Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Takut Gagal Lagi


__ADS_3

Salma sedang sibuk menata beberapa toples kecil yang berisi macam-macam cookies buatannya. Ia tata rapi di dalam etalase tokonya, sambil ia hitung hari ini dia menaruh berapa toples di etalase tokonya. Selesai menatanya, Salma di panggil karyawannya, katanya ibunya menunggu di dalam, dan ingin bicara dengannya. Salma mengiyakan, dan langsung menghampiri ibunya di dalam.


“Ada apa, Bu?” tanya Salma. “Kok ada kamu, Dim? Datang kapan kamu?” tanya Salma pada Dimas yang ada di dalam bersama ibunya.


“Dari tadi, sebelum kamu datang,” jawab Dimas.


“Sini, ibu ingin bicara sama kamu,” ucap Bu Mila.


“Sepertinya serius sekali, Bu?”


“Ya, memang serius,” ucap Bu Mila.


“Sama Dimas juga?” tanya Salma.


“Iya, ibu ingin bicara sama kalian,” jawab Bu Mila.


“Aku curiga nih mau bicara apa sih, Bu?”


“Sini duduk samping ibu.”


Salma mendudukkan dirinya di sebelah ibunya. Salma yakin ibunya akan menanyakan hubungannya dengan Dimas, apalagi sudah satu tahun dirinya sering bersama Dimas, mau ke mana juga Dimas yang mengantarnya. Salma memang membutuhkan teman, untuk sekadar menemani dia bercerita, atau supaya tidak sepi. Karena selama ini Salma memang tidak pernah memiliki teman akrab. Dia berteman hanya dengan kekasihnya saja, atau dengan suaminya. Sekarang, dia hanya dengan ibunya. Ibunya kadang sibuk, dan apa-apa juga mengandalkan Dimas. Ada Dimas juga, yang kadang dia ajak ngobrol daripada jenuh, dan sekarang Salma sudah bisa berdamai dengan masa lalunya saat bersama Dimas, dia menganggap Dimas seperti kakaknya, yang selalu siap siaga mengantar dirinya ke mana pun dia mau.


“Kamu sama Dimas bagaimana?” tanya Bu Mila.


“Ini ibu tanya apa sih?” tanya Dimas.


“Iya ibu itu tanya apa? Tiba-tiba tanya aku sama Dimas gimana?”


“Iya, ibu aneh ih!” ujar Dimas.


“Ya kalian itu sering bareng, pergi bareng, jalan bareng? Apa tidak mau untuk kembali seperti dulu lagi?” tanya Bu Mila.


“Aku sama Salma  memang dekat, Bu. Bahkan perasaanku sama Salma masih sama seperti dulu, tapi aku menghargai perasaan Salma. Aku hargai Salma yang mungkin sudah tidak mau lagi mengulang kisah lama kita. Aku lebih menghargai pertemanan aku dan Salma sekaran, Bu,” jelas Dimas.


“Benar kata Dimas, Bu. Seandainya ibu meminta aku menikah lagi, aku juga tidak akan menikah dengan Dimas, Bu. Aku baru satu tahun janda, dan hanya karena aku dekat dengan Dimas, ibu menanyakan hubungan aku dan Dimas bagaimana? Ya aku sama Dimas biasa saja, berteman biasa. Tapi, aku juga tidak bisa melawan kehendak Tuhan, jika suatu hari aku disatukan lagi dengan Dimas,” ucap Salma.


“Aku amini ya, Sal?” ujar Dimas.


“Gak usah ngarep, Dim!” tukas Salma.


“Ya kali saja Tuhan memberikan jodoh pada kita lagi? Kan gak ada yang tahu, Sal?”


“Iya juga sih,” ucap Salma. “Jadi sekarang, ibu jangan tanya lagi bagaimana aku dengan Dimas, ya? Kami hanya sekadar berteman saja, tidak lebih,” jelas Salma.


“Tapi, boleh ibu berharap lebih sama kalian? Ibu ingin sekali kalian bersama lagi,” pinta Bu Mila penuh harap.


“Berharap sih boleh, Bu? Tapi jangan terlalu berharap, nanti ibu kecewa. Salma belum memikirkan untuk menikah lagi. Dua kali Salma gagal, Bu, dan itu karena orang ketiga. Salma tidak mau lagi hal itu terulang dalam hidup Salma. Jadi, Salma tidak ingin menikah dulu, Bu,” ucap Salma.


