Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Vero Yang Kecewa


__ADS_3

Vero sampai di sekolahannya, dia langsung bergabung dengan teman-temannya. “Tumben lo, siang banget berangkatnya!” tanya teman Vero.


“Biasa, lagi ada mainan baru!” jawab Vero dengan berkelakar.


“Gila lo, baru buang Kila sudah dapat mangsa baru saja!” timbrung lainnya.


“Siapa dulu, Vero ...,” ucap Vero membanggakan dirinya.


“Ini mangsa lo dari SMA mana Bro? Pasti SMA Pelita Bangsa, ya?” tanya Dwiki.


“Bukan, bosan sama anak SMA,” jawab Vero.


“Terus? Lo mangsanya anak SD? Apa TK?” kelakar teman-temannya.


“Anak SMP Tunas Mulia. Baru pindahan dari Jogja, dia cucunya kerabat opa. Lumayan lah buat iseng-iseng, dia lucu, cantik, menggemaskan, pintar, lugu pula?” ucap Vero.


“Anak SMP, dia lucu, cantik, menggemaskan, pintar, lugu?” Dwiki menghitung jarinya dan menyebutkan ciri-ciri incaran Vero baru. “Fix ini mah bukan untuk dijadikan mainan lo! Lo kalau ngincar cewek buat mainan itu yang seksi, semok, semlehoy, gede depan belakang, putih lemah lembut glowing kayak bihun, pokoknya yang seksi buat dimainin! Nah ini anak SMP, lucu, menggemaskan, pintar, lugu pula? Gak ini mah fix mau dijadiin istri lo!” cerocos Dwiki.


“Ya gitu pokoknya, pokoknya mainan baru gue lain daripada yang lain sekarang ini. Tinggal nunggu tanggal mainnya saja, aku akan buat dia gak bisa lepas dariku. Dia bukan sembarangan cewek, pokoknya gue harus ngedapatin dia, semuanya harus gue dapetin!” ucap Vero.


“Lalu Yumi mau kamu taruh mana? Lo baru kemarin ajak jalan pasti belum sampai diapa-apain, kan?”


“Yumi masalah gampang, lagian cewek mana yang nolak diduakan gue? Semua tahu gue suka gonta-ganti cewek, ceweknya saja bodoh, mau-mau saja!” ucap Vero.


Vero memang tekenal gonta-ganti cewek, tapi tidak ada satu pun ceweknya yang protes diduakan Vero. Semua cewek yang didekati Vero sudah biasa diduakan, jadi mereka berpikir semuanya sama Cuma buat mainan Vero. Toh nantinya juga Vero akan ajak jalan cewek itu lagi kalau sudah bosan dengan  yang lain.


“Lo juga lagi dekatsama Jessi, kan?” tanya Dwiki.


“Gak deket lagi, udah gue coba kemarin! Udah oversize ternyata,” jawab Vero. Sial banget ya hidup gue, dari sekian banyaknya cewek yang udah pernah gue tidurin, gak ada satu pun yang masih perawan!” umpat Vero.


“Itu paling anak SMP masih segel, Ver!” timpal lainnya.


“Makanya gue harus dapatin dia, tapi gue harus nunggu dia tujuh belas tahun bro! Dia bilang mau pacaran kalau udah tujuh belas tahun, sekarang dia maunya berteman saja sama gue! Sialan gue dibikin pusing sama anak SMP. Mana dadanya wow banget, tubuhnya seksi menggoda, kebule-bulean pula. Gak ada tandingnya kalau dia sama yang lain, makanya gue pengin banget ngerasain tuh cewek!” cerocos Vero.


“Tadi menggemaskan, lucu katanya? Ini tambah lagi seksi, dadanya besar? Ya pantas kamu oke!” timpal Dwiki.


“Nak itu, Ki. Nanti deh gue kenalin sama kalian,” ucap Vero.


“Ajak clubing saja, Ver!”


“Eh jangan, nanti malah dia gak suka sama gue! Ngafe saja nanti,” ucap Vero. “Kalian semua harus kalem di depan dia!” tutur Vero.


“Siap deh siap, siap!” jawabnya.


“Sudah masuk kelas! Gue gak bisa ninggalin pelajaran favorit gue!” ajak Vero.


“Heran sama lo, lo penjahat wanita tapi suka pelajaran matematika sama Fisika, sudah gitu peringkat lo gak pernah turun pula! Gila sih, anak gini bisa berprestasi juga!” puji Dwiki.


“Nakal boleh, tapi otak harus cerdas!” cetus Vero. “Gak ada yang bisa nandingin nakalnya gue sama cewek, dan gak ada yang bisa pula nandingin kecerdasan otak gue! Nyatanya gue masih peringkat satu dari kelas satu, kan? Gak pernah turun ke dua atau ke tiga?” ucap Vero membanggakan diri.

__ADS_1


“Iya deh, terusin saja begitu! Mainin cewek pakai rumus pitagoras!” kelakar Dwiki.


“Mainin cewek juga harus pakai Hukum Newton, Bro!” papar Vero.


“Banyakan gaya lo!” tukas Dwiki.


