dia istriku!” Dimas langsung menyingkirkan tubuh Elena yang memeluknya.
“What?! Istri? Kamu mengingkari janjimu, Dimas? Katanya kamu akan ke sini menemuiku lagi, setelah kamu sembuh, kamu akan menemuiku lagi?” ucap Elena dengan mata yang sendu.
“Elena, kita sudah selesai, aku gak pernah janji begitu, aku sudah menikah, aku sedang bulan madu di sini,” ucap Dimas.
“No! Ini tidak mungkin, Dimas!” ereng Elena.
“Tidak mungkin bagaimana, Elena? Jelas ini nyata, aku sudah menikah. Kita sudah selesai dari dulu, tidak ada lagi hubungan apa-apa!” tegas Dimas penuh dengan penekanan.
“Ayo sayang, kita pulang!” ajak Afifah.
Afifah masih terdiam. Ada saja pengganggu saat dirinya sedang bahagia menikmati keindahan malam di taman. Afifah yakin dia mantan kekasih Dimas, atau mungkin mereka memang masih ada hubungan.
Afifah menepis tangan Dimas yang sedang menggandengnya. “Gak usah pegang tanganku! Jangan dekat-dekat aku, jangan peluk aku, jangan cium aku, dan jangan sentuh aku! Tubuhmu sedang terpapar virus!” erang Afifah dengan penuh amarah.
Afifah berjalan mendahului Dimas ke arah mobil. Dia langsung masuk, tapi ia memilih duduk di belakang, bukan di depan.
“Kenapa di belakang? Aku bukan sopirmu, Sayang?” tanya Dimas.
__ADS_1
“Aku gak mau dekat sama orang yang sedang terpapar virus!” jawab Afifah.