“Ibu ini kayak gak tahu Salma saja, kalau enggak mau ya gak mau, Bu?” ucap Dimas.


“Ya sudahlah, kalau memang kalian berdua masih belum mau lagi kembali?” ucap Bu Mila sedikit kecewa.


“Tuh kan ibu kecewa? Bu, Salma belum mau menjalin hubungan lagi. Ibu ngerti dong? Salma masih ingin sama ibu, merawat ibu, Salma gak mau menikah lagi, berbakti pada suami, dan meninggalkan baktiku pada ibu, lalu pada akhirnya aku ini dikecewakan oleh suamiku. Aku gak ingin kejadian itu terulang lagi, Bu. Masih terasa sakitnya, Bu,” ucap Salma lirih dengan menunduk.


“Iya ibu gak maksa kok, kan ibu Cuma tanya saja, habisnya akhir-akhir ini kamu dekat dengan Dimas, setelah kejadian lalu, adik dan kakaknya Askara ke sini itu,” ucap Bu Mila.


“Aku dekat dengan Dimas, karena mau dekat dengan siapa lagi, Bu? Yang aku kenal hanya Dimas, aku gak punya teman, Bu,” ucap Salma.


“Lagian kalau bukan aku yang jagain ibu dan Salma mau siapa lagi? Aku sudah anggap ibu itu ibunya aku, dan setelah aku pisah dengan Salma, dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri, Bu,” ucap Dimas.


“Dan, selain aku anggap Salma seperti adikku sendiri, aku sekalian ngelobi hatinya dia, kali saja masih mau menerima hatiku,” batin Dimas.


“Sok-sok’an mau jadi kakakku! Awas kalau pakai hati lagi! Aku tidak sudi untuk kembali dengamu, Dim! Hatiku masih dendam sama kamu, tapi aku juga butuh teman, jadi terpaksa aku berteman denganmu!” batin Salma.


“Ya sudah ibu mau bicara itu saja, barangkali kamu mau lanjutkan kegiatan kamu, Sal. Atau kamu mau ke kantor lagi, Dim?” ucap Bu Mila.


“Aku sudah selesai sih, aku bikin kue sedikit, hanya di toples mini saja, dan hanya beberapa saja. Paling mau dudukan sambil lanjutin bikin syal lagi,” jawab Salma.


“Kalau aku, boleh gak aku ajak Salma nonton, Bu?” tanya Dimas.


“Nonton kok siang-siang?” ujar Bu Mila.

__ADS_1


“Ya kalau malam kan buat istirahat, Bu? Lagian mana mau Salma aku ajak nonton malam-malam?” ucap Dimas.


“Memang ada film apa Dim?” tanya Salma.


“Gak tahu, belum lihat jadwalnya, yang penting yuk nonton saja, kamu gak ada kerjaan lagi, kan?”


“Iya sih, ya sudah yuk. Daripada aku jenuh.” Salma mengiyakan ajakan Dimas.


Mereka pamit dengan ibunya, untuk pergi menonton sekalian makan siang bersama. Salma berjalan beriringan dengan Dimas, keluar dari toko.  Salma melihat mobil yang berhenti di depan tokonya saat dia akan keluar dari toko, tapi lama sekali orang di dalam mobil itu tidak keluar-keluar, sampai Salma masuk ke dalam mobil Dimas.


“Dim, itu mobil udah berhenti cukup lama, saat tadi aku bicara sama mbak kasir, kok sampai sekarang gak keluar-keluar orangnya?” tanya Salma.


“Mungkin lagi ngitung duit?” jawab Dimas asal.


“Kamu ini, jawabnya seenaknya saja!” tukas Salma.


“Ya mungkin saja, kan mau beli kue sama roti, jadi dihitung dulu uangnya,” ucap Dimas.


“Iya deh terserah kamu, Dim. Ayo buruan berangkat!” ajak Salma.


“Iya sabar, tuh seat beltnya pakai dulu biar aman,” titah Dimas.


“Okay ....”


Dimas melajukan mobilnya ke sebuah mall terbesar di kotanya. Tujuan utamanya adalah nonton, dan kali ini Dimas sengaja ngajakin Salma nonton film horor.


“Serius kamu nonton ini?” tanya Salma.


“Iya lah, serius!” jawab Dimas.


“Yakin gak takut?”


“Idih, takut? Emang aku cowok apaan?” tukas Dimas.


“Tapi mainnya dua jam lagi, Dim?”