“Enak dong bervariasi!” jawab Vero.


Vero berlari karena mendengar bel masuk. Dia gak mau terlambat sedetik pun kalau ada pelajaran favoritnya, yaitu Fisika, Kimia, dan Matematika. Selain otaknya cerdas, dia juga otaknya sangat mesum. Dia sering gonta-ganti cewek, karena ingin mendapatkan variasi menjajaki cewek-cewek seksi. Bahkan Vero sempat menemani tante-tante yang kehausan belaian.


^^^


Sepulang sekolah Afifah dijemput Vero, mereka tidak langsung pulang, tapi Vero mengajak Afifah jalan lebih dulu. Vero tidak mau membuang waktu saat bersama Afifah, ia ingin membuat Afifah tidak bisa melupakannya dengan pesonanya.


“Kita jalan dulu mau, Fah?” ajak Vero dengan mengusap lutut Afifah yang sedang membonceng di belakangnya.


“Mau jalan ke mana, Kak?” tanya Afifah.


“Ya ke mana gitu, ke pantai boleh, ke mall, atau cafe?” jawab Vero.


“Ehm ... ke mana, ya? Pulang langsung saja yuk, Kak? Aku nanti sore ada les, Kak,” ucap Afifah.


“Oh ya sudah pulang saja, nanti sore aku antar kamu les, nanti aku tungguin kamu les, terus pulangnya jalan dulu ya sebentar?”


“Iya deh, nanti aku pamit bunda sama ayah ya, Kak? Soalnya kalau ini kita jalan kasihan bunda, pasti bunda menunggu aku pulang, dan makan siangnya pasti bareng sama aku, nunggu aku pulang,” jelas Afifah.


“Oke, tidak apa-apa,” jawab Vero.


Askara dan Salma memang kenal dengan Vero, tapi mereka tidak mau kalau Afifah pergi dadakan dengan Vero dengan alasan mau jalan dulu, atau makan siang bareng, dan alasan yang lainnya. Jadi Afifah memilih pulang dan pamit dulu. Apalagi ayah dan bundanya sudha mengingatkan dirinya, kalau pulang sekolah jangan mampir-mampir, kalau mau mampir harus ajak sopir atau bilang sama Dimas. Kalau sama Dimas, kan memang dari dulu Dimas yang selalu antar Afifah ke mana pun Afifah mau karena belum punya sopir pribadi, tapi sejak kejadian malam itu, Afifah tidak mau lagi ke mana-mana dengan Dimas, karena ia takut tergoda dengan ketampanan Dimas lagi.


Afifah sadar, dia memang yang memulai lebih dulu, karena dia suka dengan wajah manis dan tampan Dimas yang kadang membuat Afifah kangen. Afifah sekarang malu sendiri kalau ingat malam itu, apalagi sampai bilang pada Dimas kalau dirinya ingin jadi pacarnya Dimas. Laki-laki mana yang menolak digoda perempuan, dengan anak dibawah umur sekali pun pasti mau-mau saja? Afifah menghindari Dimas karena memang dia malu sekali jika ingat kejadian malam itu, di mana dia yang agresif memulai mengecup bibir Dimas. Bahkan saat di kolam renang pun dia yang mulai mencium bibir Dimas, karena dia gemas sekali melihat bibir Dimas yang ada di depannya dengan jarak yang cukup dekat.


Vero kecewa sekali Afifah terlalu disiplin sekali, mau diajak mampir setelah pulang sekolah saja Afifah tidak mau, karena harus pamit dengan bundanya lebih dulu. Tapi Vero tak kehilangan akal, dia nanti sore tetap akan meminta izin pada bundanya Afifah atau ayahnya untuk mengantarkan Afifah les.


“Kak, marah ya aku gak mau diajak jalan? Aku memang gak bisa kalau pergi dadak gini, Kak. Pasti ayah atau bunda gak ngebolehin,” tanya Afifah pada Vero.


“Enggak, marah kenapa, Fah? Kan memang begitu? Ya sudah nanti sore kakak yang antar kamu les, ya?” pinta Vero.


“Kakak tanya dulu sama bunda, ya?” jawab Afifah. “Ayo kak masuk,” ajak Afifah.


Afifah mengajak Vero masuk ke dalam. Salma sudah menunggu Afifah pulang, dia langsung menyambut anak perempuannya pulang sekolah.


“Anak bunda sudah pulang? Eh ada Vero juga? Masuk, Ver,” ucap Salma.


Afifah mencium tangan Salma, pun dengan Vero, dia juga mencium tangan Salma. “Bundanya Afifah cantik sekali ternyata, seksi sekali pakai baju hamil begitu. Pantas Afifahnya juga cantik?” puji Vero dalam hati.


“Tante, kalau nanti sore aku antar Afifah les boleh?” tanya Vero.


“Jadi Vero mau antar Afifah les begitu? Tapi sepertinya Afifah harus sama sopir deh, sekalian tante mau ikut belanja,” jawab Afifah. “Tapi ya kamu tanya sama Afifah saja, maunya bagaimana,” lanjut Salma.

