Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Kartumu Akan Terbuka!


__ADS_3

Afifah sudah bersiap ke sekolahannya, meskipun dia masih sakit tangannya, dia tetap ingin ke sekolah. Memang masih susah untuk menulis, tapi setidaknya badan dia sehat dan bisa menyimak pelajaran hari ini. Dari semalam Afifah sudah tidak mendapatkan chat lagi dari Vero. Pesan untuk permintaan maaf pun tidak ada dari Vero. Dia yakin Vero takut, takut kalau Dimas dan dirinya mengadu pada bunda dan ayahnya. Afifah menuruti kata ayahnya, yang bilang tidak usah lagi menerima telefon atau membalas pesan dari Vero. Apalagi Afifah sampai memulai chat lebih dulu pada Vero.


“Tolong dengarkan ayah kali ini ya, Fah? Cukup jangan berhubungan lagi dengan Vero, dia sudah kasar, ayah yakin dia  itu gak sungguhan suka sama kamu, dia iseng saja, kalau dia sungguh-sungguh sama kamu, mau Om Dimas ngotot ajak kamu pulang, dia akan keras mempertahankan kamu supaya kamu pulang dengannya, karena dia yang tanggung jawab, dia juga harusnya ke sini, minta maaf sama kamu, ayah, dan bunda, karena sudah kasar sama kamu. Tapi buktinya? Sampai pagi ini batang hidungnya tidak muncul. Dari semalam hape kamu ayah pegang, juga gak ada Vero chat kamu?”


Askara memperingati Afifah lagi, supaya dia tidak menghubungi Vero. Lalu ia mengembalikan ponsel pada Afifah. “Ingat kata ayah, jangan hubungi Vero lagi!” tegas Askara penuh penekanan, sambil menaruh ponsel Afifah di depan Afifah.


“Iya, Yah,” jawab Afifah.


“Nanti ayah antar kamu ke sekolah,” ucap Askara.


“Kalau ayah tidak ada meeting siang ini ayah jemput kamu, kalau tidak bisa ayah minta Om Dimas menjemputmu, sopir hari ini gak berangkat, nanti ayah carikan lagi sopir pribadi buat kamu, khusus buat kamu, jadi mau ke mana-mana kamu diantar sopir. Ayah takut, takut sekali kamu disakiti lagi, ayah gak terima sebetulnya, ingin rasanya ayah memenggal kepala Vero di depan papanya, tapi kesabaran ayah masih aman, ayah masih sabar dengan kelakuan Vero!” Askara benar-benar murka sekali, ingin sekali dia ke rumah Vero, menghajarnya, tapi dia tahu lawannya itu siapa. Orang tua Vero seorang mafia yang bisa saja urusannya jadi panjang.


Askara masih ingin keluarganya baik-baik saja, jadi ia tidak mau ribut yang nantinya malah keluarganya jadi terusik. Apalagi sebentar lagi Salma akan melahirkan.


Askara juga memaklumi anak seusia Vero masih labil dan emosinya masih tinggi, apalagi di dukung seorang ayah yang seperi Daren, jadi dia juga menjadi pribadi yang kasar. Askara melihat Vero memang anak yang baik, sopan, rajin, pintar, bahkan cerdas, tapi ada penilaian Askara soal Vero yang lain, yang membuat dirinya sedikit tidak terlalu berharap Afifah dekat dengan Vero, apalagi mereka masih kecil, masih remaja, dan masih panjang masa depannya. Penilaian itu adalah, sifat Vero yang kesannya agak sombong, dari cara bicaranya, meskipun sopan, rapi, dan baik tutur katanya, tapi menunjukkan kalau Vero itu sombong, mungkin karena papanya kaya raya, dan kekayaannya di atas Askara, jadi nada bicaranya menurut Askara sedikit seperti menyombongkan dirinya.


Askara sebetulnya tidak terima sekali Afifah sampai begitu, baru diizinkan keluar malam berdua malah jadinya seperti itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Meski tidak terima Askara bisanya diam saja, karena berurusan dengan Mafia semacam Daren sama saja dia terjun bebas ke dalam neraka.


Zhafran juga bilang dengan Ardha baik-baik soal Vero yang menyakiti cucunya. Ardha juga tidak menyangka kalau Vero sekasar itu, padahal dia telihat seperti anak yang baik, yang sopan, dan pintar, tapi ternyata dia kasar sekali. Ardha sebetulnya ingin bilang pada Alka kalau cucunya sudah menyakiti Afifah, tapi Zhafran melarangnya, takut malah urusannya panjang, karena papanya Daren tidak akan tinggal diam kalau anaknya ditegur, meskipun anaknya salah. Sudah pasti demikian, apalagi Zhafran tahu Deren pekerjaan tersembunyinya itu apa. Dan, Ardha baru tahu kalau Daren memiliki bisnis gelap seperti itu.