“Ya gak apa-apa? Kita kan bisa jalan-jalan dulu?”


“Okay, sana beli tiketnya, aku malas antre,” titah Salma.


Setelah mendapatkan tiket untuk menonton, Dimas mengajak Salma makan siang lebih dulu.


^^


Di toko roti milik Bu Mila, seorang laki-laki turun dari dalam mobil setelah mobil Dimas melaju pergi. Dia masuk ke dalam, dan memiliki beberapa roti lalu membeli cookies beberapa toples. Setelah selesai ia membawa belanjaannya ke kasir.


“Mbak yang tadi laki-laki baru keluar sama perempuan itu Pak Dimas bukan, ya?” tanyanya.


“Oh, iya benar, Pak. Dia Pak Dimas,” jawab kasir.


“Apa yang di sebelahnya itu istrinya?”


“Bukan, itu mantan istrinya, Pak. Tapi, sepertinya memang mau balikan, Pak,” jawabnya.


“Oh, begitu?” Askara mengangguk-anggukkan kepalanya, setelah mendapatkan penjelasan dari kasir. Ya, Askara datang ke toko Salma. Dia memang sengaja, mau mencari tahu soal Salma dan Dimas.


“Eh tahu gak, masa Pak Dimas sama Bu Salma mau nonton? Ih gak rela kalau Bu Salma merebut pujaan hatiku!” ucap karyawan lainnya dengan kesal.


“Lagian kau ini tidak ngaca kalau ngomong? Mana ada Pak Dimas mau dengan perempuan modelan kamu?” ujar mbak kasir.


“Tapi mereka cocok sih, sayangnya Bu Salma yang gak mau. Kasihan kan Pak Dimas? Coba Pak Dimas ngelamarnya aku saja gitu? Kan aku langsung terima?”


“Jangan halu kamu!”


“Halu dikit lah, habis udah tua saja masih ganteng. Uh sugar daddy,” pujinya.


“Kamu itu jangan mengkhayal. Paling sebentar lagi Bu Salma mau kok, lihat saja pasti mereka balikan!” ucap salah satu karyawan lainnya.


“Huh ... hari patah hati dong kalau sampai mereka nikah lagi?”


Askara sudah tahu sedikit informas tentang Salma dan Dimas. Gak sia-sia siang ini dia ke toko roti milik ibunya Salma, dia mendapatkan informasi yang cukup soal Salma dan Dimas. Setelah selesai membayar di kasir, dia langsung kembali ke mobi, dan langsung membuka toples kue buatan Salma, lalu Askaran mencicipinya.

__ADS_1


“Enak, kok Salma bisa buat kue seenak ini? Padahal dia tidak pernah bikin kue macam ini? Jangankan kue? Masak saja jarang?” ucap Askara sambil mulutnya terus mengunyah kue buatan Salma.


“Tadi karyawan itu bilang, Salma dan Dimas mau nonton? Aku yakin mereka nonton di bioskop dekat sini?” ucap Askara.


Askara melajukan mobilnya menuju ke mall terbesar. Askara yakin Dimas membawa Salma menonton di sana. “Aku harus mengikutinya ke sana, aku yakin mereka pasti di sana,” ucp Askara.


Askara memarkirkan mobilnya. Dan, benar mobil Dimas parkir di depan mobilnya. Askara tahu karena dia menghafalkan nomor polisinya. Askara langsung masuk ke dalam, dan berjalan ke arah bioskop. Dia melihat Salma dan Dimas sudah masuk ke dalam. Askara melihat judul film yang Salma dan Dimas tonton. Lalu ia menanyakan tiketnya, masih ada atau tidak. Beruntung sekali tikenya masih ada.


Askara cepat-cepat membelinya, lalu ia menyusul ke dalam. Tidak lupa ia matikan ponselnya, supaya tidak terganggu dengan Zura yang sedikit-sedikit menelefonnya. Dia bilang pada Zura, hari ini ada meeting di luar kota sampai malah, bahkan bisa jadi Askara akan menginap, karena akan selesai larut malam. Askara melihat Dimas dan Salma duduk di kursinya, beruntung sekali tempat duduk Askara ada di belakang Dimas, jadi dia bisa melihat Salma dan Dimas yang duduk di depannya.


“Dim, yakin kamu gak takut nonton horor?” tanya Salma, karena yang Salma tahu, Dimas sangat tidak suka nonton horor, karena Dimas penakut.


“Eng—enggak dong! Masa takut?” jawabnya sedikit gagap.


