Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Baru Menyadari


__ADS_3

Afifah sekarang sudah dibebaskan memegang ponselnya sendiri. Meskipun Salma sebetulnya masih khawatir, tapi Salma yakin anak gadisnya tidak akan macam-macam, dan akan menggunakan ponselnya sebagaimana mestinya. Setelah ujian kenaikan kelas, dan Afifah mendapatkan nilai paling tinggi di sekolahannya, sekarang Afifah menagih janji pada papanya, untuk dibelikan ponsel baru. Mau tidak mau Askara menurutinya.


Sebelum berangkat mengantar Afifah liburan di rumah omanya juga rumah eyangnya, Askara dan Salma menepati janjinya untuk membelikan ponsel baru untuk Afifah.


“Bunda gak lama kan di Singapura?” tanya Afifah.


“Mungkin satu bulan sampai dua bulan, Sayang?” jawab Salma.


“Lama sekali? Fifah sama oma saja gitu? Sama eyang juga?” protes Afifah.


“Ya memang harus begini dulu, Nak? Katanya Afifah pengin punya adik?” ucap Askara.


“Iya sih, Yah? Tapi, nanti Afifah bakalan kangen sama ayah sama bunda, dong?” ucap Afifah.


“Kan sementara bisa telefonan dan video call sayang?” ucap Salma.


“Iya sih, tapi gimana ya? Sebulan sama dua bulan gak ada bunda sama ayah?” cebik Afifah.


“Kan kamu mau liburan tiga minggu, Fah? Kamu bebas mau ke mana? Katanya opa mau ajak kamu touring, sama budhe, tante juga ke vilanya uyut, jadi ikut, kan?” tanya Askara.


“Ih motoran gitu? Item nanti kulit Fifah, Yah,” protes Afifah.


“Persis sama bunda kamu, Fah! Gak mau motoran kalau panas-panas. Takut kulitnya jadi gelap,” ucap Askara.


“Ih ayah ini, perawatan kulit bunda itu mahal, gak mau dong dipanas-panasin?” jawab Salma.


“Iya, ayah ih gak tahu apa sih body serum sama handbody itu mahal? Gak mau lah kena pansa nanti hitam kulitku,” imbuh Afifah.


Afifah sekarang sudah bisa merawat tubuhnya dengan baik. Itu semua karena Salma juga yang mendukung, karena bagi Salma perempuan harus bisa menjaga dan merawat tubuhnya. Afifah kulitnya sangat mulus, putih, dan bersih. Itu semua karena Salma juga selalu memerhatikan kesehatan kulit anak gadisnya.


“Iya deh, ayah ngalah. Ayah gak pandai sih merawat kulit, kalau gak dipaksa bunda pakai produk untuk perawatan kulit saja ayah malah. Untung bundamu telaten sekali sama ayah sama kamu,” ucap Askara.


“Makanya Afifah gak suka panas-panasan, Ayah? Kalau ke Vilanya naik mobil ya aku mau yah,” ucap Afifah. “Tapi di rumah bunda saja vibes nya sudah kayak di Vila kok? Ada kolam renangnya, bersih lagi? Bebas mau renang kapan saja. Tamannya luas? Bias buat foto-foto,” imbuh Afifah.


“Ini jadinya mau di rumah eyang atau oma dulu?” tanya Salma.


“Di oma dulu, nanti kan ke eyangnya dijemput eyang sama Om Dimas katanya? Aku pengin jalan-jalan sama Tante Nina,” jawabnya.


“Ya sudah, ke oma dulu, nanti biar eyang sama Om Dimas jemput kamu,” ucap Salma.


Salma dan Askara sebetulnya ingin sekali mengajak Afifah ke Singapura, tapi karena Afifahnya gak mau, ya terpaksa menitipkan Afifah pada orang tua Salma dan orang tua Askara. Kalau pun ikut, Askara dan Salma di Singapura juga cukup lama, tidak seminggu dua minggu, mereka di sana sampai satu atau dua bulan. Askara dan Salma juga ingin pamit pada bunda dan ayahnya Askara, juga Binka dan Zhafran, bagaimanapun Zhafran adalah papa kandung Askara. Lalu mereka juga pamit dengan ibunya Salma. Untung sekarang ibunya Salma ada adik sepupunya yang menemani selama Dimas berada di Australia, jadi ibunya Salma tidak kesepian.


^^^


Dimas dari Bandara langsung menjemput Afifah yang masih berada di rumah Ardha dan Alana. Tadinya mau dengan ibunya Salma, tapi ibunya Salma sedang tidak enak badan, jadi Dimas menjemputnya sendirian. Afifah juga dari tadi sudah tidak sabar ingin bertemu dengan eyangnya yang katanya sedang sakit, tapi sudah membuatkan kue untuk Afifah juga masakan kesukaan Afifah. Bukan itu saja, Afifah juga ingin sekali bertemu dengan Dimas, karena sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan Dimas. Entah kenapa sejak bundanya menikah lagi dengan ayahnya, Afifah sangat dekat dengan Dimas, padahal sempat gak suka dengan Dimas, karena dulu Dimas akan menikahi bundanya lagi. Setelah Dimas menyatukan bunda dan ayahnya, Afifah sangat berterima kasih dengan Dimas, juga semakin dekat, seperti om dan keponakan pada umumnya.

__ADS_1


“Kamu senang sekali mau ke rumah eyang? Di sini gak betah ya, Fah?” ucap Ardha.


“Ih Opa, masa gak betah? Giliran dong opa? Kan seminggu di Opa Zhafran, seminggu di sini, ya seminggu terakhir di eyang, ini saja berarti gak sampai seminggu di eyang, kan minggu depan sudah harus sekolah, Opa? Jadi pulangnya ya kurang dua hari berangkat sekolah,” jelas Afifah.