“Ayo sudah siap kamu, Fah?” tanya Askara.


“Sudah, Yah,” jawab Afifah.


“Bunda sekalian ikut, kan?” tanya Askara.


“Bunda ikut? Mau ikut antar?” tanya Afifah.


“Iya sekalian bunda mau ketemu dokter, Fah,” jawab Salma.


“Oh aku kira sengaja mau ikut antar aku?” ucap Afifah.


“Bunda mau periksa, cek kandunan bunda, dapat nomor antrean muda, jadi sekalian saja,” ucap Salma.


Afifah mengangguk, pagi ini ia diantarkan oleh papanya lagi. Padahal baru kemarin dia diantar oleh Vero, tapi Vero malah kasar dengannya.


^^^


Vero di sekolahannya, dia terlihat lesu tidak sesemangat kemarin. Dia dari semalam tidak bisa tidur karena memikirkan Afifah yang tidak sengaja sudah ia sakiti. Tangan Afifah sakit karena ditarik olehnya, jad terkilir dan langsung bengkak.


Dari semalam Vero ingin sekali menghubungi Afifah, tapi ia takut, dan pasti Afifah sudah tidak mau lagi berhubungan dengannya. Apalagi kalau Afifah sudah cerita semuanya pada ayah dan bundanya, pasti semua melarang Afifah untuk bertemu dengannya. Ditambah Dimas yang tahu dan melihat kalau dirinya sudah mengasari Afifah, pasti Dimas pun akan bilang pada kedua orang tua Afifah.


“Suntuk banget, Bro! Kemarin bahagia sekali, sekarang melempem kayak kerupuk kena angin?” ujar Rivan.


“Iya nih, semalam pasti kurang nih jatahnya sama cewek SMP itu?” timbrung Dwiki.


“Apaan sih! Kayaknya gue putus sama dia!” desah Vero.


“Why? Vero diputusin? Gila sih kalau sampai kamu diputusin?” ujar Rivan.


“Semalam baru jadian, kan? Gue ajak dia ke pantai, belum malam banget lah, masih habis maghrib gitu, terus mau gue cium tuh, udah deket banget gue udah pengin ***** bibir manisnya, dan ***** dadanya, eh dia mundur, dia menghindar, dan gak mau gue paksa, sampai mau nangis gitu? Terus dia minta pulang, gue gak mau dong? Masa udah jadian gue gak dapat apa-apa? Eh dapat Cuma cium punggung tangan aja, pipi saja belum? Rugi waktu rugi uang, rugi tenaga banget gue!” ucapnya dengan napas memburu dan kesal.


“Terus, terus? Jadinya gimana semalam?” tanya Dwiki penasaran.


“Biasanya nih seorang Vero, belum jadian pun sudah dilibas di kamar hotel, dimainin sepuasnya dulu, baru dijadiin pacar, terus Cuma jadi pacar seminggu doang tuh, lama-lamanya paling sebulan, itu pun dipakai terus tiap hari tiap malam, nah ini? Anak SMP kan harusnya bisa ditipu daya? Malah udah jadian, dicium saja gak mau? Wah kali ini lo kasta lo turun bro! Sama anak SMP saja gak bisa naklukin, sama tante Renata saja kemarin dia sampai klepek-klepek minta lo servis mulu?” ujar Rivan.

__ADS_1


“Bacot lo! Beda trik sama anak SMP, apalagi dia anak mami!” tukas Vero.


“Jadi triknya diajak jadian dulu gitu? Baru lo grepein?” seloroh Rivan.


“Sudah lo jangan banyak bacot lah, Van! Biar nih orang cerita dulu, kenapa bisa gak jadi cium itu, sampai galau tingkat dewa nih orang? Lusuh, gak semangat banget!” cerocos Dwiki.


“Eh iya lanjut dulu bro ceritanya gimana?” ucap Rivan.


“Huh ... sial gue semalam!” cebik Vero. “Nih, dia kan gak jadi aku cium? Dia gak mau, terus dia minta pulang, gue rayu lagi nih ceritanya, gue belai-belai rambutnya, gue endus tuh tengkuknya, kan biasanya sensitif tuh, eh malah tambah jauh duduknya, dia dorong tubuh gue, terus dia bangun dari duduknya, minta pulang, lalu gue tarik tuh tangannya, saking gue kesalnya tuh, aku tarik kenceng banget tangannya sampai terkilir, dia nunduk pegangin tangannya, matanya merah kek mau nangis. Gue takut dong, gue pamit sama orang tua dia baik-baik bro, tapi gue kasar banget sampai tangannya bengkak. Dia nangis minta pulang, aku pengin tuh ngobatin dulu tangannya, sambil aku rayu lagi, kali saja rayuanku mujarab setelah aku elus-elus dia. Dia malah tambah jauh ketakutan, minta pulang terus, eh ... sialnya lagi om dia datang, lihat kita tuh di pantai, padahal kita di tempat agak gelap biar bisa *****-***** gitu! Sial tuh Dimas!” Vero menceritakan semua pada temannya sambil mengumpat kesal.


