
Afifah ikut apa kata ayahnya. Ayahnya menyuruhnya pindah ke Jakarta dia menuruti saja, karena ia selalu berpikir pilihan ayahnya itu yang terbaik. Seperti sekarang, Afifah dan kedua orang tuanya pindah ke Jakarka. Ini adalah impiannya utuk SMA di Jakarta, namun tidak berani ia utarakan pada ayahnya. Ternyata ayahnya malah yang mengajak Afifah pindah ke sana, ini suatu keberuntungan untuk Afifah sendiri, karena dia bisa dekat lagi dengan Vero, apalagi ia berencana akan SMA di sekolahan Vero.
Afifah selama ini sudah jarang berkomunikasi dengan Dimas. Ia saja pindah ke Jakarta tidak mengabari Dimas. Tapi, Dimas sudah tahu kalau Afifah akan pindah ke Jakata. Tentu saja Dimas tahu dari sopir pribadi Afifah, yang tak lain adalah suruhannya.
Sebelum sampai rumah, Askara dan Salma ingin mapir ke rumah orang tua Salma, sudah lama sekali Salma tidak bertemu ibunya, mungkin malam ini Askara, Salma, dan Afifah akan bermalam di rumah Bu Mila.
“Kok ke sini, Yah?” tanya Afifah.
“Iya, bunda kangen sama eyang. Kan bunda belum bertemu eyang sejak pulang dari Singapura?” jawab Askara.
“Eyang sakit, Fifah, jadi bunda pengin seminggu kita tinggal di rumah eyang dulu, sementara, karena rumah masih belum selesai renovasi, toh kamu kan masih liburan?” ucap Salma.
“Oke bunda, Afifah juga kangen sama eyang,” ucap Afifah.
Afifah sebetulnya malas sekali sekarang kalau ke rumah eyangnya pasti ada Dimas. Dimas setiap hari tinggal di rumah Bu Mila, karena Bu Mila kadang mendadak merasa tidak enak badan.
“Di rumah ada Om Dimas gak, Bunda?” tanya Afifah.
“Ada di rumah menemani eyang,” jawab Salma. “Nanti ya kalau bunda sama ayah di sana Om Dimas pulang,” imbuh Salma.
Afifah malas kalau ketemu Dimas, karena Dimas over protektif dengannya. Ia menghindari Dimas, karena ia takut Dimas semakin macam-macam dan memaksa utuk jadi pacarnya.
Sesampainya di rumah eyangnya, Afifah langsung masuk ke kamarnya sebelum lihat Dimas. Tapi sayangnya Dimas yang lebih dulu melihat Afifah.
“Fah? Kamu sombong sekal sekarang?” tanya Dimas.
“Afifah sibuk, Om,” jawab Afifah lalu langsung masuk ke dalam kamarnya.
“Om tunggu di belakang, Fah!”
“Mau apa? Gak usah macam-macam ada ayah sama bunda!” tukas Afifah.
“Bunda sama ayahmu mau antar eyang ke dokter,” ucap Dimas.
“Ya aku ikut! Lagian om mau ngomong apa sih?”
“Ingat kita belum selesai Afifah!”
__ADS_1
“Bodoh amat!” tukas Afifah lalu langsung masuk ke kamarnya.
Dimas begitu tergila-gila dengan Afifah. Padahal dia sudah berusaha melupakannya, karena ia sadar kalau dirinya tidak akan memiliki Afifah, apalagi umur Afifah jauh sekali jaraknya. Tapi, tetap saja Dimas tidak bisa melupakan Afifah, meskipun dia sudah dekat dengan perempuan lain.
“Aku akan buktikan, Fah! Kalau aku pantas untukmu! Aku akan tunggu kamu, aku gak main-main dengan ucapanku ini! Tidak peduli kamu anaknya Askara dan Salma, itu semua karena ulahmu sendiri yang membuat aku begini!” umpat Dimas dalam hati.
^^^
Afifah bingung mau bilang dengan bunda dan ayahnya karena terganggu oleh Dimas, tapi dia takut malah akan jadi perkara. Apalagi Dimas dekat dengan eyangnya. Afifah serba salah, memang ini semua awalnya dari dirinya yang tiba-tiba bilang ingin jadi pacarnya Dimas. Afifah menyangka kalau Dimas hanya akan main-main, tapi semua tebakan Afifah salah, Dimas malah ingin serius dengannya.
“Ya kali mau serius? Aku saja masih sekolah? Aku kan cium Om Dimas karena penasaran saja, karena bibirnya manis sekali,” ucap Afifah.
Afifah sebetulnya penasaran apa yang ingin dikatakan Dimas, tapi kalau dia menuruti menemui Dimas, takutnya Dimas akan macam-macam dengan dirinya.
“Afifah?” Askara mengetuk pintu kamar Afifah.
“Iya ayah, masuk saja tidak dikunci!” teriak Afifah.
Askara memutar handle pintu kamar Afifah lalu masuk ke dalam. “Ayah sama bunda mau antar eyang check-up, sekalian menemui dokter kandungannya bunda, kamu di rumah saja, ya?” pamit Askara.
“Ih aku mau ikut, Yah!” pintanya.