“Opa masih kurang puas ajak jalan-jalan kamu, Nak,” ucap Ardha dengan memeluk Afifah.


“Nanti kan minggu depannya Opa dan Oma yang akan menemani Afifah di Jogja, gantian sama eyang?” ucap Afifah.


“Iya sih, nanti opa ajak jalan-jalan di sana deh,” ucap Ardha.


Tak lama kemudian Dimas datang ke rumah Ardha dan Alana untuk menjelmput Afifah dan akan mengantarnya ke rumah ibunya Salma.


“Siang, Om, Tante?” ucap Dimas lalu mencium tangan Ardha dan Alana.


“Siang juga, Dim. Kamu tambah gagah saja lama di luar negeri?” puji Ardha.


“Om bisa saja?” jawab  Dimas.


“Ya memang begitu, sih? Tapi sayang, mana calon istrimu?” tanya Ardha.


“Ada, nanti Dimas kenalkan sama om dan tante. Mungkin lusa dia akan aku ajak menemui ibu,” jawab Dimas.


“Om kira belum punya calon,” ucap Ardha.


Dimas sebetulnya sudah menjalin hubungan dengan perempuan, tapi perempuan itu belum tahu kalau Dimas itu sakit impotent, dan sampai sekarang meskipun di Australi sambil berobat, tetap saja belum sembuh sama sekali.


“Sudah dong, Om?” jawab Afifah.


“Ya sudah mau sekarang berangkatnya?” tanya Dimas.


“Boleh sekarang saja, aku sudah kepengin ketemu eyang, kangen eyang juga, katanya sedang tidak enak badan,” jawab Afifah.


“Ya sudah pamit sama oma dan opa,” titah Dimas.


Setelah pamit dengan oma dan opanya, Afifah langsung berangkat bersama Dimas ke rumah eyangnya. Afifah duduk di depan di sebelah Dimas yang sedang mengemudikannya.


“Om, lihat sini.” Afifah mengarahkan kameranya ke arah Dimas, dan mengajak Dimas untuk foto.


“Yah, om jelek sekali ekspresinya, ulangi ah,” cebik Afifah.


Dimas menuruti saja apa keinginan keponakannya itu. Biar saja semau Afifah bagaimana. Dimas menurutinya saja. “Gini dong, cakep,” ucap Afifah.


“Kamu sudah pintar orang cakep sekarang, Fah?” tanya Dimas.


“Ya kan memang tuh lihat, fotonya cakep, kan? Afifah mau post di Instagram dan story WhatsApp boleh, kan?” ucap Afifah.

__ADS_1


“Iya boleh, tag Om, ya?” pinta Dimas, lalu mengacak-acak rambut Afifah.


“Ih om, kan berantakan rambut Fifah?” cebik Afifah.


“Sudah gak apa-apa, nanti dirapihin lagi, habis kamu tambah cantik, lucu, menggemaskan,” ucap Dimas.


“Yeay ... dikira bayi menggemaskan?” ucap Afifah. “Afifah sudah gede om?” pungkasnya.


“Iya, om tahu, sudah jadi gadis cantik, pasti sudah punya cowok, ya? Ayo ngaku?” ucap Dimas.


“Gak boleh pacaran sama bunda sama ayah juga!” cebik Afifah.


“Masa sih?”


“Iya om, padahal ada cowok yang nembak Afifah kemarin, kakak kelas Afifah,” ucap Afifah.


“Nembak kamu? Kamu terluka gak?” ucap Dimas terkekeh.


“Ih om ini? Maksud Afifah menyatakan cinta, Om? Tapi, Afifah tolak, soalnya takut ketahuan bunda, itu saja kalau mau tidur Fifah blok dulu nomor dia, chatnya Fifah hapus semua, takut bunda sama ayah diam-diam buka ponsel Fifah,” jelas Afifah.


“Kalau menurut om sih, pacaran boleh, asal tahu batasannya, itu saja sih,” ucap Dimas.


“Om juga dulu dari SMP pacaran sama bunda, kan?” tanya Afifah.


“Iya, mau naik kelas tiga kayaknya om pacaran sama bundamu,” jawab Dimas.


“Afifah pengin pacaran tapi gak dibolehin sama bunda, padahal bunda dari SMP sudah pacaran?” cebik Afifah.


“Namanya orang tua itu pasti punya alasan kenapa belum memperbolehkan kamu pacaran. Siapa tahu itu yang terbaik buat kamu, jadi kamu nurut saja kata bunda dan ayah,” tutur Dimas.


“Kita makan dulu yuk, om lapar,” ajak Dimas.


“Boleh, Afifah pengin makan steak, Om,” pinta Afifah.


“Oke, kita ke restoran sekarang,” ucap Dimas mengiyakan.


Afifah suka kalau pergi dengan Dimas apa saja yang ia mau pasti diturutinya. Afifah melihat ponselnya, ada yang mengomentari story di WhatsApp nya.


[Om nya tampan sekali, kayak aktor korea, kenalin dong, Fah? Apa itu yang namanya Om Dimas?]


[Iya, Om Dimas namanya, tampan kan om ku? Nanti aku kenalin kalau om nganterin aku sekolah]


[Mau dong jadi pacar om nya kamu, masih jomlo kan?]


[Hus ... sembarangan, Om Dimas udah mau menikah!]

__ADS_1


Afifah menggelengkan kepalanya melihat chat dari teman-temannya. Dia langsung melirik Dimas, dan benar apa yang temannya katakan, kalau Dimas mirip dengan aktor korea.


“Iya, tampan sekali ternyata Om Dimas, kok aku baru sadar?” ucap Afifah dalam hati.


__ADS_2