“Terus lo dimarahin sama omnya?” tanya Rivan.


“Paling Cuma tanya kenapa keponakannya bisa kesakitan dan menangis? Terus dia minta pulang sama om nya, lihat gue tuh jadi kek lihat penjahat banget, dia ketakutan, minta pulang sama om nya,” ucap Vero.


“Lo biasanya kasar kan kalau di kamar, baru jadian dikasari begitu ya jelas takut bro?” ujar Dwiki.


“Gue kasar di kamar kan tergantung ceweknya? Sama yang masih perawan, yang masih lugu kayak dia ya gue hati-hati lah! Gue rayu dulu, ajak jadian dulu. Vibes nya sama cewek yang udah gak perawan tuh  beda bro! Kalau gak perawan mah gue main kasar dia keenakan? Lha masih perawan, dicium saja susah, dia ajak main kasar bisa-bisa mati tuh cewek!” cebik Vero.


“Iya juga sih, emang nih orang penjahat kelamin lo!” sembur Dwiki.


“Udah ah masuk kelas, matematika nih bro, mau belajar rumus lagi, ntar malam Tante Renata mau diservis lagi! Biar servisnya memuaskan gue butuh belajar matematika!” ucap Vero.


“Apa hubungannya rumus matematika sama memuaskan tante-tante?” kelakar Rivan.


“Ada, lo pelajari dulu sampai pintar matematika, fisika, dan kimia, baru lo bisa merasakan gimana rasanya bikin cewek puas di bawah kita! Lo gak perlu susah-susah cari cewek, tinggal lirik saja, cewek itu kejar kamu!” tutur Vero.


“Ogah gue, mending langsung belajar biologi, langsung praktek!” sembur Rivan.


“Langsung praktek tanpa trik, hasilnya nol!” tukas Vero.


Vero berjalan ke kelasnya. Sebetulnya ia ingin sekalo bolos hari ini gak masuk sekolah, karena Renata, tante-tante yang ia kenal di Bar saat itu butuh dirinya. Tapi, pelajaran pertama sampai keempat itu pelajaran favoritnya.


“Nanti jam kelima sampai pulang izin saja ah, alasan saja lagi gak enak badan. Gue butuh asupan nih, pengin eksekusi tante lagi, enak banget tuh orang janda tapi rasanya masih keset saja!” ucap Vero sambil membayangkan bermain dengan Renata.


Ya, Renata mantan kekasih Dimas. Karena Dimas sulit diajak bercinta, dia mencari mangsa untuk memuaskan dirinya. Bertemulah dengan Vero di club malam saat sedang berada di dance floor, kenalan dengan Vero, dan terjadilah hubungan saling menguntungkan dan mengenakkan sampai sekarang. Ternyata dengan Vero Renata merasa terpuaskan daripada berhubungan dengan pria seusianya.


^^^


Siang ini Askara tidak bisa menjemput Afifah, karena dia ada meeting dan harus keluar kota dadakan. Jadi Askara meminta Dimas untuk menjemput Afifah ke sekolahannya.


Afifah sudah menunggu di depan sekolahannya, di halte di mana dia biasa menunggu jemputan. Mobil Dimas berhenti di depan Afifah, tapi dia tidak mengetahui itu mobil Dimas, karena Dimas pakai mobil lainnya yang jarang ia pakai. Dimas keluar dari dalam mobilnya, ia menghampiri Afifah yang masih berdiri di sisi mobilnya.


“Hei, pulang yuk?” ajak Dimas.


“Ih kirain mobil siapa? Mobil baru ya, Om?” tanya Afifah.


“Mobil lama, sudah setahun yang lalu,” jawab Dimas.


“Gini nih, kalau gak ada sopir, ayah sibuk, jadi pulang sama om-om!” gerutunya.


“Jangan banyak bicara, sudah masuk!” titah Afifah. “Lagian om-om juga kamu suka!” ucapnya lirih.


“Tadi om bilanga apa?” tukas Afifah.


“Gak itu, om mau makan steak, mau gak?” tanya Afifah.

__ADS_1


“Boleh deh?” jawabnya dengan wajah berbinar.


Afifah memang suka steak, jadi mana bisa dia menolak diajak makan makanan favoritnya?