__ADS_1


“Ya aku sih mau, tapi nanti bunda sendirian belanjanya?” ucap Afifah.


“kan bunda ada sopir, Nak. Ya terserah Afifah, Afifah mau tidak, tentunya Afifah harus pamit dengan ayah dulu, ya?” tutur Salma.


“Iya deh, nanti pamit, nanti aku kabari lagi ya, Kak?” ucap Afifah.


“Oke, siap!” jawab Vero.


“Kamu belum makan kan, Ver? Yuk makan siang bareng sama tante sama Afifah?” ajak Salma basa-basi.


“Ehm ... tadi Vero sudah makan di kantin tante, Vero pulang langsung saja, semoga Om Aska mengizinkan aku untuk antar Afifah les nanti sore,” ucap Vero.


Sebetulnya Vero mau menghampiri Yumi, mau jemput Yumi yang sedang latihan cheers, sekalian ajak Yumi mojok di kantin sambil pacaran.


“Ya sudah kalau kamu gak mau, Ver. Kamu hati-hati pulangnya,” ucap Salma. Padahal Salma pun malas kalau misal Vero mau diajak makan siang di rumahnya. Salma agak tidak suka dengan Vero. Mungkin sebagai seorang ibu, dia tahu bagaimana Vero, dan bisa menilai teman laki-laki anak perempuannya.


Vero pamit dengan Salma dan Afifah untuk pulang. Bukan, bukan untuk pulang sebenarnya, tapi untuk menjemput Yumi yang sedang latihan cheers.


“Bunda, tadi sebetulnya Afifah diajak Vero jalan pas pulang sekolah, tapi Afifah nolak,” ucap Afifah sambil menaruh tas nya di Sofa, lalu ia ambil hasil ulangan hari ini dan menunjukkannya pada Salma.


“Kenapa kamu tolak?” tanya Salma.


“Ya kan belum pamit sama bunda sama ayah? Bunda sama ayah kan bilang sama Afifah, kalau pulang sekolah harus langsung pulang, gak boleh mampir-mampir, kecuali memang ada jam tambahan, atau untuk kerja kelompok, itu pun bunda pasti meminta Sopir untuk antar Afifah ke rumah teman Afifah untuk belajar kelompok? Atau kadan Om Dimas?” jawab Afifah. Ia lalu memberikan kertas hasil ulangannya pada Salma.


“Iya sih bunda sama ayah memang mewanti-wanti kamu begitu, kalau mau dadakan pergi ya harus sama sopir, jangan sendirian,” ucap Salma. “Ini hasil ulangan kamu?” tanya Salma.


“Hmmm ... menurun hasilnya,” jawab Afifah.


“Menurun bagaimana? Ini masih di angka sembilan kok?” tanya Salma.


“Kemarin Sembilan puluh delapan, Bun, sekarang sembilan puluh dua? Kan turun?” jawab Afifah. “Harusnya seratus sih, memang soalnya sulit. Itu saja paling tinggi bun nilai Afifah,” jelasnya.


“Ya sudah kalau kemampuan kamu segini, jangan dipaksakan, toh kamu yang tertinggi nilainya?” ucap Salma. “Kamu memang harus mempertahankan nilaimu, tapi bukan untuk terus berambisi, nanti kalau terlalu berambisi kamu itu malah stres pikirannya, gak konsen, dan bisa-bisa kesehatan kamu terganggu. Pelan-pelan asal pasti dan hasilnya memuaskan itu yang harus kamu pertahankan,” tutur Salma.


“Iya, Bunda. Tapi ya tetap saja nilai Afifah turun, Bun?” ucap Afifah.


“Makanya belajar lagi, tuh hapenya, gak usah tiap malam dilihatin mulu! Chat mulu sama Vero? Jangan pacaran terus, Fah?” tegur Salma.


“Ih bunda, Afifah gak pacaran, belum pacaran sama Kak Vero. Orang masih dekat saja kok?” ucap Afifah.


“Mau masih dekat atau sudah pacaran, ya tetap saja sama? Kamunya begitu selalu menomor satukan hape? Jadi gini kan nyesel? Nilaimu merosot!” ucap Salma.


“Iya ntar lagi gak main hape lama-lama,” ucap Afifah.


“Kamu mah kalau gini baru sadar, nanti kalau dapat nilai yang  memuasakan lagi ya kamu pasti mainan hape mulu?” ujar Salma.


“Ih, enggak bunda, sudah ah, Afifah mau makan, lapar nih,” ucap Afifah.


“Ganti baju dulu, cuci tangan, baru makan,” titah Salma.

__ADS_1


Salma menyiapkan makanan untuk Afifah dan dirinya saat Afifah ganti baju. Salma ingat kalau Afifah nanti sore ingin diantar oleh Vero saat les. Ia mengambil telefonnya untuk menelefon Askara, mau bilang soal Vero yang ingin antar les Afifah, tapi saat mau menelefonnya, Salma mendengar bel pintu berbunyi. Salma mengurungkan niatnya untuk menelefon Askara, biar nanti Afifah yang telefon saja, pamit dengan ayahnya boleh tidak berangkat les dengan Vero.


__ADS_2