“Gak takut tapi jawabnya gelagapan gitu?” cetus Salma dengan mengejek.


“Yang aku takutkan, kamu pergi lagi, Sal,” ucap Dimas.


“Gak usah aneh-aneh ngomongnya!” tukas Salma.


“Ih yakin, Sal. Aku gak bohong,” ucap Dimas sungguh-sungguh.


“Iya, gak bohong, kalau kamu memang takut nonton film horor,”  ujar Salma.


“Ih enggak, Sal, aku gak takut.” Dimas terus bilang gak takut, padahal dia sudah siap-siap untuk menutup matanya kalau nanti sudah mulai filmnya. “Pulangnya nanti mampir ke makam Kia ya, Sal? Sudah satu minggu aku gak ke sana, kamu juga, kan?”


“Iya nanti mampir ke sana,” jawab Salma.


“Sal, demi Kia, kita balikan yuk?”


“Janga aneh-aneh Dim. Kia sudah tenang di sana. Kia juga pasti bahagia lihat kita yang akur meski tanpa balikan lagi. Dia pasti tahu yang terbaik buat mama papanya sekarang harus bagaimana, Dim?”


“Apa masih ada kesempatan kedua untukku, Sal?” tanya Dimas.


“Aku belum mikir ke situ, Dim. Sudah ah nonton, tuh filmnya sudah mau mulai,” ucap Salma.


“Kok serem ya, Sal?”


“Namanya juga film horor, Dim? Kalau yang romantis-romantis itu mah bukan horor, tapi drama romantis? Lagian siapa suruh ngajak nonton horor? Ya aku iyain saja, tahu kan film kesukaanku begini?” ucap Salma.


“Jadi ingat nonton film horor berdua di rumah ya, Sal? Saat dulu?”


“Aku gak ingat Dim, lupa aku,” jawab Salma.


“Kamu kok lupa semua sih apa yang sudah kita lalui dulu?”


“Karena aku tidak mau menyia-nyiakan belajarku dulu. Belajar melupakan segalanya tentang kamu. Jadi aku lupa semuanya, yang kuingat Cuma nama kamu saja,” jawab Salma.


“Gitu, ya?”


“Iya, Dim. Udah ah jangan tanya mulu, aku mau nonton!” tukas Salma.


Askara mendengar semua yang Salma dan Dimas bicarakan. Beruntung masih banyak tempat duduk yang kosong, jadi mereka cerita juga tidak terlalu bisik-bisik, karena dua bangku di samping Salma dan dua bangku di samping Dimas kosong.


“Aku pastikan kalian tidak akan bisa bersama lagi. Sal, aku masih sangat mencintaimu. Aku yakin kamu pun sama, masih mencintaiku. Tolong jangan lupakan aku, Sal. Aku ingin kembali padamu. Aku akan perbaiki hubungan kita, Sal. Aku janji itu,” batin Askara.


Tapi melihat perhatian Dimas pada Salma, Askara merasa cemburu dan tersaingi, karena Salma begitu nyaman dengan perlakuan Dimas yang dari tadi merangkul Salma, dan Dimas juga sesekali menyuapi snack pada Salma. Salma pun tidak menolaknya sama sekali, bahkan mereka terlihat begit akrab, tidak saling membenci, apalagi mereka pernah memiliki buah hati.


“Tidak salah mereka begitu, mereka pernah memiliki buah hati, mereka pernah hidup bersama. Tidak salah jika Dimas mengharap kembali pada salma,” gumam Askara.


“Sal, aku mencintaimu,” bisik Dimas, tapi Askara mendengarnya.


“Dimas ... gak usah macam-macam ih!” tukas Salma, tapi Dimas malah mencium pipi Salma.


“Dimas!” pekik Salma.


“Maaf, Sal. Aku gak akan ngulangi lagi,” ucap Dimas.


“Kalau begini, aku gak mau diajak kamu pergi, Dim!”


“Iya, iya maaf,”

__ADS_1


Salma sedikit kesal dengan Dimas. Tapi, meski kesal, dia tetap mau disuapi snack oleh Dimas.


"Mungkin jika Tuhan memang menghendaki kita berjodoh lagi, aku tidak akan menolaknya, Dim. Kamu begitu baik denganku dan ibu. Sebetulnya aku masih bimbang, untuk menerima kamu lagi, karena aku masih takut gagal lagi kalau menikah nanti," batin Salma.


__ADS_2