Dimas membukakan pintu mobilnya, dan menyuruh Afifah masuk ke dalam. Dimas melihat tangan Afifah masih sedikit membiru. Ia meraih tangan Afifah dan melihatnya. “Kok jadi biru gini, Fah? Masih sakit?” tanya Dimas.


“Dikit sih, tapi belum bisa untuk nulis,” jawab Afifah.


“Pelan-pelan nanti juga bisa, Fah,” ucap Dimas. “Sini om oles obat lagi, siang ini belum diolesin, kan?” tanya Dimas.


“Hmm ... belum, kan obat dari om semalam di rumah?” jawab Afifah.


“Tadi om mampir beli lagi, sini om olesin,” ucap Dimas.


Sebelum berangkat Dimas mengolesakan obat untuk bengkak di tangan Afifah. Afifah tidak kuat melihat wajah Dimas yang semakin tampan. Afifah mengalihkan pandangannya, ia melihat tangan yang sedang diolesi oleh Dimas.


“Sudah, nanti  besok pasti sembuh!” ucap Dimas.


“Sakitnya ternyata sampai ke badan, Om. Pegel semua tangan sama badannya, kayak meriang gitu,” ucap Afifah.


“Ya jelaslah, orang bengkak sampai gini kok?” jawab Dimas.


Dimas melajukan mobilnya, sebelum makan steak, Afifah mengajak Dimas ke gramedia, ia ingin beli buku, mumpung ingat dan pastinya Dimas mau mengantarkan dirinya. Sesampainya di mall Afifah langsung menuju ke lantai dua, untuk mencari buku. Dimas hanya mengikutinya saja di belakang Afifah.


Afifah melihat Vero, dia berjalan di sisi perempuan seksi dan cantik dari lantai dua, turun menggunakan eskalator. Afifah langsung memalingkan wajahnya, beruntung eskalator untuk turun dari lantai dua jaraknya jauh tidak bersebelahan.


“Tante Renata? Benar Vero dengan Tante Renata?” ucap Afifah lirih.


Afifah meraih tangan Dimas yang di belakangnya. Lalu menunjukkan Renata yang sedang bergandengan mesra dengan Vero. “Om lihat itu? Itu Tante Renata, kan?” tanya Afifah.


“Iya itu Renata, kenapa?” jawab Dimas.


“Lihat sebelahnya siapa? Vero bukan?” tanya Afifah.


“Iya itu cowokmu, bukan?”  jawab Dimas.


“Bukan, dia bukan cowokku?” ucapnya kesal. “Om kok mesra sekali mereka? Masa Vero sama tante-tante?” tanya Afifah.


Ini kesempatan bagi Dimas, untuk memperlihatkan siapa Vero sebenarnya. Dimas memang sudah tahu Renata dengan Vero, bahkan mereka sudah main gila sebelum Renata putus dengan Dimas. “Buruan jalan, lalu kita turun, kita ikuti mereka!” Dimas menyuruh Afifah supaya bergegas naik, lalu turun dan mengikuti mereka.


“Mau apa sih ngikutin mereka?” tanya Afifah kesal. “Aku pengin beli buku dan makan steak, Om!”


“Biar kamu tahu siapa Vero! Masalah buku dan steak gampang, gramedia masih di situ gak pindah, restoran juga masih di tempatnya, meskipun kamu gak jadi beli buku dan gak jadi makan steak sekarang!” jawab Dimas sambil mengajak Afifah berlari.


“Ih om, sabar dong?” ucap Afifah.


“Dia belum diputusin kamu, kan? Nanti kalau kamu lihat kelakuan dia, silakan putuskan dia di depan om!” ucapnya.


“Maksudnya?” tanya Afifah.


“Sudah ikut om!”


Dimas yakin past Renata mengajak Vero ke apartemennya. Dimas memang tidak mau menerima apartemen yang sudah ia kasih ke Renata. Biar saja, Dimas tidak butuh itu, Dimas butuh perempuan yang setia dan mengerti dirnya, dan bisa menerima kalau dirinya sedang sakit, ternyata Renata sama saja seperti yang lainnya.


“Kali ini akan terbuka kartumu, Vero! Dan hari ini, aku pastikan kamu tidak bisa memiliki Afifah! Aku rela Afifah punya hubungan dengan cowok, asal dia baik, gak kayak kamu, kecil-kecil sudah jadi penjahat wanita!” umpat Dimas dalam hati. “Aku akan terus pantau Afifah, bahkan dia punya cowok lagi setelah Vero, aku akan pantau dia, kalau Afifah tidak bisa denganku, aku rela asal dia dengan laki-laki yang baik!”

__ADS_1


__ADS_2