Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Permintaan Terakhir Azzura Yang Terlalu Banyak


__ADS_3

Azzura diperbolehkan untuk pulang. Keadaannya sudah cukup membaik, tapi tetap saja kanker di tubuhnya masih terus berkembang menggerogoti tubuhnya. Dia hanya memperoleh pengobatan untuk menghambat perkembangan sel kankernya saja, dan mengurangi rasa sakitnya saja, bukan untuk menyembuhnya, dan membuang semua sel kanker di dalam tubuhnya yang sudah menjalar.


“Ayo aku bantu,” ucap Askara saat Azzura turun dari bed perawatannya.


“Aku bisa sendiri, Mas. Aku sudah sehat,” jawab Azzura. “Aku senang, akhirnya aku bisa pulang, dan di rumah hanya ada aku, kamu, dan Afifah sekarang, tidak ada orang ketiga di dala rumah tangga kita,” ucap Azzura dengan senyum bahagia.


“Kamu yang jadi orang ketiga dalam rumah tanggaku dan Salma. Kamu yang membuat Salma pergi, Ra. Aku hanya kasihan saja sama kamu, tidak ada saudara dan orang tua, jadi aku mau merawatmu, dan aku rela kehilangan Salma. Orang yang sangat aku cintai, orang yang sudah berhasil  membukakan lembaran baru dengan begitu indah. Sekarang dia pergi hanya karena kamu, mengalah demi kamu,” batin Askara pedih.


“Tapi kamu belum pulih sekali, Ra. Sini biar kubantu,” ucap Askara.


“Aku sudah sehat, karena ada kamu, Mas. Karena kamu mau menemaniku, di sini, hanya berdua saja denganku di sini. Terima kasih mas,” ucap Azzura.


Selama delapan bulan Askara menemani Azzura di Singapura, dia meninggalkan pekerjaannya demi menemani Azzura, dan dia merelakan Salma pergi juga hanya karena Azzura. Semua hanya untuk Zura, tanpa memikirkan yang lain.


“Mas, benar kan Salma sudah menceraikan kamu?” tanya Azzura.


“Kamu kok gak bosan-bosannya tanya seperti itu setiap hari, Ra? Apa kamu tidak percaya?” jawab Askara.


“Kan kamu belum menerima surat cerainya, Mas? Mana bisa aku percaya?” ucap Azzura.


“Astaga, Ra .... Apa kurang jelas semua saudaraku, keluargaku bilang kalau aku dan Salma sudah resmi berpisah?” pekik Askara kesal.

__ADS_1


“Ya aku percaya, tapi kan belum ada bukti yang menunjukkan kamu itu sudah sah bercerai?”


“Ya nanti aku ke pengadilan agama, mengambil bukti bahwa aku ini sudah berpisah dengan Salma secara resmi. Kamu tenang saja, jangan takut Salma kembali. Aku tahu Salma seperti apa, sekali dia dikecewakan, dia tidak akan mau berurusan dengan orang yang sudah mengecewakannya!” tegas Askara.


“Kamu sepertinya tahu sekali tentang Salma?”


“Ya tahu, karena dia selalu terbuka padaku, ada apa-apa dia selalu terbuka, tidak menutup-nutupinya. Meski aku dan dia berumah tangga selama dua tahun, tapi masa pengenalan kita juga cukup lama. Dari Fifah umur tiga tahun, dan menikah dengannya saat Fifah lima tahun,” jelas Askara.


“Kamu nyindir aku? Kalau aku ini gak pernah terbuka sama kamu nih? Ngebandingin aku dengan Salma nih?” cetus Azzura dengan kesal.


“Kamu itu terlalu perasa sekali ya, Ra? Sensitif sekali kalau aku cerita soal Salma, padahal kamu sendiri yang tanya soal Salma, giliran aku jawab kamu selalu bilang aku bandingin dia sama kamulah, aku nyindir kamulah! Maunya kamu itu apa sih, Ra? Kurang nurut apa aku ini! Aku kembali denganmu, menemani kamu di sini, aku dilarang hubungi Salma, dan meninggalkan Salma, aku sudah melakukan semua permintaanmu, Ra! Permintaan kamu yang berdalih kalau semua itu permintaan terakhir kamu! Mau minta permintaan terakhir apa lagi, Ra? Bilang sekarang!” Askara sudah kehabisan kesabaran dengan Azzura. Selalu saja Azzura bicara seperti itu.


“Kamu tidak usah cemburu dengan orang yang sudah pergi dari hidupku, dan dia pergi juga karena kamu, Ra!” pekik Askara. “Kamu tahu, aku menikahi dia, saat aku masih sangat mencintaimu, aku selalu berharap kamu kembali, setelah aku sadar, ada Salma yang selalu sabar dengan sikapku, dia sabar menghadapiku yang selalu bicara ketus dengannya, dan pada akhirnya aku sadar, dia layak untuk aku cintai! Sekarang, saat aku sudah sangat mencintainya, kamu datang, dan meminta dia pergi dariku! Kamu harusnya sadar, di sini kamu yang menang, kamu yang aku utamakan! Jangan pernah menganggap aku ini sedang membandingkanmu dengan Salma!”