“Be—belum? Memang harus mandi gitu?” jawab Afifah.
“Mandi dong? Tapi nanti kelamaan, eyang dapat nomor antrean awal, kalau menunggu kamu mandi pasti kelamaan, Fah?” ucap Askara.
“Ya sudha deh Afifah di rumah saja,” ucap Afifah.
Setelah Askara pamit, Afifah masuk ke kamar lagi. Ia langsung mengunci pintunya, takut Dimas masuk ke kamarnya. Benar ternyata Dimas tidak bohong kalau mama dan papanya akan mengantar eyangnya periksa dan mau periksa kandungan bundanya juga.
^^^
Afifah merasa lapar, dari tadi sebetulnya sudah dipanggil asisten di rumah, memanggilnya untuk makan lebih dulu, karena Salma yang menyuruh asisten di rumah supaya Afifah makan dulu.
Afifah keluar, ia mengambil makanannya, ternyata Dimas ada di belakangnya. Lalu Dimas menarik kursi dan duduk di sebelah Afifah.
“Kamu boleh menghindari om, Fah! Tapi kamu harus ingat satu hal, kalau om gak akan pernah lelah untuk mendapatkanmu, Afifah!” ucap Dimas.
__ADS_1
“Gak usah ngarep om! Sudah mau ngomong apa, ngomong sepuasnya, aku dengarkan sambil makan!” cebik Afifah.
“Udah Cuma mau bilang begitu saja. Oh iya satu lagi, om yakin Vero bukan anak baik!” ucap Dimas.
“Jangan sok tahu!”
“Terserah kamu kalau gak percaya!” ucap Dimas.
“Iya, aku gak bisa dipercaya ucapan om!”
Dimas tahu siapa Vero, bagaimana ayahnya, dan kehidupannya. Sejak Afifah dekat dengan Vero, Dimas tidak berhenti mencari tahu soal Vero, bagaimana anak itu, dan bagaimana kehidupan keluarganya.
^^^
Salma dan Askara sudah menempati rumah barunya. Salma terkejut melihat rumah barunya, ternyata suaminya membeli rumah baru yang selama ini Salma impikan. Rumah yang begitu nyaman untuk Salma yang sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah setelah hamil. Setelah hamil semua bisnis Salma dikelola oleh orang kepercyaannya, ia tidak mau kehamilannya bermasalah, karena dulu pernah mengalami masalah pada kehamilannya saat bersama Dimas.
Salma menikmati udara pagi di balkon kamarnya. Ia sebetulnya sedikit tidak setuju dengan keluarga suaminya yang seperti ingin menjodohkan Afifah dengan Vero. Tapi, suaminya begitu mendukung, dan Afifah juga suka. Salma ingin berpendapat tapi posisinya hanya ibu sambung, nanti malah jadi masalah, dia sudah tidak mau memiliki masalah lagi, apalagi dengan Afifah. Terserah apa yang menurut Afifah baik saja. Padahal Afifah baru saja mau masuk SMA.
“Salma ... kamu aku cariin ternyata di sini?”
Dengan perasaan khawatir karena mencari-cari Salma, napas Askara sedikit memburu. Dia langsung mendekati Salma dan memeluknya. “Lagi apa sih di sini? Aku tahunya kamu sudah di dapur, tapi malah di sana adanya bibi sama Afifah?”
“Pengin di sini dulu, menikmati udara pagi. Tadinya pas bangun mau langsung ke dapur pas mas masih mandi, tapi buka tirai dan jendela lihat view ke depan cantik sekali, sejuk sekali, jadi ya di sini dulu,” jawab Salma.
“Aku kira kamu di mana, Sal?” Askara semakin mengeratkan pelukannya pada Salma, sambil mengendus wangi tubuh Salma, ia ciumi ceruk leher Salma dengan lembut.
“Mas ... jangan begini, mau ke kantor, kan?” ucap Salma yang merasakan suaminya semakin dalam menciumi di sekitar leher jenjangnya.
“Habisnya kamu buat aku begini. Tubuhmu wangi sekali, Sayang,” puji Askara.
“Ih orang aku belum mandi kok?” ucap Salma. “Sudah yuk ke bawah, Afifah juga mau ke sekolah, kan?” ajak Salma.
“Iya itu sudah siap-siap, dia lagi sarapan sambil baca materi pelajarannya lagi, katanya pagi ini akan ulangan,” jawab Askara. “Sebentar lagi Afifah mau SMA ya? Dan dua bulan Afifah akan punya adik,” ucap Askara.
“Iya, Mas. Aku mau punya anak gadis, dan anak bayi. Aku senang, meskipun Afifah sangat pendiam, dia mudah menyesuaikan diri, dan dia tetap bisa mempertahankan nilainya,” ucap Salma.
“Iya, meskipun sering pindah-pindah sekolah dia bisa cepat menyesuaikan diri, dan langsung punya teman,” ucap Askara.
__ADS_1
“Kita ke bawah yu? Temani Afifah sarapan,” ajak Salma.
Sebetulnya Salma ingin bicara soal Vero, tapi nanti saja, dia tidak mau membuat situasi pagi yang romantis menjadi perdebatan.