“Kalau kamu gak pergi, kalau kamu jujur sama aku, aku gak akan menikahi perempuan lain, Ra! Bahkan aku tidak mungkin dipertemukan dengan Salma! Tapi, apa? Selama bertahun-tahun kamu itu menghilang gak ada kabar, Sal!”


“Iya aku minta maaf, Mas. Aku mohon, jangan menikah lagi jika aku meninggal nanti, Mas. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya milikmu, sampai nanti.” Pinta Azzura.


“Apa ini permintaan terakhirmu lagi? Tapi, maaf untuk ini aku tidak tahu. Mati, jodoh, rezeki tidak ada yang tahu. Aku tidak janji untuk hal ini, aku tidak janji jika istriku meninggal aku tidak menikah lagi. Aku tidak janji itu, aku ini laki-laki normal, laki-laki biasa yang membutuhkan kebutuhan batin, Ra. Aku tidak janji untuk hal itu,” ucap Askara.


“Kenapa, Mas? Apa kamu akan menikahi Salma lagi?”

__ADS_1


“Kalau masih ada jodoh, kenapa tidak?” jawab Askara.


“Apa kamu masih mencintainya, Mas?”


“Iya aku masih sangat mencintainya, Azzura. Aku tidak mau bohong pada hatiku sendiri. Aku masih sangat mencintai Salma.” Jawab Askara dengan tegas.


“Lalu apa kamu mencintaiku, Mas?” tanya Azzura.


“Kalau aku tidak mencintai, untuk apa aku melakukan ini semua padamu. Sudah ayo pulang, kita harus segera ke Bandara, biar tidak terlambat,” jawab Askara.


“Tapi sepertinya kamu berbeda, cinta yang kamu berikan padaku tidak sama seperti cinta yang kamu berikan pada Salma?”


“Jelas berbeda, Ra. Kamu dan Salma beda orang, jadi mana bisa aku memberikan yang sama?” jawab Askara.


“Apa kamu lebih mencintai Salma daripada aku?”


“Jangan tanya macam-macam, kalau kamu tidak ingin sakit hati mendengar jawabanku! Sudah kita pulang! Aku ini masih denganmu, kurang apa kok kamu masih saja mempertanyakan cinta?” ucap Askara. “Ayo kita pulang.”


Askara mendorong kursi roda Azzura. Azzura dari tadi diam, setelah mendengar ucapan Askara. Azzura benar-benar kesal dengan sikap suaminya setelah berpisah dengan Salma. Ucapan Asakra selalu saja tidak mengenakkan hatiny, apalagi kalau Azzura tanya soal salma, Askara kelihatan sekali masih sangat mencintai Salma, dan selalu membanggakan Salma di depan dirinya.


“Aku harus tetap melarang Mas Aska agar tidak menikah lagi setelah aku meninggal nanti. Aku tidak rela ada perempuan lain hidup dengannya. Apalagi kalau harus kembali dengan Salma. Aku tidak akan rela. Meski Mas Aska tidak mau janji untuk itu, aku akan tetap memaksanya. Biar saja aku ini dibilang egois, biar saja aku ini dibilang serakah, karena jika Mas Aska menikah lagi, dan memiliki anak,  pasti Mas Aska akan melupakan Afifah. Apalagi kalau punya anak laki-laki, jelas Afifah kalah, karena anak laki-laki lebih kuat, untuk meneruskan silsilahnya nanti. Aku tidak mau Mas Aska menikah lagi!” batin Azzura.

__ADS_1


Askara tidak mau tahu. Dia sudah muak dengan semua permintaan-permintaan Azzura sejak Azzura kembali, dan dinyatakan mengindap kanker paru-paru. Askara sudah tidak mau mendengarkan lagi permintaan Azzura, yang selalu berdalih kalau itu adalah permintaan terakhirnya.


“Kalau Azzura istri yang baik. Dia akan merelakan suaminya menikah lagi setelah dirinya meninggal? Karena suami itu pasti butuh kebutuhan batin, butuh sosok istri yang akan menjadi pendamping hidupnya. Baru kali ini aku mendengar permintaan orang sakit yang sudah sekarat tapi aneh. Biasanya seorang istri yang sudah sekarat, sakit keras, akan meminta suaminya untuk menikah lagi, karena paham suaminya pasti membutuhkan seorang pendamping, dan butuh juga kebutuhan batinnya tersalurkan? Azzura malah memintaku untuk tidak menikah lagi setelah dirinya meninggal? Dia benar-benar aneh, memangnya aku akan mati juga setelah dia mati? Ya aku tahu mati, jodoh, rezeki Tuhan yang atur? Tapi aku ini laki-laki biasa, laki-laki normal yang masih butuh pendamping hidup!” batin Askara.


__ADS_2